Ameera

Ameera
Ameera terpaksa berbohong



💥Jangan berbohong jika kamu ingin menyelesaikan masalah, karena ketika kamu berbohong akan muncul masalah lainnya💥


Ameera nampak mengusap air matanya sebelum masuk ke dalam kamarnya, sungguh perkataan ibu mertuanya sangat melukai hatinya.


Kemudian ia berusaha mengulas senyumnya saat melihat sang suami yang terlihat sedang bermain game di depan layar televisinya.


"Lama banget sayang." keluh Awan saat melihat Ameera baru masuk kamarnya.


"Iya, ngobrol dulu sama mama." sahut Ameera seraya berjalan mendekatinya.


"Ngobrol apa ?" Awan yang sibuk bermain game nampak menatapnya sekilas.


"Ngobrol biasa aja mas." dusta Ameera, ia sengaja tak mengadukan ucapan mertuanya pada sang suami agar dirinya tidak semakin di benci oleh ibu mertuanya tersebut.


"Sering-seringlah ngobrol sama mama biar akrab !!" saran Awan saat Ameera duduk di sebelahnya.


"Iya." sahut Ameera menatap suaminya yang sibuk bermain game, ingin sekali ia bercerita tapi lidahnya seakan tercekat.


"Mama itu sangat baik sayang, hanya saja kamu belum terlalu mengenalnya." tukas Awan lagi.


"Hm." Ameera mengangguk, lalu ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Tak berapa lama tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


"Biar aku saja." ucap Ameera seraya beranjak dari duduknya.


"Ada apa, bik ?" tanyanya saat melihat ARTnya sudah berdiri di depan pintunya kamarnya.


"Di panggil ibu mbak, suruh bantuin masak untuk makan siang." ucap ARTnya tersebut.


"Terima kasih bik, saya akan segera turun." sahut Ameera yang langsung di anggukin oleh ARTnya itu.


"Mas, bagaimana ini aku nggak bisa masak ?" ucap Ameera setelah menutup pintunya kembali.


"Ya sudah nggak usah masak, kita beli di luar saja." sahut Awan dengan cuek.


"Mana bisa begitu." cebik Ameera.


Awan nampak menatap kasihan pada istrinya itu. "Baiklah, ayo ku temani." ucapnya sembari beranjak dari depan tv, lalu ia segera mematikan televisinya.


"Mas memang bisa ?" tanya Ameera penasaran.


"Bisa dikit." sahut Awan yang langsung membuat Ameera tersenyum girang.


"Beneran mas ?" ucapnya belum yakin.


"Hm." angguk Awan.


"Nama bumbu-bumbu tahu juga ?" tanya Ameera lagi.


"Tahu." dusta Awan.


"Baiklah, nanti bantuin ya kalau mama minta di ambilkan bumbu ?" mohon Ameera.


"Iya." sahut Awan sembari mengacak-acak rambut sang istri dengan gemas.


"Maaf, aku nggak bisa masak." Ameera nampak muram.


"Nggak apa-apa, ayo !!" Awan meyakinkan kemudian ia segera mengajaknya keluar kamarnya.


Sesampainya di dapur Ameera langsung mendekati sang mertua yang nampak memotong sayuran di atas mejanya.


"Ma." sapanya kemudian yang langsung membuat nyonya Amanda mengangkat kepala menatapnya.


"Ayo sini nak, bantuin mama masak. Bisakan ?" ucap nyonya Amanda dengan mengulas senyumnya menatap Ameera dan Awan bergantian.


Ameera yang jarang sekali melihat senyuman ibu mertuanya tersebut nampak tertegun, kemudian ia ikutan tersenyum.


"Mau masak apa, Ma ?" tanyanya kemudian.


"Opor ayam sama sayur." sahut nyonya Amanda.


"Nak kamu ngapain kesini, sana istirahat saja di kamarmu !!" imbuhnya lagi menatap putranya tersebut.


"Aku di sini aja ma, bosan di kamar." sahut Awan beralasan.


"Baiklah, duduklah kalau begitu apa pinggangmu masih sakit ?" tanya sang ibu lagi.


"Aku baik-baik saja ma, tenang saja." sahut Awan meyakinkan.


"Jangan terlalu lelah, ingat kata dokter kamu harus banyak beristirahat biar cepat pulih." nasihat sang ibu.


"Iya ma, Iya. Kalau bicara terus kapan masaknya ?"


"Dasar bandel." gerutu nyonya Amanda kemudian ia kembali fokus dengan masakan.


"Meer, bisa tolong ambilkan kemiri !!" perintahnya kemudian pada sang menantu.


Ameera yang tidak tahu namanya kemiri nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa bunda kemarin nggak memberitahukan padaku mana yang namanya kemiri ?" Ameera mengingat sempat belajar memasak dengan ibunya sebelum ia melangsungkan pernikahan waktu itu.


"Mas yang mana ?" lirih Ameera menatap suaminya tersebut.


Awan yang melihat kepanikan Ameera nampak terkekeh, karena ia juga tidak tahu nama bumbu-bumbu dapur.


"Bawa saja semua kasih mama." bisiknya.


Ameera yang nampak ragu langsung membawa tempat bumbu tersebut dan meletakkannya di atas meja


"Saya bawa semua ma, siapa tahu mama butuh bumbu yang lain." ucapnya beralasan dengan hati ketar ketir.


"Oh Iya nggak apa-apa, Mama juga butuh yang lain." sahut nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera lega.


Mertuanya itu langsung meletakkan beberapa bumbu di atas ulekan.


"Sekarang kamu ulek sampai lembut !!" perintahnya kemudian yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya.


"Ma, biar bibik yang melakukannya." sela Awan.


"Bibik sibuk dengan cucian." ucap sang ibu beralasan.


"Saya bisa kok, ma." Ameera segera mengambil ulekan tersebut.


Ia nampak berusaha mengulek bumbu-bumbu tersebut dengan susah payah, bahkan sampai keringat membasahi dahinya.


"Bawa sini biar aku yang melakukannya !! Awan langsung mengambil ulekan di tangan istrinya saat melihat wanita itu nampak kesusahan.


"Kamu lagi sakit Nak, biar bibi saja yang melakukannya." tegur nyonya Amanda saat melihat putranya itu membantu pekerjaan Ameera.


"Bik !!" panggilnya kemudian.


"Sudah temani Awan saja di kamar !!" perintahnya menatap Ameera dengan sedikit kesal.


"Nggak apa-apa Ma, saya bisa kok." Ameera merasa tidak enak hati .


"Sudah sayang, kamu temani aku saja di kamar." Awan langsung menarik tangan Ameera lalu mengajaknya pergi.


"Mas, nggak enak sama mama." protes Ameera saat Awan mengajaknya menaiki anak tangga.


"Kalau nggak enak di kasih kucing, sayang." sahut Awan cuek.


"Nggak lucu tahu, mas." cebik Ameera dongkol.


"Lihat tanganmu merah gara-gara ngulek bumbu, padahal mama juga biasanya menggunakan blander." Awan kesal saat melihat tangan Ameera yang nampak memerah.


"Padahal tadi sudah hampir lembut." gerutu Ameera sepanjang melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Sementara nyonya Amanda nampak menggerutu saat melihat kepergian menantunya tersebut.


"Seenggaknya kalau tidak kaya itu, ya harus ada gunanya." gerutunya dengan kesal.


"Bu, jadi di apakan ini bumbunya ?" bibik melihat bumbu di atas pengulekan yang belum sepenuhnya hancur.


"Di blend saja." sahut nyonya Amanda yang nampak masih kesal.


Kemudian ARTnya tersebut langsung mengambil blander. "Ada-ada saja ibu ini, biasanya juga pakai blender." gerutunya dalam hati.


Malam harinya setelah menyelesaikan makan malamnya dan membersihkan semua peralatan makan, Ameera segera naik ke kamarnya meninggalkan Awan yang masih berbincang dengan sang Ayah.


Sampai kamarnya, Ameera segera membersihkan dirinya kemudian merebahkan badannya di atas ranjangnya.


Sepertinya ia harus segera tidur sebelum suaminya datang, ia tidak mau jika pria itu meminta haknya. Karena nanti ibu mertuanya pasti akan menyalahkannya lagi.


Hingga satu jam kemudian Ameera masih belum bisa memejamkan matanya, mungkin karena tadi sore ia sempat tertidur bersama sang suami.


"Ayolah mata, cepatlah ngantuk." gerutunya dengan kesal, karena sama sekali tidak mengantuk.


Saat pintu kamarnya tiba-tiba di buka Ameera nampak terlonjak kaget, kemudian ia segera berpura-pura tertidur.


"Sayang, maaf ya lama. Tadi Papa bahas kerjaan sebentar." ucap Awan seraya mendekati sang istri.


"Sayang." panggilnya lagi namun istrinya itu tak berkutik.


"Sayang, kamu beneran tidur ?" Awan nampak menggoyang lengan Ameera, namun wanita itu sama sekali tak terusik.


"Bukannya tadi sore kamu baru bangun, masa jam segini sudah tidur lagi ?" gerutu Awan seraya menatap jam diatas nakas yang menunjukkan pukul 9 malam.


Awan yang curiga sang istri sedang berpura-pura langsung tersenyum penuh arti.


"Cepat bangun sayang, kalau tidak aku akan membuatmu kelelahan sepanjang malam !!" tegasnya yang langsung membuat Ameera segera membuka matanya.