
"Om Arka, ada perlu apa ?" tanya Ameera yang nampak risih saat pria berkepala plontos itu menatapnya dengan pandangan menelisik.
"Kamu sangat seksi." lirih Arka, namun tak terdengar begitu jelas di telinga Ameera. Darahnya berdesir saat melihat wanita lugu yang baginya sangat menggairahkan itu.
Meski penampilan Ameera yang nampak acak-acakan, tapi menurutnya sangat mempesona.
"Sayang, siapa yang datang ?" teriak Awan dari dalam hingga membuat Ameera merasa lega karena tidak harus sendirian menghadapi pria kurang ajar di depannya tersebut.
"Om ada apa ?" Awan nampak terkejut saat melihat Arka berdiri di depan pintu kamarnya, lalu di suruhnya istrinya masuk karena ia tak ingin ada pria lain menatapnya.
Sementara Arka yang melihat Awan bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxernya nampak tak suka.
"Tadi pagi kalian tidak turun sarapan jadi kak Manda khawatir." sahut Arka beralasan.
"Maklumlah Om kami pengantin baru yang masih hot-hotnya jadi lebih asyik tinggal di kamar." sahut Awan sengaja untuk membuka mata pamannya jika Ameera adalah miliknya dan tak pantas untuk pria itu sukai.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu ibumu." ucap Arka yang terlihat kecewa, kemudian ia berlalu pergi.
Sementara Awan nampak mendesah kasar, ingin sekali ia menghajar pamannya tersebut tapi ia sama sekali tak mempunyai bukti nyata jika pria itu benar-benar menggoda Ameera meski gelagatnya sangat terlihat.
"Mas, Om Arka sudah pergi ?" tanya Ameera saat suaminya itu baru menutup pintu kamarnya.
"Hm." sahut Awan sembari berjalan ke arahnya.
"Lain kali jangan membuka pintu jika tanpaku, apalagi dengan pakaian seperti itu." tegurnya kemudian seraya menatap pakaian istrinya yang terlihat sangat seksi menurutnya.
"Maaf, aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu." Ameera memasang wajah memelas dan itu membuat Awan nampak gemas lalu mendekatinya dan di peluknya pinggang wanita itu.
"Mandi yuk, bau." ajaknya kemudian.
"Nggak mau, mas duluan saja." tolak Ameera seraya melepaskan tangan suaminya di pinggangnya, kemudian ia kembali ke atas ranjangnya lalu merebahkan dirinya disana.
Ia merasa masih sangat mengantuk, belum lagi badannya terasa lelah karena aktivitas panasnya semalam.
Melihat istrinya kembali tiduran, sepertinya Awan juga enggan mandi. Ia justru ikut rebahan di samping wanita itu.
"Mas, mandi duluan sana jangan tidur lagi." perintah Ameera saat suaminya hendak memeluknya.
"Nggak mau, maunya mandi sama-sama." sahut Awan.
"Nggak ah nanti mas macam-macam lagi." tolak Ameera.
"Macam-macam kan enak sayang." Awan menatap nakal istrinya tersebut.
"Tapi aku lelah mas." keluh Ameera, badannya memang terasa lemas.
"Mendesah tidak akan membuatmu lelah sayang." ucap Awan yang langsung membuat Ameera terpekik karena suaminya itu tiba-tiba mengangkatnya lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Setelah menurunkannya di sana, Awan segera melucuti pakaian istrinya. Napasnya tertahan saat melihat tubuh polos wanita itu, namun ia berusaha menahan hasratnya.
"Dasar pemaksaan." cebik Ameera, padahal ia masih ingin bermalas-malasan saat liburan.
"Kamu bau sayang." ledek Awan seraya membawa wanita itu ke bawah guyuran air shower.
"Mas, dingin." Ameera terpekik saat air dingin mengguyur tubuhnya, lalu ia langsung memeluk suaminya itu.
Udara puncak yang dingin membuat air pun terasa seperti air es. Sepertinya suaminya itu sengaja tak menyalakan air hangat untuknya.
Namun pelukannya itu justru membuat sang suami yang sedari tadi menahan hasratnya, kini nampak menggeram.
"Kamu memancingku, sayang." lirihnya dengan suara beratnya, lalu di panggutnya bibir istrinya itu.
Sepertinya air dingin itu kini terasa menghangat seiring aktivitas panas yang mereka lakukan.
Awan nampak memepet tubuh wanita itu di dinding belakangnya, lalu mulai menghentakkan miliknya dengan lembut hingga membuat istrinya yang berada dalam pelukannya itu nampak mendesah tak karuan.
Satu jam kemudian, mereka baru keluar dari kamar mandi setelah sama-sama mendapatkan kepuasan.
Mereka segera berganti pakaian untuk makan siang bersama keluarganya, kebetulan siang itu lumayan cerah jadi setelah makan mereka berencana berjalan-jalan di taman.
Ameera yang mengenakan atasan kaos di padu dengan rok jeans selutut serta rambutnya yang ia kucir kuda membuatnya terlihat cantik siang itu.
"Mas kenapa senyum-senyum begitu ?" Ameera melebarkan matanya saat melihat suaminya tersenyum kecil saat menatapnya dari cermin.
"Nggak, nggak apa-apa." dusta Awan seraya menatap leher putih istrinya yang nampak beberapa tanda kepemilikan di sana, sepertinya wanita itu tak menyadarinya.
Ameera yang tak percaya nampak memindai penampilannya yang menurutnya tak ada yang aneh.
"Jelek ya ?" ucapnya mulai tak percaya diri.
"Nggak sayang, kamu sangat cantik." puji Awan meyakinkan lalu ia segera mengajak istrinya keluar dari kamarnya sebelum wanita itu tahu.
"Kalian baru bangun ?" tegur nyonya Amanda saat melihat anak dan menantunya mendekati mejanya.
"Bukannya kalian sudah bangun dari tadi ?" sela Arka setelah melihat jam di pergelangan tangannya, dua jam berlalu tapi ponakannya itu baru turun padahal semua keluarganya sudah menunggunya sedari pagi.
"Namanya juga pengantin baru Om, lagipula mama kan ingin cepat punya cucu jadi kami sedang berusaha." kelakar Awan yang langsung membuat sang istri nampak malu.
Wanita itu terlihat menunduk dengan wajah memerah, sungguh suaminya itu kalau bicara tidak pernah di saring dulu perkataannya.
"Wah bagus itu, Om jadi tidak sabar menunggu hasilnya." timpal Erick dengan semangat.
Namun tidak dengan nyonya Amanda dan Bela, kedua wanita berbeda generasi itu nampak masam mendengar perkataan Awan.
Apalagi saat menatap Ameera yang nampak beberapa tanda kemerahan di leher sampingnya.
"Dasar tak tahu malu." gerutu nyonya Amanda lirih.
Sementara Bela yang sudah terbakar api cemburu langsung beranjak dari duduknya.
"Maaf aku mau pulang duluan." ucapnya kemudian yang langsung di cegah oleh nyonya Amanda.
"Bukannya besok kita baru pulang ?" nyonya Amanda mengingatkan.
"Aku ingin pulang sekarang tante." sahut Bela seraya menatap tajam Ameera.
Setelah itu gadis itu segera meninggalkan makan siangnya yang belum habis di ikuti oleh Arka.
"Kalian benar-benar bikin malu." gerutu nyonya Amanda menatap Awan dan Ameera bergantian.
"Sudah-sudah, ayo lanjutkan makannya." tegur pak Djoyo saat istrinya ingin berbicara kembali.
Sedangkan Awan nampak tersenyum puas karena rencananya untuk membuat Arka cemburu berhasil dan tidak hanya pria itu saja yang pergi namun Bela juga.
Akhirnya ia bisa menikmati akhir liburannya tanpa ada gangguan, sedangkan Ameera yang tak mengerti nampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Dua hari kemudian....
Setelah menikmati akhir pekan di puncak bersama suaminya, Ameera kembali bekerja di kantornya.
"Pagi bu Dewi." sapanya saat melihat atasannya itu baru datang.
"Hm, pagi." sahut bu Dewi dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Ameera, tak biasanya wanita itu sudah datang sebelum dirinya padahal biasanya datang selalu mendekati jam kantor pikirnya.
"Ada apa bu ?" Ameera nampak risih saat atasannya itu menelisik penampilannya.
"Coba hadap samping !!" perintah bu Dewi.
Ameera yang tak mengerti mengikuti saja perintah atasannya tersebut, ia nampak menoleh ke samping kanan dan kiri sesuai perintah wanita itu.
"Apa kamu tahu adab sopan santun ?" tanya bu Dewi kemudian.
"Maaf bu, saya tak mengerti maksud ibu ?" Ameera balik bertanya.
"Apa kamu sudah bercermin hari ini ?" tanya bu Dewi lagi.
"Hm." angguk Ameera.
"Lalu ini apa ?" bu Dewi mengambil kaca lebar dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Ameera.
"Coba perhatikan lehermu, apa kamu sengaja mau memamerkan pada semua karyawan di sini ?" tegur bu Dewi seraya menunjukkan leher Ameera yang terdapat beberapa jejak kepemilikan di sana.
"Astagfirullah." Ameera terlonjak kaget saat melihat itu, ia benar-benar tak memperhatikan sebelumnya.
Pantas saja kemarin ibu mertuanya itu mengatai dirinya dan sang suami tak tahu malu, jadi karena ini.
"Mas Awan benar-benar bikin malu." gerutu Ameera dengan kesal, ingin sekali ia bersembunyi di dasar bumi saat ini.
"Wah ada apa ramai-ramai ?" tiba-tiba seorang pria menyeletuk saat baru membuka ruangan Ameera.
Melihat ada yang datang, bu Dewi langsung melepaskan ikatan rambut Ameera hingga rambut wanita itu tergerai menutupi lehernya.
"Eh pak Tommy." ucap Bu Dewi saat melihat seorang pria tampan masuk ke dalam ruangannya.
Tommy adalah seorang manager di salah satu kantor cabang yang sering sekali ke pusat untuk melaporkan hasil kerja para karyawannya.
"Wah karyawan baru ya ?" ucap pak Tommy saat melihat Ameera.
"I-iya pak." sahut Ameera.
"Panggil saja Tommy." pak Tommy mengulurkan tangannya.
"Ameera pak." dengan ragu Ameera menyambut uluran tangan Tommy, setelah itu ia segera menarik tangannya kembali.
Melihat Tommy yang nampak tertarik dengan Ameera, bu Dewi langsung tersenyum penuh arti. Kemudian ia berlalu ke mejanya dan meninggalkan Ameera dengan pria itu.