Ameera

Ameera
Part~117



"Kamu nggak kerja nak ?" tanya pak Djoyo setelah menyadari ada anak menantunya di rumah wanita selingkuhannya itu.


"Nggak pa, sama mas Awan di suruh berhenti saja." terang Ameera.


"Biarkan saja mas, kodratnya perempuan kan memang di rumah dan prialah yang wajib mencari nafkah." Selvi ikut menimpali.


"Siapa tahu dengan Ameera di rumah dia bisa cepat memberikan mu cucu, iya kan Meera ?" sambungnya lagi sembari menatap ke arah Ameera.


"Iya tante, mohon doanya." sahut Ameera menanggapi.


Sedangkan pak Djoyo hanya manggut-manggut saja, toh ada benarnya juga ucapan kekasihnya itu. Sebagai seorang wanita Selvi memang sangat bijak dan ucapan yang keluar dari bibirnya selalu terdengar adem, itu yang bikin pria itu jatuh hati padanya.


"Sayang, jam berapa pulang ?"


Ameera nampak mengulas senyumnya saat melihat pesan yang di kirim oleh suaminya itu.


"Sebentar lagi aku pulang, mas."


Ameera langsung membalas pesan suaminya tersebut, toh hari sudah mulai sore ia harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam pria itu.


"Pa, tante. Meera pulang dulu ya." pamitnya seraya beranjak dari duduknya.


"Kenapa terburu-buru ?" tanya pak Djoyo yang sedang duduk di samping Selvi.


"Sudah sore, pa." sahut Ameera sembari mencium tangan pria itu dengan takzim lalu beralih mencium tangan Selvi.


Sesampainya di rumah wanita itu segera menyiapkan makan malamnya lalu membersihkan dirinya sebelum sang suami datang.


"Cantiknya istriku." puji Awan saat istrinya itu baru membuka pintu untuknya.


Ameera hanya menanggapinya dengan senyuman kemudian mengambil tangan pria itu lalu menciumnya dengan takzim.


"Mandi mas, aku tadi masak kesukaanmu loh." ucapnya setelah meletakkan helm suaminya di tempatnya.


"Ntar dulu sayang aku masih capek." ucapnya seraya menggiring istrinya untuk duduk di sofa.


"Hari ini kamu ngapain saja ?" tanyanya kemudian.


"Main ke rumah tante Selvi saja mas." sahut Ameera jujur.


"Mas, bagaimana tanggapan mu dengan tante Selvi sepertinya papa makin hari makin dekat dengan beliau ?" tanya Ameera kemudian, ia ingin tahu pandangan suaminya itu.


"Aku bisa komen apa sayang, mereka bukan anak-anak lagi yang bisa kita nasihati. Dari pada kamu capek mikirin mereka mending mikirin kita saja." sahut Awan yang seperti tak peduli dengan kehidupan orang tuanya.


"Ya sudah mas mandi sana." Ameera yang tak puas dengan jawaban suaminya langsung menarik tangan pria itu agar segera beranjak dari duduknya.


"Nggak, satu ronde dulu." sahut Awan yang langsung membuat istrinya itu melotot.


"Mas mandi dulu gih." tolaknya kemudian.


"Nanti habis mandi lagi." sahut Awan yang tangannya mulai melepaskan pakaiannya, kalau sudah begitu istrinya itu bisa apa. Karena semenjak mereka tinggal sendiri suaminya seakan tak mengenal waktu dan tempat untuk menggaulinya.


Beberapa hari kemudian....


"Assalamualaikum, ma."


Ameera langsung mengangkat panggilan sang ibu mertua yang entah kenapa tiba-tiba menghubunginya.


"Wa'alaikumsalam, Meera bisa kesini sebentar ?"


"Iya, ma bisa. Kalau Meera boleh tahu ada apa ya ma ?"


"Sudah kesini saja, ada hal penting. Ya sudah mama tunggu di rumah."


"Ada apa ya ?" Ameera tiba-tiba mempunyai firasat tidak baik, apa ini ada hubungannya dengan tante Selvi dan ayah mertuanya itu.


Tak berpikir panjang Ameera segera datang ke rumah sang ibu mertua dengan mengendarai sebuah ojek.


"Assalamualaikum, ma." sapanya seraya mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam, ayo masuk." sahut nyonya Amanda dengan wajah datarnya.


Melihat raut wajah sang ibu yang tak bersahabat Ameera semakin yakin ada yang tidak beres, kemudian wanita itu mendudukkan dirinya di sofa seberang ibu mertuanya itu.


"Mama dengar kamu tidak kerja lagi ?" ucap nyonya Amanda membuka pembicaraan.


"Iya, ma. Sama mas Awan di suruh berhenti." terang Ameera.


"Halah itu hanya alasanmu saja, bilang saja kamu hanya ingin bermalas-malasan di rumah. Menyuruh putraku untuk kerja keras sendirian sedangkan kamu yang menghabiskan uangnya." sinis nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera terbelalak.


"Astagfirullah."


Ameera hanya bisa beristighfar dalam hati, karena melawan ucapan wanita itu hanya akan memperpanjang masalah.


"Aku sudah membesarkan Awan dan menyekolahkannya setinggi mungkin tapi ujung-ujungnya dia yang capek sendiri hidupin anak orang." ucap nyonya Amanda yang terdengar kesal.


Ameera yang mendengar itu nampak menghela napasnya sejenak. "Bukankah itu memang tugas seorang suami ma, menafkahi istrinya." ucapnya memberanikan diri.


"Iya, tapi kamu juga harus tahu diri juga. Bagus kalau kamu sudah punya anak, ini hamil juga belum." sinis nyonya Amanda lagi.


"Kasihan anakku capek kerja sendirian, sampai tidak punya apa-apa. Coba kamu lihat anak-anaknya tetangga mereka baru menikah juga, tapi sudah pada punya mobil dan rumah sedangkan Awan cuma motor butut. Mama saja sampai malu mau menginjak rumah sewaanmu yang kecil itu." sambungnya lagi yang semakin membuat Ameera terpojok.


Kenapa harus membandingkan dengan para anak tetangga yang pasti kedua orang tua mereka ikut menyokong kesuksesan mereka.


Sedangkan rumah tangganya dan Awan jangankan mendapatkan sokongan materi dari wanita itu yang ada sumpah serapah yang selalu terlontar dari bibirnya.


"Iya ma, nanti Ameera akan kerja lagi. Jika memang sudah tak ada yang ingin mama bicarakan lagi, Meera mohon diri ma." Ameera segera beranjak dari duduknya kemudian mengambil tangan wanita itu lalu menciumnya dengan takzim.


Setelah itu Ameera segera meninggalkan kediaman ibu mertuanya itu dengan berjalan kaki, dadanya rasanya bergemuruh karena perkataan wanita itu.


"Mas, aku kerja lagi ya." ucap Ameera malam itu setelah mereka selesai bertempur, Awan yang sudah memejamkan matanya kembali terjaga.


"Tidak." ucapnya lalu kembali tidur.


"Ayolah mas, aku bosan di rumah." mohon Ameera.


"Nggak, nanti kamu akan kecapekan." tolak Awan.


"Mas, ayolah. Aku janji nggak akan capek." Sepertinya Ameera tak menyerah, ia nampak menggoyang lengan suaminya agar segera bangun.


"Aku bilang nggak ya nggak sayang." keukeh Awan masih dengan memejamkan matanya.


"Mas ayolah." Ameera menggoyang lengan suaminya lagi.


Awan yang tadinya sudah mengantuk langsung kembali segar. "Aku bilang nggak ya nggak, sepertinya kamu belum lelah jadi satu kali lagi ya." ucapnya seraya membuang selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Mas." Ameera langsung mencebikkan bibirnya.


"Kita lihat saja besok, jika kamu tak kecapekan kamu bisa bekerja." ucap Awan yang kini sudah mengungkung istrinya itu lagi.


Ameera yang tahu suaminya itu tak setuju dengan idenya untuk kembali bekerja akhirnya pasrah saat pria itu kembali memasukinya dan ia yakin esok hari takkan bisa bangun lebih awal.


Selain karena tidurnya yang terlalu larut malam, tubuhnya juga pasti akan sangat lelah setelah pertempuran mereka semalaman. Sepertinya ia akan mencari cara lain untuk membujuk pria itu.