Ameera

Ameera
Part~130



"Mas, aku senang deh karena pak Dimas dan pak Pras masih mengingatku serta beberapa karyawan lain juga. Ini seperti reuni aku benar-benar rindu bekerja." ucap Ameera malam itu saat dalam perjalanan pulang yang langsung membuat Awan mengerem mendadak hingga membuat tubuh Ameera terhuyung ke depan.


"Astagfirullah mas, hati-hati dong." tegurnya kemudian.


"Jadi kamu senang bertemu mereka ?" ucap Awan dengan nada mulai dingin.


"Tentu saja mas, mereka itu sangat menyenangkan dan selalu sukses membuatku tertawa." sahut Ameera dengan polosnya tanpa ia tahu kepala suaminya itu sudah mulai mendidih karena cemburu.


"Jadi aku tidak menyenangkan ?" sindir Awan kemudian.


"Kamu juga sangat menyenangkan." timpal Ameera, bibirnya terus mengulas senyum seakan menggambarkan kebahagiaannya saat ini.


Apalagi ia yakin wanita penggoda itu takkan berani mengganggu suaminya lagi, akibat ancamannya tadi.


Sedangkan Awan yang sedang marah pun tak tega jika harus merusak kebahagiaan istrinya itu, toh berapa pun banyak pria yang mengejar wanita itu tetap dirinya sebagai pemenangnya.


Sesampainya di rumah Awan langsung membuka lemari pakaian sang istri dan mengeluarkan semua pakaian seksi wanita itu dari sana.


"Mas semua bajuku mau di bawa kemana ?" Ameera langsung melotot saat beberapa pakaiannya di masukkan ke dalam kantung belanjaan.


"Di buang, nanti ku belikan lagi yang baru yang lebih sopan tentunya. Aku tidak ingin kamu memakai pakaian seksi seperti ini lagi terutama di depan teman-temanku." tegas Awan tak menghiraukan wajah istrinya yang hampir menangis.


"Tapi itu tidak terlalu seksi mas." mohon Ameera.


"Besok kita beli yang baru ya." Awan mengusap puncak kepala istrinya itu dengan sayang, kemudian segera berlalu dengan membawa satu kantung penuh pakaian wanita itu.


"Ganti bajumu sayang, sekalian ku bawa." teriak Awan lagi saat berhenti di ambang pintu.


Ameera hanya bisa pasrah, kemudian ia segera berganti pakaian dan mengikhlaskan baju-baju kesayangannya tersebut di bawa oleh suaminya.


...----------------...


Hari berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, tak terasa kini pernikahan keduanya telah memasuki angka ke tujuh. Kehidupan ekonomi mereka pun semakin membaik dan setiap hari selalu di lalui dengan penuh kebahagiaan meski belum adanya buah hati di tengah-tengah mereka.


Mereka selalu belajar dari pengalaman hingga membuat keduanya menjadi semakin dewasa.


"Mas, kapan kita akan cek ke dokter ?" ajak Ameera malam itu, sungguh ia sudah mulai merindukan sosok bayi mungil di tengah-tengah mereka dan suaminya selalu beralasan jika mereka sehat-sehat saja.


"Kita sudah sering cek dan dokter mengatakan kamu sangat sehatkan sayang ?" timpal Awan seraya memainkan ponselnya.


"Iya mas, tapi aku maunya kamu juga di cek secara menyeluruh." tukas Ameera yang langsung membuat suaminya itu menatapnya.


"Jadi kamu menuduhku yang tidak sehat ?" tudingnya kemudian.


"Aku tidak menuduh mas, tapikan kata dokter selama ini sel telurku seperti tak pernah tersentuh oleh sp3rm4mu. Jadi kenapa kita tak mencari penyebabnya saja ?" terang Ameera.


"Ck, kamu sama saja mengatakan aku lemah sayang, bahkan aku bisa membuatmu tak tidur semalaman." cibir Awan dengan nada kesal.


Inilah yang membuat Ameera enggan membahas perihal anak, karena setiap membicarakannya suaminya itu selalu tersinggung dan pasti akan berakhir dengan pertengkaran kecil.


Namun omongan orang-orang di sekitarnya, terutama sang ibu mertua membuat telinganya panas juga. Ia tahu anak adalah titipan dari Tuhan, namun apa salahnya jika sebagai manusia ia juga berusaha untuk mendapatkannya dengan jalan medis.


"Kita akan tetap bahagia meski tak ada anak sayang, percayalah padaku. Kamu harus bahagia dan jangan banyak pikiran agar kandunganmu semakin sehat, bagaimana kalau akhir pekan nanti kita liburan ?" bujuk Awan kemudian saat melihat istrinya itu mulai merajuk.


"Kalau gitu tersenyum dong ?" goda Awan seraya menoel dagu istrinya itu dengan gemas.


"Mas, selalu saja begitu." Ameera langsung memukul lengannya, karena pria itu selalu berhasil membuatnya tersenyum setelah mereka bertengkar.


Sesungguhnya Ameera sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini, namun jika ia belum hamil tetap saja ia belum merasa sempurna.


Karena kesempurnaan seorang wanita itu jika ia sudah melahirkan seorang anak dan ia belum mengalami hal itu.


"Wan, apa kamu sudah membawa istrimu periksa lagi ke dokter? sudah tujuh tahun menikah tapi belum juga hamil." ucap nyonya Amanda sore itu saat putranya mampir ke rumahnya selepas pulang kantor.


"Ada atau tidaknya anak kami sudah sangat bahagia, Ma." timpal Awan lalu menyesap kopi buatan ibunya tersebut.


"Lihatlah teman-temanmu semua sudah punya dua bahkan tiga anak sedangkan kamu satupun belum." ucap sang ibu yang langsung membuat Awan nampak terdiam, jauh dalam lubuk hatinya ia juga menginginkan seorang anak. Namun mau bagaimana lagi Tuhan belum memberikannya kepercayaan.


"Jangan-jangan istrimu yang mandul." imbuh nyonya Amanda saat putranya itu tak menanggapi.


"Mama apaan sih, istriku sangat sehat Ma." sangkal Awan, karena berdasarkan pemeriksaan dokter istrinya memang sangat sehat dan subur.


"Terus kamu yang tidak sehat? ingat Wan di keluarga kita tidak ada keturunan mandul, jadi Mama yakin kamu juga sangat sehat." timpal Nyonya Amanda tak mau kalah.


Awan nampak menghela napas panjangnya, tidak di rumah atau di tempat ibunya selalu saja anak yang di bahas hingga membuatnya merasa pusing sendiri.


Ia tidak mungkin tak sehat, ia merasa sangat kuat berhubungan dan hasratnya tak pernah berkurang sedikit pun pada sang istri meski kini usianya telah menginjak kepala tiga.


"Coba kamu dulu menikah dengan wanita pilihan Mama pasti sekarang kamu sudah mempunyai beberapa anak." ucap nyonya Amanda lagi yang semakin membuat telinga Awan memanas, kemudian ia memutuskan untuk beranjak dari duduknya.


"Mau kemana Wan ?" kali ini pak Djoyo yang bertanya setelah dari tadi hanya menjadi pendengar.


"Pulang." sahut Awan.


Setelah berpamitan pria itu segera melajukan mobilnya membelah jalanan malam itu, bukan rumah tujuannya namun tempat karaoke langganannya.


Akhir-akhir ini pria itu memang lebih sering menghabiskan waktunya di tempat karaoke untuk melepaskan kepenatannya, entah itu sendirian atau bersama teman-teman kantornya.


"Mau saya temani, pak ?" tawar seorang Lady companion atau biasa di panggil mbak LC ketika Awan baru memesan ruangan.


"Tidak, terima kasih." sahut Awan lalu segera berlalu dari sana, meski sering ke tempat ini tapi Awan masih cukup waras untuk tak tergoda dengan mereka yang notabennya cantik, seksi dan masih sangat muda.


Akhirnya malam itu Awan menghabiskan waktunya bersenandung seorang diri dengan di temani minuman beralkohol yang akhir-akhir ini kembali ia cicipi meski tak banyak.


Tekanan pekerjaan yang sedikit berat dan desakan ibunya untuk segera mempunyai seorang anak membuatnya sedikit stres.


"Pak, apa ingin menambah minuman lagi ?" tawar seorang LC yang baru saja masuk ke dalam ruangan Awan, wanita muda dengan pakaian seksi itu nampak tersenyum menggoda saat menatapnya.


Sementara itu Ameera yang sedang menunggu suaminya pulang nampak gelisah, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi pria itu tak kunjung pulang.


Akhir-akhir ini suaminya itu memang sering pulang telat karena harus lembur atau sekedar nongkrong bareng teman kantornya, ia sedikit pun tak mempermasalahkannya asal jangan tidak pulang di atas jam 8 malam.


"Kamu di mana sih, mas ?"