Ameera

Ameera
Part~98



"Han-Handoko hanya teman mama, pa." kilah nyonya Amanda saat suaminya bertanya perihal teman prianya itu.


"Hanya teman ?" sinis pak Djoyo dengan nada menghakimi.


"Iya pa, hanya teman." nyonya Amanda meyakinkan dengan memegang lengan suaminya itu namun pria itu langsung menghindar.


"Teman tidur maksudmu ?" hardik pak Djoyo dengan tersenyum getir, harga dirinya sebagai pria benar-benar di injak-injak oleh wanita itu.


Deg !!


Nyonya Amanda tidak menyangka suaminya itu berkata sejauh itu, meski bukti chat di ponselnya mengarah kesana.


"Beneran pa, dia hanya temanku." kilah nyonya Amanda lagi.


"Katakan yang sebenarnya !!" desak pak Djoyo dengan tak sabar.


"Beneran pa." wanita itu keukeh dengan kebohongannya.


"Katakan !!" hardik pak Djoyo dengan lantang hingga membuat istrinya itu terlonjak kaget, karena baru kali ini suaminya itu membentaknya.


Begitu juga dengan Awan yang mendengar teriakan sang ayah langsung keluar dari kamarnya.


"Sayang, apa yang terjadi ?" tanya Awan saat melihat istrinya itu berdiri di tangga depan kamarnya.


"Siapa yang berteriak ?" imbuhnya lagi.


"Papa, mas." sahut Ameera yang langsung membuat Awan mendekat lalu melihat kedua orang tuanya itu yang nampak berdebat di lantai bawah.


"Mereka kenapa ?" tanya Awan tak mengerti.


"Mas sebenarnya...." lidah Ameera terasa keluh untuk mengatakan pada suaminya itu.


"Katakan sayang, mereka kenapa ?" Awan mulai tak sabar.


"Mama mas, Mama menghianati papa." terang Ameera yang sontak membuat Awan melotot tak percaya.


"Itu tidak mungkin." Awan menggeleng cepat.


"Aku tidak bohong mas, itu yang buat aku akhir-akhir ini sering melamun. Aku sering lihat Mama berbicara mesra dengan lawan bicaranya di telepon." terang Ameera lagi.


"Kenapa kamu nggak bilang padaku, sayang ?" Awan terlihat kesal bercampur gemas menghadapi istrinya itu.


"Aku tidak punya bukti mas, aku hanya mendengar saja dan itu yang buat aku takut mengadu. Aku hanya berharap agar Mama cepat menyadari kesalahannya." sahut Ameera menjelaskan.


"Mama benar-benar keterlaluan." Awan bergegas menuruni anak tangga lalu mendatangi kedua orangtuanya itu.


"Mama benar-benar tidak bohong, pa." nyonya Amanda masih saja berkilah jika dirinya tidak menjalin hubungan dengan pria yang bernama Handoko tersebut.


"Isi chatmu sudah menjawab semua." pak Djoyo nampak menahan emosinya agar tidak memukul wanita itu.


"Itu hanya becanda, pa." bujuk wanita paruh baya itu.


"Jangan bohong, ma." teriak Awan tiba-tiba yang langsung membuat Ayah dan ibunya itu menoleh ke arahnya.


"Awan." lirih nyonya Amanda.


"Katakan dengan jujur ma, mama benar-benar selingkuh kan ?" hardik Awan dengan emosi.


"Itu tidak benar, nak." kilah nyonya Amanda lagi.


"Tapi aku mempunyai saksi, ma." tegas Awan yang sontak membuat ayah dan ibunya itu melebarkan matanya.


"Katakan Wan, siapa saksi itu ?" pak Djoyo nampak memicing.


"Istriku pa, Ameera sering mendengar Mama menghubungi pria selingkuhannya itu dengan mesra." sahut Awan.


"Benar itu, Nak ?" pak Djoyo bertanya pada Ameera.


Ameera hanya bisa mengangguk pasrah karena berbohong pun tak ada gunanya karena ayah mertuanya itu sudah mengetahui segalanya.


"Istri tidak tahu diri !!" hardik pak Djoyo menatap tajam istrinya itu.


"Ampun pa, Mama khilaf." nyonya Amanda langsung berhambur ke pelukan suaminya namun pria itu langsung menghindar hingga membuat wanita itu jatuh ke lantai.


Tak ingin menyerah nyonya Amanda nampak memegang kaki suaminya itu, memohon ampun atas kesalahannya.


"Tolong ampuni Mama, pa. Mama janji akan jadi istri penurut sesuai keinginan papa, mama akan di rumah saja dan tidak traveling lagi." mohon wanita itu lagi.


Namun pak Djoyo yang sudah terlanjur sakit hati nampak enggan menatap wanita yang sudah 24 tahun menemani hari-harinya itu.


"Menjauhlah, aku tak sudi kau sentuh lagi !!" perintah pak Djoyo dengan murka lalu mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi.


"Pa, ku mohon jangan pergi. Maafkan mama, pa." nyonya Amanda mengejar suaminya itu namun pak Djoyo langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan rumahnya tersebut.


"Papa." wanita itu nampak menangis menyesali perbuatannya.


"Nak, tolong maafkan mama. Mama khilaf." mohonnya saat melihat Awan mendekatinya.


"Jangan sentuh aku, ma. Mama sangat keterlaluan, kurang apa papa selama ini sama mama ?" teriak Awan namun Ameera langsung menenangkan, bagaimana pun juga suaminya itu tak harus membentak sang ibu.


"Maafkan mama." nyonya Amanda nampak mengiba namun Awan yang sudah jengah dengan kelakuan ibunya langsung membawa istrinya itu keluar dari rumahnya.


"Mas, mau kemana ?" Ameera menahan tangan suaminya saat pria itu menarik tangannya menjauh.


"Kita jalan-jalan keluar sambil cari papa." ajak Awan, pria itu nampak menghidupkan motor sportnya lalu mengajak istrinya itu keluar.


Baru kali ini ayahnya sangat emosional dan Awan khawatir jika terjadi apa-apa dengan ayahnya itu.


"Kita akan cari papa kemana lagi, mas ?" tanya Ameera setelah hampir satu jam mereka berkeliling kota.


"Entahlah." Awan yang sedang mengendarai motor sportnya itu nampak menggenggam tangan sang istri dengan sebelah tangannya lalu tangan satunya memegang stang motor.


"Kamu kedinginan ya ?" tanya Awan saat baru menyadari jika istrinya itu tak mengenakan jaket.


"Nggak apa-apa mas, peluk kamu juga hangat." Ameera menyandarkan kepalanya di punggung suaminya itu dan kedua tangannya memeluk pria itu.


"Tolong jangan seperti mama." lirih Awan saat motor mereka berhenti di pinggir jalan.


"Itu tidak akan terjadi mas, aku bukan tipe orang yang suka bergaul dengan banyak orang. Sejak menikah duniaku cuma ada kamu." sahut Ameera yang langsung membuat Awan nampak terkekeh.


"Begitu lebih baik." tandasnya seraya mengeratkan genggamannya pada tangan istrinya itu lalu sesekali menciumnya.


Awan sosok pria yang menyukai wanita penurut dan selalu tergantung padanya.


Pria itu merasa bangga jika bisa selalu melindungi dan membantu istrinya itu.


Beberapa hari kemudian.....


Sejak kejadian malam itu pak Djoyo belum juga kembali ke rumahnya, pria itu menghilang seperti di telan bumi dan nyonya Amanda yang selalu menunggu kepulangan suaminya itu nampak sangat menyesali perbuatannya.


Perkenalannya dengan Handoko beberapa bulan lalu membuat wanita itu sejenak melupakan statusnya sebagai istri orang.


Handoko yang notabennya pemilik agen travel yang sering wanita itu gunakan jasanya untuk traveling bersama teman-temannya ternyata mampu mengusik hatinya yang mulai jenuh dengan hubungan pernikahannya.


Pak Djoyo yang selalu sibuk dari pagi hingga malam membuat nyonya Amanda merasa kesepian dan perkenalannya dengan Handoko sedikit menghangatkan hatinya.


Semula yang hanya berteman biasa, lama-lama saling tertarik dengan seringnya berkirim pesan.


Menyadari perbuatannya salah, bukannya membuat nyonya Amanda berhenti namun semakin terjerumus dalam lubang dosa.


Pesona Handoko serta rayuan maut pria itu yang tak wanita itu dapatkan dari sang suami membuatnya tak berdaya dan berakhir di ranjang panas bersama pria itu.


Sekali, dua kali melakukannya membuat mereka ketagihan dan terus melakukan hingga melupakan jika mereka sudah mempunyai pasangan masing-masing.


Satu minggu pun berlalu dan pak Djoyo belum juga kembali ke rumahnya.


Nyonya Amanda tahu jika suaminya itu sedang menenangkan dirinya di suatu tempat, namun ia takut akan keputusan yang di ambil oleh pria itu setelahnya.


"Tidak, aku tidak mau di ceraikan." pekiknya dalam hati, meski suaminya itu kurang memperhatikannya tapi pria itu mampu memberikan apapun yang ia inginkan.