
Setelah satu minggu menenangkan dirinya pak Djoyo akhirnya kembali ke rumahnya.
Rumah yang biasanya selalu ia rindukan kini tak ada lagi kebahagiaan di sana.
Senyum mengembang di bibir istrinya yang menyambutnya ketika pulang pun, kini tak ia harapkan lagi karena hanya ada benci dan muak yang tersisa di hatinya.
Pak Djoyo merasa gagal sebagai seorang suami namun pria itu tak bisa membuat keputusan sembarang mengingat harga diri dan nama baik keluarga yang harus tetap dia jaga.
"Papa." Nyonya Amanda yang sudah satu minggu tak bertemu suaminya itu langsung tersenyum senang saat pria itu pulang.
Namun sambutannya tak di hiraukan oleh pria itu bahkan kedua tangannya yang ingin memeluk nampak mengambang di udara karena suaminya itu melewatinya begitu saja.
"Syukurlah akhirnya papa pulang." Awan yang baru menuruni anak tangga langsung mendatangi ayahnya itu.
"Duduklah ada hal penting yang mau aku bicarakan !!" perintah pak Djoyo kemudian.
Penampilannya terlihat berantakan dan tubuhnya sedikit kurus, sepertinya pria itu telah meleawati hari-hari yang tak mudah selama satu minggu ini.
Awan yang tadinya ingin mengajak istrinya itu makan malam di luar kini urung ia lakukan dan segera duduk di sebelah ayahnya itu.
Sedangkan nyonya Amanda yang merasa dirinya sebentar lagi akan di hakimi nampak mendudukkan dirinya tak jauh dari suaminya dengan wajah memelas.
"Pa, Mama benar-benar...." ucapan nyonya Amanda tertahan saat suaminya itu mengangkat tangannya agar dirinya diam.
"Aku sudah memikirkan baik-baik dan demi menjaga nama baik keluarga besar kita, aku tidak akan menceraikan mu." terang pak Djoyo yang langsung membuat nyonya Amanda nampak senang, wanita itu segera beranjak untuk berhambur ke pelukan suaminya itu namun pak Djoyo langsung mengangkat tangannya agar istrinya itu tetap berada di tempat duduknya.
"Meski kita tidak bercerai tapi bukan berarti aku memaafkan perbuatanmu." tegas pak Djoyo menatap istrinya itu dengan tak ramah.
Nyonya Amanda nampak menunduk, sudah ia duga jika tak semudah itu suaminya memaafkannya. Tapi ia bersyukur pria itu tak menceraikannya, karena paling tidak hidupnya tidak akan kekurangan karena suaminya itu pasti masih memberikan uang bulanan untuknya.
Lagipula ia yakin bisa membuat pria itu bertekuk lutut lagi padanya.
"Mulai hari ini uang bulananmu juga aku stop." ucap pak Djoyo yang langsung membuat nyonya Amanda melebarkan matanya.
"Tapi pa...."
"Apa kamu masih punya muka untuk protes hah? harusnya kamu bersyukur tidak ku tendang dari rumah ini." pak Djoyo memotong perkataan istrinya dengan sinis hingga membuat wanita itu menunduk tak berani menatap wajahnya.
Nyonya Amanda nampak mengepalkan tangannya, uang tabungannya sudah habis ia gunakan untuk traveling bersama kekasih gelapnya itu.
Jika suaminya tak memberikannya lagi lalu dari mana ia akan mendapatkan uang, pikirnya.
"Uang belanja bulanan? ya aku masih bisa mendapatkan uang dari sana meski tak sebanyak uang bulananku dulu." gumamnya lagi.
"Untuk keperluan rumah, belanja dan segala macam mulai hari ini Ameera yang akan mengurus semuanya." ucap pak Djoyo lagi yang terdengar seperti petir di telinga nyonya Amanda.
"Tidak, itu tidak mungkin." gumamnya kemudian.
"Tapi pa, bukannya biasanya juga mama yang mengurusnya. Mama lebih tahu rumah ini, lagipula Ameera juga sibuk kerja pasti dia tidak akan punya waktu untuk itu." Nyonya Amanda mencoba memberikan pendapatnya, karena hanya uang belanja tersebut yang akan menjadi sumber pemasukannya saat ini.
"Aku tidak minta pendapatmu, jadi lebih baik tutup mulutmu." pak Djoyo mencibir istrinya itu, kini di hatinya hanya ada kebencian dan jijik terhadap wanita itu.
"Ya, pak ?" sahut sang ART.
"Bersihkan ruang kerja saya dan siapkan peralatan tidur serta pakaian saya di sana, karena mulai hari ini saya akan tidur di sana !!" perintah pak Djoyo yang langsung di angguki oleh ARTnya itu.
"Pa, kenapa harus pisah kamar ?" protes nyonya Amanda, akan sulit baginya merayu pria itu jika mereka tidur terpisah.
Pak Djoyo nampak tersenyum sinis. "Kamu pikir setelah apa yang kamu perbuat, aku masih mau sekamar denganmu? Aku tidak bisa menjamin jika bajingan itu sebelumnya tak pernah kamu bawa ke kamar kita." ucapnya kemudian.
Sebelumnya pria itu selalu memuja tubuh istrinya yang masih kencang dan sintal meski usianya sudah menginjak kepala empat lebih tapi kini pria itu merasa jijik setelah apa yang di lakukan wanita itu di belakangnya.
"Aku tidak pernah membawanya ke rumah ini, pa." nyonya Amanda membela diri karena ia memang tak pernah membawa kekasih gelapnya itu ke rumah.
Pak Djoyo hanya menanggapinya dengan decihan kasar, karena secara tak langsung istrinya itu telah mengakui perbuatannya.
kemudian pria itu beranjak dari duduknya saat ARTnya baru selesai membersihkan ruang kerjanya.
"Pa...." nyonya Amanda hanya bisa menangis di kursinya saat melihat suaminya itu pergi.
Begitu juga dengan Awan segera mengajak istrinya itu beranjak dari duduknya.
Sejak kejadian waktu itu Awan selalu menjauhi ibunya bahkan menatapnya pun pria itu nampak enggan.
Keesokan harinya....
Pagi itu nyonya Amanda nampak masak berbagai menu sarapan untuk suami dan anaknya itu, semoga saja usahanya ada hasil dan mereka mau memaafkannya.
"Ayo pa, sarapan dulu." ajaknya saat pak Djoyo baru keluar dari ruang kerjanya.
Pak Djoyo yang enggan berbicara dengan istrinya itu nampak melewati wanita itu begitu saja.
"Nak, ini uang untuk kebutuhan rumah selama satu minggu." pak Djoyo mengulurkan segepok uang pada Ameera yang baru saja datang bersama dengan suaminya itu.
Ameera langsung menatap nyonya Amanda yang terlihat begitu sedih karena haknya sebagai nyonya di rumah tersebut tak berarti lagi.
"Tapi pa..." Ameera nampak enggan dan merasa tak enak dengan ibu mertuanya.
"Ini perintah papa, mulai hari ini kamu yang mempunyai kuasa mengurus rumah ini dan ambil uang ini, jika ada sisa buat kamu saja." tegas pak Djoyo seraya mengambil tangan menantunya itu lalu meletakkan uang tersebut di sana.
Melihat itu nyonya Amanda diam-diam nampak geram, rasanya tidak terima jika posisinya sebagai nyonya besar yang berkuasa di rumah tersebut kini beralih ke tangan menantunya itu.
Apalagi uang yang di berikan oleh suaminya untuk belanja keperluan rumah selalu bersisa dan tentu saja selalu masuk kantong pribadinya.
"Baik, pa." Ameera terpaksa menerimanya, mungkin ini yang terbaik dan semoga ibu mertuanya itu cepat tobat dan menyesali perbuatannya.
Setelah anak dan suaminya pergi ke kantornya, nyonya Amanda nampak masuk ke dalam kamarnya.
Wanita itu terlihat berjalan mondar-mandir mencari cara agar suaminya mau memaafkannya.
"Ini tak bisa di biarkan, aku harus segera berbuat sesuatu." gumamnya kemudian.