
"Mama sedang cari apa, datang-datang kok berantakin kasur ?" tanya pak Djoyo yang langsung membuat nyonya Amanda terperanjat kaget.
"Eh, nggak kok pa." sahut nyonya Amanda lalu merapikan kembali kasurnya dengan gugup.
"Ada yang hilang ?" pancing pak Djoyo.
"Eh sebenarnya Mama lupa naruh uang, perasaan tadi di sini tapi kok sekarang nggak ada." dusta nyonya Amanda.
"Berapa sini papa ganti ?" pak Djoyo mengeluarkan dompetnya.
"Nggak usah pa, nggak banyak juga." tolak nyonya Amanda.
"Sudah ambil aja." pak Djoyo mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan lalu memberikannya pada istrinya itu.
"Ya sudah papa mau berangkat dulu." imbuh pak Djoyo kemudian berlalu keluar.
"Iya, pa." nyonya Amanda dengan langkah gontai mengikuti langkah suaminya itu.
"Hari ini papa makan malam di kantor, jadi Mama tidak usah masak untuk malam." ucap pak Djoyo seraya menghidupkan mobilnya, namun nyonya Amanda yang sedang memikirkan ponselnya yang hilang nampak tak menanggapi perkataan suaminya itu.
"Mama kenapa sih aneh begitu ?" tegur pak Djoyo saat istrinya itu mengabaikan ucapannya.
"Ng-nggak kok pa, baiklah papa hati-hati ya." Nyonya Amanda langsung mengambil tangan suaminya itu lalu menciumnya dengan takzim.
Setelah kepergian pak Djoyo, wanita itu segera masuk ke dalam kamarnya kembali.
"Aku harus segera mencari ponselku, bisa gawat kalau papa sampai menemukannya." nyonya Amanda bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Di bantu oleh ARTnya, wanita itu memeriksa setiap sudut kamarnya bahkan seluruh rumahnya.
Sementara itu pak Djoyo yang baru sampai di kantornya langsung mengambil ponsel sang istri dari saku celananya.
Kemudian pria paruh baya itu segera memeriksanya, beruntung ponsel tersebut tak di kunci hingga membuatnya mudah untuk membukanya.
Tiba-tiba pak Djoyo langsung memicing saat melihat chat mesra dari seseorang di ponsel istrinya itu.
"Sayang, kamu tadi sangat hebat."
"Masa sih, mas juga hebat."
"Kamu puas nggak sama aku ?"
"Sangat puas, mas sangat perkasa."
"Aku masih kangen sama kamu, sayang."
"Aku juga kangen sama kamu, mas."
"Rasanya belum puas traveling sama kamu, lain kali agak lama dikit ya biar kita sama-sama puas melakukannya."
"Iya mas, nanti aku cari waktu lagi."
"Kapan ketemu lagi? aku sudah tak sabar."
"Sabar ya mas, aku nggak bisa sering-sering izin nanti suamiku curiga."
"ya sudah aku akan sabar menantimu."
"Bajingan !!" pak Djoyo langsung mengepalkan tangannya saat baru selesai membaca pesan tersebut.
Rupanya selama ini istrinya itu tega bermain api di belakangnya.
"Kenapa kamu tega lakukan ini padaku, ma ?"
Pak Djoyo nampak menggebrak mejanya dengan sekuat tenaga.
Menginjak usia pernikahannya yang ke 24, pria itu tak menyangka istrinya tega mengingkarii janji suci yang selama ini mati-matian pria itu jaga.
Seandainya mau pria paruh baya itu mungkin sudah dari dulu akan selingkuh karena banyaknya wanita di luaran sana yang menggodanya.
Namun baginya pernikahan adalah sebuah komitmen yang harus di jaga hingga akhir hayatnya.
"Kamu sangat keterlaluan, ma."
...----------------...
Ehmm
Awan nampak berdehem saat melihat istrinya itu sedang berbicara dengan beberapa pria di kantornya.
"Mas." Ameera langsung menelan ludahnya lalu melangkah mendekati sang suami.
Begitu juga dengan mereka yang nampak berlalu menjauh sebelum mendapatkan masalah.
Meski jabatan Awan tak setinggi CEO di kantornya tapi pria itu adalah salah satu keluarga besar pemilik perusahaan tersebut hingga membuat beberapa karyawan di sana nampak segan padanya.
"Ayo pulang !!" ajak Awan dengan nada dingin.
"Hah pulang." Ameera nampak terpaku, tak biasanya suaminya itu pulang cepat.
"Cepat atau ku tinggal !!" perintah Awan saat sang istri tak segera menyusulnya.
"I-iya, mas." Ameera langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul pria itu.
"Tumben mas, jam segini sudah pulang ?" tanya Ameera saat berjalan ke arah perkiraan.
Sedangkan Awan terus saja melangkah tanpa menghiraukan perkataan istrinya itu.
"Mas Awan." teriak Ameera, namun pria itu justru masuk ke dalam mobilnya.
"Gitu aja marah." gerutu Ameera lalu segera masuk juga.
"Mas kenapa diam, mas marah ya ?" ulang Ameera saat sang suami mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Hm." Awan hanya menjawab dengan berdehem ria.
"Kita cuma bahas kerjaan, mas." Ameera menggoyang lengan suaminya itu.
"Terus ?" Awan menaikkan sebelah alisnya menggoda wanita itu.
"Terus apa ?" Ameera nampak tak mengerti.
"Terus aku harus percaya ?" tanya balik Awan.
"Ya harus." sahut Ameera.
"Usahalah buat aku percaya." cibir Awan yang sepertinya belum ingin mejalankan mobilnya.
Ameera yang sangat paham tabiat suaminya langsung saja mengecup pipi pria itu.
Cup
"Ini kan yang kamu mau." cebik Ameera, suaminya itu selalu saja mencari kesempatan dari kesalahan yang ia perbuat.
"Itu ciuman bayi sayang, sini ku ajari cara cium suami yang benar." Awan nampak meraih tengkuk istrinya itu lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.
Sedangkan Ameera yang telah kehabisan napas langsung memukul dada bidang pria itu.
"Mas, mau membunuhku ?" protesnya saat pria itu baru melepaskan panggutannya.
Awan nampak terkekeh kemudian mulai melajukan mobilnya.
Malam harinya pak Djoyo yang baru pulang dari kantornya terlihat berantakan, sepertinya pria itu begitu frustasi atas penghiatan yang di lakukan oleh istrinya.
Mendengar suara mobil suaminya, nyonya Amanda segera menyambut pria itu.
"Papa sudah pulang, pasti lelah ya ?" ucapnya dengan ramah.
Pak Djoyo yang tak biasanya melihat istrinya itu menyambut kepulangannya nampak berdecih kesal.
Ternyata perhatian wanita itu selama ini hanya akting belaka dan itu membuatnya sangat muak.
"Sini ku bawakan tasnya, pa." nyonya Amanda menarik tak yang pak Djoyo bawa namun pria itu langsung menjauhkannya.
"Papa kenapa sih ?" nyonya Amanda nampak tak mengerti dengan sikap dingin suaminya itu.
Pak Djoyo yang baru melepas sepatu kerjanya langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan wanita yang sudah 24 tahun menjadi istrinya itu.
"Papa kenapa ya? atau jangan-jangan papa yang mengambil HP ku." nyonya Amanda langsung memucat mengingat pesan dari pria spesial yang akhir-akhir ini dekat dengannya belum ia hapus.
"Mati aku." wanita paruh baya itu segera mengejar suaminya.
"Pa..." panggilnya saat melihat suaminya itu duduk di ruang keluarga, padahal biasanya pria itu selalu ke kamar dahulu setiap baru pulang kerja.
Pasti ada hal penting yang ingin di bicarakan, pikir wanita itu.
"Duduk !!" perintah pak Djoyo kemudian.
"A-ada apa ya pa ?" nyonya Amanda nampak duduk dengan ketakutan.
"Katakan siapa Handoko !!" tanya pak Djoyo to the point yang langsung membuat nyonya Amanda menelan ludahnya.
Rupanya dugaannya benar jika suaminya lah yang telah mengambil ponselnya.
Sementara itu Ameera yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka dari lantai atas nampak terperanjat kaget.
"Bagaimana ini ?" gumamnya seraya menatap pintu kamarnya yang tertutup, jika suaminya sampai tahu perbuatan sang ibu pasti pria itu akan ikut murka seperti ayah mertuanya.