Luna Rusalka

Luna Rusalka
88



"Mama papa aku .. harus membicarakan sesuatu dengan kalian." Lula meletakkan sendok dan garpu yang di piring dan duduk tenang menatap kedua orang tuanya.


"Apa itu sangat serius? Bicarakan saja, Lula. Kami mendengarkan." Sofia tersenyum sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Mark mengangguk setuju dengan perkataan istrinya itu.


Lula terdiam dan memantapkan niatnya itu. Sekarang tidak ada halangan apapun, dan sepertinya ini waktu yang tepat untuk segera membicarakan hal ini. Dia tidak mau terbebani dengan pikiran tentang ini, dan secepat mungkin ia akan menjelaskannya.


"Jadi, apa?" Mark mulai tidak sabaran.


"Kakak kalau mau bicara jangan kelamaan. Yefy juga mendengarkan." Yefy menatap Lula dengan tatapan anehnya. Lula hanya berkedip beberapa kali lalu mengangguk kecil.


"Tuan Bogdan berkata tentang hadiahku ..."


"Hadiah apa?"


"Pergi ke Italy.."


Ruangan ini menjadi hening. Sofia mendadak berhenti makan dan mengusap mulutnya menggunakan tisu.


"Jangan salah paham dulu, Lula hanya mau memberitahu kalian. Masalah mendapatkan izin atau tidak Lula tidak menuntut kalian untuk memberiku izin." Gadis itu menormalkan nafasnya sesegera mungkin. Ia takut sekali. Mamanya sedikit berbeda dari yang dulu. Dia lebih tegas dan keputusannya tidak bisa diubah sekarang.


Mark menyentuh pundak Sofia, mencoba untuk memberinya ketenangan agar tidak berkata dengan penuh emosi.


Sofia menatap Mark lalu mengangguk. Ia lebih tenang sekarang, dan mencoba untuk memberi keputusan dengan bijak dan tanpa melukai hati putrinya.


"Mama sayang sama Lula. Mama tidak mau kejadian yang tidak mama inginkan terjadi. Bukannya mama tidak percaya sama Lula atau terlalu khawatir. Tapi mama lebih ke melakukan pencegahan. Iya mama tahu takdir tuhan tidak ada yang tahu, mama hanya ... "


"Tidak apa kalau mama tidak mengizinkannya. Aku bisa bilang ke Pak Bogdan tentang hal ini."


"Maafkan mama, Lula. Mama tidak mau semua orang terluka."


Lula hanya mengangguk dan membereskan piring kotornya. "Aku akan ke kamar. Selamat malam." Lula beranjak dari kursi dan berjalan santai ke lantai dua, ke kamarnya.


"Mama terlalu menghawatirkan aku."


***


Jumat, 4 Maret


"Kau mendengar dari siapa?" Lula duduk di bangku kelas. Ini masih pagi dan baru ada beberapa anak di kelas, termasuk dia dan Jereni.


"Kemarin aku tidak sengaja mendengar Erynav berbicara dengan Yejin."


"Kapan?"


"Kapan ya aku lupa." Jereni meringis dan menepuk lutut Lula. "Jadi kau bagaimana?"


Lula terdiam. Ia sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat muram dan tidak senang. Kedua orang tua Yejin pasti mengizinkannya dan ia sangat sedih, tidak bisa pergi ke Italy bersama Yejin.


Lula menggeleng. "Kau tahu mamaku sekarang seperti apa."


Itu berarti.. Aku bisa merayakan ulang tahun Lula dan ..


Jereni tersenyum dan membayangkan rencananya akan berjalan dengan lancar. Bukannya dia senang jika Lula tidak pergi. Dia hanya tidak mau kejadian-kejadian itu terulang kembali, karena ia paham betul semua ini tidak lain ulah Kerinee. Dalang dari setiap kejadian yang menimpa Lula, dan Jereni akan segera mengakhirinya. Lula akan baik-baik saja setelah itu dan mereka tidak akan memiliki masalah apapun lagi.


"Kau kenapa tersenyum?" Lula menyadari itu. Iya sedang bersedih, namun Jereni justru terlihat bahagia.


"Tidak apa, kau tidak pergi. Tuhan selalu mengganti sesuatu yang tidak kau terima dan itu lebih baik." Jereni menepuk lengan Lula dan tersenyum. Lula mengangguk dan terus melihat ke pintu.


"Kemana Yejin?" Ini hampir bel masuk dan Yejin masih belum sampai.


***


"Apa kau sudah berbicara dengan orang tuamu?"


"Uh huhh." Yejin mengangguk. Mereka berdua sedang berada di kantin untuk makan siang. Jereni selalu menghilang tiba-tiba dan muncul dengan tiba-tiba Lula. Akhir-akhir ini gadis itu jarang bersama dengan Lula dan Yejin.


"Jadi apa keputusannya?"


"Mereka mengizinkanku, dan semua tergantung padaku. Aku masih harus memutuskannya lagi, Lula."


"Yang terpenting mereka sudah memberimu izin. Sebaiknya kau pergi, Yejin."


"Bagaimana denganmu?"


Lula tidak akan memberitahu hal ini dengan Yejin sekarang. Jika Yejin tahu, pasti ia akan ikut-ikutan tidak pergi. Yejin menjadi lebih semuanya harus sama dengan Lula sekarang.


Jereni duduk di dekat Lula dan menggerakkan tangannya menyerupai kipas, membuat wajahnya tidak kepanasan lagi.


"Mau kupesankan makanan?"


"Boleh." Jereni tersenyum dan mengangguk.


"Kau mau makan apa, Jereni?"


Jereni melihat ke kedai dan memilih menu makanan dan minuman yang ia inginkan.


"Roti gandum dan pasta vegetarian saja."


"Kau mau minum apa?"


"Jus lemon, Lula. Maaf merepotkan kamu."


"Tidak apa, sebentar ya."


Jereni mengangguk dan Lula berjalan ke kedai.


"Kalian sudah makan?" Jereni menatap Yejin yang tengah melihat ke arah luar kantin. Jereni mengikuti arah pandangan Yejin dan melihat pepohonan yang lebat dan terlihat sejuk di sana.


Yejin mengangguk. "Kami tiba dari tadi. Kau kemana saja, Jereni?" Yejin menoleh dan menatap Jereni, menunggu Jereni menjawab.


"Aku .. ada urusan sebentar."


Yejin menaikkan alisnya dan melihat jendela lagi.


"Kakak di sana akan mengantarkannya sebentar lagi. Kau tunggu saja, Jereni." Lula datang dan duduk di kursi. Jereni hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kau darimana?" Lula duduk bersandar di punggung kursi dan menatap Jereni serius.


"Mengurus sesuatu. Itu tidak penting."


"Tapi aku mau tahu. Bisakan kau memberitahu aku." Lula terlihat sangat ingin tahu. Ia sampai berkata seperti itu dan memaksa Jereni untuk mengatakannya.


"Baiklah, aku habis bertemu Kak Matvei."


Yejin perlahan mengalihkan pandangannya dan menatap Jereni. Kakaknya mulai mendekati Jereni sekarang, dan entahlah apa tujuan laki-laki itu.


"Apa yang dilakukan Matvei di sini?" Yejin sangat penasaran.


"Ia mengurus sesuatu di sekolah ini, dan dia memberiku ini." Jereni mengeluarkan sesuatu dari saku roknya dan memperlihatkan sebuah gelang berwarna hitam dan memiliki bandul kerang kecil berwarna silver.


Mengurus sesuatu atau ingin bertemu dengan Jereni. Batin Yejin tidak mengerti dengan sikap kakaknya itu. Ia menjadi sangat antusias dengan Jereni semenjak mereka bertemu.


"Bagaimana kalian bertemu?" Lula masih bingung. Jika Matvei kemari untuk mengurus sesuatu, lantas bagaimana bisa kebe8mereka bertemu?


"Tidak sengaja. Aku baru dari toilet dan melihat Kak Matvei di depan kantor. Kau tahu dia melihatku juga dan kami bertemu, dia memberiku ini dan pergi kemudian."


Lula mengangguk mencoba tidak bertanya lagi dan tersenyum. Jereni melanjutkan makan siangnya dan Yejin masih melihat keluar.


***


"Mama?" Matvei mengetuk pintu rumahnya dan tidak ada jawaban dari tadi.


"Apa tidak ada orang?"


"Ah aku lupa dia di rumah nenek."


Matvei mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencari nomor seseorang.


"Iya ini aku. Rumah dikunci dan aku tidak membawa kunci cadangan. Kau meletakkan kuncinya di suatu tempat di sekitar rumah ini?"


"Baiklah, ma. Terimakasih." Ia mematikan teleponnya dan menaruh di saku celananya lagi.


"Di lubang pintu garasi bagian bawah?" Laki-laki itu berjalan ke garasi dan mencari sebuah lubang.


"Sejak kapan ada lubang di sini?" Ia belum menemukannya dan masih mencari.


"Ah di sana." Matvei berjongkok dan menemukan kunci rumahnya di selipkan di lubang kecil di bawah lantai. Laki-laki itu hanya mengendikkan bahu.