Ameera

Ameera
Part~77



"Maaf bu, saya terlambat." Ameera merasa bersalah saat baru masuk dalam ruangannya tersebut, sudah hampir 30 menit ia terlambat dan itu semua gara-gara suaminya.


Sementara itu bu Dewi yang sedang duduk di pinggiran mejanya nampak menatapnya dengan garang dan bersiap memarahinya.


Sepertinya wanita itu akan membalas dendam atas perbuatan Ameera tadi pagi yang sudah berani menantangnya.


Namun saat ia akan membuka suaranya tiba-tiba Awan membuka pintu ruangannya dengan sedikit kasar hingga membuat semua karyawan di sana menoleh ke arahnya.


"Bu Dewi, istri saya terlambat karena saya. Tolong jangan di persulit." tegas Awan menatap wajah wanita bertubuh gempal itu.


Bu Dewi nampak menelan ludahnya, wajahnya yang tadinya garang langsung berubah manis di hadapan Awan.


"Saya mana berani mas, mas Awan tenang saja." sahut bu Dewi dengan mengulas senyumnya pada Awan dan itu membuat Ameera melebarkan matanya, namun setelah itu ia nampak menahan tawanya saat melihat bagaimana atasannya itu bersikap manis pada suaminya.


"Baiklah, terima kasih bu." sahut Awan.


"Mbak Dewi saja, mas." ralat bu Dewi dengan suara sedikit manja.


Awan tak menanggapinya, ia langsung mendekati sang istri.


"Sayang, aku kembali ke ruanganku ya. Jangan lelah-lelah." ucapnya lagi pada wanita itu, senyumnya yang lebar membuat wajahnya semakin tampan dan itu menjadi kekaguman tersendiri bagi para karyawan di sana terutama bu Dewi.


"Iya, mas." Ameera membalas senyumnya.


Setelah memastikan istrinya tak ada masalah, Awan segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Sementara itu bu Dewi nampak kembali ke mejanya dengan wajah di tekut karena gagal menghukum Ameera.


Malam harinya.....


Setelah pulang dari kantornya, Awan dan Ameera segera pergi ke rumah Omanya. Ameera yang sebelumnya belum pernah kesana nampak menghela napasnya berkali-kali.


Melihat perangai sang ibu mertua, ia khawatir jika Omanya maupun keluarganya yang lain juga sama seperti wanita itu.


"Jangan takut ada aku." Awan mengulas senyumnya seraya menggenggam tangan istrinya tersebut, kemudian mereka segera turun dari mobilnya.


Ameera nampak tercengang saat melihat kediaman Omanya, sebuah rumah dua lantai bergaya Eropa itu terlihat mewah dari depan.


"Akhirnya kalian datang juga." teriak sang Oma dari tempat duduknya saat Awan dan Ameera datang.


Nampak dua wanita berbeda generasi juga ikut menyambutnya, seorang wanita paru baya yang bernama tante Alice yaitu sepupu dari nyonya Amanda beserta putrinya yang bernama Bela.


"Tambah tampan saja kamu Wan." timpal tante Alice saat Awan dan Ameera baru masuk.


"Bisa aja tante." Awan terkekeh menanggapi pujian saudara sepupu ibunya tersebut.


"Oh ya ini Bela anak tante, waktu masih kecil pernah tante ajak kesini. Kamu masih ingat nggak ?" tiba-tiba tante Alice memperkenalkan seorang gadis cantik yang sedari tadi nampak menatap Awan dengan kagum.


"Lupa tante." sahut Awan jujur.


"Dia....." Tante Alice menunjuk Ameera yang berdiri di samping Awan.


"Dia Ameera, istriku tante." Awan memperkenalkan sang istri, namun itu justru membuat tante Alice langsung menyurutkan senyumnya.


"Oh." ucapnya datar, lalu melihat Ameera dari ujung kaki hingga kepala dan itu membuat Ameera merasa risih.


Beruntung suaminya segera membawanya menemui sang nenek, namun saat melihat Omanya Ameera nampak tertegun karena wanita yang sudah tak muda lagi itu terlihat sedang menghisap sebatang rokok lalu sesekali menengguk minuman yang entah jenis minuman apa.


"Kangen Oma." ucap Awan seraya mengecup pipi kanan dan kirinya nenek dari ibunya tersebut.


"Dasar anak nakal, kamu tidak pernah ke rumah kalau Oma tidak membuat acara seperti ini." tegur sang Oma seraya memukul cucunya tersebut.


"Oma juga nakal sudah tua pun masih saja merokok sama minum." Awan balik menegur.


"Oma belum tua." sewot wanita berparas bule tersebut yang langsung membuat Awan tergelak.


"Oma bagaimana kabarnya ?" Ameera yang sedari tadi berdiri menyaksikan suaminya menggoda sang Oma nampak mengulurkan tangannya.


Oma menatap Ameera sejenak kemudian membalas jabat tangan menantunya tersebut.


Awan membawa Ameera duduk di sampingnya, sementara di seberangnya ada neneknya, kedua orangtuanya, tante Alice beserta putrinya dan beberapa kerabat lainnya.


Mereka berbicara dengan berbagai topik dan sesekali tertawa bersama, sementara Ameera yang tak di ajak bicara nampak diam membisu.


Ia merasa seperti tak di anggap oleh keluarga mertuanya tersebut, karena semua perhatikan mereka tertuju pada gadis cantik yang bernama Bela itu.


Dan itu membuat Ameera benar-benar merasa tak di hargai, seandainya tahu akan di perlakuan seperti ini mungkin tadi pagi ia tidak akan membujuk sang suami untuk datang ke rumah Omanya tersebut.


Namun genggaman tangan sang suami yang begitu erat membuatnya merasa sedikit tenang, paling tidak pria itu akan selalu melindunginya.


"Kalian dari tadi diam-diam saja, lebih baik pergi makan !!" perintah Oma setelah menatap Awan dan Ameera.


Awan mengangguk. "Iya, Oma." sahutnya lalu mengajak Ameera beranjak dari duduknya.


Melihat sikap mereka seperti itu yang membuat Awan malas datang ke rumah Omanya, karena pada akhirnya istrinya yang akan merasa berkecil hati dengan perlakuan mereka.


"Mas Awan tunggu, Bela juga mau makan !!" melihat Awan beranjak Bela langsung mengikutinya.


"Mas Awan mau makan apa ?" tanyanya kemudian seraya mengambil piring lalu memberikannya pada pria itu.


"Aku mau ke toilet dulu Bel." tolak Awan yang langsung membuat gadis itu cemburut.


"Sayang aku kebelet, kamu tunggu di sini sebentar ya." imbuhnya lagi pada sang istri.


Ameera nampak keberatan di tinggal berdua dengan Bela namun saat melihat sang suami menahan buang air kecil ia langsung menganggukkan kepalanya.


"Jangan lama-lama ya, mas." mohonnya dengan wajah memelas.


"Iya sayang." Awan tersenyum kecil, kemudian ia bergegas pergi.


Sementara Bela yang menyaksikan kemesraan suami istri itu nampak semakin cemburut, kemudian ia menghentakkan kakinya meninggalkan Ameera yang berada di meja makan.


"Mommy, kenapa mas Awan menikah dengan wanita itu bukannya dia di jodohkan sama aku." rengek Bela saat menyusul sang ibu yang baru masuk kamarnya.


"Ya mau bagaimana lagi nak, Awan maunya sama dia." sahut tante Alice.


Pintu kamarnya yang terbuka lebar membuat pembicaraan mereka sampai di telinga Ameera.


Sementara Ameera yang berada di meja makan nampak menghela napasnya berkali-kali, pantas saja ibu dan anak tersebut dari tadi sewot padanya ternyata Bela adalah gadis yang akan di jodohkan dengan suaminya waktu itu.


Tak berapa lama, Bela keluar dari kamarnya lalu melangkah ke arah Ameera yang sedang menyiapkan makanan untuk sang suami yang masih berada di toilet.


Tanpa bertegur sapa dengan Ameera, Bela langsung mengambil piring dengan kasar lalu meletakkan beberapa makanan disana.


Sesekali gadis itu nampak memandang Ameera dan melemparkan senyuman mengejek.


Setelah itu ia langsung melemparkan sendok sayur ke atas daging rendang hingga kuah daging tersebut mengenai pakaian Ameera.


"Astagfirullah." Ameera terkejut lalu melihat pakaiannya yang nampak terkena noda bumbu.


"Halah pakaian murahan saja." ejek Bela tanpa perasaan bersalah.


Ameera yang sibuk membersihkan pakaiannya nampak tak menghiraukan ucapan gadis itu.


"Susah ya jadi orang miskin, pakaian jelek saja di sayang-sayang. Kalau aku pasti sudah ku buat lap." gerutu Bela seraya melirik Ameera.


"Mas Awan sepertinya katarak karena sudah mengabaikan aku yang sempurna ini atau jangan-jangan dia terkena pelet ya." sindirnya.


Ameera yang enggan menanggapinya langsung beranjak pergi kearah pintu belakang yang terbuka.


Terlihat sebuah taman yang lumayan luas, lalu ia segera menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi.


Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu mulai terisak, ia bisa bersaing dalam hal apapun kecuali harta.


Karena yang ia punya hanya cinta dan kesetiaan bukan harta melimpah yang selalu di bangga-banggakan oleh keluarga suaminya tersebut.