Ameera

Ameera
Part~76



"Sayang, jangan bangun dulu !!" Awan menahan lengan istrinya saat wanita itu hendak beranjak dari tidurnya pagi itu.


"Aku mau ke kamar mandi, mas." rengek Ameera dengan wajah bantalnya serta rambut hitamnya yang acak-acakan, namun itu justru terlihat seksi di mata Awan.


"Sebentar dulu." Awan menarik lagi tubuh istrinya lalu memeluknya bagaikan guling.


Ameera mendesah pelan. "Baiklah." sahutnya dengan pasrah.


"Sayang kapan selesai ?" tanya Awan kemudian.


"Selesai apa, Mas ?" Ameera menatap suaminya itu.


"Selesai itu." Awan memberikan kode dengan matanya, sedangkan Ameera yang tak mengerti nampak berpikir meski otaknya belum siap untuk di ajak berpikir.


"Itu apa sih mas ?" tanyanya lagi.


Awan yang tak sabar langsung meraih tangan istrinya lalu membawanya menyentuh miliknya dari balik selimut.


"Mas, kamu apa-apaan sih? dasar mesum." Ameera menjerit kesal.


"Jadi kapan selesainya ?" Awan terlihat frustrasi.


Akhirnya Ameera mengerti apa yang di maksud oleh suaminya itu. "Baru juga tiga hari mas, masih ada empat hari lagi." sahutnya menjelaskan.


"Itu sangat lama sayang, bisa-bisa punyaku berkarat." keluh Awan yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya.


"Mana bisa seperti itu mas." ucapnya tak percaya.


"Beneran sayang, kalau nggak berkarat ya jadi batu." Awan nampak melirik istrinya saat mengatakan hal itu.


"Beneran, mas ?" tanya Ameera dengan polos.


"Hm." angguk Awan dengan wajah datarnya.


"Jadi bagaimana dong ?" Ameera yang polos nampak khawatir dan itu membuat suaminya makin semangat buat mengerjainya.


"Makanya bantuin." lirih Awan, lagi-lagi sembari melirik mimik wajah istrinya yang terlihat bingung.


"Bagaimana caranya ?" Ameera nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sini tak bisikin !!" perintah Awan menyuruh istrinya mendekat.


Ameera yang penasaran langsung memepet suaminya. "Ayo katakan !!" ucapnya tak sabar.


Awan nampak membisikkan sesuatu yang membuat Ameera langsung melebarkan matanya.


"Nggak mau." Ameera segera menjauh dan beranjak dari tidurnya kemudian ia berlari ke kamar mandi.


Sementara Awan yang melihat itu langsung tergelak, rasanya senang sekali mengerjai istrinya yang polos itu.


Beberapa saat kemudian setelah selesai bersiap mereka segera turun untuk sarapan bersama.


"Nak, nanti malam ke rumah Oma ya." pinta nyonya Amanda saat Awan baru mendudukkan dirinya di hadapannya.


"Ada acara ?" tanya Awan seraya mengambil roti yang sudah di oles selai oleh istrinya lalu ia mulai menggigitnya.


"Oma mengundang kita makan malam." sahut sang ibu.


"Dilihat saja nanti ma, aku sama Ameera sepertinya sibuk." tolak Awan.


"Nak, Oma itu ibunya Mama dan itu berarti nenek kamu juga. Masa pergi ke tempat Eyang kamu mau lalu pergi ke tempat oma kamu tidak mau." gerutu nyonya Amanda dengan kesal.


Sementara Awan nampak santai memakan sarapannya, dulu waktu kecil ia memang sangat dekat dengan omanya itu tapi semakin ia dewasa ia tidak terlalu suka dengan keluarga dari ibunya tersebut.


"Mas, nanti aku pulang cepat kok jadi kita bisa ke rumah Oma." Ameera berusaha membujuk suaminya.


Awan berpikir sejenak kemudian ia membuka suaranya. "Baiklah, tapi mama berangkat saja duluan. Kami akan menyusul." sahutnya yang langsung membuat ibunya itu tersenyum girang.


Sepertinya kepala ruangannya menyuruhnya lagi untuk mengerjakan pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawab wanita itu.


Ameera yang merasa selalu di manfaatkan nampak menghela napas panjangnya, namun ia tidak mungkin mengadu ke suaminya karena pria itu pasti akan menyuruhnya untuk berhenti bekerja.


"Meera berkas saya cepat kerjakan ya, karena satu jam lagi harus di setor ke pak boss !!" perintah bu Dewi, wanita bertubuh gempal itu nampak menatap tegas Ameera.


"Tapi kerjaan saya juga banyak bu." Ameera mencoba menolaknya karena selama ini ia selalu menurut.


"Saya kepala ruangan di sini apa kamu lupa ?" bu Dewi mulai emosi selama ini tidak ada karyawan yang berani membantahnya.


"Apa ibu juga lupa jika saya juga salah satu keluarga dekat dari pemilik perusahaan ini ?" tantang Ameera tidak takut, ia terpaksa menggunakan nama keluarga besar suaminya karena hari ini ia tidak mau pulang terlambat dan membatalkan datang ke rumah Omanya.


Mendengar ucapan Ameera, bu Dewi mendesah kesal. Kemudian ia langsung mengambil tumpukan berkasnya yang tadi di letakkannya di atas meja Ameera setelah itu ia berlalu pergi tanpa kata.


Melihat kepergian atasannya, Ameera langsung menghela napasnya. Kemudian ia mendaratkan bobot tubuhnya di atas kursi kerjanya.


Siang harinya Awan yang tidak terlalu sibuk menyempatkan mengajak istrinya makan siang di luar, mereka nampak makan di sebuah Cafe yang berada di salah satu mall di kota tersebut.


"Aku sangat kenyang." ucap Ameera setelah selesai makan siang, kini mobil mereka kembali ke kantornya.


"Sejak kerja kamu makan agak banyak dan aku suka itu." ucap Awan dari balik kemudinya, pandangannya sesekali ke arah istrinya yang sedang duduk di kursi sebelahnya.


Ameera hanya menanggapi dengan senyuman menatap suaminya itu, karena perutnya yang kenyang membuatnya merasa mengantuk.


"Tentu saja aku harus makan banyak mas, karena menghadapi atasan tak berperasaan itu membutuhkan tenaga lebih." sahut Ameera dalam hati, karena jika ia mengatakan pada suaminya bisa-bisa ia akan di suruh berhenti sekarang juga.


Sesampainya di parkiran kantornya, bukannya langsung membuka pintu Awan justru tetap menguncinya.


"Loh mas kok di kunci sih ?" protes Ameera saat pintu mobilnya tidak bisa di buka.


"Di sini sebentar sayang." sahut Awan.


"Tapi aku sudah terlambat lima menit mas." keluh Ameera.


"Aku akan bilang pada bu Dewi nanti." bujuk Awan.


"Mas membuatku sulit." gerutu Ameera dengan mencebikkan bibirnya dan itu membuat Awan tergelak.


Kemudian ia melepaskan sefty beltnya lalu mendekati sang istri yang nampak merajuk, di pegangnya dagu wanita itu lalu di bawanya menghadap ke arahnya.


"Kenapa istriku jelek sekali ya ?" godanya dan itu membuat Ameera semakin merajuk lalu menatap kearah lain.


"Tapi sayangnya aku tergila-gila padamu." imbuhnya lagi dan sontak membuat Ameera menatapnya.


"I love u." lirih Awan dan itu membuat Ameera tercengang.


Melihat istrinya tak bereaksi Awan semakin mendekatkan wajahnya lalu di panggutnya bibir merah itu dengan lembut.


Ameera yang terbuai dengan perlakauan lembut sang suami, nampak membalas ciumanannya, kini mereka nampak saling m3lum4t dan menyesap satu sama lainnya.


Puas bermain-main di bibir sang istri, Awan mulai menurunkan ciumannya ke leher putih wanita itu.


Di hirupnya dalam-dalam aroma khas sang istri yang selalu membuatnya candu, lalu di kecupinya dengan lembut hingga membuat wanita itu mendesah tak karuan.


Beberapa saat kemudian Awan langsung menjauhkan tubuhnya saat melihat beberapa security kantornya sedang berkeliling area parkir.


Melihat itu Ameera segera merapikan pakaian kerjanya yang berantakan, beberapa kancing pakaiannya yang lepas langsung ia rapikan.


Kemudian ia segera keluar dengan sedikit kesal karena suaminya itu seperti tak tahu tempat.


"Aku akan mengantarmu." ucap Awan saat istrinya baru keluar dari mobilnya.


Namun Ameera tetap melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan suaminya dan benar saja sesampainya di ruangannya, atasannya itu sudah menunggunya dengan wajah geram siap memarahinya.