
💥Meraih apa yang kita inginkan terkadang tidaklah mudah, harus ada perjuangan yang lebih untuk mendapatkannya💥
"Ya pak ada apa ?" Ameera terduduk kembali setelah Jonathan menahan kepergiannya.
"Hanya ingin ngobrol saja, kebetulan belum ada yang di kenal di sini." sahut Jonathan dengan mengulas senyumnya.
"Nanti lama-lama juga kenal kok, Pak. Teman-teman di sini semuanya baik dan ramah." tukas Ameera sedikit berbohong, karena pada nyatanya banyak sekali yang menindasnya.
Namun jika ia mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa Jonathan tidak akan betah, tapi sepertinya pria itu akan di terima dengan baik.
Karena selain tampan, Jonathan juga terlihat seperti pria mapan dan semua wanita pasti akan menyukainya.
Seperti halnya Awan yang langsung di terima oleh para karyawan wanita di sini. Mengingat Awan, Ameera langsung mengedarkan pandangannya lagi.
Dan ia langsung melotot saat melihat Awan sudah berdiri tak jauh darinya, pria itu nampak mengobrol dengan pak Mario dan sesekali menatapnya dengan tatapan nyalang.
"Mati aku." gumamnya dan kini ia mulai gelisah.
"Kamu kenapa ?" Jonathan nampak mengernyit melihat Ameera.
"Nggak apa-apa, pak." sahut Ameera dengan tersenyum nyengir.
"Kok panggilnya bapak sih, memang saya kelihatan tua ya ?" protes Jonathan.
"Nggak pak, anda masih sangat muda." sahut Ameera dengan jujur, karena Jonathan memang masih muda dan sangat tampan.
"Kalau begitu panggil saya mas atau abanglah, jangan bapak." pinta Jonathan.
"Ba-baik, mas saja." tukas Ameera kemudian.
"Kamu cantik." lirih Jonathan menatap lekat gadis polos yang terlihat malu-malu di sebelahnya itu.
"Mas bilang apa barusan ?" tanya Ameera yang tak mendengar ucapan Jonathan dengan jelas.
"Nggak, nggak bilang apa-apa kok." sahut Jonathan, kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Berapa nomor ponselmu ?" imbuhnya kemudian.
"Eh..." Ameera terkejut saat tiba-tiba Jonathan meminta nomor kontaknya.
Kemudian ia melihat ke arah Awan yang nampak terus menerus menatapnya, ia jadi semakin gelisah dan gugup.
"Berapa? kata pak Mario kita akan menjadi rekan setim loh, masa saya nggak tahu nomormu ?" bujuk Jonathan.
"Ba-baik pak, eh mas." tukas Ameera, kemudian ia menyebutkan nomor ponselnya.
"Terima kasih." ucap Jonathan sembari mengetik pesan lalu mengirim ke nomor Ameera.
"Oh ya, dinner yuk ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat Ameera lagi-lagi terkejut saat mendengarnya, begitu juga dengan Awan yang nampak melotot menatapnya.
"Hah..." Ameera masih tak percaya, pria tampan sekelas Jonathan mau mengajaknya dinner.
"Iya dinner, kamu tahu kan resto yang paling enak dan nyaman di sini ?" tukas Jonathan dengan menatap lekat gadis itu.
"Bukannya mas Nathan suka makan di resto depan ya ?" sahut Ameera, mengingat ia semalam melihat pria itu sedang menikmati makan malamnya di resto depan kantornya.
"Mau ganti suasana saja dan pengen ngajak kamu biar dekat." tukas Jonathan yang langsung membuat Ameera lagi-lagi tersentak.
Begitu juga dengan Awan, pria itu sepertinya tidak fokus berbicara dengan pak Mario karena sedari tadi mencuri dengar pembicaraan sang kekasih dengan pria baru di kantornya tersebut.
"Sa-saya...." Ameera menjeda perkataannya, saat tiba-tiba mendengar deheman seseorang hingga membuatnya dan Jonathan langsung menoleh kearah sumber suara.
"Tak di sangka ternyata kalian sudah akrab ya." goda pak Mario menatap Ameera dan Jonathan.
"Ti-tidak pak." Ameera nampak gugup, apalagi saat melihat Awan yang menatap nyalang padanya.
"Tidak, tapi kok duduk berduaan." goda pak Mario lagi.
"I-itu...." Ameera nampak bingung mau menjawab apa, sementara Jonathan justru terkekeh mendengar candaan pak Mario.
"Nggak apa-apa kalau memang dekat, saya dukung kok. Lagi pula jomblo itu nggak enak." tukas pak Mario sembari terkekeh dan itu membuat hati Awan semakin meradang.
Sementara Jonathan masih saja terkekeh, sepertinya pria itu tak keberatan dengan ide pak Mario. Karena sejak melihat Ameera, ia memang sudah tertarik dengan gadis polos tersebut.
"Oh ya Meera, nanti kamu satu tim dengan Jonathan ya." pinta pak Mario kemudian yang langsung di tolak oleh Awan dan Ameera bersamaan.
"Nggak bisa pak." sahut mereka.
"Loh kenapa memangnya ?" pak Mario nampak bingung menatap Ameera dan Awan bergantian.
"Iya benar, pak." Ameera menyetujui.
"Saya percaya kok keuangan akan lancar di tangan mu Wan lagipula sebagai kepala keuangan baru di sini, kamu harus tetap stay pada posisimu. Jadi biarkan Ameera satu tim dengan Jonathan. Lagipula ini proyek nggak main-main loh, jadi saya tidak bisa menyerahkan pada orang lain dan saya lihat Jonathan dan Ameera cepat nyambung." tegas pak Mario, mengingat saat ini Awan menjabat sebagai kepala staff keuangan menggantikan Derry yang sudah pindah ke kantor cabang lain.
Awan nampak sangat kesal, namun ia juga harus tetap mengemban tugasnya dengan baik.
"Baiklah." sahutnya kemudian yang langsung mendapatkan beberapa tepukan di bahunya dari pak Mario.
Beberapa saat kemudian mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Ameera yang baru menutup pintu kamarnya, langsung terkejut saat tiba-tiba Awan nyelonong masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, apa yang kamu lakukan di sini? bagaimana nanti kalau ada yang melihat ?" tegur Ameera sembari mengunci pintunya, ia khawatir jika tiba-tiba ada orang lain lagi masuk ke dalam kamarnya seperti Viona waktu itu.
"Kamu ngapain tadi duduk berduaan dengan pria itu ?" tanya Awan to the point.
"Nggak berduaan kok mas, tadi ada Nita juga tapi dia tiba-tiba kebelet. Aku mau pergi juga tadi tapi mas Nathan ingin bicara sebentar." sahut Ameera beralasan.
"Wow jadi kalian sudah seakrab itu sampai memanggilnya dengan sebutan 'mas' ?" cibir Awan.
"Terus aku harus memanggilnya apa Mas? orang dia seumuran kamu. Kalau aku panggil namakan nggak sopan." sahut Ameera dengan polos.
"Lalu bertukar nomor telepon dan rencana mau dinner maksudnya apa? kamu mau selingkuh ?" cibir Awan lagi.
"Astagfirullah, mas. Aku nggak mungkin selingkuh, kita kan nanti satu tim. Jadi wajarkan bertukar nomor kontak, tapi kalau masalah dinner kan mas Nathan yang mau akunya nggak mau juga." sahut Ameera menjelaskan.
Awan nampak mendesah kesal, kemudian ia membawa kekasihnya tersebut ke dalam pelukannya.
"Jangan membuatku cemburu, ku mohon." ucapnya seraya mengusap lembut rambut panjang gadis itu.
"Mas juga jangan dekat-dekat Viona, aku nggak suka." tukas Ameera memperingatkan yang langsung membuat Awan mengurai pelukannya lalu menatap wajahnya.
"Aku nggak pernah deketin Viona sayang, dia yang selalu cari kesempatan. Tapi aku selalu cuek padanya kok, lagipula bagaimana aku bisa melihat wanita lain sedangkan mata dan hatiku semua tertuju padamu." sahut Awan meyakinkan.
"Mas tidak lagi sedang ngegombal kan ?" tanya Ameera sembari terkikik.
"Astaga sayang, kamu merusak suasana romantis saja." gerutu Awan, sementara Ameera semakin terkekeh.
"Ya sudah mas sekarang keluar sana, aku mau mandi." Ameera nampak menarik tangan Awan lalu membawanya kearah pintu.
"Nggak, aku mau tidur di sini." sahut Awan.
"Mas." teriak Ameera dengan kesal.
"Teriak lagi sayang, biar semua orang mendengarnya jadi kita langsung di bawa ke KUA." Awan nampak terkekeh.
"Menyebalkan, mas tidur di sini pasti akan macam-macam kan ?" tuduh Ameera, mengingat kejadian di hotel kemarin.
"Nggak sayang, Aku cuma ingin jagain kamu agar tidak dinner dengan pria sialan itu." sahut Awan dengan nada kesal.
"Janji nggak ngapa-ngapain ?" Ameera mengangkat kelingkingnya.
"Iya, janji." sahut Awan lalu menautkan jari kelingkingnya juga.
Setelah itu Ameera segera mengambil pakaian gantinya lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
30 menit kemudian saat ia baru keluar dari kamar mandi ia nampak terkejut saat melihat Awan sudah berganti pakaian rumahan dan juga membawa banyak makanan. Sepertinya pria itu pergi saat dirinya sedang mandi tadi.
"Mas, harusnya kan minggu kemarin kamu pulang. Apa mamanya mas nggak marah ?" tanya Ameera malam itu saat mereka akan tidur.
Awan terdiam, sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu.
"Mas." teriak Ameera saat Awan tak menjawab pertanyaannya.
"Besok saja di bahas sayang, aku mengantuk." sahut Awan mengalihkan pembicaraan, kemudian ia nampak memejamkan matanya.
"Mas, jangan tidur. Jawab pertanyaanku dulu." rengek Ameera.
"Tidur sayang, apa malam ini kamu mau ku buat nggak tidur semalaman. Hm ?" goda Awan.
"Nggak." Ameera bergegas tidur dengan memunggungi kekasihnya tersebut.
Sedangkan Awan nampak menatap punggung Ameera dengan pandangan bersalah.
"Maafkan aku, sayang." gumamnya.