
💥Mungkin bukan sekarang, tapi hari dimana kamu bahagia pasti akan datang. Jadi bertahanlah💥
"Mas, aku mau putus." ucap Ameera petang itu pada sang kekasih.
"Sayang, kamu ngomong apa sih ?" Awan nampak tak mengerti dengan sikap Ameera yang tiba-tiba berubah.
"Pulanglah Mas dan jadilah anak yang berbakti." pinta Ameera dengan menahan rasa sesak di dadanya.
"Aku tidak akan pulang dan kita tidak akan pernah putus." Awan menegaskan.
"Tapi bagaimana dengan mamamu, mas? sampai kapanpun hubungan kita tidak akan pernah di restui." Ameera mulai meluapkan perasaannya.
"Tolong jangan menyerah sayang, ayo kita berjuang bersama-sama." mohon Awan dengan nada mengiba.
"Berjuang yang seperti apa lagi sih mas? jika yang di inginkan orang tuanya mas adalah harta dan kedudukan, aku angkat tangan karena aku tidak punya itu." tukas Ameera kemudian.
"Bahkan jika aku berlutut sekalipun di depan Mamanya mas, aku yakin restu itu takkan kunjung kita dapatkan. Jadi lebih baik kita akhiri semuanya." imbuhnya lagi dengan pasrah.
"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu? apa kamu tidak memikirkan bagaimana masa depanmu nanti ?" sergah Awan.
"Aku akan tetap menjalani masa depanku mas meski tanpa kamu, anggap saja semua ini memang nasibku." sahut Ameera dengan tersenyum sinis menatap pria itu, meski saat ini hatinya terasa remuk.
"Nggak sayang, ku mohon jangan bicara seperti itu. Kita bisa...." Awan belum menyelesaikan perkataannya tapi Ameera sudah memotongnya.
"Tolong jangan ganggu aku, aku sangat lelah." potong Ameera, kemudian ia menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.
Awan nampak mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian ia hendak mengetuk pintu di hadapannya itu lagi namun tiba-tiba Viona datang menghampiri.
"Mas Awan sedang ngapain di depan pintu kamar Ameera ?" tanya Viona dengan pandangan menyelidik.
"Bukan urusanmu." sahut Awan dengan nada dingin, kemudian ia segera berlalu pergi dari sana.
"Duh mas Awan kamu cool banget sih, semakin kamu jutek aku semakin mencintaimu." ucap Viona sembari menatap kepergian Awan.
"Kayak nggak ada cowok lain saja, Vi. Jelas-jelas mas Awan cuek sama kamu tapi tetap saja mengejarnya." cibir sahabatnya yang menemaninya.
"Tapi bagiku hanya mas Awan pria yang paling sempurna. Udah tampan, kaya pula dan kamu lihat Mamanya tadi benar-benar seperti wanita sosialita." Viona nampak senyum-senyum sendiri membayangkan menjadi menantu keluarga Awan.
"Sudah jangan ketinggian mimpimu, memang orang kaya seperti mereka mau punya mantu seperti kamu? mereka juga pilih-pilih kali cari mantu." cibir sahabatnya lagi.
"Mengganggu hayalanku saja kamu." sungut Viona kemudian berlalu pergi dari sana.
Sementara Ameera yang tak sengaja mendengar obrolan Viona dan temannya itu nampak menghela napas panjangnya.
Benar kata mereka, sampai kapan pun pungguk hanya bisa merindukan bulan tanpa bisa memilikinya.
Kemudian ia segera mengusap airmatanya dan bergegas ke kamar mandi.
Sementara Awan nampak melangkahkan kakinya menuju cafe belakang kantornya, kemudian ia memesan beberapa kaleng minuman berakohol.
Baginya saat ini hanya minuman itu yang bisa menenangkan pikirannya, ia harus berusaha seperti apalagi agar hubungannya di restui oleh sang ibu.
Ia sangat mengenal bagaimana watak ibunya yang tidak suka di bantah dan setiap keinginannya harus terwujud.
Sedangkan jika ia mengajak Ameera menikah tanpa restu ibunya, gadis itu pasti akan menolaknya.
Kini ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih dan sepertinya alkohol akan menjadi pelampiasannya malam ini.
Hingga waktu menunjukkan tengah malam, Awan masih belum puas meneguk minumannya padanya beberapa kaleng sudah nampak kosong.
"Bro stop, kamu bisa pingsan kalau nambah lagi." Rangga langsung menghentikan Awan saat pria itu ingin memesan lagi, harusnya pria itu sudah tak sadarkan diri setelah meminum beberapa kaleng tapi nyatanya Awan masih sangat sadar.
"Aku baik-baik saja Ga, alkohol itu tak seberapa dari pada beban hidupku." tukas Awan kemudian ia memanggil seorang waitress untuk memesan minuman lagi.
Rangga mendesah kasar, kemudian ia beranjak dari duduknya lalu menghubungi seseorang seraya berjalan keluar Cafe.
"Hallo Meera, cepat ke Cafe belakang. Awan dalam masalah." ucapnya setelah itu ia menutup panggilannya sebelum gadis itu banyak bertanya.
Ameera yang baru terlelap nampak mendesah kesal saat Rangga tiba-tiba menghubunginya, kemudian ia langsung bangkit dari kasurnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Awan." gumamnya khawatir, kemudian ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Setelah itu ia segera mengambil jaketnya, kemudian berlalu keluar dari kamarnya.
"Ga, apa yang terjadi ?" tanyanya pada Rangga sesampainya ia di Cafe tersebut.
"Kamu lihat sendiri." sahut Rangga seraya menunjuk Awan yang sedang duduk di pojokan Cafe tersebut, pria itu nampak asyik menyesap minumannya dan di selingi hisapan sebatang rokok di tangannya.
Melihat itu, Ameera nampak terperanjat. Selama ini yang ia ketahui, Awan sama sekali tak pernah merokok bahkan ia juga tak pernah mencium bau asap rokok dari tubuh pria itu.
"Sejak kapan dia merokok seperti itu Ga, bahkan minuman itu..." Ameera seperti tak percaya saat melihat beberapa kaleng bir berada di atas meja pria itu.
"Perasaan sejak pertama kali datang kemari dia sudah melakukan itu, hanya saja sejak pacaran sama kamu dia mulai mengurangi. Tapi sepertinya akhir-akhir ini ia mulai kambuh lagi." sahut Rangga.
"Mas." panggilnya menatap tajam ke arah Awan hingga membuat pria itu langsung menoleh ke arahnya.
"Sayang." lirihnya dengan pandangan terkejut.
"Kamu ngapain disini ?" tanyanya lagi.
"Mas, sejak kapan kamu melakukan ini semua ?" geram Ameera saat melihat beberapa kaleng yang telah kosong serta puntung rokok di atas meja.
"Sejak kamu minta putus." sahut Awan beralasan.
Ameera menatap tak percaya, kemudian ia menarik kursi lalu duduk di hadapan pria itu.
"Mas, aku minta putus itu semua juga demi kebaikanmu. Karena pada nyatanya hubungan kita memang sudah tak mempunyai jalan keluar lagi. Tolong mengertilah dan berbaktilah pada orang tuamu." tukas Ameera kemudian.
"Aku akan merasa baik jika itu bersamamu, bukan dengan yang lain." sahut Awan lalu mengambil lagi kaleng minumannya tapi Ameera langsung merebutnya.
"Berhenti mas, tolong jangan lakukan ini." teriak Ameera dengan kencang.
"Aku akan berhenti, jika kamu tetap di sisiku. Kalau tidak, mungkin aku akan minum sampai mati." ancam Awan.
"Kenapa kamu selalu membuatku sulit mas ?" rutuk Ameera dengan wajah menahan tangis.
"Tidak akan sulit jika kamu tetap di sisiku." sahut Awan, kemudian mengambil kaleng minumannya lagi, namun saat ia akan meminumnya Ameera langsung merebutnya lagi.
"Stop mas, baiklah aku tidak akan meninggalkanmu tapi tolong berjanjilah jangan lakukan ini lagi." mohon Ameera seraya menjauhkan botol minuman tersebut.
"Kamu tidak bohongkan ?" tanya Awan memastikan.
"Hm." angguk Ameera.
"Ya sudah ayo pergi dari sini." Ameera langsung menarik tangan Awan agar pria itu segera beranjak dari duduknya.
"Biar ku bantu." Rangga langsung mendekati Awan saat pria itu nampak sempoyongan.
"Menjauhlah Ga, kamu pikir aku lumpuh." Awan mengibaskan tangannya mengusir Rangga.
"Ck, habis manis sepah di buang." gerutu Rangga, karena pria itu mencarinya hanya saat sedang membutuhkannya saja. Setelah itu ia berlalu pergi dari sana.
"Mas, lain kali jangan seperti ini lagi atau aku nggak akan mau ketemu kamu lagi. Sudah tahu alkohol tidak bagus buat kesehatan tapi masih saja mas minum dan sejak kapan mas merokok? kenapa aku baru tahu ?" cecar Ameera sepanjang jalan dan itu membuat Awan nampak terkekeh.
Sungguh mendengar omelan kekasihnya tersebut bagaikan mendengar lagu kesukaannya, sepertinya ia memang sudah sangat tergila-gila pada gadis itu.
"Ayo mas jawab, sejak kapan kamu merokok ?" ulang Ameera saat Awan tak menjawabnya.
"Sudah dari dulu." Awan mengakui.
"Setiap hari ?" tanya Ameera lagi.
"Hm." angguk Awan.
"Di kantor ?"
"Hm."
"Kok aku nggak tahu ?" Ameera nampak mengingat-ingat.
"Setiap habis merokok aku selalu mengunyah mint dan memakai parfum." sahut Awan.
"Dan sebanyak tadi ?" tanya Ameera lagi ketika mengingat tumpukan puntung rokok di meja Cafe tadi.
"Iya." sahut Awan jujur.
"Astaga mas, kamu mau cepat mati ya. Alkohol iya, rokok juga iya. Sekarang tinggal nunggu giliran malaikat saja untuk jemput kamu." sungut Ameera.
"Astaga sayang, kamu mau aku mati ya ?"
"Makanya berhenti merokok dan berhenti minum alkohol juga." sergah Ameera.
"Iya, tapi pelan-pelan ya." mohon Awan.
"Nggak, aku bilang berhenti ya berhenti." keukeh Ameera yang kini sudah berada di depan kamar pria tersebut.
"Baiklah, tapi ada syaratnya." sahut Awan.
"Apa ?"
"Sini ku bisikin." Awan langsung berbicara tepat di telinga Ameera hingga membuat gadis itu langsung melotot.
"Dasar modus." Ameera bersungut-sungut, kemudian menghentakkan kakinya menuju kamarnya.
Sementara Awan nampak terkekeh melihat kepergian kekasihnya tersebut, kemudian ia juga segera masuk ke dalam kamarnya.