Ameera

Ameera
Part~88



"Ah dia lagi." sekejap mata Ameera menatap Mala yg ada di depan pintu kamarnya, lalu ameera menjauhkan wajahnya dari sang suami.


Awan pun mendesah kesal karena acara romantis dengan sang istri terganggu dengan kedatangan Mala, tanpa melihat kearah pintu awan langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Ada apa ?" tanya Ameera menatap Mala.


Mala yang melihat kemesraan majikannya terlihat salah tingkah.


"Itu bu, suruh ke bawah sama nyonya." jawab Mala.


"Ya nanti kita segera ke bawah." sahut Ameera.


Kemudian Mala berlalu pergi dan ameera segera menutup pintu kamarnya.


"Jika ingat tragedi ranjang, rasanya ingin memaki Mala dan mendorongnya sampe jatuh." gumam Ameera sambil berlalu menuju balkon kamarnya.


"Mama, kurang apa aku sama mama. Segala tindakan buruk mama padaku banyak yang aku sembunyikan demi mama, demi menjaga hati, perasaan dan harga diri mama." imbuh Ameera lagi seraya berdiri di balkon kamarnya, matanya nampak menatap langit yang terlihat mendung malam itu.


Ameera masih tak habis pikir dengan kelakuan Mala dan jalan pikiran ibu mertuanya itu.


"Mama kenapa bisa setega ini, apa aku tak berhak mempunyai privacy di rumah ini. Kenapa mama biarkan seorang Mala masuk kamar pribadiku dan suamiku lalu tidur di ranjang kami, bukankah kalian berdua sangat keterlaluan."


"Selama ini aku banyak mengalah untuk mama, demi mendapatkan sedikit kasih sayang mama aku sembunyikan semua keburukan mama. Tapi mulai saat ini aku tak akan lagi menutupi segala keburukan mama, apapun yang mama lakukan padaku akan ku adukan pada suamiku. Maaf ma, mama yang mulai semua ini." Ameera nampak membuat keputusan di saat hatinya mulai lelah.


"Sayang, kok melamun ?" awan tiba-tiba memeluk Ameera dari belakang dan sontak membuat Ameera terkejut lalu wanita itu langsung mengusap air matanya yang tak sengaja jatuh.


"Ada apa sayang, kenapa menangis ?" tanya awan yang langsung membuat Ameera berbalik badan memeluk suaminya itu.


"Sayang, ada apa? apa aku sudah menyakitimu ?" tanya Awan lagi.


Ameera menggelengkan kepalanya lalu menengadah menatap suaminya tersebut.


Kemudian Ameera mengalungkan tangannya di leher pria itu, lalu kakinya berjinjit mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami dan mengecup lembut bibir pria itu.


"I love u my husband, terima kasih untuk semua cinta yang luar biasa besar ini." lirih Ameera menatap suaminya itu sembari mengulas senyum manisnya.


"Apakah kamu sedang merayuku, nyonya Awan Syailendra ?" melihat istrinya mencoba menggodanya, Awan tak mau membuang waktu ia langsung m3lum4t bibir istrinya itu dan makin merapatkan tubuhnya.


Namun saat Awan akan melucuti pakaiannya, istrinya langsung menahan tangannya. "Mas, ini di balkon." ucapnya mengingatkan.


"Ya sudah yuk di dalam saja." ajak Awan yang nampak bersemangat dan melupakan apa yang sesungguhnya membuat istrinya tadi bersedih.


"Nanti saja mas, tadi Mama panggil suruh turun." bujuk Ameera seraya menarik tangan suaminya lalu mengajaknya keluar dari kamarnya.


"Sayang, sebentar." Awan nampak menahan tangan istrinya hingga membuat Ameera menghentikan langkahnya.


"Apalagi mas ?" tanya Ameera.


"Cerita dulu kamu tadi menangis kenapa? jangan bohong dan jangan di tutup-tutupi." desak Awan yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.


"Mas jangan marah ya, anggap kejadian ini sudah lama berlalu, lagipula mas juga sudah ganti ranjang dan semuanya." ucap Ameera dengan nada memohon.


"Apa hubungannya sayang ?" Awan nampak tak mengerti arah pembicaraan istrinya tersebut.


"Mala pernah masuk kamar kita dan tidur di atas ranjang kita, mas." sahut Ameera lirih.


"Apa ?" Awan langsung terkejut.


"Kenapa tidak bilang dari kemarin sayang, kurang ajar sekali Mala makin lama makin ngelunjak." geram Awan kemudian.


"Maaf mas, aku juga butuh waktu untuk cerita pada mas. Aku tidak mau cerita saat dalam keadaan emosi karena mas juga pasti akan ikutan emosi. Aku takut mas kalap dan mas kenapa-kenapain Mala." terang Ameera berharap suaminya itu tidak emosi seperti dirinya saat baru mengetahui kemarin dari sang nenek.


"Menjijikkan sekali dia itu, kenapa juga mama cari pembantu seperti dia." gerutu Awan dengan kesal.


"Sudah ayo turun, mas harus jaga emosi ya anggap semua sudah berlalu." bujuk Ameera lalu mengajak suaminya turun ke bawah.


"Mala !!" teriaknya dengan nyaring.


"Ada apa sih nak ?" nyonya Amanda yang sedang menonton televisi langsung terkejut mendengar teriakan sang putra.


"Di mana Mala ?" tanya Awan dengan wajah geramnya.


"I-iya pak." Mala tiba-tiba keluar dari kamarnya yang langsung di datangi oleh Awan, sementara Ameera nampak memegang tangan suaminya itu agar tidak sampai memukul gadis itu.


"Kenapa kamu kurang ajar sekali hah, berani-beraninya tidur di kamar saya. Memang kamu siapa? tahu diri sedikitlah jadi orang." Awan nampak menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya tepat di depan wajah pembantunya tersebut.


"Maaf pak, maaf." Mala langsung bersimpuh menangis.


Bukannya iba Awan justru ingin menendang dan memukul gadis itu, namun Ameera yang sedari tadi memegang lengannya langsung mencegahnya.


"Mas sudah cukup." Ameera menarik tangan Awan lalu mengajaknya kembali ke kamarnya.


"Ini yang bikin aku enggan cerita ke mas, mas itu temperamen bisa-bisa anak orang kamu bunuh." tegur Ameera sesampainya di dalam kamarnya.


"Maaf." Awan mengacak rambutnya dengan kasar, wajahnya yang putih nampak memerah menahan amarahnya.


Ameera yang melihat itu merasa kasihan, lalu ia melangkah mendekati suaminya itu.


"I love u." ucap Ameera lirih lalu langsung mencium bibir suaminya itu.


Ameera mencoba berinisiatif untuk memulai duluan jika itu memang bisa mendinginkan suasana hati sang suami.


Seperti mendapatkan air di tengah gurun, Awan langsung membalas ciuman istrinya itu lalu mengecupi lehernya dan tak menunggu lama kini keduanya sudah nampak polos dan siap bertempur sepanjang malam.


Keesokan harinya....


Pagi itu Ameera melihat Mala nampak bersikap biasa saja seakan semalam tak ada masalah.


"Sebenarnya terbuat dari apa hati gadis itu hingga sama sekali tak punya rasa malu." gumam Ameera.


"Sayang, kita sarapan di kantor saja." ajak Awan saat Ameera akan duduk di kursinya.


Awan yang enggan melihat Mala, langsung berlalu keluar rumahnya hingga membuat Ameera mau tak mau menyusulnya.


Sesampainya di kantornya Ameera dan Awan berpisah dan menuju ruangannya masing-masing.


"Bu Ameera, kalau lagi senggang sama dokter Steven di suruh ke ruangannya." ujar seorang OB siang itu saat baru masuk ke dalam ruangan Ameera.


"Oh Iya mas, terima kasih ya." Ameera nampak tersenyum senang dan kebetulan karena senggang ia langsung pergi ke ruangan dokter Steven.


"Mas, sini dulu." Bu Dewi nampak memanggil OB tersebut saat hendak keluar dari ruangannya.


"Iya bu, ada apa ?" tanya OB tersebut.


"Dokter Steven mau ngapain panggil bu Ameera ?" tanya bu Dewi to the point.


"Memang bu Dewi nggak tahu kalau bu Ameera sama dokter Steven itu dekat ?" ucap OB tersebut yang langsung membuat wanita itu dan semua karyawan di sana nampak terkejut.


"Jadi mereka dekat ?" bu Dewi memastikan lagi.


"Benar bu." sahut OB tersebut.


"Baiklah, terima kasih." ucap Bu Dewi lalu menyuruh OB tersebut untuk pergi.


"Ternyata mereka benar-benar selingkuh, ini tidak bisa di biarkan pak Awan harus tahu bagaimana kelakuan istrinya." ucap seorang karyawan yang langsung di anggukin oleh yang lainnya.


"Ya kalian benar, bikin jelek kantor saja." sahut bu Dewi lalu mengajak beberapa karyawannya untuk melaporkan perbuatan Ameera ke Awan.