
"Selamat malam, pak Awan."
Melihat kedatangan Cindy, Awan langsung menggenggam tangan sang istri yang berada di bawah meja untuk menenangkannya.
Awan tak ingin mereka berdua ribut dan menghancurkan pesta yang pasti akan mengganggu ketenangan para tamu undangan lainnya.
Sebelumnya ia juga selalu menghindari Cindy, bersikap dingin layaknya atasan dan bawahan namun wanita itu sepertinya belum menyerah juga.
"Hm, selamat malam. Oh ya kenalin ini istriku, Cin." sahut Awan saat Cindy menyapanya.
Melihat Ameera, Cindy nampak tersenyum sinis. Namun tidak dengan Ameera, wanita itu membalasnya dengan mengulas senyum lebarnya seakan tak terprovokasi dengan tanggapan wanita penggoda itu.
"Ameera." Ameera langsung mengulurkan tangannya dan mau tak mau Cindy membalas jabat tangan istri managernya tersebut.
"Boleh saya duduk di sini ?" ucap Cindy kemudian dan tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik meja, ia sudah menghempaskan bobot tubuhnya di hadapan Awan.
"Pak Awan malam ini terlihat sangat gagah dengan setelan baju itu." puji Cindy saat melihat pakaian Awan dan istrinya yang terlihat serasi, padahal sebelumnya ia pikir managernya itu akan memakai kemeja berwarna biru sesuai kesukaan pria itu hingga ia pun menyelaraskan dengan pakaiannya.
Namun pria itu justru memakai kemeja hitam selaras dengan pakaian istrinya yang sok kecantikan itu pikir Cindy.
"Terima kasih, istriku yang cantik ini memang tidak pernah gagal membuatku terlihat lebih tampan. Terima kasih sayang, aku makin mencintaimu." timpal Awan dengan memuji istrinya itu lalu mencuri kecupan di bibirnya sekilas.
"Mas malu, kamu selalu saja merusak lipstikku." protes Ameera, sungguh suaminya itu tak pernah sungkan untuk bersikap mesra di tempat umum.
Namun itu justru membuat Cindy nampak terbakar cemburu, dengan membuang pandangannya ke arah lain.
"Maaf ya Cin, bapak suka lupa dengan sikon." ucap Ameera menatap ke arah Cindy.
"I-iya bu." Cindy menimpalinya dengan terpaksa.
Ameera yang melihat amarah Cindy yang tertahan membuatnya tersenyum geli, mungkin mengerjainya lebih jauh sangat mengasyikkan.
Namun sayangnya tiba-tiba seseorang menghampiri meja mereka. "Maaf pak Awan, meja khusus manager di sebelah sana." ucap seseorang tersebut seraya menunjuk ke arah beberapa meja VVIP.
"Oh baiklah, terima kasih." Awan segera beranjak.
"Ayo sayang." ajaknya kemudian.
"Cin, kami ke sana dulu ya. Ternyata kami salah meja." tukas Ameera menatap ke arah Cindy sebelum ia berlalu pergi.
"I-iya." Cindy nampak mengangguk kecewa melihat pria incarannya pergi, tapi ia takkan menyerah. Saat wanita si4l4n itu lengah ia akan memepet kembali managernya tersebut.
Ini bukan jam kerja jadi dia bebas melakukan apapun, lagipula managernya itu belum melihat penampilannya yang terlihat cetar dengan gaun yang sudah ia pesan khusus di butik terkenal.
Sementara itu Ameera nampak lega saat menjauh dari wanita penggoda yang sedikit pun tak punya malu itu.
"Sepertinya di kantor pun kamu selalu di pepet oleh wanita itu ya." cibir Ameera saat baru menghempaskan bobot tubuhnya di kursi vvip.
"Kita beda departemen sayang, sudah ya jangan di bahas lagi lagipula aku sudah tak pernah menghiraukannya." bujuk Awan menenangkan istrinya itu.
"Tapi aku masih kesal." cebik Ameera, meski berusaha bersikap setenang mungkin tetap saja hatinya panas.
Selanjutnya mereka nampak mengikuti rangkaian acara dengan hikmat, meski sesekali Ameera melirik ke arah wanita penggoda itu yang terlihat tak berkedip memperhatikan suaminya.
"Selamat malam bu Awan, cantik sekali anda malam ini saya pikir tamu darimana." tiba-tiba dua pria tampan, teman Awan menghampiri meja mereka.
"Kalian jangan macam-macam, menjauhlah dari sini." geram Awan saat melihat kedua sahabatnya itu tiba-tiba menarik kursi di hadapannya.
"Ayolah Wan, kamu punya istri cantik tapi kamu sembunyikan terus. Hai Meera masih mengingat kami ?" ujar dua pria tampan itu menyapa Ameera.
"Selamat malam pak." sapa balik Ameera.
"Panggil mas, oke? kamu bukan bawahanku lagi." timpal salah satu dari mereka.
"Hampir dua tahun tak bertemu kamu makin cantik saja." goda pria satunya lagi.
"Kalian benar-benar merusak selera makanku." Awan langsung meletakkan sendoknya di atas piring dengan sedikit kasar saat istrinya tak henti di goda oleh kedua sahabatnya itu.
"Baiklah kami pergi, oh ya Meera masih menyimpan nomorku kan? jika ingin mencari tahu tentang suamimu hubungi saja kami." ucap salah satu dari mereka yang urung untuk duduk lalu menatap ke arah Ameera.
"Hm." Ameera nampak mengangguk kecil dengan menahan kekehannya sembari melirik ke arah suaminya yang mulai tersulut emosi.
"Rasain kamu mas." gumamnya kemudian.
"Sebentar ya sayang aku ingin berbicara dengan mereka dahulu." Awan langsung beranjak dari duduknya lalu membawa kedua temannya itu menjauh.
"Kalian jangan bicara macam-macam pada istriku, kalian tahu sendiri aku tidak pernah menanggapi mereka. Mereka saja yang kecentilan." tegur Awan dengan kesal.
"Kami hanya mengingatkan Wan, kali saja suatu saat kamu khilaf. Jarang loh ada wanita seperti Ameera yang rela berhenti bekerja hanya untuk di kurung di dalam rumah saja." timpal salah satu dari mereka.
"Aku sih siap saja menerima jandanya." imbuh yang lain yang langsung membuat Awan makin geram, mengingat kedua sahabatnya itu masih lajang dan dahulu pernah mengejar-ngejar istrinya di kantor.
"Brengsek kalian memang berdua !!" hardik Awan kemudian.
Sementara itu Ameera yang baru keluar dari toilet nampak tak sengaja berpapasan dengan Cindy.
"Bisa kita bicara sebentar." ucap Ameera dengan senyum mengembang di bibirnya yang langsung menghentikan langkah Cindy.
"Hm." Cindy mengangguk kecil dengan wajah menegang.
"Kamu cantik dan ku rasa kamu juga berasal dari keluarga baik-baik, pendidikan mu pun juga tinggi. Benar begitu ?" ucap Ameera memulai pembicaraannya dengan menatap lekat gadis itu, ia mengingat cerita sang suami jika Cindy adalah karyawan baru fresh graduete yang mungkin usianya masih lebih muda dua tahun di bawahnya.
"Hm." Cindy mengangguk kecil.
"Tapi sayang kamu memanfaatkan kelebihanmu itu untuk menggoda suamiku, apa sudah habis stok pria lajang di dunia ini? hingga membuatmu rela menjadi wanita murahan atau saking murahnya hingga membuat pria lajang enggan melirikmu ?" imbuh Ameera yang langsung membuat Cindy melebarkan matanya.
"Kau !!" hardiknya tak terima dengan perkataan wanita di hadapannya itu.
"Sssttt, jangan berteriak. Apa kamu mau semua orang akan tahu jika kamu seorang wanita penggoda suami orang? aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka tahu, pasti semua para istri karyawan akan merasa was-was denganmu dan yang paling ku takutkan mereka akan membuatmu babak belur hingga wajahmu yang cantik itu akan menjadi cacat." tukas Ameera dengan bibir masih tersenyum dan itu sukses membuat Cindy nampak memucat.
"Aku bukan wanita penggoda." ucapnya membela diri dengan nada bergetar.
"Baiklah, sepertinya aku harus kembali karena suamiku tak bisa berpisah barang sejenak denganku." ucap Ameera lalu segera melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah wanita itu kembali berhenti.
"Kamu tahukan perusahaan ini milik siapa? aku bisa saja mengadu ke om Basuki agar kamu segera di pecat jadi camkan itu baik-baik." ucap Ameera, lalu segera berlalu dari sana.
Cindy yang masih berdiri di tempatnya semakin memucat saat membayangkan dirinya akan di pecat.
Sesampainya di tempat acara Ameera menatap suaminya yang nampak panik mencarinya. "Astaga sayang, kamu darimana saja? aku mencarimu kemana-mana." tanya Awan dengan wajah gelisah.
"Aku habis dari toilet mas." sahut Ameera.
"Ayo pakai ini dan segera pulang." Awan langsung melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada istrinya itu untuk menutupi pakaian seksi yang di kenakannya.
"Kok pulang mas, acaranya belum selesai loh." protes Ameera namun pria itu tak menghiraukan perkataannya dan terus membawanya keluar dari sana.