
"Ini apa ?" tanya Awan setelah menjemput sang istri di rumah orang tuanya, Ameera yang baru meletakkan tasnya langsung melangkah mendekat lalu mengambil ponsel pria itu.
Melihat potretnya bersama pak ustad, Ameera nampak terbelalak. "Mas dapat darimana ini ?" tanyanya kemudian.
"Itu nggak penting, yang ingin ku tahu apa hubunganmu dengan pria itu hah ?" teriak Awan dengan emosi yang sedari tadi coba ia tahan.
"Beliau pas ustad teman baiknya ayah mas, bukankah kamu juga tahu itu." terang Ameera menjelaskan.
"Ck, apa pantas kamu ngobrol berduaan seperti itu meskipun dia seorang ustad sekalipun ?" cerca Awan dengan kesal.
"Kami hanya ngobrol biasa mas dan itu posisi di luar rumah juga." terang Ameera membela diri.
"Tapi sama saja akan menimbulkan fitnah, kecuali kalian memang benar-benar berselingkuh." cibir Awan dan.....
Plak
Sebuah tamparan langsung Ameera layangkan ke pipi suaminya itu hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Jaga bicaramu mas, aku tidak pernah berselingkuh. Selama ini aku selalu berusaha menjadi istri yang baik dan patuh padamu." ucapnya dengan menahan air matanya agar tak jatuh, setelah itu Ameera berlari masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Awan nampak mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya terlalu kacau saat ini. Akhirnya malam itu mereka nampak tidur dengan saling memunggungi.
Awan yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat nampak masih sangat kesal, sementara Ameera terlihat kecewa dengan tuduhan suaminya itu.
Ameera tahu ini semua pasti ulah ibu mertuanya, mengingat tetangga kompleksnya mempunyai keluarga yang masih satu kampung dengannya.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera bangun seperti biasanya, kali ini wanita itu mulai melakukan apa yang di anjurkan oleh pak ustad untuk memperbaiki sholat lima waktunya yang selama ini sering tertinggal.
Awan yang notabennya sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga yang seharusnya memberikannya contoh pun suka lalai dengan kewajiban lima waktunya tersebut.
Setelah melaksanakan ibadah dua raka'atnya, Ameera segera berlalu ke dapur lalu memasak sarapan untuk sang suami. Meski ia masih kesal tapi ia takkan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Maafkan aku." ucap Awan pagi itu setelah mereka duduk bersama di meja makan.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan pak ustad mas, lagipula beliau juga sudah mempunyai istri kamu tahu sendirikan ?" sahut Ameera seraya menatap suaminya itu dengan lekat.
"Makanya aku minta maaf, ku harap lain kali jangan temui dia lagi." tegas Awan yang membuat Ameera nampak menghela kesal.
"Itu tidak mungkin mas, sejak ayah meninggal beliau seperti seorang wali bagiku." tolak Ameera.
"Ck, kenapa kamu susah sekali di kasih tahu? Dia bukan saudaramu tapi orang lain, bagaimana jika dia menyukaimu? lagipula tidak pantas menceritakan masalah rumah tangga pada orang luar." sentak Awan mulai emosi kembali.
"Aku tidak menceritakan masalah rumah tangga kita mas, aku hanya ingin mencari ketenangan hati. Wajar aku datang kesana karena beliau seorang ustad, nasihat-nasihatnya selalu membuatku tenang dan ku rasa mas juga perlu ke sana." terang Ameera, biarlah ia berbohong pada suaminya itu karena jika ia memendam masalahnya sendiri ia bisa gila.
"Jadi maksudmu kamu tidak bahagia tinggal bersamaku ?" Awan menatap istrinya itu dengan tajam, terlihat sekali pria itu tersinggung dengan ucapan wanita itu.
"Aku bahagia mas sangat bahagia bahkan, tapi kamu juga harus mengerti dengan posisiku. Aku selalu serba salah mas, aku tidak bisa hamil semua menyalahkan ku seakan aku yang tidak normal." sahut Ameera, kali ini ia tak bisa menahan air matanya lagi.
Awan nampak menghela napasnya, ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh istrinya itu. Tidak hanya dari kedua orang tua dan saudaranya yang lain tapi juga dari teman-teman kantornya selalu menyudutkannya perihal anak di pernikahannya yang menginjak hampir 10 tahun ini.
"Jadi sekarang apa maumu, bukankah seorang anak itu sudah menjadi ketentuan Tuhan ?" timpal Awan yang terlihat frustasi.
"Tapi selain berdoa bukankah kita juga harus berusaha mas, apa salahnya kita kamu dan aku berkonsultasi lagi dengan dokter ?" mohon Ameera masih dengan berlinang air mata.
Awan mendesah kasar, kemudian pria itu mulai melembutkan suaranya. "Baiklah, buat jadwal dengan dokter kandungan nanti sore kita ke sana." ucapnya kemudian.
"Kemarilah !!" Awan beranjak dari duduknya.
"Maafkan aku." ucapnya seraya memeluk istrinya itu.
Malam harinya Awan dan Ameera mengunjungi seorang dokter kandungan yang berbeda dari sebelumnya.
"Rahim anda sangat sehat, bu." terang sang dokter setelah melakukan USG pada Ameera.
"Tapi kenapa saya tak kunjung hamil dok ?" tanya Ameera kemudian.
"Saya belum bisa menyimpulkan ya bu, sebelum memeriksa sp3rm4 milik pak Awan." ucap dokter tersebut dan itu membuat Awan nampak kesal, karena seperti dokter-dokter sebelumnya pasti akan menyarankan mereka untuk berhubungan badan di salah satu ruang praktik mereka.
"Saya tidak bisa jika berhubungan di sini dok." tolak Awan kemudian.
"Tapi hanya itu jalan satu-satunya pak untuk mengetahui kualitas sp3rm4 milik anda." terang dokter itu.
"Saya merasa milik saya sangat sehat dok." tegas Awan menatap tajam dokter tersebut.
"Baiklah jika anda keberatan tapi saya akan resepkan beberapa obat kesuburan untuk anda." ujar sang dokter seraya menulis sesuatu di buku resepnya.
"Jika memang bu Ameera dan pak Awan sudah tak sabar untuk memiliki seorang anak, saya bisa sarankan untuk menjalankan program bayi tabung saja." saran dokter itu setelah menyerahkan resepnya.
"Ba-bayi tabung dok ?" Ameera langsung penasaran begitu juga dengan Awan.
"Mungkin biayanya lumayan mahal tapi sejauh ini beberapa pasien yang melakukannya telah berhasil." sahut sang dokter.
"Kami akan memikirkannya, dok." timpal Awan kemudian, setelah itu mereka segera pamit undur diri.
"Apa kamu ingin melakukannya ?" ucap Awan setelah mereka sampai di rumah.
"Tentu saja mas, tapi itu sangat mahal." sahut Ameera.
"Aku akan berusaha, jika itu memang jalan satu-satunya." ucap Awan yang langsung membuat Ameera memeluknya.
"Terima kasih ya mas." ucap wanita itu.
...----------------...
"Apa, bayi tabung? mama tidak setuju. Itu sangat buang-buang uang Wan." tolak nyonya Amanda saat putranya itu mengutarakan niatnya.
"Berapa pun itu tak masalah Ma, aku dan Ameera mempunya tabungan meski belum sepenuhnya cukup tapi aku akan berusaha." sahut Awan.
"Tapi mama tetap tidak setuju, kenapa sih kamu bersikeras mempertahankan wanita itu sudah jelas-jelas bikin susah saja." gerutu nyonya Amanda kemudian.
"Itu benar Wan, uang segitu banyak mending kamu tabung saja." kali ini pak Djoyo yang menimpali.
Awan nampak terdiam mendengarkan ocehan kedua orang tuanya itu.
"Kenapa kamu tidak menikahi Karen saja, sudah pasti bisa memberikanmu anak dan tabunganmu tetap utuh." ucap nyonya Amanda lagi yang langsung membuat Awan nampak geram.
"Bisakah mama tidak membahas itu lagi." ucapnya dengan tegas dan bersamaan itu tiba-tiba seseorang mengucapkan salam.
"Kamu !!" Awan langsung tercengang saat melihat kedatangan Karen.