Ameera

Ameera
Part~73



"Pagi ma, pa." sapa Awan saat baru menuruni anak tangga bersama Ameera.


"Pagi..." nyonya Amanda langsung tercengang saat melihat anak menantunya itu berpenampilan modis ala kantoran.


"Dia mau kemana ?" tanyanya menunjuk kearah Ameera.


Awan tersenyum kecil kemudian ia membuka suaranya. "Mulai hari ini istriku akan kerja, ma." sahutnya yang langsung membuat sang ibu melebarkan matanya.


"Di kantor kamu ?" tanyanya memastikan.


"Iya, ma." angguk Awan.


"Memang dia bisa kerja ?" tanya nyonya Amanda lagi.


"Apa Mama lupa sebelum menikah denganku, Ameera adalah salah satu karyawan kepercayaan di kantor cabang." Awan mengingatkan.


"Kantor cabang kan berbeda dengan kantor pusat, di pusat semua karyawan berpendidikan tinggi." sahut nyonya Amanda yang seakan mengejek pendidikan Ameera yang tak setinggi putranya.


"Nggak juga ma." sanggah Awan.


"Saya akan berusaha, ma." Ameera meyakinkan, ia sama sekali tak terusik oleh kata-kata nyinyir ibu mertuanya tersebut.


"Ya sudah sayang, ayo. Kita sarapan di kantor saja." ajak Awan sebelum ibunya itu melemparkan kata-kata kurang menyenangkan lagi.


Sesampainya di kantornya Ameera segera di bawa suaminya ke ruangan HRD untuk melakukan sedikit interview, setelah itu ia mengantarnya ke ruangannya.


"Pagi semua, perkenalkan ini Ameera istri saya. Mulai hari ini dia akan bergabung di departemen kita, mohon bimbingannya jika istri saya kurang mengerti dalam pekerjaan." ucap Awan memperkenalkan istrinya pada para karyawannya.


"Baik, pak." sahut beberapa karyawan di sana.


"Sayang, ini bu Dewi yang menjadi kepala ruangan disini. Bu Dewi akan membantumu jika mengalami kesulitan." Awan memperkenalkan Ameera pada seorang wanita dewasa bertubuh gempal yang bernama Dewi itu.


"Ameera." Ameera mengulurkan tangannya menatap wanita yang akan menjadi atasannya di ruangannya tersebut.


"Selamat datang, semoga betah dan bisa bekerja sama." Bu Dewi balas menjabat tangannya, ucapannya tegas, sorot matanya nampak tak ramah dan senyumnya sangat irit.


"Baiklah sayang, aku kembali ke ruanganku ya." ucap Awan kemudian yang langsung di anggukin oleh Ameera.


"Semangat." bisik Awan setelah itu ia berlalu keluar dari ruangan tersebut.


"Oh ya Meer, saya harap kamu bekerja dengan profesional. Jangan karena kamu istrinya pak Awan lalu bekerja seenaknya. Kita adalah satu tim di sini dan harus saling bekerja keras." tegas bu Dewi setelah kepergian Awan.


"Baik, bu." angguk Ameera, meski wanita itu terlihat tak ramah tapi kata suaminya pekerjaan bu Dewi sangat bagus.


Setelah itu Ameera segera mendudukkan dirinya di kursi kerjanya dan mulai mempelajari pekerjaan barunya.


Sore harinya....


Waktu seakan berjalan dengan cepat, Ameera yang mendapatkan banyak sekali pekerjaan dari bu Dewi nampak kelelahan.


"Lelah ?" Awan mengulas senyumnya saat istrinya itu baru keluar dari ruangannya.


"Lumayan mas, tapi aku senang." sahut Ameera membalas senyuman suaminya, tak masalah ia lelah bekerja dari pada lelah mengerjakan pekerjaan rumah tapi tak di hargai oleh ibu mertuanya tersebut.


"Lapar ?" tanya Awan seraya berjalan beriringan keluar kantornya.


"Hm." angguk Ameera karena tadi siang ia hanya makan sedikit.


Lalu mereka segera masuk ke dalam mobilnya dan siap membelah jalanan petang itu yang mulai macet.


"Bu Dewi memang keras orangnya tapi sebenarnya baik, dia hanya ingin semua karyawan sungguh-sungguh dalam bekerja." ucap Awan setelah mobilnya melaju.


"Iya mas." sahut Ameera lalu menghela napasnya pelan, entah kenapa ia merasa bu Dewi tak menyukainya.


"Sebenarnya aku lebih suka kamu di rumah saja, nungguin aku pulang kerja." ucap Awan yang langsung di sela oleh istrinya itu.


"Aku masih mau bekerja, mas." ucapnya meyakinkan.


"Aku betah kok, mas." Ameera meyakinkan.


Beberapa saat kemudian Awan menghentikan mobilnya di depan restoran padang yang nampak belum terlalu ramai petang itu.


"Apa kita tidak makan di rumah saja mas, mama pasti sudah masak ?" Ameera merasa tidak enak dengan ibu mertuanya.


"Biarkan saja, sebelumnya kita juga jarang makan di rumahkan." bujuk Awan, lalu melepaskan sefty beltnya lalu keluar dari mobilnya.


Mereka segera masuk dan memesan makanan, setelah itu mencari tempat duduk paling ujung.


"Enak ?" Awan nampak tersenyum kecil saat melihat istrinya makan dengan lahap.


"Hm." Ameera mengangguk dengan mulut penuh makanan.


"Makan yang banyak." Awan menaruh beberapa potong lauk lagi di piring istrinya itu.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka nampak berkeliling kota sembari bercengkerama hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam mereka baru tiba di rumahnya.


"Kok malam banget pulangnya ?" tegur nyonya Amanda saat mereka baru pulang.


"Kami mampir makan di luar dulu, ma." sahut Awan yang langsung membuat ibunya itu geleng-geleng kepala.


"Terus kapan kalian makan masakan mama kalau setiap hari makan di luar ?" nyonya Amanda mulai mengeluh dengan menatap putranya dan menantunya itu bergantian.


"Harusnya sebagai istri kamu belajar mengatur keuangan bukannya beli di luar setiap hari." imbuhnya lagi saat menatap Ameera.


"Ma..." tegur Awan namun ucapannya terjeda oleh perkataan ibunya.


"Kalau mau sukses itu harus sakit-sakit dahulu bukan senang-senang dulu." sela wanita paruh baya itu.


"Baik ma, maaf." Ameera nampak menunduk, lagipula ada benarnya juga ucapan ibu mertuanya tersebut.


"Yasudah, ingat perkataan mama." ucap nyonya Amanda mengingatkan yang langsung di anggukin oleh Ameera.


Setelah itu mereka berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Keesokan paginya....


Pagi itu Ameera nampak bangun pagi sekali untuk mencuci pakaiannya dan suaminya, meski ada ARTnya ia tidak mau di anggap ibu mertuanya hanya makan dan tidur saja di rumahnya.


"Harusnya sudah hamil tapi kenapa sampai sekarang nggak hamil-hamil." gerutu nyonya Amanda seraya menyusun sarapan di meja makan bersama ARTnya.


"Sabar, ma. Mereka juga baru beberapa bulan menikah." pak Djoyo yang membaca koran nampak menimpali.


"Terus nunggu tahunan gitu? anak teman-temannya mama baru menikah langsung hamil." sewot nyonya Amanda seraya menghempaskan bobot tubuhnya di kursi dekat suaminya.


"Setiap orang kan beda-beda, ma." sahut pak Djoyo yang masih terlihat fokus dengan koran di tangannya.


"Iya beda-beda, ada yang bisa hamil dan ada juga yang mandul." nyonya Amanda menanggapi dengan nada kesal dan itu membuat Ameera yang akan keluar dari dapur setelah mencuci perabotan dapur nampak memegang dadanya.


Seketika ia merasa rendah diri, ucapan ibu mertuanya itu memang benar. Jauh sebelum menikah dengan Awan, mereka berdua pernah melakukan hubungan intim namun nyatanya tak membuatnya hamil juga sampai sekarang.


"Apa benar yang di katakan mama, jika aku mandul ?" gumamnya dalam hati, namun tak mau berspekulasi lebih jauh ia segera melangkahkan kakinya untuk membangunkan suaminya.


"Dari mana sayang ?" tanya Awan yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, sepertinya pria itu baru selesai mandi.


Nampak sisa tetesan air masih membasahi tubuh sixpacknya dan itu terlihat seksi di mata Ameera, namun seketika ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari pikiran nakalnya.


"Bantu mama buat sarapan, mas." sahutnya kemudian.


"Kan ada bibik."


"Nggak apa-apa mas." Ameera berjalan mendekatinya.


"Oh ya mas, sepertinya aku ingin cepat punya anak. Bagaimana kalau kita konsultasi ke dokter ?" imbuhnya lagi seraya menatap serius suaminya itu.