
Zilong berhenti tepat pada sebuah gubuk kecil yang sudah kumuh. Sepertinya, tempat itu sudah lama terbengkalai.
Ameeera sedikit merasa takjub karena pemandangan luar biasa indah di tempat terpencil ini. Ladang sawah yang hijau terlihat begitu indah dari lampu tiang jalanan yang sedikit temaram. Ameera akui tempat itu benar-benar indah.
"Kenapa kau mengajakku kemari? Apa kau ingin membunuhku?" Ameera beringsut mundur tatkala Zilong semakin mendekat kearahnya. Pria bernama asli Lucard Steve Williams itu menatap tajam Ameera.
"Belum waktunya untuk membunuhmu, aku butuh umpan dan itu adalah kau sendiri Noona Passiera."
Lagi dan lagi Ameera merasa ketakutan. Ia ingin berlari sejauh mungkin, tapi dirinya tidak tahu harus kemana. Saat ini, hanya pria asing itulah yang bisa menyelamatkannya.
"Umm... siapa namamu? Kenapa kau memakai topeng?" Tanya Ameera ragu-ragu.
"Zilong. Aku suka."
Hanya itu saja? Benar-benar pria aneh.
Pria didepannya saat ini memiliki aura dan sifat yang berbeda dibandingkan dengan pria yang sudah pernah Ameera temui. Sebagian besar dari mereka adalah sampah penggoda wanita yang tahu-nya hanya bermain-main saja.
"Pergilah mandi di pintu sebelah sana. Aku tidak punya baju ganti perempuan, sementara kau pakai kemejaku saja."
"Lalu kau akan pakai apa?"
"Aku masih punya kaos oblong di mobil. Cepatlah! Kita tak punya banyak waktu."
"Huh... dasar tukang suruh."
Ingin sekali rasanya Ameera mencekik leher pria asing yang mengaku bernama Zilong itu, kemudian ia refund ke akhirat.
Zraaaaaaassssshhh
Ameera menghela nafas lelah dibawah guyuran shower yang membasahi seluruh badannya. Kejadian ini benar-benar diluar akal sehat Ameera. Semuanya terjadi begitu saja.
Orangtuanya meninggal. Seluruh keluarganya dibantai habis dalam 1 malam. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bahkan, Ameera tidak tahu mengapa semua ini menimpa dirinya.
Sial? Mungkin bisa dikatakan begitu tapi mengapa pria itu masih menyelamatkan hidupnya? Walaupun pada kenyataannya kini ia tidak lebih dari seorang sandra.
Ameera menyisir rambutnya dengan jari jemari lentiknya.
"Eeeh?"
Merasa ada sesuatu yang menempel di rambutnya, Ameera menarik perlahan benda itu dan mengeluarkannya dari sana.
Ameera terkejut tatkala mendapati benda kecil merah berkedip yang ada ditangannya. Mulutnya menganga lebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Alat pelacak? Sejak kapan? Kenapa aku tak menyadarinya?"
Tak ingin membuang waktu, Ameera bergegas keluar dari kamar mandi guna memberitahukan apa yang terjadi. Jika prediksi Ameera tidak salah, Orang-orang yang mengejarnya pasti tahu lokasi mereka saat ini.
"Apa yang kau lakukan dengan benda itu?"
Ameera sedikit merasa heran akan kelakuan Zilong yang tengah membersihkan debu pada sebuah penutup. Jika dilihat dari dekat benda itu lebih mirip seperti cover mobil.
Sraaaaakkk
Ameera tak menyangka jika apa yang ia pikirkan adalah kenyataan. Sebuah mobil dengan desain unik dan warna yang tidak terlalu mencolok memikat dirinya. Memiliki kecepatan mobil yang tidak biasa seperti mobil lainnya.
"Darimana kau mendapatkan ini?"
"Kubuat sendiri."
"Benarkah? Kau sungguh hebat."
Tunggu! Apakah dirinya baru saja memuji pria asing itu?
Tidak tidak! Ameera tidak boleh lengah sedetikpun.
"Umm anu... itu sebenarnya, ada alat pelacak di rambutku." Ameera berucap pelan. Meski begitu, Zilong masih bisa mendengar perkataan Ameera.
"Kita akan pergi dari Inggris."
"Apa?! Tidak! Aku tidak mau pergi. Ini adalah rumahku!"
"Boleh saja. Kematianmu juga bukan urusanku."
Ameera kira laki-laki itu akan menahan dan memintanya untuk tetap pergi guna menjamin keselamatan dirinya. Tetapi, jawabannya sangat diluar ekspetasi Ameera.
Apa-apaan pria itu?
"Aku tetap tidak mau pergi denganmu!" Ameera bersikukuh dengan pendiriannya. Untuk apa ia harus menuruti perintah laki-laki kejam dan tidak berperasaan sepertinya?
Ameera melotot tajam. Tangannya ingin menggapai dan mengambil barang yang seharusnya menjadi miliknya itu. Tapi sayang, ia kalah cepat dengan Zilong.
"Jangan keras kepala. Sekarang kita pergi."
Ameera mendengus tidak suka dengan gaya bicara pria asing yang dikenalnya beberapa menit yang lalu. Tapi apa boleh buat. Saat ini ia tidak punya pilihan lain selain ikut dengannya.
.
.
.
.
"Kalian masuklah dan jangan keluar tanpa pengawal. Kalian mengerti?"
Rania, Elleonora dan Denia mengangguk. Bibir ketiganya terkatup rapat tidak mampu mengeluarkan suara sekecil apapun.
"T-terimakasih..." Elleonora berucap pelan walau ia masih merasa takut. Jika tidak ada yang berani mengeluarkan suara bisa-bisa ia mempermalukan keluarga kerajaan dan dianggap putri yang tidak tahu sopan santun.
Monaco tersenyum dan mengangguk. Baru kali ini ada seorang putri bangsawan yang ramah seperti mereka. Biasanya, mereka sulit mengucapkan kalimat barusan.
"Kami pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik," Ucap Leonard mewakilkan 2 orang temannya tadi. Ia juga tidak mau kalah saing mendapat ucapan terimakasih dari gadis cantik seperti mereka.
"Baik. Hati-hatilah di jalan."
Leonard tersenyum mendengar ucapan Rania. Hatinya terasa berbunga-bunga tatkala gadis itu menatapnya dengan tatapan lugu.
Leonard harus mati-matian untuk tidak mencium gadis itu sekarang. Jiwa-jiwa fakboy yang melekat dalam tubuhnya meronta begitu saja. Kali ini, Leonard harus bersusah payah menenangkan jiwa iblisnya.
"Bisakah kau berhenti menunjukkan sikap seperti itu? Kau seperti orang yang sudah hilang kejiwaannya."
Richard membuang wajahnya kesamping saat mendapat tatapan tajam nan membunuh dari Leonard. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal sedemikian rupa? Seharusnya, sesama pria mereka bisa mengerti bukan?
"Hng... sejak kapan Leonard hilang kejiwaan? Setahuku dia tidak memiliki jiwa sejak dia lahir."
Leonard melotot tajam ketika kalimat Monaco begitu terasa menusuk di telinganya.
"Kurasa otakmu perlu diperbaiki ulang tuan Monaco yang terhormat."
"Heheh," Monaco melirik sebentar kearah Leonard yang tengah kesal di jok belakang mobil,"dan aku akan kembali memperbaiki wajahmu agar tidak ada perempuan yang menyukaimu Leo."
"Hahahahahaha... cukup-cukup! Kalian berdua sama saja. Kenapa kalian tidak berpacaran saja hm?"
Richard tertawa hambar saat kedua orang itu melihatnya dengan tatapan tidak suka. Tangannya menggaruk pelapisnya yang tidak gatal.
"Tidak!" Jawab keduanya bersamaan.
Richard sedikit merasa heran. Mengapa ia bisa memiliki teman dengan watak yang selalu bertolak belakang? Satunya keras kepala dan dingin, yang satunya tidak mau mengalah sama sekali.
"Aaaaiissssshhh sudahlah, lupakan saja apa yang aku katakan..."
Benar, lupakan saja apa yang ia ucapkan dan bersikaplah dengan wajar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
.
.
.
.
"Apakah mereka akan mengejar kita lagi?"
Ameera sesekali menengok ke arah belakang mobil. Ia ingin memastikan apakah para penjahat itu masih mengejar mereka.
"Tergantung keberuntungan."
Hanya itu saja? Ucapan macam apa itu?
Ameera masih merasa was-was dan cemas berlebihan. Itu adalah kebiasaan yang ia punya sejak kecil. Tangannya akan terasa basah dan tubuhnya akan panas dingin jika masalah yang membuatnya cemas tidak terhenti.
Ameera menatap sekeliling mobil. Aneh rasanya jika ia merasa tidak nyaman didalam mobil yang didesain oleh Zilong. Matanya menatap pria itu dalam diam, segala pertanyaan telintas dalam benaknya. Mengapa ia tidak melepaskan topengnya?.
Ada apa sebenarnya?.
Tbc.