
Nyonya Amanda yang berada di kamarnya terlihat duduk terdiam di ranjangnya dengan pandangan kosong.
Wanita paruh baya itu nampak kecewa karena sudah beberapa hari ini hubungannya dengan sang suami belum juga membaik.
Pria itu selalu menghindarinya dan tak pernah merespon setiap ucapannya.
Tak berapa lama ponsel wanita itu berdering nyaring lalu di ambilnya ponselnya itu yang berada di atas nakas.
Saat melihat siapa yang sedang menghubunginya, nyonya Amanda nampak kesal namun ia tetap menjawabnya.
"Mau ngapain kamu menghubungi aku lagi ?" sungut nyonya Amanda pada pria di ujung telepon.
"Aku kangen, sayang." balas Handoko.
"Sudah ku bilang jika hubungan kita sudah berakhir." nyonya Amanda mengingatkan.
Sejak sang suami mengetahui hubungan mereka, wanita itu langsung memutuskan hubungan dengan pria itu.
"Apa kamu tidak kangen aku, hm? aku kangen menyentuhmu dan membuatmu meneriakkan namaku."
Pak Handoko bukannya menyerah, ia justru menggodanya dengan rayuan mautnya yang biasanya selalu membuat wanita itu luluh.
"Mas, tolong jangan ganggu aku lagi. Aku tidak ingin di cerai oleh suamiku." mohon nyonya Amanda kemudian.
"Aku belum bisa sayang, kamu teramat candu bagiku." tolak Handoko.
"Apa kamu tidak ingin traveling bareng aku lagi, hm? setiap traveling bareng aku merasa kita seperti sedang berbulan madu. Kamu juga merasa seperti itu kan ?" imbuh Handoko lagi.
"Aku sudah tak punya apa-apa lagi, suamiku mencabut semua fasilitasku bahkan untuk urusan rumah pun sekarang menantuku yang mengatur semuanya dan tabungan ku juga sudah habis untuk biaya traveling kita kemarin." keluh nyonya Amanda dengan nada marah bercampur sedih.
"Sudah jangan sedih lagi, kan kamu masih punya banyak perhiasan." bujuk Handoko.
"Jika perhiasan ku gunakan juga aku sudah tidak punya apa-apa lagi."
Sementara itu pak Djoyo yang baru saja mengambil minuman di dapur dan melewati kamar istrinya itu nampak berdehem saat mendengar pembicaraan wanita itu dengan lawan bicaranya hingga membuat nyonya Amanda segera mengakhiri panggilannya.
Setelah itu wanita itu segera beranjak dari duduknya kemudian berlalu keluar dan di lihatnya pintu ruang kerja suaminya baru saja di tutup.
"Aku tidak bisa membiarkan situasi seperti ini terus, aku harus segera melakukan sesuatu." gumamnya kemudian.
Wanita itu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri karena anak dan suaminya itu sama sekali tak mau berbicara padanya.
Kemudian ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Halo dek, kakak dalam masalah." ucapnya setelah panggilannya di jawab oleh adiknya di ujung telepon.
"Masalah apa sih kak, Ameera dan Awan lagi ?" tanya sang adik karena kakaknya itu setiap telepon selalu membicarakan anak dan menantunya.
"Masalah lain." sahut nyonya Amanda.
"Ya udah cerita kak ada masalah apa ?"
"Kakak ketahuan selingkuh." sahut nyonya Amanda yang langsung membuat adiknya itu terkejut.
"Kakak serius? memang kakak ipar kurang apa sih kak ?"
"Dia kurang perhatian sama kakak." sahut nyonya Amanda.
"Kakak ipar kan memang sibuk kak, itu juga demi kakak dan anak-anak. Harusnya kakak bersyukur semua kebutuhan kakak di penuhi dan kakak ipar juga tidak macam-macam di luaran."
"Iya kakak khilaf, kakak menyesal dan sekarang kakak seperti orang asing di sini. Anak dan suami kakak tidak mau bicara lagi sama kakak."
"Masih bersyukur kakak tidak di cerai, jadi apa yang ingin kakak lakukan sekarang ?"
"Bisakah Rafa tinggal di sini sementara waktu ?" mohon nyonya Amanda kemudian.
"Kenapa harus Rafa ?"
"Kamu tahu sendirikan jika suamiku sangat tidak suka jika orang lain mengetahui masalah keluarga kami, untuk itu jika Rafa tinggal di sini siapa tahu bisa mencairkan suasana ketegangan di antara kami." terang nyonya Amanda.
"Baiklah nanti ku tanya Rafa dulu."
Rafa adalah sepupu Awan anak dari adik nyonya Amanda, pemuda itu sedang menempuh pendidikan akhir semester di salah satu universitas di kota Awan.
Selama ini pemuda itu tinggal di kost dekat dengan kampusnya dan jarang sekali bermain ke rumah Awan dan selama ini mereka juga kurang dekat.
"Selamat malam dengan Agen travel Maju Bersama, bisa saya bantu ?" sahut seorang pria dari ujung telepon.
"Apa ini dengan Handoko ?" tanya pak Djoyo to the point.
"Ya saya sendiri ada yang bisa saya bantu, pak ?" sahut Handoko dengan ramah.
"Saya Djoyo Kusuma suami dari Amanda."
Deg!!
Pria di ujung telepon nampak tersentak saat mendengar ucapan sang penelepon.
"Ya ada apa ?"
"Saya minta tinggalkan istri saya dan jangan hubungi dia lagi, saya tahu selama ini kamu hanya menguras hartanya saja !!" perintah pak Djoyo kemudian.
"Saya tidak yakin istrimu mau meninggalkan ku." Handoko terdengar menantang.
"Baiklah, kalau begitu jangan menyesal jika melihat kantormu akan rata dengan tanah." tegas pak Djoyo lalu mematikan panggilannya, baginya sangat mudah menghancurkan seseorang apalagi hanya sekelas agen travel seperti Handoko.
Kemudian pria itu nampak menghempaskan punggungnya di sandaran kursinya, lalu memijit pelipisnya yang akhir-akhir ini sering sekali nyeri.
Beberapa hari kemudian....
Hari minggu seperti ini biasanya keluarga Awan akan berkumpul dan menghabiskan waktunya bersama di rumah, namun semenjak masalah perselingkuhan nyonya Amanda terkuak rumah itu terlihat sangat sepi.
Karena seluruh anggota keluarga lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar.
Begitu juga dengan nyonya Amanda, wanita itu lebih memilih tiduran di ranjangnya seraya memainkan ponselnya.
Biasanya wanita itu takkan betah tinggal di rumah dan memilih berkumpul dengan teman sosialitanya, namun apa daya uang pun sekarang tak punya.
"Bu, ada tamu di luar katanya keponakan ibu." ucap sang ART saat nyonya besarnya itu baru keluar dari kamarnya.
"Di mana sekarang ?" tanya sang nyonya.
"Masih di luar, bu."
"Kenapa tidak di suruh masuk ?" protes nyonya Amanda seraya melangkahkan kakinya keluar.
"Maaf bu saya tidak tahu."
"Awan juga kemana, saudara datang kok nggak di sambut ?" tanya sang nyonya saat melihat rumahnya nampak sepi.
"Mas Awan sama mbak Ameera sedang belanja bulanan, bu." sahut sang ART yang langsung membuat nyonya Amanda mendesah kesal.
Padahal itu dulu adalah tugas favoritnya karena setelah belanja pasti ada uang sisa dan sudah pasti akan masuk kantong pribadinya.
"Rafael !!" nyonya Amanda nampak senang saat melihat keponakannya itu sedang berdiri memunggunginya dengan tas ransel di punggungnya.
"Tante." pemuda bernama Rafael itu segera mencium punggung tangan tantenya itu dengan takzim.
"Bagaimana kabarnya tante? aku di suruh mama untuk tinggal di sini sementara waktu sambil mengerjakan tugas akhir semester." terang Rafael.
"Ya tante tahu, lama tak bertemu kamu cepat besar saja Raf dan tambah ganteng lagi." puji nyonya Amanda.
Rafael yang berusia 21 tahun itu memiliki wajah blesteran hanya saja kulitnya sawo matang.
"Assalamualaikum." sapa Ameera dan Awan saat baru datang, mereka nampak membawa beberapa barang belanja dari dalam mobilnya.
"Wa'alaikumsalam." sahut nyonya Amanda yang nampak tak suka melihat menantunya itu.
"Mas Awan bagaimana kabarnya ?" Rafael langsung menyapa Awan.
"Rafa kapan datang ?" Awan sedikit terkejut, pria itu memang kurang dekat dengan keluarga dari ibunya.
"Baru saja, mas. Oh ya mbak Ameera bagaimana kabarnya ?" Rafael beralih menatap Ameera.
"Baik, Raf." sahut Ameera seraya menyambut jabat tangan Rafa, namun hingga beberapa detik pemuda itu belum melepaskan tangan Ameera hingga membuat Awan berdehem dan membuat pemuda itu salah tingkah.
Kemudian mereka segera masuk ke dalam rumah tersebut, Rafa yang sedang duduk di sebelah tantenya itu nampak sesekali mencuri pandang ke arah Ameera dan sontak membuat Awan merasa kesal.
"Siapa yang datang ?" tanya pak Djoyo tiba-tiba yang langsung membuat semua orang di sana menatap ke arahnya.