
"Mama ngapain di sini ?" Awan menghentikan kunyahannya saat ibunya itu tiba-tiba menghampiri mejanya.
"Harusnya mama yang bertanya, kamu ngapain di sini dan siapa dia ?" sahut sang ibu dengan memperhatikan wanita yang sedang duduk di hadapan Awan, wanita yang lumayan cantik tapi mungkin tak secantik menantunya itu. Namun percuma cantik tapi tak bisa memberikannya cucu.
"Selamat siang tante, saya Karen rekan kerja mas Awan di kantor. Kebetulan kami tadi baru selesai meeting karena maag saya tiba-tiba kambuh jadi kami memutuskan untuk makan siang dulu di sini." timpal Karen seraya beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada nyonya Amanda.
"Rekan kerja ?" ulang nyonya Amanda seraya memperhatikan penampilan wanita di hadapannya itu dan pandangannya jatuh ke tas bermerk di atas meja.
"Saya salah satu manager di kantor tante, sama seperti mas Awan." terang Karen yang memang memiliki posisi yang mentereng di kantornya.
"Ternyata bukan wanita sembarangan."
"Saya Mamanya Awan." Nyonya Amanda langsung memperkenalkan dirinya pada Karen dengan seramah mungkin karena menurutnya mereka selevel, sama-sama berasal dari keluarga terpandang tentunya.
"Silakan duduk tante, tante mau makan apa? nanti saya pesankan. Tante pasti belum makan juga kan ?" Karen langsung menarik kursi di sampingnya lalu mempersilakan nyonya Amanda untuk duduk di sana.
"Terima kasih ya."
Tentu saja nyonya Amanda langsung menyambutnya dengan senang hati, rupanya tidak hanya kaya tapi wanita itu juga mempunyai atittude yang baik dan juga sangat perhatian padanya meski baru pertama kali bertemu.
Nyonya Amanda segera memesan makanan mahal atas rekomendasi dari wanita itu, benar-benar wanita idaman. Seandainya menjadi menantunya mereka pasti akan sangat cocok.
Ehm
"Ngomong-ngomong nak Karen sudah menikah belum ?" tanyanya kemudian yang langsung mendapatkan teguran dari sang putra.
"Ma !!" Awan merasa keberatan saat sang ibu mengorek hal pribadi rekan kerjanya tersebut.
"Mama cuma ingin kenal lebih dekat dengan nak Karen, memang nggak boleh ?" sungut nyonya Amanda sedikit kesal.
Melihat raut wajah kesal wanita paruh baya di sebelahnya itu, Karen nampak mengulas senyumnya. "Boleh kok tante, malahan aku sangat senang jika bisa lebih mengenal tante." timpalnya kemudian.
"Nah itu Karen saja tidak keberatan." ucap nyonya Amanda seraya menatap sang putra yang sedari tadi memasang wajah kakunya, kemudian kembali menatap ke arah Karen.
"Jadi bagaimana? Nak Karen sudah menikah belum ?" ucapnya dengan rasa penasaran.
"Saya single parent, tante." sahut Karen tanpa beban saat memberitahu statusnya.
Mendengar itu nyonya Amanda nampak kecewa, ia pikir wanita itu masih single. Meski kalau di lihat-lihat wajahnya terlihat dewasa, mungkin seumuran dengan putranya. Tapi karena skincare mahal yang di pakai wanita itu membuatnya terlihat awet muda.
"Punya anak ?" tanyanya lagi dan lagi-lagi mendapatkan teguran dari Awan.
"Ma, stop jangan terlalu kepo." ucapnya dengan nada kesal.
"Nggak apa-apa mas, aku malah senang loh bisa dekat sama tante Amanda." sela Karen kemudian.
"Iya saya sudah mempunyai dua anak tante, karena dulu saya menikah muda. Setelah menikah langsung hamil." imbuh Karen lagi yang makin membuat nyonya Amanda bertambah kecewa mengingat wanita itu sudah mempunyai dua orang anak.
Namun saat melihat semua barang bermerk yang melekat di seluruh tubuh wanita itu, nyonya Amanda seketika berubah pandangan.
"Wah kamu subur banget ya, tante nggak menyangka kamu sudah mempunyai dua orang anak pasti anak kamu cantik dan cakap seperti ibunya." pujinya kemudian.
"Tante bisa saja, mereka memang sangat menggemaskan tante. Rumah juga menjadi ramai karena mereka, rasa lelah sepulang kerja pun langsung menghilang saat melihat wajah polos mereka." timpal Karen sembari membayangkan anak-anaknya yang lucu, seandainya ia belum bercerai mungkin hidupnya akan sangat sempurna.
"Seandainya Awan juga mempunyai seorang anak yang lucu pasti hari tua kami sangat terhibur, tapi sayang hampir sepuluh tahun menikah menantuku belum memberikan ku seorang cucu." imbuhnya lagi.
"Ma, bukankah sudah pernah kita bahas sebelumnya." Awan merasa tak suka saat masalah rumah tangganya menjadi bahan bahasan mereka.
"Sabar ya tante, tidak semua wanita memang langsung hamil setelah menikah. Ada juga yang sampai menunggu belasan tahun baru hamil, kebetulan mungkin aku yang beruntung karena setelah menikah langsung hamil dan dua tahun kemudian hamil lagi anak kedua." timpal Karen seraya melirik ke arah Awan yang sepertinya menyimak perkataannya.
"Kamu sangat beruntung, Nak. Andai saja tante mempunyai menantu seperti kamu pasti kebahagiaan tante akan sempurna." ucap nyonya Amanda yang membuat Awan semakin muak lalu segera beranjak dari duduknya.
"Aku sudah selesai." ucapnya kemudian.
"Wan tunggu dulu, kamu mau kemana? kamu mau meninggalkan Karen di sini sendiri ?" cegah nyonya Amanda saat putranya itu hendak pergi.
"Kami membawa mobil masing-masing Ma, lagipula jam makan sudah habis jadi aku harus kembali ke kantor." sahut Awan menatap ibunya itu lalu beralih menatap ke arah Karen yang masih duduk di kursinya.
"Aku kembali duluan." ucapnya pada wanita itu, setelah itu Awan bergegas pergi tanpa menunggu Karen menimpalinya.
"Maafkan Awan ya Nak, begitulah dia sejak menikah selalu melawan Mama." tukas nyonya Amanda pada Karen setelah kepergian putranya tersebut.
"Nggak apa-apa tante, maaf membuat suasana jadi tidak enak." sahut Karen dengan wajah bersalahnya.
"Tidak, kamu tidak salah sayang. Ngomong-ngomong apa boleh bertukar nomor telepon, sepertinya tante ingin lebih mengenalmu." pinta nyonya Amanda kemudian.
"Tentu saja tante." Karen dengan senang hati langsung memberikan nomor teleponnya, entah kenapa ia merasa sangat cocok dengan wanita paruh baya itu.
Seandainya Awan adalah suaminya hidupnya pasti akan lebih bahagia, namun Karen langsung menggeleng kecil saat menyadari keinginannya itu hanya hayalan semata mengingat pria itu telah memiliki seorang istri.
Sepanjang siang Awan nampak tak konsentrasi bekerja, pikirannya selalu melayang pada sang ibu dan Karen yang entah kenapa langsung akrab padahal baru pertama kali bertemu.
Seandainya istrinya juga seakrab mereka, rumah tangganya pasti akan adem ayem. Mengingat sang istri, Awan jadi merindukannya. Meski pernikahan mereka sudah berjalan hampir sepuluh tahun tetapi rasa cintanya pada wanita itu tak pernah luntur.
Akhirnya sore itu Awan memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya dan segera pulang ke rumahnya, ia sudah merindukan masakan wanita itu hingga perutnya tiba-tiba keroncongan.
"Mandi dulu mas." Ameera langsung menarik lengan suaminya saat pria itu hendak menuju meja makan.
"Baiklah istriku yang cantik." tukas Awan seraya mengacak rambut istrinya itu dengan sayang.
Setelah membersihkan dirinya dan makan malam bersama, mereka menghabiskan waktunya di kamarnya. Sekedar menonton film atau berbincang hangat seputar keseharian mereka dan berlanjut dengan aktivitas ranjangnya yang tak pernah absen kecuali istrinya itu sedang mendapatkan tamu bulanan.
Awan merasa hidupnya sudah sangat sempurna, mempunyai pekerjaan yang mapan dan istri yang cantik serta penurut. Meski belum hadirnya seorang anak dalam rumah tangganya takkan merubah kebahagiaannya saat ini.
Ting
Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di ponselnya dan Awan segera mengambilnya di atas nakas.
"Mas, terima kasih ya tadi siang sudah menemaniku makan siang. Aku berharap ada kesempatan lagi lain kali, tapi gantian aku yang traktir ya."
Setelah membaca pesan yang di kirim oleh Karen, Awan melirik sang istri yang nampak terlelap seusai aktivitas ranjang mereka malam itu.
"Pesan dari siapa mas ?" tanya Ameera tiba-tiba yang langsung membuat Awan gelagapan di buatnya, karena pria itu pikir istrinya sudah di buai oleh mimpinya.