Ameera

Ameera
Part~69



"Maafkan aku." Awan terlihat menyesal saat melihat istrinya makan dengan lahap karena kelaparan dari pagi.


"Mama sungguh keterlaluan." imbuhnya lagi dengan geram, namun Ameera segera menenangkannya.


"Asal kamu selalu percaya padaku aku nggak apa-apa kok mas." ucapnya meyakinkan.


"Tapi perbuatan Mama sangat tidak manusiawi." geram Awan lagi.


"Mas, tolong jangan membuatku semakin di benci oleh Mama." mohon Ameera menatap iba suaminya itu.


"Tapi aku akan tetap menegur mama." tegas Awan.


"Mas..." Ameera nampak memelas, sungguh ia tidak ingin ada pertengkaran di dalam keluarganya itu.


"Kamu jangan khawatir, Mama tidak akan membencimu." Awan meyakinkan dengan suara lembut menatap istrinya itu.


"Hm." Ameera mengangguk meski ragu.


Sore harinya nyonya Amanda nampak baru pulang dengan beberapa tentengan di tangannya.


"Mama baru pulang ?" tanya Awan yang langsung membuat wanita paruh baya itu terlonjak kaget.


"Ka-kamu kok sudah pulang, Nak ?" tanyanya dengan gugup saat melihat putranya itu berjalan mendekatinya.


Wanita paruh baya itu langsung meletakkan beberapa bungkusan yang ia bawa tadi di atas meja makan.


"Sudah dari tadi siang." sahut Awan yang langsung membuat ibunya itu semakin gugup.


"Siang-siang kok sudah pulang ?" tanyanya kemudian.


"Ameera lagi nggak enak badan, ma." sahut Awan beralasan.


"Masa sih perasaan tadi pagi baik-baik saja." nyonya Amanda tak percaya.


"Ameera tidak enak badan karena tidak makan seharian, ma." Awan menelisik wajah sang ibu yang langsung berubah pucat.


"Ma-masa, lagipula kenapa dia tidak makan ?" nyonya Amanda bersikap seperti tak tahu apa-apa dan itu membuat Awan merasa kesal.


"Kenapa mama berbohong padaku jika Mama setiap hari memasak? nyatanya di rumah sama sekali tak ada makanan." tandasnya yang langsung membuat sang ibu salah tingkah.


"Mama waktu itu sudah masak tapi sama istrimu tidak pernah di makan, yaudah Mama nggak mau masak lagi." untuk menutupi kesalahannya nyonya Amanda nampak bersungut-sungut, seolah tak terima karena di salahkan.


"Kenapa mama nggak bilang sih, jadikan Ameera bisa beli diluar ?" tegur Awan masih dengan perasaan kesal.


"Sudah-sudah Mama itu capek malah kamu omelin." nyonya Amanda semakin meninggikan suaranya yang langsung membuat Awan mendesah kasar.


"Baiklah mulai sekarang Mama tidak usah masak, biar istriku beli saja di luar." tegas Awan kemudian ia berlalu pergi.


"Nak, mama beli makanan banyak ajak istrimu turun ya !!" teriak nyonya Amanda saat putranya itu berlalu pergi dengan kesal.


"Mama makan sama papa saja, aku akan makan di luar." sahut Awan dengan sedikit berteriak juga, pria itu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sementara nyonya Amanda yang di abaikan nampak geram, ia langsung memukul meja makan dengan sedikit keras.


Keesokan harinya.....


Pagi itu setelah suaminya berangkat kerja, Ameera kembali lagi ke kamarnya untuk mengisi perutnya yang kosong.


Semalam suaminya itu membelikan beberapa kue, buah-buahan serta makanan ringan untuknya.


Ia mengambil selembar roti, lalu di olesinya dengan selai kesukaannya.


Setelah merasa perutnya kenyang, Ameera segera melakukan rutinitas seperti biasanya.


Seperti membersihkan setiap ruangan, lalu mencuci seluruh pakaian anggota keluarganya.


Setelah memisahkan pakaian yang berwarna cerah dan gelap, ia segera memasukannya kedalam mesin cuci. Namun tiba-tiba mesin cuci tak mau hidup.


"Perasaan kemarin masih bisa." gerutunya.


"Mesin cucinya rusak." tiba-tiba ibu mertuanya itu bersuara hingga membuatnya terlonjak kaget lalu berbalik badan menatap wanita paruh baya itu.


"Tapi kemarin masih bisa, ma." ucapnya kemudian.


"Namanya juga rusak bisa saja tiba-tiba kan ?" ibu mertuanya itu tak mau kalah.


"Itu pemborosan namanya, yaudah kamu cuci tangan saja untuk sementara, tadi Mama sudah telepon teknisi tapi masih sibuk." perintah nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera tercengang.


Ia melihat tumpukan cucian yang menggunung di depannya tersebut dan nampak pakaian sang ibu yang paling banyak.


"Jangan lupa di rendam dulu ya, lalu di sikat semua biar bersih." perintah nyonya Amanda lagi meski menantunya belum mengiyakan.


"Baiklah, mama mau pergi dulu." imbuhnya lagi seraya berlalu keluar dari ruangan untuk mencuci tersebut.


Ameera yang melihat kepergian wanita paruh baya itu nampak menghela napasnya dengan berat.


Selama ini ia sama sekali tidak pernah mencuci pakaian dengan tangan tapi ia akan berusaha melakukannya sekarang.


Tak mau membuang waktu lantas ia segera merendam pakaian tersebut lalu menyikatnya satu persatu hingga selesai.


Malam harinya Ameera nampak meniup-niup kedua telapak tangannya yang memerah dan terasa panas karena lecet.


Saking banyaknya pakaian yang ia sikat membuat tangannya yang tadinya halus kini nampak kasar dan lecet di beberapa bagian.


"Sayang." panggil Awan saat baru membuka pintu kamarnya, pria itu terlihat lelah setelah seharian bekerja.


"Mandi dulu mas, baru kita makan." Ameera langsung mengambil tas kerjanya serta bungkusan makan malam mereka.


Setelah menyantap makan malam, mereka nampak bersantai di sofa yang ada di kamarnya.


"Hari ini kamu ngapain aja ?" Awan bertanya saat sang istri sedang bermain ponsel miliknya.


"Seperti biasa mas mengerjakan pekerjaan rumah tangga." sahut Ameera yang masih tak berpaling dari ponsel suaminya tersebut.


"Nanti bibik akan ku suruh cepat kembali." ucap Awan seraya mengecupi puncak kepala istrinya yang bersandar di dada bidangnya itu.


Ameera nampak memainkan ponsel pria itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya ia taruh di atas paha karena terasa perih jika di gunakan untuk memegang sesuatu.


Bahkan untuk makan pun ia menahan rasa sakit agar tidak di ketahui oleh sang suami.


Ia tidak mau pria itu bertengkar lagi dengan sang ibu dan akan membuat ibu mertuanya semakin membencinya.


Jadi ia lebih baik meminta suaminya untuk memperbaiki atau membeli mesin cuci baru tanpa ia mengadu macam-macam.


"Mas mesin cucinya rusak, kamu bisa kan panggil teknisi untuk memperbaikinya ?" ucapnya kemudian.


"Iya sayang atau nanti kita beli yang baru saja, lagipula bibik belum datang jugakan jadi cucian tetap dibawa ke tempat Laundry aja dulu." sahut Awan yang langsung membuat Ameera tercengang.


Jadi selama ini suaminya mengira jika pakaian seluruh anggota keluarga di bawa ke tempat Laundry ?


Melihat istrinya terdiam Awan langsung menggenggam sebelah tangan wanita itu, namun itu justru membuat Ameera mendesis kesakitan.


"Sakit, mas." Ameera menjauhkan tangannya yang terasa perih lalu mengibaskannya.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Awan langsung memeriksa tangan wanita itu dan betapa terkejutnya saat melihat bagaimana kulit tangan istrinya terlihat memerah dan lecet di beberapa bagian.


"Apa yang terjadi ?" tanyanya kemudian.


"I-ini...." Ameera nampak menggigit bibirnya.


"Apa Mama yang melakukannya ?" Awan langsung mencurigai sang ibu.


Ameera menggeleng dengan cepat. "Bukan salah Mama, mas. Tadi karena mesin cucinya rusak jadi aku mencucinya dengan tangan." sahutnya.


"Bukannya selama ini di bawa ke tempat Laundry ?" Awan mulai geram.


"Aku yang nyuci semua." lirih Ameera.


"Benar-benar keterlaluan Mama." umpat Awan seraya bangkit dari duduknya.


"Mas tolong jangan marahi Mama." mohon Ameera.


"Tapi mama sudah keterlaluan sama kamu." Awan meninggikan suaranya.


"Mas tolong jangan membuat Mama semakin membenciku, apa Mas mau sepanjang pernikahan kita Mama membenciku ?" Ameera menahan lengan suaminya agar tidak pergi.


"Aku tidak marah sama mama tapi ingin mengingatkan Mama jika kamu menantunya bukan pembantunya." tegas Awan, setelah itu ia bergegas keluar kamarnya untuk mencari sang ibu.