Ameera

Ameera
Part~131



Malam itu Awan nampak menginjakkan kakinya di rumahnya tepat pukul 10 malam dan itu membuat Ameera terlihat lega namun juga khawatir.


"Mas, dari mana saja sih jam segini baru pulang? Kamu tahu nggak aku itu sangat khawatir, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan...." Ameera belum menyelesaikan perkataannya tapi suaminya itu sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.


Awan m3lum4t bibir wanita itu dengan rakus seiring gairahnya yang semakin memuncak, mengingat bagaimana godaan para LC di tempat karaoke tadi.


"Pak, apa ingin menambah minuman lagi ?" ucap seorang gadis cantik dengan pakaian minim yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang karaoke yang Awan pesan.


"Tidak, terima kasih." sahut Awan yang nampak fokus memilih daftar lagu.


"Kalau begitu apa mau saya temani ?" tawar gadis itu lagi dengan senyum menggoda.


Awan menatap sejenak gadis itu lalu kembali fokus ke layar televisi di hadapannya tersebut. "Tidak, terima kasih." ucapnya lagi.


"Ayolah mas, kali ini gratis untuk mas nya." bujuk gadis itu yang dengan lancang duduk di sebelah Awan.


Roknya yang terlalu pendek membuat paha gadis itu terpampang di hadapan Awan, lalu pakaiannya yang kurang bahan membuat asetnya yang lumayan besar nampak sedikit menyembul.


Sebagai pria normal tentu saja itu membuat Awan langsung menelan salivanya, namun sebisa mungkin pria itu tak tergoda mengingat ada sang istri yang menunggunya di rumah.


Lagipula ia ke tempat ini hanya untuk mengobati stres yang akhir-akhir ini menyerangnya akibat di desak untuk segera memiliki seorang anak, bukan untuk bermain wanita yang belum tentu terjamin kebersihan dan kesehatannya.


"Ingat ya mas, aku nggak mau kamu membawa penyakit pulang. Aku akan lakukan apapun kemauan mu di ranjang asal kamu tak bermain di belakangku, jika itu terjadi aku tak segan meninggalkan mu."


Begitulah perkataan sang istri yang selalu ia ingat dan ia tak ingin mengambil resiko untuk menghianati wanita itu.


"Pergilah atau aku yang pergi dari sini !!" ancam Awan saat petugas LC tersebut mencoba merayunya kembali.


"Ba-baik, pak." gadis itu segera beranjak dari sana, kemudian berlalu pergi.


Sedangkan Awan kembali melanjutkan karaokenya, namun kali ini ia tak begitu konsentrasi karena hasratnya mulai naik.


"Si4l4n." umpatnya, lalu ia segera menyudahinya dan bergegas pulang. Ia butuh istrinya saat ini, bukankah wanita itu tempat terbaiknya untuk pulang dan melampiaskan segala keinginannya itu.


...----------------...


"Maafkan aku." ucap Awan setelah puas menyalurkan hasratnya pada istrinya malam itu.


"Tak biasanya kamu pulang telat, ponselmu juga mati. Kamu sudah mulai berubah mas." keluh Ameera seraya menutupi tubuh polosnya dengan selimut, meski pun ia kesal tapi ia juga senang suaminya itu tak melampiaskan hasratnya di luar sana.


"Aku pergi karaoke." sahut Awan dengan jujur.


"Kamu ada masalah ?" tanya Ameera kemudian, mengingat sejak mereka pacaran pria itu selalu pergi ke tempat karaoke jika sedang ada masalah.


"Hanya sedikit masalah kantor, sayang." dusta Awan, ia tak mungkin mengatakan jika sedang di desak ibunya untuk segera mempunyai anak karena istrinya itu pasti akan kecewa.


"Tapi lain kali kabari aku jangan tiba-tiba ngilang begini." mohon Ameera, sungguh ia sangat khawatir pada pria itu.


Ameera sudah terlanjur menggantungkan hidupnya pada suaminya, ia bisa mati jika terjadi apa-apa dengan pria itu.


"Maafkan aku ya." Awan langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya yang terbuka dan tak berapa lama hasratnya kembali naik.


"Satu ronde lagi ya sayang." mohonnya kemudian dan tentu saja langsung di angguki oleh sang istri, wanita itu memang selalu tahu bagaimana cara menyenangkannya.


"Pa, mau kemana ?" Nyonya Amanda nampak memicing ketika melihat suaminya nampak rapi padahal ini hari sabtu yang seharusnya kantor sedang libur.


"Papa ada sedikit kerjaan, Ma." sahut pak Djoyo seraya membuka beberapa dokumen di tangannya.


"Tak biasanya." gumam nyonya Amanda, meski ia tahu suaminya masih menjalin hubungan dengan Selvi tapi sejak Awan dan Ameera pindah rumah pria itu tak pernah keluar saat akhir pekan dan pulang kerja pun selalu tepat waktu.


Bahkan suaminya itu juga sudah kembali berhasrat padanya, kehidupan ranjang mereka pun kembali normal dan wanita itu merasa suaminya semakin menyayanginya.


"Ya sudah Papa berangkat dulu ya." Pak Djoyo nampak mencium kening istrinya itu, lalu segera masuk ke dalam mobilnya.


Setelah mobil pria itu menghilang, nyonya Amanda langsung mengambil tasnya. Tiba-tiba perasaannya tidak enak dan ia segera menghubungi temannya untuk menjemputnya di rumahnya.


"Ada apa ya bu kok ramai-ramai di sana ?" tanya nyonya Amanda setelah mobilnya berhenti tak jauh dari kediaman Selvi, di rumah kecil itu nampak ramai orang.


"Oh itu bu Selvi mau menikah." sahut orang tersebut yang tak lain adalah tetangga Selvi.


Deg!!


"Menikah ?" ucap nyonya Amanda dengan wajah pias, tidak mungkin kan wanita itu akan menikah dengan suaminya?


"Me-menikah dengan siapa bu ?" kali ini teman nyonya Amanda yang bertanya.


"Dengan kekasihnya bu, mereka sudah bertahun-tahun pacaran dan sepertinya sekarang baru akan di nikahi." terang wanita tersebut, kemudian segera pergi dari sana.


"Manda, kamu baik-baik saja ?"


"Sepertinya mereka benar-benar akan menikah." sahut nyonya Amanda dengan geram.


"Dan kita akan menggagalkannya, kamu tenang saja. Kita lakukan sesuai rencana." ucap Wanita modis yang duduk di balik kemudi, kemudian wanita itu segera menghubungi seseorang melalui telepon selulernya.


Sementara itu Selvi yang sudah dandan cantik nampak tak berhenti mengulas senyumnya saat tak lama lagi hubungannya dengan pak Djoyo akan di resmikan.


Ia sudah menunggu selama bertahun-tahun dan akhirnya pak Djoyo mengajaknya untuk meresmikan hubungannya setelah sekian tahun mereka berzina.


Sebenarnya Selvi juga tak ingin menjadi istri kedua, tapi mau bagaimana lagi ia sudah berusaha menjauhi pria itu dengan berbagai cara namun pada akhirnya ia kembali di jeratnya.


"Baiklah, sepertinya kita mulai saja. Bukankah lebih cepat lebih baik." ucap seorang pria berpenampilan agamis yang sepertinya seorang ustad yang bertugas menikahkan mereka.


"Baik, pak." Pak Djoyo mengangguk setuju, meski jauh dalam hati kecilnya ada sebuah keraguan mengingat ia menikah lagi tanpa persetujuan dari sang istri.


Tapi mau bagaimana lagi ia juga mencintai Selvi sama seperti ia mencintai istrinya juga, dari pada ia terus-menerus berbuat zina dengan Selvi maka lebih naik ia menikahinya saja.


Toh dalam agama juga tak di larang seorang pria menikah lagi asal mampu berbuat adil dan selama beberapa tahun ini ia berusaha adil dengan kedua wanita itu.


"Baiklah, mari kita mulai." ujar pak ustadz.


"Tunggu !!" ucap seorang wanita yang langsung membuat pak Djoyo dan beberapa orang di sana langsung menoleh.


Deg!!


"Mama ?"