
Ameera nampak mengintip sang ibu mertua dari tangga saat mendengar wanita itu baru membuka pintu kamarnya.
"Iya aku baru mau keluar, kalau sudah sampai nanti ku kabari." ucap wanita paruh baya tersebut saat berbicara di telepon dengan seseorang.
"Tenang saja, aman mas. Suamiku lagi di kantor." imbuhnya lagi.
"Iya mas, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Sampai jumpa di sana." Nyonya Amanda segera mengakhiri panggilannya, lalu membuka pintu rumahnya dan bergegas pergi.
"Semoga mama cepat sadar jika yang di lakukannya itu salah." gumam Ameera setelah mertuanya itu pergi.
Kini Ameera semakin yakin jika sang ibu mertua benar-benar menghianati suaminya.
"Sayang." panggil Awan malam itu namun sepertinya istrinya itu tak mendengar.
"Sayang." panggil Awan lagi yang langsung membuat Ameera terperanjat kaget.
"Mas jangan ngagetin aku kenapa? kamu mau aku kena serangan jantung ?" protes Ameera dengan memegang dadanya.
"Aku nggak ngagetin sayang, kamunya saja yang sedang melamun, entah apa yang sedang kamu pikirkan." Awan menatap curiga istrinya itu.
"Aku sedang nggak mikirin apa-apa kok mas, cuma sedang kangen saja sama ayah dan bunda." kilah Ameera, wanita itu nampak bingung ingin sekali ia mengadu ke suaminya itu perihal ibu mertuanya.
Namun mengingat Awan sangat tempramen dan entah apa yang akan pria itu lakukan jika tahu, membuat Ameera mengurungkan niatnya. Karena membayangkan saja wanita itu sudah bergidik ngeri.
"Awas saja kalau mikirin pria lain." ucap Awan dan sontak membuat Ameera menggeleng cepat.
"Pria siapa sih mas, di seluruh pikiranku cuma ada kamu." sahut Ameera yang langsung membuat Awan terkekeh, sejak kapan istrinya itu pintar menggombal.
Sepertinya mengerjainya sedikit itu sangat menyenangkan pikir Awan.
"Nggak percaya." sahut Awan dengan wajah serius.
"Beneran mas." Ameera langsung meyakinkan.
"Buktikan dong kalau kamu memang mikirin aku terus." tantang Awan yang tentu saja membuat wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagaimana caranya mas ?" tanya Ameera dengan polos.
Awan nampak gemas hingga membuatnya tak sabar lalu pria itu langsung menarik pinggang wanita itu hingga kini tak ada celah di antara mereka.
"Mau tahu caranya ?" tanya Awan kemudian.
"Hm." angguk Ameera dengan yakin.
Awan langsung menekan tengkuk wanita itu lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus hingga membuat istrinya itu melotot.
Rupanya wanita itu lupa jika suaminya adalah pria termesum di dunia.
Dan selanjutnya terjadilah apa yang memang harus terjadi karena Awan selalu senang membuat istrinya itu kelelahan.
...----------------...
Beberapa hari kemudian nyonya Amanda semakin intens berhubungan dengan sang pria misterius itu.
Wanita itu selalu menghubungi sang pria dan tak segan bermesraan layaknya seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
Sepertinya saking tak pedulinya pada Ameera hingga membuat wanita paruh baya itu tak menyadari jika gerak geriknya selalu di awasi oleh menantunya tersebut.
Seperti sore ini wanita itu sepertinya baru pulang setelah beberapa hari tidak pulang dengan alasan habis traveling dengan para teman-teman sosialitanya.
"Aku sudah sampai rumah mas, terima kasih beberapa hari ini sudah membuatku senang. Kamu sangat hebat mas dan aku suka itu." pujinya pada sang penelepon.
"Baiklah aku mau mandi dulu ya, badanku bau kamu semua nanti suamiku curiga lagi." ucap nyonya Amanda lagi sembari terkekeh kemudian segera mengakhiri panggilannya.
Ameera yang mendengar itu hanya bisa mengelus dadanya, rupanya hubungan ibu mertuanya itu sudah terlampau jauh.
Tak berapa lama tuan Djoyo nampak baru pulang dari kantornya.
"Hm." sahut pak Djoyo yang terlihat lelah.
"Apa suamimu sudah pulang ?" tanyanya setelah melepaskan sepatu kerjanya.
"Belum pa, mas Awan lembur sampai malam." sahut Ameera.
"Mamamu sudah pulang ?" tanya pak Djoyo lagi mengingat istrinya itu beberapa hari pamit liburan bersama teman-temannya seperti biasanya dan hari ini waktunya pulang.
Nyonya Amanda memang sangat menyukai traveling dan wanita itu setiap bulan selalu traveling ke berbagai kota maupun negara bersama teman-temannya.
Sedangkan pak Djoyo yang sangat sibuk tak pernah bisa menemani istrinya itu dan sebagai bentuk kecintaannya pada wanita itu pak Djoyo selalu memberikan izin kemana pun istri kesayangannya itu pergi.
Tapi akhir-akhir ini pria itu mencium gelagat mencurigakan dari istrinya tersebut.
Mulai jadi jarang memperhatikannya sampai sering sekali senyum-senyum sendiri saat berbalas pesan dengan lawan chatnya.
Seperti beberapa hari yang lalu saat pak Djoyo baru selesai membersihkan dirinya malam itu, ia melihat istrinya itu sedang tiduran dengan senyum-senyum sendiri saat menatap ponselnya.
"Chat sama siapa, ma ?" tanya pak Djoyo yang kini sudah naik ke atas ranjangnya lalu bersandar di headboard ranjang di sebelah istrinya itu.
"Biasa pa, teman-teman." sahut nyonya Amanda lalu meletakkan ponselnya di atas nakas di samping ranjangnya.
"Papa kalau capek tidur saja." ucap nyonya Amanda kemudian.
"Papa..." pak Djoyo menjeda ucapannya saat ponsel istrinya itu mendapatkan sebuah notifikasi, lalu wanita itu langsung mengambil ponselnya kembali.
Wanita itu nampak tersenyum lagi namun kali ini hanya senyum tipis agar tak terlihat oleh suaminya.
"Siapa, ma ?" pak Djoyo mulai memicing karena saat mereka mau beristirahat pun ponsel istrinya itu tak berhenti berbunyi.
"Hanya teman, kita sedang membahas traveling besok pa. Papa sih tidak pernah bisa ikut." sahut nyonya Amanda dengan wajah kecewa kemudian mematikan ponselnya.
"Papa kan sibuk, ma." sahut pak Djoyo mendekati istrinya itu.
"Ya sudah yuk tidur." lalu wanita itu mengajak suaminya untuk segera tidur.
"Ma, kamu nggak kangen papa? Akhir-akhir ini kita jarang sekali melakukan itu ma." pak Djoyo yang sedang berhasrat pada istrinya itu langsung mendekati wanita itu lalu membelai puncak kepalanya dengan lembut.
Meski usia mereka sudah menginjak kepala empat tapi urusan ranjang pak Djoyo dan nyonya Amanda selalu bersemangat.
Namun akhir-akhir ini pak Djoyo merasa istrinya itu enggan melayaninya dan sikapnya berubah lebih dingin.
Kadang saat melakukannya pun wanita itu seperti ogah-ogahan hingga membuat pak Djoyo pun kurang bersemangat.
"Mama lelah pa, memang Papa nggak lelah? mama juga mau menyiapkan tenaga untuk traveling besok." Nyonya Amanda menolak dengan halus lalu menjauhkan tangan suaminya yang mulai menyentuhnya.
Mendapatkan penolakan dari istrinya membuat harga diri pria paruh baya itu terhina.
Kemudian pak Djoyo segera menjauhkan dirinya dan memilih untuk segera tidur.
"Mama baru saja pulang, pa." sahut Ameera namun sepertinya ayah mertuanya itu sedang melamun.
"Pa..." panggil Ameera yang langsung membuat pak Djoyo kembali dari lamunannya perihal istrinya tersebut.
"Papa mandi dulu ya." ucap pak Djoyo kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Kasihan Papa pasti sangat lelah." gumam Ameera kemudian bergegas naik ke kamarnya, karena sebentar lagi suaminya itu akan pulang dan ia harus segera membersihkan dirinya.
Sementara itu pak Djoyo yang baru membuka pintu kamarnya tak menemukan istrinya itu di sana, rupanya wanita itu sedang membersihkan dirinya di kamar mandi saat mendengar bunyi air shower yang mengalir.
Nampak tas traveling milik istrinya masih tergeletak di lantai dan pandangan pria itu tertuju pada ponsel milik wanita itu yang tergeletak di atas meja riasnya.
Merasa mendapatkan kesempatan untuk memeriksanya pak Djoyo bergegas mengambil ponsel tersebut, mengingat akhir-akhir ini istrinya itu selalu menyembunyikan ponselnya atau bahkan sengaja mematikannya dan itu membuatnya semakin curiga.