Ameera

Ameera
Penyesalan Fajar



💥Kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui ia sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain💥


Malam itu setelah mengobati luka Ameera dan memastikan gadis itu tidur dengan perut kenyang, Awan nampak melangkahkan kakinya mencari Fajar.


Ia harus membuat perhitungan dengan pria yang sudah menyakiti gadisnya tersebut.


Setelah mendapatkan informasi jika Fajar berada di Cafe belakang kantornya, Awan segera datang kesana.


Awan langsung memberikan bogem mentah pada pria itu yang terlihat sedang berkumpul dengan teman-temannya.


"Jangan ikut campur jika masih ingin bekerja di kantor ini." tegas Awan saat teman-temannya Fajar ingin membalas pukulannya.


Mendengar ancaman Awan, mereka nampak mundur teratur. Bagaimana pun juga mereka masih menganggap Awan adalah orang penting dari kantor pusat.


Fajar yang baru bangkit langsung mengusap sudut bibirnya yang basah oleh darah segar akibat pukulan keras Awan tadi.


"Kamu punya masalah denganku ?" sinisnya menatap Awan.


"Jika kamu mengganggu Ameera maka kamu akan beradapan denganku." tegas Awan.


"Apa kamu naksir Ameera juga hah ?" Fajar nampak tersenyum mengejek.


"Tapi sayangnya dia sudah menyukai Rangga." imbuhnya, ada nada getir di setiap perkataannya.


"Jangan pernah ganggu Ameera, karena aku akan selalu melindunginya." tegas Awan lagi yang langsung membuat Fajar tertawa nyaring.


"Bro-bro kalau kamu tahu siapa Ameera, kamu pasti akan jijik padanya." ucap Fajar.


"Apa maksudmu ?" Awan langsung mencengkeram kerah kemeja Fajar dengan geram.


"Ameera memang cantik tapi sayangnya dia sudah rusak." tukas Fajar yang langsung mendapatkan pukulan dari Awan hingga ia jatuh tersungkur lagi.


Awan mengepalkan tangannya, siap menghajar lagi pria di hadapannya itu.


Sementara Fajar nampak memegang rahangnya yang terasa berdenyut sakit, luka akibat pukulan Rangga saja masih basah kini di tambah lagi oleh pukulan Awan karyawan baru di kantornya.


"Kamu bunuh akupun itu tidak akan merubah keadaan Ameera yang tak suci lagi dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku, bukan Rangga atau pria manapun." sinisnya, kemudian ia tertawa mengejek.


Awan naik pitam ia langsung menendang Fajar hingga pria itu terhempas, namun saat ia ingin menendangnya kembali teman-temannya Fajar langsung melerainya.


"Bajingan sialan, aku tidak akan pernah mengampunimu. Awas saja jika berani mendekati Ameera lagi, aku atau kamu yang akan pergi dari kantor." hardik Awan dengan geram.


Sementara itu, Fajar yang sudah babak belur nampak di bopong oleh teman-temannya meninggalkan Cafe tersebut.


Sebenarnya Fajar tidak berniat menyakiti Ameera, bisa pacaran dengan gadis itu adalah impian semua pria yang ada di kantornya.


Namun saat ia mengetahui motif Ameera menerima cintanya hanya karena ingin menghapus gosip buruk tentang gadis itu ia merasa di permainkan dan di manfaatkan.


Oleh karena itu sebelum Ameera mencampakkannya setelah berhasil dengan tujuannya, ia akan mencampakkannya terlebih dahulu.


Namun ternyata ia juga tidak bisa membohongi hatinya sendiri, jika ia memang mencintai gadis itu.


Untuk itu ia ingin menebus kesalahannya dengan meminta maaf beserta melamarnya, agar ia bisa membersihkan nama gadis itu akibat ulahnya.


Sementara Awan yang baru masuk ke dalam kamarnya nampak menatap datar Ameera yang sedang terlelap tidur.


Ia berjalan mendekati gadis itu, lalu membelai pipinya, namun saat mengingat perkataan Fajar tadi ia langsung menjauhkan tangannya kemudian berlalu keluar dari kamarnya.


Ia nampak menghantam dinding dengan keras. "Bagaimana pun keadaan Ameera, dia adalah milikku." gumamnya.


Keesokan harinya...


Ameera nampak melangkahkan kakinya pagi itu ke kantornya, biasanya Awan atau Rangga yang menemaninya tapi entah kenapa kedua pria tersebut tidak nampak batang hidungnya.


Padahal ia ingin mengetahui keadaan Rangga setelah semalam berkelahi dengan Fajar, namun kata teman-temannya pria itu sudah berangkat dari pagi.


Mungkin saja pria itu masih marah padanya karena barang-barang pemberian Fajar semalam.


Tak berapa lama saat ia melangkah menuju kantornya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.


"Mas Awan." ucapnya saat Awan membuka kaca mobilnya.


"Ayo masuklah !!" perintah Awan menatap Ameera.


"Ku pikir mas sudah berangkat." ucap Ameera seraya membuka pintu mobil, lalu ia menghempaskan bobot tubuhnya di kursi samping kekasihnya tersebut.


"Kenapa berangkat sendiri? sudah ku bilangkan kalau nggak ada Rangga kamu harus berangkat sama aku." tegur Awan menatap Ameera sejenak, setelah itu ia mulai melajukan mobilnya.


"Aku pikir mas sama Rangga sudah berangkat duluan." sahut Ameera membela diri.


"Kamu kan punya ponsel, kenapa nggak di manfaatkan ?" tegur Awan lagi.


"Aku nggak kepikiran." sahut Ameera, setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka.


Beberapa saat kemudian Awan nampak mengurangi laju mobilnya saat jalanan mulai macet.


Kemudian pria itu langsung mengambil telapak tangan Ameera yang sedang berpangku di atas pahanya lalu ia langsung menggenggamnya hingga membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Mas, fokuslah mengemudi. Aku belum mau mati, aku masih mau menikah." tegur Ameera yang langsung membuat Awan menatapnya dengan intens.


"Memang kamu mau menikah dengan siapa ?" tanyanya kemudian.


"Aku tidak tahu siapa jodohku kelak." sahut Ameera jujur, namun itu membuat Awan langsung meradang.


Wanita itu seakan tak memasukkan dirinya dalam daftar calon suaminya kelak.


"Seandainya Fajar melamarmu saat kalian masih berhubungan apa kamu akan menerimanya ?" tanya Awan setelah itu.


Ameera nampak berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Mungkin saja." sahutnya tanpa ada perasaan bersalah jika saat ini telah menyakiti perasaan pria di sampingnya tersebut.


Sementara Awan nampak mencengkeram kemudinya dengan kuat saat mendengar jawaban Ameera, apa hubungan mereka memang sudah sejauh itu hingga gadis itu mau menerima pinangan Fajar.


Ia jadi mengingat perkataan Fajar semalam, jika hubungan pria itu dengan Ameera sudah melampaui batas.


"Tidak, sampai kapan pun Ameera akan menjadi milikku." gumamnya dalam hati.


"Mas kamu nggak jalan, mobil di belakang sudah membunyikan klakson berkali-kali loh." Ameera nampak mengguncang lengan Awan saat perkataannya tak di dengarkan.


Awan terkejut, kemudian ia segera melajukan mobilnya kembali.


Pria itu terdengar beberapa kali mendesah kasar dan Ameera yang mendengar itu tak berani bertanya, mungkin saja Awan sedang mempunyai masalah yang tidak ingin ia ketahui.


"Meera, aku bisa titip kunci kamarku." tukas Awan sesampainya mereka tiba di kantornya.


"Buat apa ?" Ameera nampak tak mengerti, ia hanya menatap sebuah kunci di tangan Awan.


"Hari ini aku ada ngecek stok barang di gudang, jika aku bawa takut jatuh." sahut Awan beralasan.


Ameera nampak berpikir sejenak, kemudian ia mengambil kunci di tangan pria itu.


"Baiklah." ucapnya kemudian, setelah itu ia segera berlalu turun dari mobil tersebut.


"Tumben nitipin kunci padaku." imbuhnya lagi dalam hati, tak mau berpikir macam-macam ia segera berlalu ke ruangannya.


Sementara Awan yang melihat kepergian Ameera nampak menghela napas panjangnya.


"Maafkan aku." gumamnya.