Ameera

Ameera
Part~111



Hari berganti hari namun Awan tak kunjung mendapatkan rumah sewaan yang cocok dengannya, pria yang selama 25 tahun tak pernah berpisah dari kedua orang tuanya itu nampak berpikir serius untuk meninggalkan mereka.


Semoga langkahnya ini mendapatkan ridho dari mereka meski ia tak yakin untuk itu.


"Wan kamu mau kemana ?" Nyonya Amanda langsung memanggil putranya itu saat pria itu hendak keluar bersama istrinya untuk melihat-lihat rumah yang akan mereka sewa, kebetulan hari itu adalah hari minggu dan mereka sedang libur bekerja.


Karena beberapa hari ini ia sudah mencari namun bingung memilih yang mana, hingga saat hari libur tiba ia berencana mengajak sang istri untuk memilihnya sendiri.


Tentunya bukan rumah sembarangan, karena terlahir dari keluarga berada sejak kecil membuat pria itu tak nyaman jika harus tinggal di rumah kecil yang berada di gang sempit.


"Ini hari libur ma, aku hanya ingin mengajak istriku jalan-jalan." sahut Awan beralasan.


"Batalkan saja, kalian bisa melakukannya lain kali. Sekarang antarkan kami ke mall." perintah Nyonya Amanda dengan tegas, kebetulan hari ini adik dan keponakannya datang ke rumahnya dan ia ingin mengajak mereka pergi ke jalan-jalan.


"Ma, kan kalian bisa pergi sama Raffa." tolak Awan dengan halus, lagipula ada Rafael sang sepupu juga ada di rumah tapi entah di mana pemuda itu saat ini berada karena dari pagi ia belum melihat batang hidungnya.


"Nggak-nggak mama mau kamu yang antarkan, titik." keukeh nyonya Amanda.


"Sudah mas nggak apa-apa, antarkan mama dulu." bisik Ameera.


Awan nampak kesal namun saat melihat istrinya itu mengangguk dengan tersenyum, mau tak mau ia menurutinya.


Setelah kepergian mereka, Ameera yang bingung mau ngapain nampak duduk di depan tv dan tanpa ia sadari dirinya sudah terlelap di atas sofa.


Entah berapa lama ia tertidur, namun ia terbangun saat merasakan seseorang mengusap kepalanya dengan lembut. Ia pikir itu sang suami hingga ia membiarkannya saja dan memilih terlelap kembali, namun saat mencium aroma parfumnya ia langsung membuka matanya.


"Astagfirullah Raf, kamu ngagetin aku saja." teriaknya saat melihat Rafael adik sepupu dari suaminya itu sudah duduk di sebelahnya.


"Mbak kok di rumah nggak ikut mereka pergi ?" tanya Rafael yang terlihat salah tingkah.


"Nggak, sejak kapan kamu ada di sini ?" tanya Ameera menyelidik, ia yakin usapan lembut di kepalanya itu tadi bukanlah mimpi.


"Baru, baru saja kok mbak." sahut Rafael sambil mengalihkan pandangannya.


"Oh." Ameera nampak memikirkan hal itu namun bersamaan itu Awan dan ibunya melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Sudah pulang, mas ?" Ameera yang melihat suaminya memicing menatapnya yang sedang duduk bersama Rafael segera beranjak dari duduknya.


"Kalian ngapain duduk berduaan di situ? ayo bantu ngambil barang belanjaan di mobil, kami lelah belanja kok malah kalian asyik-asyikan berduaan di rumah." timpal Nyonya Amanda seakan ingin memperkeruh suasana.


"I-iya ma." Ameera segera melangkah keluar yang di ikuti oleh Rafael.


Saat melewati sang suami, Ameera nampak menatap pria itu yang masih menatapnya dengan tajam seakan meminta penjelasan dengan apa yang ia lihat.


Namun demi menghormati perintah ibu mertuanya, Ameera langsung membantu memasukkan barang belanjaannya.


"Mas, kamu marah ?" tanyanya beberapa saat kemudian setelah ia membuka pintu kamarnya.


Awan yang sedang duduk di sofa hanya menatapnya sekilas lalu pandangannya kembali ke arah layar televisi yang ada di depannya.


"Apa yang kamu lihat tidak seperti dugaanmu mas, aku tadi ketiduran tapi saat aku bangun tiba-tiba ada Rafa duduk di sebelahku." Ameera langsung menjelaskan.


"Semoga benar seperti itu." timpal Awan dengan cuek, kentara sekali pria itu sedang cemburu karena tak sekali dua kali ia mempergoki saudara sepupunya itu memperhatikan wanita itu.


"Kamu tidak bohongkan ?" Awan menatap mata sang istri, mencoba mencari kebohongan wanita itu di sana.


"Aku memang nggak ngapa-ngapain mas, tapi jika mas tidak percaya dan lebih memilih percaya ucapan mama juga nggak apa-apa kok." Ameera pasrah, lalu melepaskan genggaman di tangan suaminya.


"Maafkan mas." Awan langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, ia menyadari jika ibunya memang sengaja ingin membuat kesalahpaham antara dirinya dengan sang istri.


Ia sangat mengenal Ameera yang tak mungkin macam-macam di belakangnya, wanita itu terlalu polos untuk berbuat seperti itu.


"Maafkan aku mas, aku tidak mungkin mengatakan jika Rafa sempat membelai kepalaku saat aku tidur."


"Mas, apa teman-temanmu sudah memberikan informasi tentang rumah yang ingin kita sewa ?" tanya Ameera kemudian, wanita itu langsung mengurai pelukan suaminya lalu menatap wajahnya dengan serius.


Awan menggeleng pelan. "Aku belum mendapatkan yang cocok, tapi jika kamu tak sabar untuk sementara waktu kita bisa pindah ke rumah ayah dan bunda dulu." sahut Awan, ya lebih baik ia memutuskan untuk tinggal bersama mertuanya itu dari pada ibunya terus-menerus ikut campur dalam rumah tangganya.


Belum lagi Rafael yang semakin hari semakin ingin memepet istrinya itu.


"Beneran mas, kita ke rumah ayah dan bunda dulu ?" Ameera langsung berteriak girang mendengar penuturan suaminya itu.


"Hm, nanti aku akan bicarakan hal ini dengan mama dan papa." angguk Awan dengan yakin, meski ia harus mendapatkan perlawanan dari orang tuanya tersebut.


"Tapi kantor lumayan jauh dari rumah bunda, mas." timpal Ameera.


"Nggak apa-apa, kita bisa berangkat lebih awal." sahut Awan meyakinkan.


"Terima kasih, mas." Ameera langsung memeluk suaminya kembali, kali ini dengan sangat erat seakan itu adalah bentuk rasa terima kasihnya.


"Hanya terima kasih saja, hm ?" Awan yang mendapatkan pelukan tiba-tiba tentu saja membuat tubuhnya merespon dengan baik, bahkan adik kecilnya di bawah sana juga mulai bereaksi menginginkan lebih dari sekedar pelukan.


Mendengar perkataan suaminya, Ameera langsung menjauh dan menatap curiga pria itu. "Jangan macam-macam, mas. ini masih sore." ucapnya lalu memukul lengan pria itu dengan pelan.


"Kalau sore memang kenapa sayang? dia saja tidak peduli mau sore atau malam." seloroh Awan seraya mengambil tangan istrinya itu lalu meletakkannya di atas miliknya yang nampak mengeras di balik celananya itu.


"Mas, dasar mesum." Ameera langsung berteriak, namun Awan yang sudah menahan hasratnya juga butuh pelampiasan dan setelah itu hanya suara-suara percintaan yang tertahan dari keduanya memenuhi kamarnya tersebut.


Ameera merasa sore itu suaminya menggaulinya dengan sedikit kasar dan menuntut, begitulah pria itu jika emosinya sedang tak stabil maka akan melampiaskannya dengan membuatnya lelah di atas ranjang.


Keesokan harinya....


Pagi itu Ameera dan Awan nampak menuruni anak tangga dengan membawa koper pakaiannya, nyonya Amanda yang sedang duduk di meja makan langsung memicing saat melihat anak dan menantunya itu berjalan mendekat.


"Kalian mau kemana ?" tanyanya dengan tak ramah.


"Kami akan pindah dari sini, ma." sahut Awan yang langsung membuat ibunya itu melotot.


"Apa ???"


.


Terima kasih semuanya atas supportnya, saya pikir kalian sdh lupa dengan cerita ini🤣🤣🤣 namun karena cerita ini di adaptasi dari kisah nyata maka tolong nanti jangan di protes alurnya ya jika dikit anu tp mudahan happy ending.