Ameera

Ameera
Ameera mengunjungi rumah Awan



💥Segelas kopi lebih jujur, dia hitam tanpa harus berpura-pura putih, dia pahit tanpa harus berlaga manis💥


"Mari mbak, ikut saya." ujar sang sopir saat Ameera nampak berdiri mematung setelah keluar dari mobilnya.


"Terima kasih, pak." Ameera langsung mengekori pria itu dengan dada yang berdebar tak karuan.


"Assalamu'alaikum." ucap Ameera saat akan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Wa'alaikum salam, sudah datang? ayo masuk !" sahut nyonya Amanda yang baru keluar dari kamarnya, wanita itu langsung mengulas senyumnya menatap Ameera.


Sementara Ameera nampak tercengang, karena sambutan wanita di depannya itu sangat berbeda saat mereka bertemu di mes waktu itu.


"Terima kasih, tante." Ameera langsung mengambil tangan calon ibu mertuanya itu lalu menciumnya dengan takzim.


"Ayo, duduklah." perintah nyonya Amanda menyuruh Ameera untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamunya.


"Terima kasih, ini buat tante." sebelum duduk Ameera nampak menyerahkan oleh-oleh yang dia bawa tadi.


"Tidak usah repot-repot." tukas nyonya Amanda seraya menerima oleh-oleh yang di bawa oleh Ameera, lalu meletakkannya di atas meja.


"Nggak repot kok tante." Ameera mengulas senyumnya, rasa gugupnya mulai berkurang karena calon mertuanya ternyata sangat ramah.


Mungkin waktu itu ia belum kenal, ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang.


"Capek di perjalanan ?" tanya nyonya Amanda setelah duduk di sofa seberang Ameera.


"Nggak juga tante, saya sangat menikmati perjalanan karena sudah lama tidak pulang." dusta Ameera, padahal ia lumayan lelah setelah menempuh beberapa jam perjalanan.


"Kalau lelah istirahat saja di kamar." tawar nyonya Amanda.


"Nggak tante, saya nggak lelah." tolak Ameera.


"Sudah makan siang ?" tanya nyonya Amanda lagi.


"Sudah, tante." lagi-lagi Ameera berdusta, ia hanya sarapan sepotong roti tadi pagi. Lagipula sangat tidak sopan jika ia yang baru datang tiba-tiba minta makan dan beristirahat.


"Oh ya sejak kapan pacaran sama Awan ?" tanya nyonya Amanda basa-basi.


"Sudah 3 bulanan, tante." sahut Ameera.


"Sayang sama Awan ?" tanyanya lagi.


"Iya." angguk Ameera.


Nyonya Amanda nampak menghela napas sejenak, setelah itu ia mengambil album foto di rak mejanya.


"Kemarilah." perintahnya kemudian yang langsung di angguki Ameera.


Gadis itu langsung beranjak dari duduknya lalu berpindah duduk di samping wanita paruh baya tersebut.


"Ini album foto milik Awan waktu kecil." nyonya Amanda mulai membuka album tersebut.


Ameera nampak mengulas senyumnya saat melihat Awan saat masih kecil, sepertinya pria itu di asuh dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya.


"Semenjak di kandungan Awan sudah kami berikan yang terbaik, untuk itu dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar. Kami juga memberikannya pendidikan yang berkualitas agar kelak dia sukses." tukas nyonya Amanda membanggakan putranya.


"Aamiin." ucap Ameera.


Kemudian mereka melanjutkan lagi melihat-lihat album tersebut sembari berbincang dan Ameera lihat nyonya Amanda adalah sosok ibu yang sangat menyayangi putranya.


Beberapa saat kemudian nyonya Amanda mengajak Ameera beranjak dari sana.


"Ayo, ada yang mau saya tunjukkan padamu." ajaknya seraya beranjak dari duduknya lalu di ikuti oleh Ameera.


Wanita paruh baya itu nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah kamar, kemudian membuka lemari lalu mengambil sebuah bag.


"Ini kebaya yang paling saya sukai, dulu pernah di pakai adiknya Awan saat menikah, baguskan? ini di rancang langsung oleh desainer terkenal loh." nyonya Amanda menunjukkan sebuah kebaya berwarna gold yang terlihat sangat mewah lalu ia memberikannya pada Ameera.


"Sangat bagus, tante." puji Ameera dan harganya pasti sangat mahal batinnya.


"Nanti kalau kamu menikah sama Awan pakai kebaya itu juga ya." pinta nyonya Amanda kemudian yang langsung membuat Ameera melebarkan senyumnya.


Sungguh ia sangat senang akan perhatian calon mertuanya tersebut.


"Terima kasih, tante." ucap Ameera, kemudian ia memperhatikan setiap detail kebaya di tangannya tersebut.


Pasti perancangnya sangat teliti karena jahitannya sangat rapi dan banyak sekali payet yang menghiasi.


Namun ia langsung tersentak, saat tiba-tiba nyonya Amanda mengambil kebaya tersebut dari tangannya.


"Sepertinya kamu jangan terlalu cepat menikah sama Awan, nanti saja menikahnya dan ini saya simpan dulu ya." nyonya Amanda melipat lagi kebaya itu dengan hati-hati lalu memasukkannya kembali kedalam bag.


Sementara Ameera nampak terdiam, apa maksud perkataan calon mertuanya tadi. Kenapa tiba-tiba sikapnya cepat sekali berubah.


"Ayo keluar." ajak nyonya Amanda kemudian setelah menyimpan kebayanya di dalam lemari.


"Terima kasih, tante." sahut Ameera.


"Kamar Awan di lantai atas dekat tangga, masuk saja tidak di kunci."


"Baik, tante." sahut Ameera dan bersamaan itu Pak Djoyo nampak masuk ke dalam rumahnya, sepertinya pria paruh baya itu baru pulang dari kantornya karena masih terlihat rapi dengan setelan kemeja lengkap dengan jasnya.


"Sudah datang, Nak." ujarnya saat melihat Ameera.


"Iya, om." Ameera langsung mengambil tangan pria itu lalu menciumnya dengan takzim dan itu membuat pak Djoyo tersenyum menatapnya.


"Sudah makan ?" tanya pak Djoyo lagi.


"Sudah Om, tadi di perjalanan." dusta Ameera.


"Makan lagi ya, temani kami makan siang yang sedikit kesorean." ujar pak Djoyo terkekeh sembari menatap jam yang menunjukkan pukul 3 sore.


"Iya Meera, ayo." ajak nyonya Amanda yang membuat Ameera enggan untuk menolaknya.


Kemudian mereka segera menuju meja makan yang berada di ruang keluarga.


"Masakan Mamanya Awan itu sangat enak, makanya saya dulu jatuh cinta padanya." ucap pak Djoyo memuji sang istri yang langsung membuat nyonya Amanda tersipu.


Ameera yang melihat itu nampak mengulas senyumnya, ternyata sifat Awan menurun dari sang ayah karena pria itu juga selalu pandai menggodanya.


Setelah itu mereka nampak fokus dengan makanannya, sepertinya keluarga itu di biasakan untuk tidak berbicara saat sedang makan.


"Mama." seru seseorang saat mereka baru selesai makan, wanita berpenampilan modis itu nampak berjalan mendekat.


"Siapa, ma ?" ucapnya lagi saat melihat Ameera.


"Pacarnya kakakmu." sahut nyonya Amanda.


"Hai, aku Airin adiknya mas Awan." wanita itu langsung memperkenalkan dirinya.


"Ameera." Ameera menyambut jabat tangannya.


Airin nampak tersenyum menatap Ameera, kemudian ia menghempaskan tubuhnya di samping sang ibu.


"Mas Awan pintar juga cari pacar." celetuknya kemudian.


"Kamu kuliah atau kerja ?" tanyanya lagi menatap Ameera.


"Kerja, kebetulan satu kantor dengan mas Awan." sahut Ameera.


"Oh satu kantor." Airin nampak mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia mulai berbincang dengan sang ibu dan juga ayahnya.


Dari pembicaraan mereka, Ameera bisa menyimpulkan jika Airin sudah menikah dan mempunyai seorang anak.


Beberapa saat kemudian Ameera menaiki anak tangga setelah nyonya Amanda menyuruhnya untuk beristirahat.


Lalu ia masuk ke dalam kamar Awan yang terlihat lumayan luas dengan cat abu yang mendominasi.


Kemudian ia mulai merebahkan tubuhnya yang lelah karena perjalanannya tadi dan tak berapa lama ia nampak terlelap.


Hingga menjelang petang Ameera baru membuka matanya. "Astagfirullahaladzim, aku ketiduran." ucapnya saat melihat kamar asing yang ia tempati, sepertinya sejenak ia melupakan sedang berada di mana.


Kemudian ia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, ia segera keluar kamarnya karena merasa tidak enak dengan calon mertuanya tersebut.


Namun sesampainya di lantai bawah, ia tak mendapati seorang pun. Rumah tersebut nampak sepi.


"Mbak, mau makan ?" tiba-tiba seorang ART berjalan mendekatinya hingga membuatnya terlonjak kaget.


"Astagfirullahaladzim." ucapnya sembari memegang dadanya.


"Mbak mau makan ?" tanya ART itu lagi.


"Saya belum lapar, tante dan Om kemana bik ?" tanya Ameera.


"Sedang keluar, mbak." sahut ART tersebut dan bersamaan itu nampak seorang wanita paruh baya berjalan ke arah Ameera.


"Kamu pacarnya Awan ?" tanyanya to the point menatap Ameera.


"Iya." sahut Ameera.


"Saya tantenya Awan, boleh ikut saya sebentar? ada hal penting yang mau saya bicarakan." tukas wanita itu yang langsung di angguki oleh Ameera.


Wanita itu nampak membawa Ameera ke sebuah paviliun yang ada di belakang rumah tersebut.


"Ada apa ya tante ?" tanya Ameera penasaran.


"Duduklah !!" perintah wanita itu.


Ameera segera mendudukkan dirinya, ada perasaan tidak nyaman saat melihat tatapan wanita itu.