
š„Hatimu boleh patah, matamu boleh basah tapi ingat kamu jangan menyerah. Percayalah semua akan kembali baik-baik sajaš„
Sore itu sepulang kerja Ameera nampak masuk ke dalam kamar Awan untuk meletakkan berkas yang di titipkan oleh pria itu tadi siang di kantornya.
Namun saat ia akan kembali keluar tiba-tiba seorang wanita berparas bule dengan dandanan menor masuk ke dalam kamar tersebut.
"Mbak siapa, temannya Awan ya ?" tanyanya dengan memperhatikan Ameera dari ujung kaki hingga unjung rambut.
"I-iya tante." sahut Ameera menatap wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu, ia tahu jika wanita tersebut adalah ibunya Awan karena sebelumnya pernah melihat di ponsel pria itu .
"Saya Mamanya Awan." tegas wanita tersebut dan benar dugaan Ameera.
"Iya tante, saya Ame......" Ameera belum menyelesaikan perkataannya tapi wanita itu sudah menyelanya.
"Mbak sedang ngapain di kamar anak saya ?" telisik nyonya Amanda menatap gadis di depannya tersebut.
"Saya mengantarkan berkas milik mas Awan yang ketinggalan di kantor tadi." sahut Ameera.
"Memang Awan kemana ?" tanya nyonya Amanda seraya memperhatikan kamar Awan yang sepi.
"Sepertinya di toilet tante, saya juga baru masuk." sahut Ameera.
"Jadi kamu satu divisi dengan putra saya ?" selidik nyonya Amanda kemudian.
"Benar tante." sahut Ameera.
Nyonya Amanda nampak memperhatikan Ameera, ia sepertinya penasaran dengan gadis itu yang dengan bebas bisa keluar masuk kamar putranya.
"Awan mau saya suruh pulang, karena akan ada acara keluarga membahas perjodohannya." tukas nyonya Amanda kemudian seraya memperhatikan raut wajah Ameera yang tercengang dan itu membuatnya langsung tersenyum miring.
Sementara Ameera nampak menahan air matanya agar tidak terjatuh, meski sebelumnya dia sudah tahu jika Awan akan di jodohkan tapi mendengar langsung dari ibunya rasanya sangat menyesakkan.
Ia merasa seperti sudah tidak ada lagi kesempatan baginya, apalagi melihat perangai wanita itu yang terlihat angkuh dan sombong saat menatapnya.
"Mama, ngapain di sini ?" Awan yang baru keluar dari toilet langsung terkejut ketika melihat sang ibu yang tiba-tiba berada di dalam kamarnya, lalu pandangannya beralih ke arah Ameera yang berdiri di dekat pintunya.
"Jemput kamulah." sahut nyonya Amanda.
"Ma, sudah ku bilang aku tidak mau di jodohkan dengan siapa pun. Aku sudah punya pacar Ma." tegas Awan mulai emosi.
"Siapa? apa dia sederajat dengan kita? anak pengusaha atau pejabat ?" cecar nyonya Amanda.
"Dia, Ma." Awan langsung menunjuk Ameera, lalu melangkah mendekati gadis itu yang nampak hampir menangis.
"Ameera adalah pacarku." imbuhnya lagi dengan merangkul bahu Ameera hingga membuat nyonya Amanda langsung geram, sudah ia duga mereka pasti punya hubungan pikirnya.
"Kamu sedang becandakan, Nak? jangan bilang karena kamu tidak ingin di jodohkan, kamu pura-pura pacaran dengan gadis itu." Nyonya Amanda nampak tak percaya, ia mencoba mengingkari kecurigaannya. Lagi pula sejak kapan selera putranya itu gadis biasa.
"Aku nggak becanda, Ma. Ameera adalah pacarku, benarkan sayang ?" tukas Awan meyakinkan.
Sementara Ameera tak menjawabnya, ia terus saja menunduk dengan isakan tangisnya.
Melihat keintiman sang putra dengan Ameera, nyonya Amanda nampak menggeram.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus menghadiri pertemuan keluarga nanti." titahnya.
Awan menghela napasnya kasar, kemudian ia menyuruh Ameera untuk segera meninggalkan kamarnya sebelum perkataan sang ibu akan semakin menyakiti hatinya.
"Sayang, tolong kembali dulu ke kamarmu. Biar aku yang akan membujuk Mama." mohonnya yang langsung di anggukin oleh Ameera.
Gadis itu segera berlalu keluar dari kamar Awan, namun ia tidak benar-benar pergi. Ia nampak berdiri di balik pintu untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
Beruntung sore itu tak ada karyawan yang lalu lalang di sana hingga membuatnya bebas menguping.
"Ma, aku tidak mau di jodohkan. Aku akan menikahi Ameera." keukeh Awan kemudian.
"Ma, aku sudah berbuat kesalahan padanya jadi aku harus bertanggung jawab." mohon Awan.
"Maksudnya kamu ?" nyonya Amanda langsung mengernyit menatap putranya tersebut.
"Aku sudah merampas kesuciannya Ma dan aku akan bertanggung jawab." sahut Awan dengan wajah bersalahnya jika mengingat hal itu.
"Halah, palingan dia duluan yang menggoda kamu." cibir nyonya Amanda.
"Ma, aku yang salah bukan Ameera." teriak Awan pada sang ibu hingga membuat wanita itu menatapnya tak percaya.
"Kamu berani berteriak sama Mama yang sudah taruhan nyawa untuk melahirkanmu demi membela wanita rendahan seperti dia hah ?" geramnya kemudian.
"Ma, bukan begitu maksudku. Tolong restui kami Ma." mohon Awan kemudian dengan merendahkan suaranya.
"Mama tetap tidak akan merestui kalin, lagipula kamu bisa bertanggung jawab dengan cara lain." sahut nyonya Amanda.
"Maksud Mama ?" Awan nampak tak mengerti.
"Dia deketin kamu pasti yang di incer uang kamu kan? jadi Mama akan kasih apa yang dia mau." sahut nyonya Amanda yang langsung membuat Awan murka.
"Ma, Ameera tidak seperti gadis lain. Dia sama sekali tidak mengincar uangku." tegasnya, mengingat hingga hari ini Ameera belum pernah mengambil uang dari ATM yang ia berikan dulu.
"Sudah biar itu menjadi urusan Mama, wanita seperti dia di kasih uang dan perhiasan palingan juga nurut." cibir nyonya Amanda kemudian.
Sementara Ameera yang sedari tadi mencuri dengar di balik pintu yang tertutup, nampak semakin terisak.
Kemudian ia segera berlalu ke kamarnya, sebelum hatinya semakin hancur dengan hinaan wanita paruh baya tersebut.
"Mama sangat keterlaluan." teriak Awan dengan emosi yang meluap hingga membuat nyonya Amanda mendesah pelan kemudian ia mulai menurunkan egonya.
Ia tahu bagaimana watak anak lelakinya itu, sedari kecil Awan anak yang sangat keras kepala dan hanya dengan kelembutan bisa meluluhkan hatinya.
"Mama nggak maksa kamu untuk segera menikah kok, Mama hanya ingin kamu pulang dan bertemu dengan gadis pilihan Mama. Kalian bisa mulai dari berteman, siapa tahu dengan awalnya berteman kalian saling suka. Kalau pun kamu tak suka ya nggak apa-apa, Mama nggak maksa." ucapnya kemudian dengan nada setengah memohon, sepertinya saat ini ia akan mengalah demi meluluhkan hati sang putra agar mau pulang.
Mendengar perkataan ibunya, Awan nampak menghela napas beratnya. Ia paling tidak tega jika melihat ibunya memohon maupun bersedih.
Sungguh ia sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu, membesarkannya dengan penuh kasih sayang bahkan menyekolahkannya hingga pendidikan paling tinggi.
"Jika waktunya cuti, aku pasti pulang kok Ma. Tolong jangan mengganggu pekerjaanku, Mama ingin aku jadi pria sukses kan? jadi tolong biarkan aku bekerja dengan tenang." mohon Awan kemudian.
"Baiklah, tapi ingat segera akhiri hubunganmu dengan gadis itu. Karena sampai kapanpun Mama tidak akan merestui." tegas nyonya Amanda kemudian.
"Mama tadi kesini sama siapa ?" Awan langsung mengalihkan pembicaraan.
"Sama sopir." sahut sang ibu.
"Ya sudah, Mama cepat pulang sebelum gelap." tukas Awan.
"Baiklah, antar Mama sampai depan." pinta nyonya Amanda yang langsung di anggukin oleh Awan, kemudian mereka segera meninggalkan kamar tersebut.
Awan nampak membuka pintu mobil agar sang ibu segera masuk.
"Hati-hati, Ma." ucapnya saat mobil akan melaju.
Setelah kepergian sang ibu, Awan segera kembali ke messnya lalu mengetuk kamar Ameera yang terkunci dari dalam.
"Ada apa ?" tanya Ameera saat baru membuka pintu kamarnya,
Gadis itu nampak berantakan dengan pakaian kerja yang masih menempel di tubuhnya, wajahnya pun terlihat sembab.
"Kamu baik-baik saja ?" tanya Awan dengan khawatir.
"Mas, aku mau putus." ucap Ameera yang langsung membuat Awan tercengang.