Ameera

Ameera
Perhatian Awan



šŸ’„Utamakan dia yang lebih bersungguh-sungguh membahagiakan mu, daripada orang yang katanya mencintaimu tapi lebih suka bersama orang lainšŸ’„


Malam itu Awan mengerjapkan matanya saat dinginnya lantai menusuk kulitnya.


Kemudian ia menatap Ameera yang nampak menggigil dalam tidurnya. "Meera, kamu baik-baik saja ?" Awan segera mendekati Ameera lalu meletakkan punggung tangannya di kening gadis itu.


"Sepertinya kamu demam lagi." ucapnya, lalu ia menempelkan keningnya di dahi Ameera yang terasa panas untuk lebih meyakinkan jika gadis itu memang demam.


Setelah itu ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang terlihat sangat sederhana itu.


"Kamar ini kurang layak buat kamu yang sedang sakit." gumam Awan melihat kasur busa yang di tiduri oleh Ameera sangat tipis.


Kemudian tanpa pikir panjang Awan segera mengangkat tubuh gadis itu lalu membawanya pindah ke kamarnya.


"Mas, kamu mau bawa aku kemana ?" tanya Ameera di tengah kesadarannya.


"Ke kamarku." sahut Awan.


"Nggak mau mas, nanti kamu macam-macam lagi. Terus kalau ada yang lihat bagaimana ?" tolak Ameera saat Awan akan membuka pintu kamarnya, namun pria itu tetap saja membawanya masuk.


"Tidak ada yang melihat, kalau pun ada apa peduliku. Sudah jangan mikir aneh-aneh, sekarang yang penting bagaimana kamu cepat sembuh." ujar Awan.


Setelah sampai di kamarnya ia segera menidurkan Ameera di atas kasur empuknya, kemudian ia menyelimutinya.


Setelah itu Awan bergegas menyiapkan air hangat dan kain buat mengompresnya.


"Tolong jangan sakit, aku nggak bisa lihat kamu sakit." ucapnya dengan wajah khawatir menatap Ameera yang terbaring lemah di ranjangnya.


"Kenapa ?" tanya Ameera menatap balik.


"Karena aku bisa gila." sahut Awan dengan wajah serius.


"Kenapa gila ?" tanya Ameera lagi.


"Karena aku nggak bisa kehilangan kamu." tegas Awan sembari meletakkan kain yang sudah ia basahi dengan air hangat di kening gadis itu.


Sedangkan Ameera yang melihat perlakuan Awan padanya, tiba-tiba merasa terharu. Kekasihnya itu mirip sekali dengan sang Ayah yang selalu perhatian ketika ia sakit.


"Kenapa nggak bisa kehilangan aku ?" tanya Ameera dengan maksud menggoda kekasihnya tersebut.


"Sudah jangan banyak bicara, sekarang kamu tidur ya." perintah Awan setelah memastikan demam Ameera mulai turun.


"Kenapa bilang cinta aja sesulit itu, Mas ?" batin Ameera dalam hati.


"Mas mau ngapain ?" Ameera langsung beringsut menjauh saat Awan ikut merebahkan dirinya di samping gadis itu dan itu membuat Awan langsung terkekeh.


"Ku temani tidur, biar cepat sembuh." sahut Awan beralasan, lagipula ranjang di kamarnya hanya satu dan ia tidak mungkin tidur di lantai seperti di kamar Ameera tadi.


Bisa-bisa ia akan ikut jatuh sakit, lalu kalau ia sakit siapa yang akan merawat gadis itu pikirnya.


"Aku bisa tidur sendiri, Mas." tolak Ameera dengan wajah ketakutan, sungguh ia tidak pernah tidur dengan seorang pria selain sang ayah dalam satu ranjang.


"Sudah diam sayang, ku temani tidur." Awan nampak meraih pinggang Ameera lalu memeluknya, tak peduli gadis itu meronta.


"Biar sakitnya pindah ke aku." imbuhnya lagi hingga membuat Ameera langsung menatapnya.


Gadis itu nampak terpaku dengan perhatian Awan yang luar biasa padanya. "Terima kasih." gumamnya.


Akhirnya ia pasrah lalu berbalik badan dan membiarkan Awan memeluknya dari belakang, kemudian ia mulai memejamkan matanya.


Keesokan harinya.....


Awan nampak mengerjapkan matanya, lalu menatap Ameera yang sedang tidur di sampingnya.


Senyumnya mengembang saat Ameera memeluknya dengan erat, kemudian ia meletakkan punggung tangannya di kening gadis itu.


Setelah itu dengan pelan ia beranjak dari kasur empuknya, lalu bergegas ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Ameera nampak membuka matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya.


"Kamu sudah bangun ?" tukas Awan dengan mengulas senyumnya saat melihat Ameera sudah bangun, gadis itu duduk di pinggiran ranjangnya.


Sementara itu Awan nampak sudah rapi dengan setelan kerjanya, pria itu terlihat tampan di mata Ameera.


Entah sejak kapan dirinya mulai mengagguminya, namun menatap Awan berlama-lama tak membuatnya bosan.


Padahal dulu ia sangat membencinya, namun dengan berjalannya waktu ia mengenal Awan. Pria itu sungguh luar biasanya baiknya, meski terkadang sedikit sombong.


"Kenapa kamarmu bisa seluas dan sebagus ini ?" tanya Ameera mengalihkan pikirannya yang diam-diam mengagumi Awan, ia nampak mengedarkan pandangannya.


"Biasa aja." sahut Awan sembari menata bubur yang tadi ia pesan.


"Padahal kamu karyawan biasa tapi kenapa fasilitas kamarmu seperti seorang pimpinan." cibir Ameera, mengingat jabatannya juga setara dengan Awan tapi ia mendapatkan kamar mes yang lumayan sempit.


"Apa mungkin benar yang di katakan oleh Nita jika kamu itu bukan orang biasa, jika itu benar aku takut kecewa nantinya." imbuhnya lagi dalam hati.


"Jangan berpikir macam-macam, ayo makanlah." Awan nampak membawa semangkok bubur lalu duduk di samping Ameera.


"Biar aku makan sendiri." pinta Ameera.


"Nggak, aku suapi saja. Kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat, kalau kamu sehat aku akan tenang bekerja." bujuk Awan.


"Aku sudah sehat kok, malahan aku ingin pergi kerja." tukas Ameera sembari menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


"Aku nggak ngijinin kamu kerja, ayo sekarang makan !!" Awan mengangkat satu sendok bubur ke depan mulut Ameera.


"Aku makan sendiri Mas, aku malu kamu suapi terus." mohon Ameera.


"Makan sayang atau mau ku suapi dengan cara lain ?" ancam Awan yang langsung membuat Ameera membuka lebar mulutnya.


"Dasar pemaksa." gerutu Ameera kemudian.


Setelah memastikan Ameera makan dan minum obat, Awan segera berangkat ke kantornya dan membiarkan gadis itu istirahat di kamarnya sendiri.


Seharian ini Awan nampak sibuk karena harus menghandle pekerjaan Ameera juga.


Selain menyelesaikan pekerjaan di kantornya, ia juga harus mengecek ketersediaan barang di gudang dan langsung mengorder barang jika ada yang habis.


Menurutnya pekerjaan Ameera sangat berat, tapi gadis itu sama sekali tak pernah mengeluh.


"Mas Awan, mbak Ameera mana ?" tanya Lisa karyawan bagian gudang tersebut.


"Lagi sakit." sahut Awan.


"Mbak Ameera beruntung ya mas, punya pacar seperti Mas Fajar." tukas Lisa kemudian.


"Maksud kamu ?" Awan nampak tak mengerti.


"Mas Awan nggak tahu ya, malam ini kan mbak Ameera mau di lamar sama mas Fajar." sahut Lisa yang langsung membuat Awan nampak geram, namun ia mencoba untuk menahan diri agar mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari Lisa.


"Bukannya mereka sudah putus ?" tanya Awan kemudian.


"Tapi bilang Mas Fajar belum kok, mereka cuma break sebentar aja katanya. Dia serius mau melamar mbak Ameera sebelum di duluin oleh Mas Rangga." sahut Lisa yang membuat Awan semakin geram.


"Mas Fajar juga sudah menyiapkan banyak bunga mawar, kue tart sama cincin berlian. Romantis banget ya mas Fajar." imbuhnya lagi membayangkan bagaimana romantisnya Fajar memberikan kejutan pada Ameera.


Mendengar itu Awan nampak mengepalkan tangannya, kemudian ia segera berlalu pergi.


"Mas Awan Kenapa sih? seperti kesal gitu." gumam Lisa melihat kepergian Awann.