Ameera

Ameera
Gadis polos yang ternodai



💥Berpikir sebelum bertindak adalah kebijaksanaan, tetapi bertindak lalu berpikir akan berakhir pada sebuah penyesalan💥


"Mas ku mohon jangan lakukan ?" mohon Ameera dengan berderai air mata saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana sedang berusaha mengoyak miliknya yang selama ini selalu ia jaga.


Namun sepertinya Awan tak mengindahkannya, napsu sudah menutupi akal sehatnya. ia terus saja mencumbu Ameera serta berusaha memasukinya meski terasa sangat sulit.


"Kenapa sulit sekali, apa Fajar hanya melakukannya sekali." gumamnya.


Sebelumnya Awan memang meminum alkohol tapi hanya sedikit dan kini ia berada dalam kesadaran penuh.


Menitipkan kunci pada Ameera hanyalah akal-akalannya saja, karena di balik itu semua ia sudah merencanakan sesuatu.


Katakanlah dia jahat, tapi ia lakukan ini semua demi bisa memiliki gadis itu. Ia takut jika Fajar atau lelaki lain akan merebut Ameera darinya.


Kemudian Awan terus saja berusaha menembus pertahanan Ameera, tak peduli Ameera meronta dan memohon padanya.


Sungguh ia mencintai gadis itu dan obsesi untuk memilikinya teramatlah besar.


Ameera langsung terpekik saat merasakan sesuatu menerobos paksa masuk ke dalam miliknya dan bersamaan itu ia merasakan kesakitan yang teramat luar biasa.


Apa kesuciannya kini telah terenggut? Sungguh kejam sekali pria yang telah menjadi kekasihnya tersebut.


sementara Awan nampak terkejut saat merasakan darah mengalir dari area sensitif Ameera.


"Bodoh, apa yang sudah ku lakukan ?" gumamnya saat mengetahui dirinya telah merenggut kesucian gadis itu.


Ternyata Fajar hanya membual semata dan kini ia merasa sangat menyesali tindakannya.


"Maafkan aku, Meera. Maafkan aku." mohonnya menatap Ameera yang nampak lemah tak berdaya, sungguh ia menyesal karena telah menyakiti gadis itu.


"Kamu jahat, mas. Aku benci kamu." rutuk Ameera di sisa tenaganya, lalu ia membuang mukanya enggan menatap Awan.


"Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab." Awan nampak mengusap air mata Ameera, setelah itu ia langsung memeluk gadis itu dan membiarkan miliknya masih berada di dalam milik kekasihnya tersebut.


"Ku mohon lepaskan aku mas, menjauh dariku." mohon Ameera dengan suara melemah.


Awan yang mendengar itu nampak tidak tega, namun hasratnya juga belum terpuaskan. Sungguh ia sangat dilema saat ini.


Namun setelah berperang dengan pikirannya, ia bukannya melepaskan Ameera dan pergi menjauh tapi ia justru mulai menggerakkan tubuhnya dengan pelan mengikuti nalurinya.


Awan yang tidak pernah bercinta sebelumnya, nampak tak kuasa mengendalikan rasa nikmat yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya.


Ameera menangis, ia tidak menyangka Awan yang ia kenal sebagai sosok pria yang selalu melindunginya kini tega merenggut kesuciannya.


Dengan tega pria itu menikmati tubuhnya di balik rasa sakit yang ia rasakan, apa itu bisa di bilang cinta? entahlah saat ini yang Ameera rasakan adalah amarah serta kebencian.


"Maafkan aku." mohon Awan di tengah hentakannya, gerakannya yang tadinya lambat kini sedikit cepat mengikuti rasa nikmat yang ia rasakan.


Tubuh Ameera bergetar, ia merasakan sakit sekaligus rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan. Ingin sekali ia mengingkari, namun nyatanya sentuhan Awan begitu di terima tubuhnya dengan baik.


Kini ia hanya bisa menangis, merutuki perbuatan Awan yang tak kuasa ia tolak. Pria itu terlalu mendominasi dan membuatnya tak berdaya di bawah kungkungannya.


Sementara Awan nampak sesekali mendesah nikmat saat miliknya terasa di urut oleh oleh milik Ameera yang masih sangat sempit.


Napasnya mulai memburu saat merasakan gelombang pelepasan segera ia dapatkan, hentakannya semakin cepat hingga membuat Ameera terpekik namun ia langsung m3lum4t bibir tipis gadis itu.


Awan mendesah panjang, napasnya terengah-engah saat ia menyemburkan cairan percintaannya ke dalam rahim sang kekasih.


Ia langsung jatuh ke pelukan gadis itu dengan tubuh penuh dengan peluh.


Beberapa saat kemudian Awan segera beranjak dari tubuh Ameera, saat gadis itu mendorongnya.


"Meera..." Awan menatap bersalah pada gadis yang baru saja ia nodai itu.


"Menjauhlah, aku benci kamu." teriak Ameera saat Awan ingin menyentuhnya.


"Meer..." Awan ingin meraih tangannya namun Ameera langsung menepisnya.


"Jangan berani menyentuhku lagi, mas." sungut Ameera hingga membuat Awan semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku." Awan nampak menyesali perbuatannya.


"Aku membencimu mas, kenapa kamu tega melakukan ini padaku ?" teriak Ameera dengan berderai air mata menatap Awan.


Seandainya ia tahu jika Ameera masih suci, tentu saja ia tidak akan berbuat gila seperti ini.


"Maafkan aku, aku nggak bisa melihat kamu dekat dengan laki-laki lain apalagi Fajar. Aku seperti orang gila, aku benar-benar takut kehilanganmu." sahut Awan menatap Ameera, matanya nampak mengembun.


"Tapi kenapa harus memperkosaku ?" rutuk Ameera sembari menangis mengingat kini ia sudah tak gadis lagi.


"Maaf jika yang ku lakukan salah dan keterlaluan, tapi sungguh aku tak bisa kehilangan kamu Meera." mohon Awan.


"Aku sudah kotor mas, siapa yang mau menikah denganku nanti ?" Ameera semakin terisak saat membayangkan masa depannya kelak.


Belum lagi jika kedua orang tuanya tahu kalau anak gadisnya sudah tidak perawan lagi. Kepercayaan yang mereka berikan padanya mungkin akan hancur, mereka pasti akan kecewa dan terluka.


"Aku akan tanggung jawab, kita menikah. Kapan pun kamu mau kita bisa menikah, tapi mulai sekarang tolong jauhi semua orang yang berjenis kelamin laki-laki aku benar-benar cemburu." tegas Awan hingga membuat Ameera yang tadinya menunduk sembari terisak kini langsung mengangkat wajahnya untuk menatapnya.


Apa kekasihnya itu sudah gila? setelah dia merenggut kesuciannya kini bisa-bisanya mengancamnya, lagipula siapa pria yang mau mendekatinya jika mengetahui dirinya sudah tidak perawan lagi.


Tak ingin mendengar alasan Awan lagi, dengan tertatih Ameera segera turun dari ranjang. Kemudian ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


Lantas segera memakainya kembali, ia nampak mendesis kesakitan saat merasakan miliknya di bawah sana terasa perih luar biasa.


"Sini biar ku pakaikan." Awan yang merasa tidak tega ingin membantu Ameera memakai roknya, namun gadis itu lagi-lagi menepis tangannya.


"Aku bilang jangan sentuh aku." bentak Ameera menatap nyalang Awan.


Setelah memakai pakaiannya, kemudian dengan berpegangan dinding Ameera berusaha keluar dari kamar Awan malam itu.


Hujan masih saja turun dengan deras, hingga membuat mes tersebut yang biasanya sangat rame kini nampak sepi.


"Aku gendong ya ?" bujuk Awan, meski Ameera menyuruhnya menjauh ia terus saja mengikuti gadis itu.


"Jangan sentuh aku." teriak Ameera saat Awan ingin membantunya berjalan.


"Meera..." Awan merasa sangat bersalah mengingat ia tadi memasukinya dengan paksa hingga membuat Ameera kini merasa kesakitan.


"Pergi mas, aku tidak mau bertemu denganmu lagi." teriak Ameera lagi yang kini sudah berada di depan pintu kamarnya sendiri.


Setelah itu ia segera masuk ke dalam, lalu menutup pintunya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.


Beruntung hujan belum berhenti kalau tidak, mungkin seluruh penghuni di mes itu akan keluar untuk melihatnya.


Awan nampak memejamkan matanya saat pintu kamar Ameera di banting tepat di depannya.


"Maafkan aku." gumamnya.


Ia enggan untuk kembali ke kamarnya, ia justru berjalan mondar-mandir di depan kamar kekasihnya tersebut.


Ia khawatir jika Ameera akan melakukan hal gila dan ia harus menjaganya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian saat hujan mulai reda, Rangga yang baru pulang nampak terkejut saat melihat Awan sedang berdiri di depan kamar Ameera.


"Ngapain di situ bro ?" tanyanya yang langsung membuat Awan berjingkat kaget.


"Ti-tidak, aku hanya ingin mengecek keadaan Ameera. Kamu tahu sendirikan dia takut petir." sahut Awan beralasan.


"Sepertinya dia sudah tidur." tukas Rangga saat melihat kamar Ameera nampak gelap dari balik jendelanya.


"Bisa jadi." ucap Awan.


"Baiklah, aku masuk dulu ya. Aku kehujanan tadi." ucap Rangga seraya memperlihatkan bajunya yang basah kuyup, setelah itu ia segera berlalu ke kamarnya.


Sementara Awan, masih saja berdiri di depan kamar Ameera. Bahkan hingga subuh menjelang, pria itu masih setia berada di depan kamar gadis itu.


Namun saat para karyawan mulai bangun dan keluar kamarnya masing-masing, Awan segera berlalu pergi.


Sepertinya ia mempunyai cara agar bisa masuk ke dalam kamar Ameera, lalu ia bergegas pergi.


Beberapa saat kemudian saat pagi menjelang, Awan nampak membuka pintu kamar Ameera dengan kunci cadangan yang ia minta dari penjaga mesnya tersebut.


Setelah pintu terbuka, dengan mengendap-endap ia segera masuk ke dalam kamar Ameera. Namun tanpa ia tahu seseorang nampak melihatnya dari kejauhan.


"Seperti Mas Awan bukan sih." gumam Viona saat melihat seseorang masuk ke dalam kamar Ameera, pagi yang masih gelap membuatnya tak begitu jelas melihat orang tersebut.