Ameera

Ameera
Silsilah keluarga Awan



💥Kita hanyalah tanah yang di beri nyawa, jadi jangan bersikap seperti langit yang jauh tinggi diatas sana💥


Wanita yang mengaku sebagai tantenya Awan itu nampak membawa Ameera ke sebuah paviliun yang ada di belakang rumah tersebut.


"Ada apa ya tante ?" Ameera nampak penasaran.


"Panggil saja tante Ratna, ayo duduklah kita ngobrol-ngobrol !!" perintah wanita itu.


Ameera segera mendudukkan dirinya, ada perasaan tidak nyaman saat melihat tatapannya yang datar.


Namun belum sempat wanita itu berbicara tiba-tiba ponselnya berdering.


"Tante sebentar ya, ada mas Awan telepon." Ameera menunjukkan layar ponselnya pada wanita yang duduk di depannya tersebut.


"Iya, mas." jawabnya kemudian.


"Lagi di mana, sayang ?" tanya Awan dari ujung telepon.


"Di rumah belakang mas, lagi dudukan sama tante Ratna." sahut Ameera.


"Masuk kamar sayang, aku kangen." perintah Awan.


"Nggak bisa mas, ada tante Ratna di sini." tolak Ameera.


"Coba kasih tante Ratna, aku mau bicara sebentar." perintah Awan kemudian.


Lalu Ameera segera memberikan ponselnya pada tantenya tersebut, kemudian mereka nampak berbincang sebentar.


Entah apa yang mereka bicarakan, namun setelah itu wanita tersebut beranjak dari duduknya.


"Sepertinya lain kali saja kita ngobrolnya." ucapnya sembari mengembalikan ponselnya.


"Oh ya besok malam akan ada acara keluarga, kamu jangan pulang dulu ya. Biar kenal sama keluarga besar kami." imbuhnya lagi.


"Baik, tante. Terima kasih." sahut Ameera.


"Baiklah saya pulang dulu." tukas wanita itu, kemudian berlalu pergi.


Ameera yang tadinya sudah gugup nampak bernapas lega karena apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.


"Sayang, kamu masih di situ." teriak Awan dari ujung telepon.


"Iya mas." sahut Ameera sembari masuk kembali ke dalam rumah tersebut.


Keesokan harinya....


"Awan semalam telepon kamu ?" tanya nyonya Amanda pada Ameera pagi itu saat gadis itu membantunya menyiapkan sarapan di dapur.


"Iya tante." sahut Ameera.


"Nanti malam ada acara keluarga, kamu ikut ya." tukas nyonya Amanda sembari memotong sayuran, meski penampilannya bak sosialita tapi wanita paruh baya itu sangat cekatan di dapur.


"Iya tante." sahut Ameera.


"Tolong ambilkan jahe di tempat bumbu." perintah nyonya Amanda kemudian.


Ameera segera mengambil tempat bumbu, tapi ia yang sedari kecil tidak pernah memasak sama sekali tak mengerti.


Kini ia jadi merutuki dirinya sendiri kenapa dulu tidak pernah membantu ibunya di dapur.


"Bawa sini jahenya, Meer." perintah nyonya Amanda saat Ameera tak kunjung mengambilnya.


"Tante maaf, saya tidak tahu mana yang namanya jahe." Ameera nampak m3r3m4s tangannya karena gugup.


"Jadi kamu tidak tahu ?" nyonya Amanda memastikan yang langsung di anggukin oleh Ameera.


"Jangan-jangan kamu juga tidak tahu yang mana namanya bawang ?" nyonya Amanda nampak tak percaya.


Ameera yang memang tak mengerti hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan perasaan bersalah.


"Kamu kan tinggal di kampung, masa segala urusan dapur saja tidak mengerti." keluh nyonya Amanda bernada cibiran.


"Maaf tante, saya akan belajar." Ameera semakin merasa bersalah.


"Memang ibumu tidak pernah mengajari kamu masak ?" telisik nyonya Amanda.


Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya, meski ia hidup di kampung tapi kedua orang tuanya sangat memanjakannya.


Kemudian nyonya Amanda menghela napas panjangnya. "Sebagai wanita itu harus pintar memasak, pintar membuat perut suaminya kenyang." ucapnya menasihati.


"Iya tante, saya akan belajar." tukas Ameera.


"Ya harus itu." tegas nyonya Amanda dan itu membuat Ameera semakin bertekad untuk belajar memasak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya Ameera nampak mematut dirinya di depan kaca, malam ini ia akan pergi bertemu dengan keluarga besar kekasihnya tersebut.


Ia berharap semua akan berjalan dengan lancar dan dirinya di terima dengan baik.


"Ayo, masuk." ajak nyonya Amanda saat melihat Ameera hanya mematung di depan sebuah rumah yang tak kalah mewah dengan miliknya.


Sesampainya di dalam Ameera nampak tercengang karena sudah banyak sekali tamu berkumpul di sana.


Dan kehadirannya sebagai orang asing langsung menjadi pusat perhatian mereka.


"Jadi ini pacarnya Awan, cantik sekali ?" timpal seorang wanita mendekati nyonya Amanda dan Ameera.


"Saya Ameera, tante." Ameera langsung mengulurkan tangannya.


"Saya Ratih, adiknya papanya Awan." sahut wanita tersebut dengan ramah.


"Akhirnya kamu datang juga." tiba-tiba seorang wanita yang semalem mengaku sebagai adiknya ayahnya Awan datang menghampiri Ameera.


Wanita itu nampak elegan dengan pakaian serta perhiasan yang melekat di tubuhnya dan senyumnya mengembang menatap Ameera.


"Ayo kenalan sama semuanya." ajaknya kemudian memperkenalkan pada keluarga besarnya, baik itu paman bibinya atau sepupu-sepupunya.


Ameera menghela napasnya untuk mengurai kegugupannya, ia melihat yang hadir di sana semua berpakaian mewah dengan barang-barang branded tentunya dan itu membuatnya merasa semakin ciut.


Namun bagaimana pun juga ia harus menghadapinya dan ia akan menjadi dirinya sendiri, tanpa harus berpura-pura kaya untuk menarik simpati mereka.


Setelah berkenalan, Ameera ikut berbaur dengan mereka. Ia hanya menjawab jika mereka bertanya dan selanjutnya ia hanya menjadi pendengar karena yang mereka bicarakan tak jauh dari harta yang mereka miliki.


"Meer, kamu tidak makan ?" tanya nyonya Ratna saat Ameera hanya berdiam diri.


"Nanti saja tante, masih kenyang." sahut Ameera dengan mengulas senyumnya.


"Yaudah yuk, ikut tante sebentar." ajak nyonya Ratna kemudian.


"Iya, tante." tanpa berpikir panjang Ameera langsung beranjak dari duduknya, lebih baik ia segera meninggalkan tempat itu.


"Mama sama papanya mas Awan kemana ya tante ?" Ameera tiba-tiba resah saat tak melihat keberadaan calon mertuanya tersebut.


Sejak datang, mereka menyuruhnya untuk berbaur dengan keluarga besarnya dan setelah itu Ameera tak lagi melihatnya.


"Ada." sahut nyonya Ratna tanpa menjelaskan, lalu ia membawa Ameera ke sebuah ruang keluarga yang nampak sepi.


"Ayo duduklah." perintahnya seraya mendudukkan dirinya di sofa.


"Sudah lama pacaran sama Awan ?" ucapnya membuka pembicaraan.


"Baru 3 bulan, tante." sahut Ameera.


"Teman satu kantor ?" tanyanya lagi.


"Benar tante, saya satu divisi dengan mas Awan." sahut Awan lagi.


"Bawahannya Awankan ?" tanyanya memperjelas yang langsung di anggukin oleh Ameera, posisi mereka dulu memang sama tapi tak lama kemudian Awan di angkat menjadi kepala bagian di divisinya.


"Kamu sudah yakin ingin menikah dengan Awan ?" tanya nyonya Ratna kemudian.


"Iya, tante." sahut Ameera.


"Rumah tangga itu tidak semudah membalikkan telapak tangan loh, hubungan memang membutuhkan cinta tapi untuk merawatnya juga membutuhkan materi."


Deg!!


Ameera nampak tercengang dengan perkataan wanita itu, perasaannya sudah mulai tak enak tapi ia tetap diam mendengarkan.


"Ayah kamu kerja apa ?" tanya nyonya Ratna kemudian.


"Hanya karyawan biasa di perusahaan, tante." sahut Ameera.


"Kalau gajimu berapa ?" tanyanya lagi yang membuat Ameera makin tercengang.


"Upah minimum kota, tante." sahutnya kemudian.


"Kamu yakin gajimu dengan Awan cukup untuk berumah tangga ?" tanya wanita itu hingga membuat Ameera merasa tercekat.


Bukannya sudah menjadi kewajiban seorang laki-laki untuk menghidupi istrinya, sungguh Ameera makin tidak mengerti.


"Kamu lihatkan beberapa perempuan diluar tadi? mereka adalah menantu keluarga kami, mereka berasal dari keluarga terpandang di kota ini dan saya yakin calon mertuamu juga pasti menginginkan putra satu-satunya itu mendapatkan pasangan yang setara." ujar nyonya Ratna yang langsung membuat Ameera seperti tertampar hingga menyadarkannya jika dirinya hanya seonggok batu yang tidak pantas bersanding dengan berlian.


"Pikirkan sekali lagi, masuk di keluarga besar kami itu tidak mudah apalagi dari silsilah biasa seperti kamu. Kami sebagai keluarga yang mempunyai garis keturunan darah bangsawan di tuntut untuk mencari pasangan yang setara." imbuh nyonya Ratna lagi.


Ameera masih terdiam, sungguh ia ingin menangis saat ini.


"Maaf, tante hanya mengingatkan. Agar kamu tidak kecewa nantinya. Karena jika kamu tetap memaksa, itu hanya akan membuat orang tuanya Awan susah." ujar nyonya Ratna dengan wajah iba, namun peraturan tetaplah peraturan yang harus di patuhi.


Ameera menghela napasnya pelan, kemudian ia membuka suaranya yang sedari tadi tercekat.


"Saya mengerti kok, tante." ucapnya kemudian seraya menatap wanita cantik di depannya itu.


"Baiklah, terima kasih untuk pengertiannya." nyonya Ratna nampak mengulas senyumnya.


"Ya sudah ayo makan, kamu belum makankan ?" ajaknya kemudian, namun Ameera langsung menggelengkan kepalanya.


"Saya masih kenyang tante, sepertinya saya pulang saja." Ameera nampak memaksakan senyumnya meski hatinya sudah remuk redam, setelah itu ia segera meninggalkan rumah tersebut.


Sesampainya di kediaman Awan, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan.