Ameera

Ameera
Part~109



"Bu Amanda ?" Selvi langsung terkejut saat melihat wanita paruh baya yang sedang berdiri di ambang pintu restorannya.


Meski tak mengenal dekat tapi ia tahu wanita itu, wanita kaya raya yang pernah ia temui saat salah satu temannya sedang mengadakan sebuah acara.


"Selvi? jadi kamu tinggal di sini? Kebetulan aku sedang mencari suamiku ternyata ada di sini." ucap nyonya Amanda dengan lembut tanpa amarah hingga membuat Selvi menelan ludahnya.


Selama ini ia tak pernah mencari tahu sosok pak Djoyo, asal pria itu baik sudah cukup baginya dan kini ia tak menyangka jika ternyata istri pria itu adalah orang yang ia kenal.


Sejenak Selvi nampak melamun, bagaimana jika wanita itu akan memberitahukan semuanya pada teman-temannya maka akan di taruh di mana mukanya nanti.


"Ma, apa yang kamu lakukan di sini ?" pak Djoyo pun terlihat gugup menghadapi istrinya itu yang tiba-tiba datang.


"Kebetulan aku lewat sini pa dan ku lihat ada mobilmu jadi kenapa tidak sekalian aku mampir." sahut nyonya Amanda dengan santai, wanita itu berusaha untuk tidak memperlihatkan amarahnya.


"Bu Amanda tolong anda jangan salah paham." mohon Selvi.


Namun nyonya Amanda hanya menatapnya datar dan tak mengindahkan perkataannya.


"Ayo pulang, pa. Tak seharusnya pagi-pagi kamu berada di tempat seorang wanita apalagi hanya berduaan, apa kata orang nanti jika melihat." nyonya Amanda menekankan kata-katanya hingga membuat suaminya diam tak berkutik.


Karena pria itu selalu menjunjung harga diri dan nama baiknya dan itu akan nyonya Amanda manfaatkan sebaik mungkin.


Katakanlah dia memang kalah muda dari Selvi tapi sebisa mungkin ia akan mempertahankan rumah tangganya.


Kini pak Djoyo dan istrinya sudah berada di dalam mobilnya.


"Sejak kapan papa berhubungan dengan Selvi ?" tanya nyonya Amanda kemudian.


Pak Djoyo nampak terdiam, ia tak harus bertanya sejak kapan istrinya itu mengenal Selvi mengingat pergaulan istrinya sangat luas.


"Sejak aku frustasi karena penghiatanmu." sahut pak Djoyo dengan jujur, pria itu memang hancur saat istrinya menghianatinya waktu itu.


Mendengar jawaban sang suami, nyonya Amanda langsung terdiam. Ia akui dirinya lah penyebab semua ini terjadi tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja.


"Mama minta maaf pa, tapi bukannya perbuatan kita sama sekarang lalu bisakah papa tinggalkan wanita itu sekarang? Ayo kita mulai lagi dari nol, Mama janji akan menjadi istri penurut sesuai keinginan papa." terang nyonya Amanda lalu memohon pada suaminya itu untuk memperbaiki hubungan.


Pak Djoyo menghela napas panjangnya, kemudian mulai membuka suaranya.


"Aku sudah terlanjur sayang sama dia dan aku akan menikahinya." ucapnya dengan tegas dan itu seperti sambaran petir bagi nyonya Amanda.


Deg!!


Wanita itu nampak tersentak, hati dan pikirannya campur aduk menjadi satu saat ini.


Sedikit pun tak terbayangkan dalam hidupnya jika ia akan di madu oleh suaminya.


Nyonya Amanda segera mengatur nafasnya, ia harus tetap bersikap tenang untuk meluluhkan hati pria itu.


"Papa kalau ingin menikahi Selvi silakan tapi apa papa sudah yakin? papa sudah memikirkan baik-baik? Ingat papa orang berkasta, papa seorang Djoyo Kesuma. Apa papa akan merendahkan diri papa sendiri hanya demi seorang Selvi, janda itu? papa benar-benar sukses mempermalukan keluarga besar papa sendiri, nama baik keluarga besar Kesuma benar-benar akan tercoreng oleh perbuatan papa itu." terang nyonya Amanda yang sukses membuat pak Djoyo semakin frustasi.


"Itu semua tidak akan terjadi jika kamu tetap tutup mulut." tegas pak Djoyo kemudian


"Maksud papa ?" nyonya Amanda langsung memicing.


"Aku akan menikahi Selvi diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga besar." sahut pak Djoyo dengan yakin, rupanya pria itu sudah di butakan oleh cinta sesaat hingga rela mengorbankan segalanya.


Nyonya Amanda hanya bisa menghela nafasnya frustasi. "Baiklah Mama setuju tapi dengan satu syarat pa." ucapnya kemudian yang langsung membuat pak Djoyo menatapnya serius.


Entah apa yang pria itu pikirkan tapi di balik wajah datarnya ada sebuah kelegaan saat istrinya mengizinkannya untuk menikah lagi.


"Mama ingin kita kembali satu kamar dan akur seperti dulu, mama janji akan tutup mulut pada keluarga besar kita." sahut nyonya Amanda.


Pak Djoyo langsung memicing, namun setelah berpikir sejenak pria itu mengangguk setuju.


"Baiklah, tolong berbuat baiklah sama Selvi." sahut pak Djoyo dengan nada memohon dan tentu saja itu membuat sang istri sakit hati karena untuk pertama kalinya pria itu memohon demi wanita lain.


Beberapa hari sejak kejadian itu pak Djoyo dan nyonya Amanda mulai tidur satu kamar lagi, tentu saja itu membuat Ameera dan Awan merasa senang karena pada akhirnya kedua orang tuanya saling menurunkan egonya masing-masing.


"Mas, senang nggak sih Mama dan papa satu kamar lagi ?" ucap Ameera malam itu saat baru naik ke peraduannya.


"Hm." Awan hanya berdehem cuek seraya memainkan ponselnya.


Ameera tahu suaminya itu enggan untuk mengakuinya tapi di balik sikap cueknya, Awan sangat menyayangi sang ibu.


Keesokan harinya seperti biasanya nyonya Amanda selalu berpenampilan sederhana dengan pakaian lusuh dan mulai mengambil alat kebersihan.


Wanita itu ingin terlihat baik di depan suaminya meskipun kini mereka kembali tidur satu kamar tapi sikap pak Djoyo padanya masih tetap dingin.


Seperti semalam, nyonya Amanda yang sudah bersiap menyambut kedatangan suaminya di kamarnya nampak berpenampilan sebaik mungkin namun jangankan di lihat di lirik pun juga tidak oleh pria itu.


Pak Djoyo yang baru masuk kamarnya, langsung saja naik ke atas ranjangnya kemudian segera tidur tanpa mempedulikan sang istri yang sudah dandan cantik untuknya.


Dan tentu saja itu membuat nyonya Amanda geram, padahal dahulu mereka selalu ngobrol bersama sebelum beranjak tidur.


"Sarapan dulu, pa." tawar nyonya Amanda saat suaminya baru keluar dari dalam kamarnya lengkap dengan pakaian kerjanya.


"Aku terburu-buru dan nanti siang tidak usah siapkan makanan, aku makan siang di kantor saja." sahut pak Djoyo lalu segera pergi.


Nyonya Amanda yang di abaikan terlihat kesal, lagi-lagi wanita itu membanting sapu yang ia pegang hingga membuat Rafael yang baru keluar dari kamarnya terlonjak kaget.


Pemuda itu hanya bisa mengelus dadanya melihat mood tantenya yang naik turun tidak jelas.


"Kamu pasti ingin makan siang di tempat janda gatel itu kan pa ?" gumamnya dengan geram.


"Aku bersumpah akan mempermalukan kalian hingga membuatmu enggan untuk bertemu j4l4ng itu lagi." imbuhnya lagi.


Beberapa saat kemudian Ameera yang ingin membuatkan suaminya sarapan nampak menuruni anak tangga.


"Meera, mana uang belanja yang di berikan oleh papamu kemarin ?" tanya nyonya Amanda pada menantunya itu.


"Maaf ma, Meera belum sempat belanja." sahut Ameera.


"Tidak usah belanja, bawa kesini semua uangnya !!" perintah nyonya Amanda kemudian.


"Tapi ma..."


"Kamu lupa aku dan papanya Awan sudah baikan jadi mulai hari ini aku yang akan mengatur kebutuhan rumah ini lagi." nyonya Amanda memotong perkataan menantunya itu.


"I-iya, ma." Ameera segera naik ke kamarnya kembali untuk mengambil uang belanja pemberian ayah mertuanya.


Beberapa saat kemudian, nyonya Amanda nampak tersenyum senang saat melihat uang pemberian Ameera tadi.


Kini wanita itu telah menanggalkan pakaian lusuhnya dan menggantinya dengan pakaian mahalnya serta make up sedikit tebal menghias wajahnya.


Sepertinya wanita itu sudah siap untuk menjalankan rencananya.