
"Om, bagaimana kabarnya ?" Rafael langsung beranjak dari duduknya lalu menyalami pak Djoyo yang baru datang.
"Om baik, tumben kesini ?" sahut pak Djoyo seraya duduk di sofa single sebelah sang istri.
"Iya Om, Mama minta aku tinggal di sini sementara waktu agar fokus mengerjakan tugas akhir semester." sahut Rafael dengan jujur.
"Oh ya sudah nggak apa-apa nanti biar bibik yang bersihkan kamar tamunya." pak Djoyo nampak menghela napasnya pelan, ini semua pasti ulah istrinya itu.
Karena wanita itu tahu jika dirinya tidak mungkin mendiamkannya di depan keponakannya sendiri.
Malam pun telah tiba, kini mereka nampak makan malam bersama dan itu untuk pertamanya kalinya sejak nyonya Amanda ketahuan selingkuh.
Wanita paruh baya itu nampak mengambil kesempatan dengan melayani suaminya makan sebaik mungkin.
"Mau tambah lagi, pa ?" nyonya Amanda menawari suaminya itu lauk lagi namun pria itu langsung mengangkat tangannya menolak.
Tak mau menyerah nyonya Amanda nampak mengisi air putih suaminya yang kosong lalu menggesernya ke hadapan pria itu.
"Bik, biar aku saja yang buatkan kopi bapak." ucapnya seraya beranjak dari duduknya, padahal makanan wanita itu belum sepenuhnya habis.
Sedangkan pak Djoyo nampak fokus dengan makanannya, sungguh pria itu tak peduli dengan perhatian istrinya itu.
Perasaannya sudah mati bersama penghiatannya, statusnya dan wanita itu saat ini tak ubah hanya status di atas kertas.
Sementara itu Awan yang sedang menyantap makanannya nampak melirik ke arah Rafael yang entah kenapa ia merasa pria itu tertarik dengan istrinya, meski tidak terlalu nampak tapi sebagai pria ia tahu itu.
"Mas kenapa ?" tanya Ameera saat suaminya itu tiba-tiba mendiamkannya.
Kini mereka berada di dalam kamarnya dan Awan nampak duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
"Nggak ada." sahut Awan, matanya masih fokus ke benda pipih di tangannya itu.
Ameera yang kesal langsung menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah suaminya itu lalu ia mengambil paksa ponsel pria itu.
"Kita sudah sepakat loh mas tak ada ponsel saat kita bersama." protes Ameera mengingatkan lalu mematikan game di ponsel suaminya itu.
Awan tak menjawab lalu mengambil repot tv dan menyalakannya.
"Mas tadi banyak kerjaan ya di kantor ?" Ameera membuka pembicaraan, mungkin saja suaminya itu sedang lelah atau ada masalah di kantornya hingga membuat moodnya kurang baik.
"Nggak, sayang." sahut Awan yang langsung membuat Ameera tersenyum, rupanya suaminya itu memang sedang tak ada masalah.
"Oh ya mas, Rafa ternyata baik ya dulu ku pikir dia sombong tapi ternyata dia banyak bicara juga dan lumayan rajin karena tadi membantuku membawa piring-piring kotor ke cucian." Ameera nampak memuji Rafael dan itu membuat Awan langsung mengeraskan rahangnya.
"Kamu menyukainya ?" tanya Awan to the point.
"Iyakan dia adik sepupumu jadi adikku juga kan." sahut Ameera tak menyadari saat ini suaminya itu sudah keluar tanduknya.
"Adik ketemu gede, umur saja hampir sama." cibir Awan.
"Iya beda 3 bulan mas." sahut Ameera.
"Kok tahu ?" nada bicara Awan mulai dingin.
"Tadi kan sempat ngobrol sebentar di dapur." sahut Ameera dengan polos dan itu membuat Awan semakin kesal.
"Dahlah mau tidur." Awan beranjak dari duduknya namun Ameera langsung menahan tangannya.
"Jangan dulu mas, baru juga jam segini." mohon Ameera lalu menarik pria itu kembali ke sampingnya.
"Ya sudah aku mau putar film kamu diam saja di situ." Awan nampak mengambil compact disc dari dalam tasnya lalu memutarnya.
"Astagfirullah, mas." Ameera langsung berteriak saat melihat film apa yang di putar oleh suaminya itu.
Kemudian wanita itu langsung beranjak untuk kabur namun Awan langsung menariknya hingga kini terduduk di pangkuan pria itu.
"Mas dosa loh nonton film begituan." protes Ameera seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mas." teriak Ameera saat suaminya itu memainkan puncaknya hingga membuatnya menggeliat.
"Jangan banyak gerak sayang, kamu bisa membangunkannya nanti." protes Awan saat istrinya itu nampak gelisah karena ulahnya.
"Makanya tangannya mas jauh." sungut Ameera dengan kesal meski ia juga menikmatinya, tangannya yang sibuk menjauhkan tangan suaminya itu hingga membuatnya mau tak mau melihat film dewasa itu meski hanya sekilas.
Awan yang mulai berhasrat langsung memutar tubuh istrinya hingga kini menghadap ke arahnya dan kaki wanita itu berada di sisi kanan dan kiri pinggangnya.
"Kamu nggak mau nonton kan? ya sudah hadap sini aja." ucap Awan seraya menyingkap baju istrinya ke atas hingga memperlihatkan bra hitam berenda itu.
Kemudian pria itu segera meraih tengkuk istrinya agar wajahnya mendekat lalu di lum4tnya bibir ranum itu dengan lembut dan tangannya nampak mengusap punggung wanita itu lalu melepaskan pengait branya hingga kini bukit kembar favoritnya itu terbebas di depan wajahnya.
"Ahh, mas." Ameera mengerang saat suaminya tiba-tiba m3r3m4s dan m3lum4t puncaknya dengan rakus.
Sementara itu di luar kamar mereka nampak Rafa yang baru keluar dari kamarnya terlihat menghentikan langkahnya saat mendengar samar-samar d3s4han dari dalam kamar sang kakak.
Pemuda itu terlihat menghela napasnya sejenak kemudian segera menuruni anak tangga.
Keesokan harinya....
Sejak kedatangan Rafael kini meja makan tak pernah sepi lagi, seperti pagi ini mereka nampak sedang sarapan bersama.
"Ayo makan yang banyak." titah pak Djoyo saat Rafa hendak mengambil sarapannya.
"Iya om, om juga jaga kesehatan jangan lembur terus om. Kemarin aku lihat sampai tengah malam Om masing di ruang kerja." timpal Rafael yang langsung membuat pak Djoyo dan nyonya Amanda saling menatap namun kemudian pak Djoyo langsung membuang wajahnya lalu berdehem kecil.
"Om banyak kerjaan." sahutnya kemudian dan itu membuat nyonya Amanda nampak menahan senyumnya karena suaminya itu terlihat salah tingkah, semoga saja setelah ini pria itu mau tidur sekamar dengannya.
"Selamat pagi." sapa Ameera yang baru datang bersama Awan, lalu duduk di seberang Rafael.
"Kamu sakit, Nak ?" tanya pak Djoyo saat melihat anak menantunya itu nampak pucat.
"Nggak kok pa, semalam tak bisa tidur aja." sahut Ameera berdusta padahal semalem ia di kerja habis-habisan oleh suaminya itu.
"Banyak-banyak makan biar sehat." perintah pak Djoyo.
"Iya, pa." sahut Ameera lalu mengambilkan sarapan untuk sang suami dan itu tak luput dari perhatian pemuda di hadapannya itu.
Awan yang melihat Rafa selalu saja mencuri-curi pandang pada istrinya itu membuatnya nampak tersenyum jahil.
Kemudian pria itu menyisihkan sebagian rambut Ameera ke belakang agar tidak terkena makanannya dan tentu saja itu menjadi perhatian Rafael.
Pemuda itu nampak menghela napasnya saat melihat leher Ameera yang terdapat beberapa bekas tanda kepemilikan di sana dan pasti ulah suaminya semalam.
Merasa sukses Awan nampak tersenyum dalam hati, kemudian ia melanjutkan sarapannya.
Setelah menghabiskan sarapannya pak Djoyo segera beranjak dari duduknya.
"Papa ke kantor dulu." ucapnya dan langsung di ikuti oleh istrinya itu.
Nyonya Amanda meminta salim dan pak Djoyo mau tak mau memberikan tangannya karena keponakannya itu sedang memperhatikannya.
"Hati-hati ya pa." pesan nyonya Amanda saat suaminya baru masuk ke dalam mobilnya namun pria itu nampak enggan membalas.
Kemudian segera mengemudikan mobilnya dengan laju meninggalkan rumahnya, namun baru beberapa meter keluar dari rumahnya tiba-tiba pak Djoyo mengerem mendadak saat melihat seorang wanita hampir ia tabrak.
Merasa bersalah pak Djoyo segera keluar dari mobilnya tersebut.
"Saya minta maaf, apa anda tidak apa-apa ?" tanyanya kemudian, namun pria itu langsung terperanjat saat wanita itu menoleh ke arahnya.
"Saya tidak apa-apa pak, cuma kaget."
"Bu Selvi." gumam pak Djoyo saat melihat wanita cantik yang mempunyai suara lembut itu tersenyum padanya.