Ameera

Ameera
Part~103



"Sekali lagi saya mohon maaf bu." ucap pak Djoyo pada bu Selvi karena tadi ia hampir saja menabraknya.


"Tidak apa-apa pak, saya baik-baik saja." wanita cantik itu nampak mengulas senyum manisnya.


"Baiklah pak, kalau begitu saya duluan." pamit Selvi kemudian ia berlalu pergi, namun pak Djoyo langsung menahannya.


"Memang bu Selvi mau kemana pagi-pagi begini ?" tanya pak Djoyo basa-basi.


"Mau ke restoran saya pak, kebetulan mobil lagi di bengkel jadi saya naik taksi saja kesana." terang Selvi lagi-lagi dengan suara lembutnya yang langsung membuat pak Djoyo merasa nyaman saat berbicara dengan wanita itu.


Sepertinya selera pria itu mulai berubah, dahulu ia selalu memuja sang istri meski suara wanita itu terdengar melengking di telinganya.


Namun sekarang justru suara lembut wanita di hadapannya ini yang akhir-akhir ini terngiang-ngiang di telinganya, dasar laki-laki.


"Jadi bu Selvi mempunyai restoran ?" tanya pak Djoyo mulai penasaran.


"Benar pak." angguk wanita berusia kepala 3 itu.


Pak Djoyo nampak tertegun karena selain cantik dan kalem rupanya wanita di depannya itu juga pekerja keras.


"Ya sudah ibu ikut saya aja, ini sekalian saya juga mau ke kantor." tawar pak Djoyo kemudian.


"Nggak usah pak merepotkan, saya jalan kaki saja ke depan." tolak Selvi meski ia harus menempuh jarak beberapa meter lagi sampai keluar dari kompleksnya.


Lagipula wanita itu juga tidak mau menimbulkan gosip mengingat dirinya seorang single parent, toh ia juga sekalian berolah raga pagi.


"Saya nggak repot kok bu, ini sepertinya mau hujan juga." sahut pak Djoyo.


Bu Selvi menatap langit yang mulai mendung pekat dan sebentar lagi pasti hujan akan turun, kemudian wanita itu nampak berpikir sejenak untuk menimbang tawaran pria di hadapannya itu.


"Baiklah pak, mohon maaf jika saya merepotkan." ucapnya dengan terpaksa yang langsung membuat pak Djoyo tanpa sadar mengulas senyum kecilnya.


Namun saat menyadarinya pria itu langsung bersikap dingin seperti biasanya dan meyakinkan dirinya jika tak bermaksud apa-apa dan murni ingin membantu wanita berstatus janda itu.


Sepanjang perjalanan pak Djoyo nampak diam membisu begitu juga dengan bu Selvi mereka terlihat cangggung satu sama lainnya.


"Jadi restoran bu Selvi di sini ?" ucap pak Djoyo setelah menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran.


"Benar pak, apa bapak mau mampir dulu ?" tawar bu Selvi, barangkali secangkir kopi buatannya bisa membalas kebaikan pria itu yang sudah mengantarnya dan terhindar dari hujan pagi ini.


"Tidak bu terima kasih, saya harus segera ke kantor." tolak pak Djoyo kemudian.


"Baik pak, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak ya." bu Selvi berbicara dengan sangat sopan.


Pak Djoyo hanya mengangguk kecil, kemudian pria itu segera melajukan mobilnya kembali.


Sementara itu Ameera yang masih berada di rumahnya nampak sedang membantu ARTnya bersih-bersih.


Meski sudah ada pembantunya wanita itu tetap mengerjakan pekerjaan rumah mengingat bagaimana sifat ibu mertuanya itu.


Ia tidak ingin di cap sebagai menantu pemalas yang bisanya hanya makan dan tidur saja, apalagi saat ini ia mulai masuk kantor di siang hari karena perubahan jadwal.


"Mbak Ameera nggak ke kantor ?" sapa Rafael saat pria itu melihat Ameera baru selesai menyapu lantai.


"Mbak masuk siang." sahut Ameera.


"Mbak sini dulu temani aku mengerjakan tugas." mohon Rafael.


Ameera yang baru selesai dengan kerjaannya, langsung mendatangi adik sepupunya itu.


"Memang belum selesai ?" tanya Ameera seraya mendudukkan dirinya di seberang pemuda itu.


"Tinggal revisi ulang saja Mbak, kalau di setujui baru lanjut sidang." sahut Rafael.


"Semoga di terima ya biar cepat lulus dan kerja." Ameera mendoakan.


"Aamiin, terima kasih Mbak." Rafael nampak tersenyum senang.


"Lagi ke toko katanya Mbak, entah beli atau jual emas aku juga nggak tahu." sahut Rafael.


"Toko emas ?" gumam Ameera.


Siang harinya nyonya Amanda nampak pulang dengan wajah lesu, sementara Rafael yang baru selesai mengerjakan tugasnya langsung pergi ke kampusnya.


"Ma, saya mau berangkat." pamit Ameera yang kini sudah nampak rapi dengan setelan kantornya.


"Hm." nyonya Amanda hanya berdehem ria.


"Mama dari mana sepertinya sangat capek ?" tanya Ameera berbasa-basi meski ia sudah tahu dari mana wanita itu pergi.


"Mama habis jual perhiasannya Mama, ya mau bagaimana lagi papamu tak memberikan Mama uang lagi." sahut nyonya Amanda dengan wajah memelas.


Ameera nampak menghela napasnya pelan kemudian ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


Mengambil uang sisa belanja yang selama ini ia simpan, lalu di berikan pada ibu mertuanya itu.


"Ma, ini uang sisa belanja buat mama aja." ucapnya, lagipula ia masih mempunyai uang dari gajinya dan nafkah dari suaminya.


"Beneran buat mama ?" nyonya Amanda langsung berseri saat melihat gulungan uang di tangan Ameera.


"Ya ma." Ameera mengangguk yakin.


"Ya sudah Mama ambil toh ini juga sebenarnya haknya Mama." imbuh nyonya Amanda kemudian.


Tak tahu diri memang tapi begitulah sifat wanita itu ingin menang sendiri dan tak ingin mengakui jika merasa salah.


Meski begitu Ameera merasa tidak tega membiarkan wanita itu tak memegang uang sama sekali, biarlah Tuhan yang akan membalas perbuatannya kelak.


Beberapa hari setelah itu Ameera selalu memberikan uang sisa belanjanya pada ibu mertuanya dan tentu saja tanpa sepengetahuan suami dan ayah mertuanya itu.


Meski sifat ibu mertuanya tetap angkuh padanya, Ameera sungguh tak mempermasalahkannya.


Karena wanita itu hanya berharap kebaikannya akan mendapatkan balasan dari Tuhan bukan dari manusia.


Begitu juga dengan pak Djoyo, pria itu nampaknya juga masih enggan bertegur sapa dengan istrinya.


Kamar mereka masih terpisah dan pria itu selalu pulang larut malam dan akan masuk ke dalam ruang kerjanya saat Rafael sudah masuk ke dalam kamarnya agar kerenggangannya dengan sang istri tidak di ketahui oleh keponakannya itu.


Meski rumah tangganya sudah di ambang kehancuran tapi pria itu enggan menceraikan istrinya itu, mengingat pernikahan mereka yang sudah lama serta ingin menjaga nama baik keluarga besarnya, pak Djoyo juga menganggap ketidakpeduliannya adalah hukuman bagi istrinya itu.


"Terima kasih ya pak sudah mampir kesini." ucap bu Selvi saat pak Djoyo akan meninggalkan restorannya sore itu.


Akhir-akhir ini pak Djoyo memang sering mampir ke restoran wanita itu meski hanya sekedar ngopi dan semenjak itu mereka mulai sedikit akrab meski hanya sebagai teman.


"Sama-sama bu, kebetulan juga dekat kantor dan rasa kopi di sini pas di lidah saya." sahut pak Djoyo tanpa bermaksud macam-macam, meski terdengar memuji.


Jujur ia menemukan kenyamanan saat berbicara dengan Selvi tapi lagi-lagi pria paruh baya itu menampik perasaannya itu.


Sementara itu Ameera yang sedang berada di dalam taksi sepulang dari kantornya tak sengaja pandangannya ke arah seseorang yang sangat ia kenal itu.


"Pak, bisa berhenti sebentar." pinta Ameera pada sopir taksinya itu.


Setelah taksi berhenti, Ameera nampak menajamkan pandangannya dan ternyata benar orang itu adalah ayah mertuanya.


"Apa yang di lakukan papa di sini ?" gumamnya saat melihat ayah mertuanya sedang asyik berbincang dengan wanita cantik nan anggun di depan sebuah restoran.


Padahal selama ini ayah mertuanya itu selalu bersikap dingin pada siapa pun.


.


Guys saya mohon maaf ya jika akhir-akhir ini jarang balas komen kalian, karena kesibukan di real yang lumayan menyita waktu. Saat senggang nanti pasti akan saya balas satu-satu, terima kasih sebelumnya masih setia dengan cerita receh ini 🙏🙏🙏