Ameera

Ameera
Part~141



Siang itu setelah menguatkan mentalnya Ameera bergegas pergi ke pengadilan agama, jika ini memang sudah menjadi takdirnya ia akan menjalaninya dengan ikhlas meski terasa sangat berat sekalipun.


Mediasi pun telah terjadi namun suaminya itu bersikukuh tetap berpisah dengan alasan mereka sudah tak cocok, sangat aneh memang padahal selama sepuluh tahun ini ia merasa hubungannya dengan pria itu baik-baik saja.


Meski terkadang ibu mertuanya masih suka ikut campur rumah tangganya tapi baginya itu masalah kecil, karena suaminya selalu membelanya dan berusaha keras membahagiakannya.


Selama 10 tahun ini meski banyak sekali cobaan dalam rumah tangganya tapi suaminya selalu mengutamakannya, ia selalu di perlakukan seperti seorang ratu di hati pria itu.


Jadi rasanya seperti mimpi jika tiba-tiba mereka akan segera berakhir setelah semua yang telah di lewatinya.


Sebenarnya apa yang menjadi alasan pria itu berhenti untuk berjuang bersamanya? apa karena lelah? bukankah kita hidup di dunia ini memang harus selalu berjuang sampai jannah.


Apa karena anak? bukankah mereka sudah sepakat untuk membuat program bayi tabung jika uang simpanan sudah cukup.


Atau karena benar-benar memang ingin berbakti pada kedua orang tuanya? kenapa baru sekarang? kenapa tidak dari dulu saja sebelum cinta mereka semakin kuat.


Rasanya Ameera sangat muak bertanya-tanya sendiri tanpa mengetahui jawaban yang pasti, mungkinkah suaminya itu telah membagi hatinya pada wanita lain? Lalu sejak kapan?


Jika di ingat-ingat selama ini mereka menjalani biduk rumah tangga selalu di landasi dengan kejujuran, hingga mereka bisa bertahan sampai saat ini.


Banyak sekali yang ingin Ameera ketahui dan pria yang sebentar lagi akan bergelar mantan suami itu harus menjelaskan padanya.


Setelah keluar dari ruang mediasi, Ameera langsung mengejar suaminya yang keluar duluan. Pria yang sengaja menghindarinya itu sepertinya sedang di tunggu oleh orang tuanya di parkiran.


"Mas, tunggu mas." teriak Ameera hingga menghentikan langkah Awan.


Pria itu nampak menatapnya sejenak dengan pandangan datar, lalu segera membuang wajahnya. "Katakan aku tak punya banyak waktu." ucapnya kemudian seraya melirik kedua orang tuanya yang semakin mendekat.


"Aku ingin minta penjelasan kenapa mas lakukan ini padaku ?" ucap Ameera.


"Bukankah semua sudah jelas jadi tidak perlu di bahas lagi." tukas Awan tak berperasaan.


"Apa kurangku selama ini mas, tolong katakan? bukankah aku selalu patuh padamu? jika memang karena anak bukankah kita sudah sepakat untuk program mas? mas tolong katakan apa salahku? kamu tahu ini terlalu mendadak bagiku mas, sungguh aku belum siap. Selama ini duniaku cuma ada kamu, jika kamu sudah tak menginginkan ku terus bagaimana aku bisa menjalani hidupku mas." ucap Ameera mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Maafkan aku." Awan nampak menyimpan banyak kesedihan sama seperti wanita itu, namun pria itu tak banyak berkata-kata karena ada kedua orangtuanya di sisinya.


"Jika memang harus berakhir seperti ini, kenapa tidak dari dulu saja mas? Saat aku masih muda, masih berpeluang memiliki anak." imbuh Ameera yang sudah tak kuasa menahan air matanya.


"Halah dasarnya tidak bisa punya anak ya tidak bisa, jadi jangan nyalahin Awan terus." timpal Nyonya Amanda kemudian dengan angkuh.


"Tapi aku sehat Ma." Ameera langsung membela diri.


"Sudah-sudah, kalian memang lebih baik berpisah karena bersama pun tak ada gunanya." sela nyonya Amanda lagi.


Ameera nampak menghela napas beratnya, karena suaminya itu pun bersikap seakan mendukung ucapan ibunya.


"Baiklah, jika itu memang maumu mas. Aku terima dengan ikhlas, meski hatiku sangat sakit sekali karena gara-gara masalah ini bunda meninggalkan ku untuk selamanya. Aku bersumpah semoga suatu saat kalian semua akan merasakan bagaimana sakitnya seperti apa yang ku alami saat ini." ucap Ameera seraya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sangat sesak.


"Begitu mudahnya kau memintaku untuk berbahagia mas, sedangkan kebahagiaan ku sudah kamu rampas semuanya."


Ameera hampir tak bisa menopang bobot tubuhnya karena saking setresnya hingga ia berpegangan pada beberapa mobil yang terparkir di sana agar sampai ke jalan raya untuk mencari taksi, karena satu-satunya mobil yang ia dan suami punya pun entah berada di mana sekarang.


Sesampainya di rumah Ameera benar-benar luruh ke lantai, kini ia tinggal seorang diri. Masa depan yang ia rancang pun telah kandas tak bersisa, lalu untuk apalagi ia hidup.


Dengan sekuat tenaga Ameera kembali bangkit, lalu berjalan tertatih menuju dapurnya dan di lihatnya sebuah pisau buah di sana.


Tanpa berpikir panjang Ameera langsung mengambilnya dan mengarahkannya ke pergelangan tangannya, namun tiba-tiba wajah kedua orang tuanya muncul di benaknya.


Mereka seakan memberikan isyarat agar ia tak melakukan hal gila yang Allah sangat benci itu.


"Maafkan aku ayah, maafkan aku." Ameera langsung melepaskan pisau di genggamannya hingga jatuh ke atas lantai begitu saja.


Kemudian wanita itu menghempaskan tubuhnya di kursi lalu kembali menangis. "Kenapa sesakit ini ya Allah? tolong berikan ku kekuatan untuk menghadapi semua ini." gumamnya di sela isak tangisnya.


...----------------...


Kini hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan, tak terasa sidang perceraian mereka tinggal menunggu ketok palu.


Ameera yang tak pernah datang lagi sejak mediasi waktu itu nampak menyerahkan semuanya pada pengacaranya.


Kini wanita itu sudah mulai bisa menerima perceraiannya meski masih sering sekali menangis dan terkadang masih sangat merindukan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.


Bagaimana pun juga mereka telah melewati kebersamaan lebih dari sepuluh tahun dan kenangan itu tak bisa langsung ia singkirkan begitu saja dalam waktu singkat.


Apalagi Awan adalah sosok pria yang sangat penyayang, banyak sekali kenangan indah bersama pria itu yang sulit untuk ia lupakan.


Kini pria itu tak ada lagi di sisinya, tangan kekarnya tak lagi melindunginya seperti dahulu dan bahunya pun tak lagi memberikannya tempat ternyaman saat ia sedang bersedih.


Tak ingin terlalu dalam berkutat pada kesedihannya, Ameera mencoba untuk beranjak dari kasurnya yang akhir-akhir ini menjadi tempat persembunyiannya dari kehidupan nyata.


Wanita itu nampak mematut dirinya di depan cermin, wajahnya sangat pucat dan kusam karena sebulan ini ia habiskan hanya untuk menangis.


Tubuhnya pun semakin kurus karena nafsu makannya yang tiba-tiba berkurang drastis.


"Kamu tidak bisa seperti ini terus Ameera, kamu harus bangkit dan tunjukkan pada mereka jika kamu bisa hidup meski hanya seorang diri." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian Ameera segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa saat kemudian, saat Ameera sedang memaksa dirinya untuk makan tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.


Karena penasaran Ameera segera beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.


"Ka-kalian ?" ucapnya tak percaya saat melihat kedua mertuanya itu sudah berada di teras rumahnya, entah apa yang mereka inginkan lagi kali ini.