Ameera

Ameera
Part~70



"Nak, kok belum tidur ?" nyonya Amanda yang sedang sendirian di depan televisi nampak terkejut saat melihat putranya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


"Mama kenapa membiarkan Ameera mencuci sampai tangannya lecet ?" tanya Awan to the point yang langsung membuat sang ibu salah tingkah.


"Mama sudah melarangnya tapi dia sendiri yang mau." sahutnya membela dirinya.


"Iya benar mas aku yang mau." Ameera yang baru datang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.


"Nah itu dia ngaku sendiri kan? jadi apa salah Mama ?" nyonya Amanda seperti cuci tangan dari masalah yang di buatnya sendiri.


"Iya mas, ayo naik lagi." Ameera berusaha membujuk suaminya, ia berharap setelah membelanya ibu mertuanya itu akan bersimpati padanya.


"Aku akan menghubungi bibik untuk segera kembali dan ku mohon jika Mama masih ingin aku tinggal di sini tolong perlakuan istriku dengan baik kalau tidak kami akan pergi dari sini." ancam Awan yang langsung membuat nyonya Amanda melebarkan matanya.


"Tidak, kamu tidak boleh meninggalkan rumah ini Nak. Sampai kapan pun kamu akan tetap tinggal di sini bersama mama dan papa." tegasnya dengan nada tinggi.


"Makanya kalau mama masih mau aku tinggal di sini tolong perlakukan istriku dengan baik ma, dia menantu Mama bukan pembantu mama." bujuk Awan.


Nyonya Amanda menghela napasnya. "Iya, mama akan anggap dia seperti anak mama." sahutnya dengan terpaksa.


"Terima kasih, ma." Awan menatap wanita yang telah melahirkannya itu sejenak, sungguh ia tidak ingin menyakiti wanita itu. Ia teramat menyayangi sang ibu tapi perbuatannya pada sang istri tak bisa ia biarkan.


Kemudian ia mengajak istrinya kembali keatas, sebelum pergi Ameera melihat ibu mertuanya yang nampak kecewa karena di lawan oleh anaknya sendiri, tapi ia berharap wanita paruh baya itu akan segera berubah.


"Kasihan mama mas, ngomong baik-baik kan bisa." gerutu Ameera sepanjang melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Aku sudah ngomong baik-baik." kilah Awan.


"Tapi tidak harus berteriak begitu, mas." tegur Ameera lagi mengingat pria itu selalu berapi-api ketika emosi.


"Sudah sayang jangan membuatku kesal." Awan berlalu mendahului istrinya itu masuk kedalam kamar.


Tak berapa lama terdengar bunyi ponsel berdering, Awan yang masih kesal langsung menatap sang istri.


"Siapa ?" tanyanya pada wanita itu yang terlihat sedang menatap layar ponselnya.


"Nggak tahu mas, nomor asing." sahut Ameera yang enggan mengangkatnya.


"Angkat dan loudspeaker !!" perintah Awan kemudian.


Ameera menghela napasnya pelan, semoga yang menghubunginya bukan orang iseng.


"Ya, hallo ?" sahutnya.


"Meera apa kabar ?" terdengar suara seorang pria dari ujung telepon yang langsung membuat Ameera terkejut, begitu juga dengan sang suami.


Pria itu nampak memicing saat mendengar suara pria sedang berbicara dengan istrinya.


"Maaf, ini siapa ya ?" tanya Ameera, ia seperti tak asing dengan suara pria yang meneleponnya itu.


"Jonathan, masa lupa ?" sahut Jonathan, seorang arsitek yang dulu pernah kerja di kantor cabang bersama Ameera.


"Oh mas Nathan." Ameera yang baru ingat nampak terkekeh, dulu ia berteman baik dengan pria itu.


Namun saat menatap suaminya yang nampak seperti ingin menerkamnya, Ameera langsung menyurutkan senyumnya lalu ia menjauhkan ponselnya.


"Aku matikan ya mas." ucapnya setelah menyadari kesalahannya karena sudah merasa senang menerima telepon dari laki-laki lain.


"Tidak, tetaplah berbicara aku ingin tahu apa maksudnya menghubungimu !!" tegas Awan yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.


"Meera, kamu masih di situ ?" Jonathan sedikit berteriak saat Ameera tak menanggapinya.


"I-iya mas, aku baik-baik saja." sahut Ameera dengan gugup.


"Syukurlah kalau begitu, kamu tahu aku sangat merindukanmu." ucap Jonathan yang langsung membuat Awan geram, Ameera yang melihat itu nampak ketakutan.


Kenapa juga pria itu menghubunginya di saat yang tidak tepat, tidak tahukah jika suaminya saat ini sudah seperti harimau kelaparan yang siap menerkam siapa pun.


"I-iya, mas." Ameera semakin gugup bukan karena menghadapi Jonathan tapi menghadapi sang suami.


"Kamu masih kerja di kantor cabang, Meer ?" tanya Jonathan, karena waktu itu setelah pekerjaannya membangun sebuah restoran milik perusahaan tempat Ameera bekerja selesai ia kembali ke kantornya sendiri di pusat kota.


"Aku sudah tidak kerja lagi di sana, mas." sahut Ameera kemudian.


"Jadi sekarang kerja di mana ?" tanya Jonathan lagi.


"Nggak kerja mas." sahut Ameera jujur.


Sementara Awan nampak semakin memicing mendengar ucapan mantan relasi kerjanya itu.


"Maksudnya apa ya mas ?" Ameera mencoba mencari tahu.


"Kebetulan kamu tidak bekerja, jadi bagaimana kalau aku melamarmu untuk menjadi istriku saja ?" suara Jonathan terdengar serius di ujung telepon.


"Brengsek." umpat Awan setelah mendengar ucapan Jonathan, setelah itu ia langsung merebut ponsel yang ada di tangan istrinya itu.


"Hei bajingan dengar ya, Ameera itu istri sah saya. Jika kamu berani macam-macam padanya, bersiaplah untuk ku habisi." ancam Awan dengan nada meninggi.


"Ini pak Awan ya? maaf bro saya tidak tahu jika...." Jonathan belum menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah mematikan panggilannya.


"Brengsek." Awan langsung memblokir nomor pria tersebut, lalu meletakkan ponsel tersebut di atas nakas dengan kasar.


"Mas...." Ameera terlihat ketakutan menatap suaminya.


"Apa kamu mau membelanya ?" Awan menatap nyalang istrinya itu.


"Bu-bukan begitu, mas." Ameera nampak berjalan mundur saat suaminya itu mendekatinya dengan amarah.


"Lalu ?" lirih Awan menahan emosi karena cemburu.


"A-aku...."Ameera belum menyelesaikan perkataannya tapi kakinya menabrak ranjang hingga membuatnya jatuh terlentang di atas kasurnya dan itu membuat Awan semakin mudah menindihnya.


"Dengar sayang, jangan pernah ganjen dengan pria lain karena aku pasti akan menghabisinya." ancam Awan yang langsung membuat Ameera memucat menatapnya.


"A-aku bersumpah mas tidak akan pernah macam-macam." Ameera meyakinkan.


"Apa bisa ku pegang perkataanmu ?" Awan menatap intens wanita di bawahnya itu.


"I-iya mas aku janji, sekarang tolong lepaskan aku ?" mohon Ameera, ia takut menghadapi suaminya yang sedang marah karena pria itu bisa saja memperkosanya seperti waktu itu.


"Lepaskan ?" Awan menaikkan sebelah alisnya, wajahnya sudah tak setegang tadi.


"Hm." angguk Ameera dengan yakin.


"Tidak semudah itu sayang, kamu sudah membuatku emosi dan sekarang kamu harus menerima hukumannya." tandas Awan yang membuat Ameera semakin ketakutan.


"A-aku tidak bermaksud membuatmu emosi, mas." Ameera membela diri.


"Pintar membela diri ya sekarang." cibir Awan menatap istrinya itu.


"Bu-bukan begitu mas, aku kan nggak tahu jika mas Nathan akan...." Ameera menjeda ucapannya saat sang suami menyelanya.


"Jangan panggil nama pria brengsek itu di depanku, sayang !!" Awan bertambah emosi.


"Ma-maaf mas." Ameera merasa serba salah.


"Diam dan terima saja hukumanmu." ucap Awan lalu mendekatkan wajahnya untuk m3lum4t bibir tipis istrinya itu.


Pria itu mencium istrinya dengan rakus dan sebelah tangannya nampak melepaskan kancing pakaiannya satu persatu.


Setelah menanggalkan semua pakaian istrinya, Awan mulai m3r3m4s gundukan indah yang nampak menantang di hadapannya itu.


Lalu di lum4tnya puncaknya yang membuat Ameera langsung mengerang nikmat dan itu sukses memicu hasratnya untuk segera memasukinya.


Tak mau menunggu lama Awan langsung melepaskan celana boxernya lalu mengambil tempat di antara kedua kaki istrinya itu.


"Pelan, mas." mohon Ameera saat suaminya berusaha memasukinya.


"Kenapa kamu bersikap seperti seorang perawan sayang? bukannya kita setiap hari melakukannya hm? dan aku tidak bisa pelan kalau menyangkut hal itu." ucap Awan dengan suara beratnya.


Pandangannya mulai menggelap saat miliknya sudah masuk sepenuhnya, lalu ia mulai menghujam milik istrinya itu tanpa ampun.


Dan selanjutnya hanya suara d3s4h4n yang memenuhi kamar tersebut hingga dini hari, karena Awan tidak pernah puas jika hanya melakukannya sekali.


Keesokan harinya....


"Bu, barusan saya lihat bibik datang lagi ya ?" tanya tetangga pada nyonya Amanda siang itu.


"Iya bu mau bagaimana lagi saya punya menantu tidak bisa ngapa-ngapain." sahut nyonya Amanda menjelek-jelekkan menantunya sendiri.


Namun tanpa ia tahu, Ameera yang berada di balkon kamarnya nampak mencuri dengar pembicaraan ibu mertuanya itu.