
Awan nampak membuka pintu ruangan Ameera dengan sedikit keras hingga membuat beberapa karyawan di sana terperanjat saat melihatnya.
"Eh ada pak Awan." Bu Dewi yang sedang makan langsung beranjak saat melihat Awan datang.
Tommy yang duduk di depan meja Ameera pun segera beranjak dari duduknya.
"Selamat siang, pak Awan." sapa Tommy kemudian.
"Apa kalian sedang makan siang ?" tanya Awan.
"Benar pak, mbak Ameera baik loh bisa membuat pak Tommy mentraktir kita." Bu Dewi menimpali.
Mendengar perkataan bu Dewi, Awan nampak memicing menatap istrinya. Sedangkan istrinya bukannya merasa bersalah tapi justru terlihat biasa saja bahkan terlihat asyik menyantap makanannya.
"Baiklah kalau begitu silakan di lanjutkan, oh ya pak Tommy terima kasih banyak sudah mentraktir Ameera istri saya dan semua karyawan di sini." ucap Awan dengan menekankan kata-katanya.
Tommy yang sebelumnya tidak mencari tahu tentang Ameera nampak terkejut sekaligus merutuki dirinya sendiri saat mengetahui status wanita itu.
"Maaf pak Awan saya tidak tahu jika Bu Ameera istri bapak, karena saya lebih banyak ngantor di cabang jadi tidak tahu jika bapak sudah menikah." Tommy merasa bersalah karena sudah mengganggu istri atasannya, lagipula ia memang benar-benar tidak tahu sebelumnya.
Karyawan di sana pun juga sepertinya sengaja tidak memberitahunya dan Ameera pun tak banyak bicara saat bersamanya, wanita itu hanya bicara jika menyangkut tentang pekerjaan.
Lagipula siapa yang menyangka wanita yang masih sangat muda itu sudah menikah, malah tadinya ia pikir jika Ameera baru lulus sekolah menengah.
Awan mengangguk kecil menatap Tommy. "Baiklah silakan di lanjut, saya akan kembali ke ruangan saya." ucapnya menatap tegas Tommy, setelah itu ia segera berlalu keluar.
Sementara Tommy segera menyudahi makan siangnya lalu buru-buru meninggalkan ruangan tersebut.
Sore harinya.....
"Mas aku cari-cari sekalinya di sini, kenapa tidak menungguku seperti biasa ?" protes Ameera setelah sampai di parkiran, ia segera masuk ke dalam mobilnya tersebut.
Awan yang sedang menghisap sebatang rokok nampak tak menyahuti, rahangnya mengeras seperti sedang menahan emosi.
"Mas merokok lagi ?" Ameera melihat suaminya yang sedang asyik menghisap rokoknya nampak tak mengindahkan perkataannya, biasanya pria itu memang akan merokok jika sedang banyak masalah dengan pekerjaannya.
"Hm." sahut Awan seraya membuang puntung rokoknya, setelah itu ia segera menutup kaca mobilnya lalu mulai melaju membelah jalanan di depannya.
Melihat mood suaminya sedang tidak baik-baik saja, Ameera nampak diam tak bertanya apapun lagi.
Namun setelah ia pikir-pikir selama ini sebesar apapun masalah yang pria itu hadapi sedikit pun tak pernah di lampiaskan pada dirinya, suaminya itu pasti akan bersikap baik-baik saja di depannya,
"Mas marah sama aku ?" tanya Ameera kemudian, karena tak biasanya suaminya bersikap dingin seperti itu.
"Menurutmu ?" Awan balik bertanya, pandangannya lurus ke jalanan depannya itu.
"Aku tidak tahu salahku apa." sahut Ameera yang memang tak mengerti, tidak mungkin kan sang suami marah gara-gara Tommy mentraktirnya makan tadi siang.
Mendengar jawaban istrinya, Awan nampak menghela napas, kemudian ia semakin melajukan mobilnya saat masuk ke area komplek rumahnya.
"Mas, jawab dulu salahku apa ?" Ameera menahan tangan suaminya saat pria itu hendak membuka pintu mobilnya sesampainya di rumahnya.
"Jadi kamu tidak tahu salahmu apa ?" jawab Awan menatap istrinya itu.
Ameera yang tidak mengerti langsung menggelengkan kepalanya.
"Apa pantas seorang wanita yang sudah bersuami makan bersama pria lain ?" ucap Awan kemudian yang langsung membuat Ameera menggelengkan kepalanya.
"Sudah tahu tidak pantas tapi kenapa kamu masih melakukannya ?" cibir Awan menatap istrinya itu.
"Kita makannya ramai-ramai kok mas." Ameera membela diri.
"Mau ramai-ramai atau tidak itu tetap tidak pantas, kamu pernah nggak lihat aku makan dengan wanita lain? bahkan berinteraksi dengan mereka pun selalu ku batasi." tegas Awan menatap istrinya itu.
"Maaf." Ameera merasa bersalah, karena apa yang di katakan oleh suaminya memang benar.
"Maaf saja ?" cibir Awan menatap sejenak istrinya itu kemudian ia berlalu keluar dari mobilnya.
"Mas tunggu." Ameera mengejar Awan yang masuk kedalam rumahnya duluan.
"Tumben pulang cepat ?" nyonya Amanda yang baru keluar kamarnya nampak terkejut saat melihat putranya baru pulang.
Awan yang masih kesal tak mengindahkan perkataan ibunya, ia terus saja menaiki anak tangga.
"Mas tunggu, tolong maafkan aku." mohon Ameera seraya mengejar suaminya ke kamarnya.
Nyonya Amanda yang tak mengerti langsung memanggil Mala yang baru menutup pintu setelah Ameera masuk.
"Mala, mereka kenapa ?" tanyanya dengan lirih.
"Saya tidak tahu bu, sepertinya pak Awan dan bu Ameera sedang berantem." sahut Mala mengingat bagaimana Awan tadi nampak jutek.
"Benarkah ?" nyonya Amanda nampak tersenyum penuh arti.
"Ya sudah nanti agak malaman jika mereka tidak turun kamu naik saja keatas dan tawari putra saya makan malam, bilang saja kamu masak makanan kesukaannya." perintah nyonya Amanda kemudian.
"Baik, bu." sahut Mala yang nampak tersenyum senang.
Sementara itu Ameera yang baru masuk kamarnya langsung berjalan mendekati suaminya yang nampak sedang melepaskan kancing kemejanya.
"Maaf, aku salah mas." ucapnya sembari memeluk pria itu dari belakang.
"Tolong maafkan aku." imbuhnya lagi sembari terisak, namun suaminya itu masih bergeming.
"Aku harus ngapain biar mas mau memaafkan ku ?" ucap Ameera lagi yang mulai putus asa.
Melihat suaminya bergeming, Ameera langsung mengurai pelukannya lalu melangkah menghadap pria itu.
Tanpa berkata-kata lagi ia langsung berjinjit lalu mencium bibir suaminya, hanya sebuah kecupan singkat karena ia pun tak pandai untuk memulai ciuman.
Namun saat ia akan menjauhkan wajahnya, tiba-tiba suaminya menekan tengkuknya lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.
Pria itu seakan meluapkan amarahnya dengan mencium istrinya sedikit kasar dan menuntut bahkan kini mereka sudah berada di atas ranjangnya.
Dan tak menunggu lama keduanya kini saling menyatu dan berbagi keringat bersama.
Hentakan Awan yang sedikit kasar membuat Ameera nampak mendesah tak karuan, bahkan pria itu tak memberikannya jeda saat pelepasannya tiba.
Awan terus saja menghujamnya hingga pada akhirnya pria itu sampai pada puncaknya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh sang istri.
Mereka nampak saling berpelukan, merasakan sisa-sisa pelepasannya yang begitu memabukkan.
Dan bersamaan itu tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar dengan nyaring.