
š„Carilah sosok orang yang mau menerima kekuranganmu, sebab yang hanya sekedar suka belum tentu mau menerima dirimuš„
Ameera dan Awan nampak menuju sebuah toko di Mall tersebut. "Pilihlah mana yang kamu suka." ucap Awan kemudian.
Ameera yang sedang mengedarkan pandangannya nampak terdiam, ia bukannya bingung mau pilih yang mana.
Tapi jujur sejak orok hingga besar seperti sekarang, semua kebutuhannya selalu ibunya yang membelikannya.
"Kenapa? nggak ada yang kamu suka ?" Awan yang tadinya duduk, kini beranjak berdiri menghampiri gadis itu.
"Mbaknya dari tadi nggak milih-milih mas, mungkin bingung atau masnya saja yang memilihkan." saran pegawai toko yang sedari tadi menemani Ameera.
"Bukan begitu mbak..." Ameera nampak bingung bagaimana harus menjelaskan.
"Duh gimana ini ?" imbuhnya lagi sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan itu tak luput dari pengawasan Awan.
Melihat Ameera seperti orang bingung, Awan langsung mengajaknya menjauh. "Sebentar ya mbak." ucapnya pada karyawan toko tersebut, setelah itu ia membawa Ameera menjauh dari sana.
"Kamu kenapa ?" Awan memegang kedua lengan Ameera lalu sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat raut wajah Ameera.
"Aku mau bicara, mas jangan marah ya ?" sahut Ameera.
"Katakan !!" Awan mulai tak sabar.
"Sebenarnya...." Ameera menggantung ucapannya, ia menggigit bibir bawahnya menandakan dia sedang bingung.
Namun di mata Awan, tingkah Ameera seakan sedang menggodanya. Apalagi saat melihat bibir merahnya itu ingin rasanya ia m3lum4tnya sekarang juga.
"Iya sebenarnya apa, Oneng ?" Awan menghela napas panjangnya merasakan miliknya di bawah sana tiba-tiba terasa sesak.
"Astaga dalam situasi begini, kenapa pikiranku mesum begini sih." Awan merutuki dirinya sendiri.
Ameera langsung memajukan wajahnya lalu berbisik. "Aku tidak tahu berapa ukuran rokku." ucapnya dengan lirih.
Karena roknya sebelumnya pembagian dari kantor dan entah kenapa langsung pas di badannya.
Sedangkan Awan bukannya fokus mendengarkan ucapan Ameera, tapi justru terpaku saat wajah keduanya berada sangat dekat.
Bahkan napas mint Ameera yang menyapu hangat di pipinya terasa menggelitik. "Cobaan apa ini Tuhan, kenapa kamu pertemukan aku dengan gadis sepolos ini." gumam Awan.
"Mas kamu dengar aku nggak sih ?" wajah Ameera semakin mendekat saat melihat Awan nampak terpaku menatapnya.
Awan langsung mendorong wajah Ameera hingga menjauh. "mulut kamu bau jangan dekat-dekat." tukasnya beralasan, padahal sebenarnya ia ingin melahapnya.
"Mana ada bau." dengan polosnya Ameera langsung membaui mulutnya sendiri.
"Nggak ah, orang bau mint begini." imbuhnya setelah menjauhkan telapak tangannya yang menutupi hidung serta mulutnya.
"Astaga Oneng Oneng." Awan rasanya ingin tepuk jidat.
"Jadi apa yang tadi membuatmu bingung ?" tanyanya kemudian.
"Tadi sudah ku bilang, ngapain bilang lagi ?" sahut Ameera.
"Astaga nih anak benar-benar, untung aku cinta." gerutu Awan mulai kesal, tapi ia tidak mungkin menunjukkannya.
Melihat Awan geleng-geleng kepala, Ameera tersenyum mengejek. "Becanda, mas." ucapnya meledek.
"Ya sudah cepat katakan Oneng, ya Allah." Awan rasanya ingin menenggelamkan kepalanya di dalam air.
"Aku tidak tahu ukuran rokku." lirih Ameera yang langsung membuat Awan benar-benar tepuk jidat.
"Jangan-jangan kamu tidak tahu juga ukuran d4l4m4nmu." imbuhnya lagi.
Ameera langsung melotot namun ia tak menanggapinya, karena kenyataannya memang seperti itu.
"Benarkan ?" Awan langsung tertawa terbahak-bahak.
Mendengar ledekan Awan, Ameera nampak merengut di pojokan toko dengan memajukan bibirnya.
"Kamu buka saja rokmu itu lalu lihat berapa ukurannya." saran Awan kemudian, namun langsung membuat Ameera melotot menatapnya.
"Dasar mesum." umpat Ameera bersungut-sungut.
"Ya nggak buka di sini juga Oneng, astagfirullah." Awan nampak mengacak rambutnya dengan kasar.
Kemudian ia menarik tangan Ameera lalu membawanya ke ruang ganti yang ada di toko tersebut.
"Kerja saja pintar, kenapa urusan begini saja tidak mengerti." gerutu Awan seraya berjalan mondar-mandir di depan ruang ganti Ameera.
Setelah tahu ukuran roknya, Ameera langsung membeli dua potong sekaligus.
"Berapa mbak ?" tanyanya saat berada di kasir, ia nampak mengeluarkan dompetnya.
"Tidak usah, aku punya uang kok." tolak Ameera sembari menghitung uang sesuai total harga.
"Pake ini saja, mbak." tegas Awan sembari menatap penjaga kasir tersebut dengan tatapan mengintimidasi.
"Baik, mas." karena takut, penjaga kasir tersebut langsung mengambil kartu Awan.
"Selalu saja pemaksaan." gerutu Ameera.
Kemudian ia langsung membawa barang belanjaannya, lalu pergi meninggalkan Awan.
"Kamu mau kemana ?" teriak Awan saat Ameera berjalan bukan ke arah parkiran mobilnya.
"Cari taksi." sahut Ameera dengan ketus.
"Ikut aku dengan sukarela atau ku gendong ?" gertak Awan hingga membuat Ameera langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa sih selalu memaksa dan berbuat seenaknya sendiri padaku." teriak Ameera dengan kesal.
"Karena kamu milikku." tegas Awan balas menatapnya.
"Kamu pikir aku barang, bisa kamu miliki seenaknya." protes Ameera.
"Ikut aku atau ku cium di sini." ancam Awan dengan nyaring hingga membuat orang di sekitarnya nampak memperhatikannya.
Ameera langsung menunduk dengan wajah memerah, lebih baik untuk saat ini ia mengalah dari pada Awan membuat keadaan semakin kacau.
Bisa-bisa ia akan di giring ke KUA, memikirkan hal itu Ameera bergidik ngeri. Ia masih sangat muda dan belum berpikir untuk menikah dalam waktu dekat.
"Baiklah." ucapnya kemudian dengan polos.
Setelah itu Awan langsung menggenggam tangannya lalu di bawanya berlalu menuju mobilnya.
Beberapa saat kemudian Awan menghentikan mobilnya di parkiran Mess mereka, karena hari sudah gelap mess nampak sepi.
"Tunggu Meera." panggil Awan saat Ameera hendak membuka pintu mobil.
"Apa lag...." ucapan Ameera menggantung saat Awan tiba-tiba membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Laki-laki itu nampak m3lum4t bibir Ameera dengan lembut, sangat berbeda dengan ciumanan pertama mereka waktu itu.
Ameera terkejut, ia nampak melebarkan matanya. Namun tenaganya yang sudah terkuras habis untuk bekerja dan berjalan-jalan di mall tadi membuatnya tak maksimal melawan.
Pada akhirnya ia hanya pasrah saat pukulannya di dada pria itu tak berarti apa-apa.
Awan yang sedari tadi sudah menahan hasratnya, nampak begitu menikmati bibir ranum Ameera.
Ia menyesapnya dan mencecapnya hingga membuat gadis itu melenguh tertahan.
Saat Ameera tersengal, baru Awan melepaskan panggutannya dan membiarkan gadis itu menghirup oksigen sebanyak yang dia mau.
Lagi-lagi Ameera merasakan kakinya lemas dan tubuhnya sedikit bergetar karena ciuman tadi.
"Kamu...." Ameera ingin protes tapi Awan langsung menyelanya.
"Cepat masuklah atau kamu ingin mengulangnya lagi." sela Awan yang langsung membuat Ameera buru-buru membuka pintu mobilnya.
"Jangan kemana-mana, aku akan membelikan mu makan malam." teriak Awan, namun Ameera terus saja melangkah mengabaikan ucapannya.
"Kamu baik-baik saja, Meera ?" tegur Nita saat berpapasan dengan Ameera.
"Kamu sakit ?" imbuhnya lagi saat Ameera tak menjawab pertanyaannya.
"A-aku baik-baik saja, ya sudah aku masuk dulu." sahut Ameera, kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera dan Rangga nampak berjalan kaki menuju kantornya, saat melihat Awan di lobby ia langsung menghindar dengan menarik tangan Rangga menjauh.
"Menyebalkan, harusnya kan dia masuk sore." gerutu Ameera sembari melipir menuju ruangannya.
"Kenapa ?" tanya Rangga saat mendengar gerutuan Ameera yang tidak jelas.
"Nggak, nggak apa-apa lupakan." sahut Ameera dengan tersenyum nyengir, semoga saja Rangga tidak mencurigai tingkah anehnya.
Sementara itu Fajar yang baru melakukan absensi, nampak menatap tak suka saat melihat Ameera terlihat akrab dengan Rangga.
"Kenapa bro? kangen sama mantan ?" ledek salah satu teman kerjanya.
"Tidak, aku sudah punya Tiara. Lagipula aku sudah puas meniduri Ameera, siapa pun yang menjadi kekasihnya dia mendapatkan bekasku." sahut Fajar sembari berlalu keluar dari kantor tersebut.
Sementara itu Awan yang tak sengaja mendengar perkataan Fajar nampak mengepalkan tangannya, rahangnya langsung mengeras saat membayangkan tubuh Ameera pernah di jamah oleh mantan kekasihnya tersebut.