
Setelah tetangganya itu berlalu nyonya Amanda segera masuk ke dalam rumahnya dengan hati memanas. "Tidak, ini tidak boleh di biarkan. Mereka tidak boleh betah di kampung, aku sudah membesarkan Awan dengan susah payah. Aku juga selalu memberikan apapun yang terbaik untuknya, mereka tidak boleh menguasai putraku begitu saja." geramnya.
Pak Djoyo yang baru keluar dari kamarnya nampak mengernyit saat melihat istrinya itu bergumam seorang diri.
"Ada apa sih, ma? pagi-pagi sudah ngomel-ngomel." tanyanya penasaran, karena tak biasanya istrinya itu menggerutu sendiri kecuali ketika baru saja bercekcok dengan tetangganya.
"Awan Pa, Awan. Kata bu Mansyur yang baru pulang kampung itu katanya Awan sangat betah tinggal di sana. Ini tidak bisa di biarkan pa, kita harus berbuat sesuatu." Nyonya Amanda mengadu dengan berapi-api.
"Benarkah? sepertinya sejak menikah dengan Ameera selera Awan mulai berubah." timpal pak Djoyo.
"Ya maka dari itu Pa, kita tak bisa membiarkan anak kita terus-menerus tinggal di sana nanti gayanya juga pasti jadi kampungan bikin malu saja." geram nyonya Amanda.
"Ya sudah hubungi lagi Awan dan bujuk untuk pulang." perintah pak Djoyo kemudian.
Nyonya Amanda segera menghubungi putranya tersebut namun bukannya di jawab panggilannya justru di tolak. "Anak kurang ajar, ini pasti gara-gara pengaruh buruk istrinya itu." geram nyonya Amanda dengan memaki menantunya itu.
"Coba telepon Ameera, ma." saran pak Djoyo kemudian.
Nyonya Amanda segera menghubungi Ameera dan pada deringan kedua langsung di jawab oleh anak menantunya tersebut. "Assalamualaikum, ma." sahut Ameera dari seberang telepon.
"Di mana anak saya, saya mau bicara !!" ucap nyonya Amanda tanpa membalas salam dari Ameera, rupanya wanita paruh baya itu sudah sangat muak dengan menantunya itu.
"Ada di luar ma, sebentar Meera panggilkan." sahut Ameera.
Beberapa saat kemudian suara Awan terdengar dari ujung telepon. "Apa sih ma ?" ucapnya terdengar kesal.
"Mama bilang kamu pulang sekarang juga Wan !!" tegas sang ibu.
"Ma, aku bukan anak kecil lagi yang bisa mama atur." Awan langsung menolak.
"Oh jadi kamu mau jadi anak durhaka? baiklah jika itu maumu mama akan bilang ke Om Basuki untuk memecatmu dan Ameera dari kantor sekarang juga." tegas nyonya Amanda tak mau di bantah, lalu segera mengakhiri panggilannya tersebut.
Sementara itu Awan yang baru menerima telepon dari sang ibu nampak menghela napasnya berkali-kali.
"Mas, apa yang terjadi ?" Ameera yang tak begitu jelas mendengar obrolan sang suami dengan ibunya itu nampak penasaran.
"Mama mengancam akan bilang ke om Basuki untuk memecat kita dari kantor." sahut Awan, Awan yang hanya karyawan biasa di perusahaan keluarga besarnya itu nampak tak bisa berbuat banyak dengan ancaman sang ibu.
"Lalu kita harus bagaimana, mas ?" Ameera juga terlihat bingung.
"Kita harus pulang." Awan tiba-tiba memutuskan tanpa bertanya dahulu pendapat istrinya itu.
"Dan kembali tinggal bersama mama ?" tanya Ameera memastikan.
Awan terdiam, sungguh ini pilihan yang sangat sulit. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya di pecat begitu saja karena untuk mencari pekerjaan baru juga membutuhkan waktu, apalagi kini ia tak sendiri karena ada sang istri yang harus ia nafkahi.
"Maaf mas aku tidak bisa jika harus kembali ke rumah mama, aku butuh waktu untuk menyembuhkan mentalku. Jika mas mau pulang, pulang saja nggak apa-apa. Kecuali kita menyewa rumah aku ikut, tapi jika tidak aku tinggal di sini saja. Maaf, mungkin aku istri yang durhaka tapi sungguh aku hanya ingin menjaga mentalku agar tetap waras." sambung Ameera saat suaminya itu tak kunjung menanggapinya.
"Jika mama tidak mengizinkan ?" Ameera mencoba bersikap tegas.
"Kamu boleh kembali kesini." sahut Awan pada akhirnya meski nadanya terdengar tidak rela.
"Baiklah, aku ingin membuktikan ucapanmu mas." Ameera mengangguk kecil lalu ia bergegas mengambil koper suaminya itu.
"Kamu tidak mengambil kopermu juga ?" tanya Awan saat istrinya itu memasukkan beberapa lembar pakaiannya di dalam kopernya.
"Tidak, karena aku hanya ingin mengantarmu bukan untuk tinggal dalam waktu yang lama. Kalau kita sudah dapat rumah sewa baru aku akan mengambil koperku ke sini." sahut Ameera yang di tanggapi helaan napas berat sang suami.
Sore harinya setelah berpamitan dengan keluarganya, Ameera dan Awan berangkat ke kota menggunakan taksi.
Setelah menempuh satu jam perjalanan kini mereka telah tiba di kediaman orang tua Awan, rumah mewah berlantai dua itu nampak sepi namun di sana terlihat mobil sang ayah terparkir di tempatnya dan itu menandakan sang pemilik rumah sedang berada di dalam.
Awan segera menekan bel dan tak berapa lama ARTnya berjalan tergopoh-gopoh untuk membukakan pagar.
"Mas Awan, mbak Meera. Akhirnya kalian kembali, bibi kangen loh apalagi ibu sama bapak juga sangat merindukan kalian." ucap bibi berbasa-basi.
"Iya bik maaf nggak bawa oleh-oleh." ucap Ameera.
"Nggak apa-apa mbak."
Setelah masuk Ameera segera melangkahkan kakinya mengikuti suaminya dan ternyata kedua orang tuanya sudah menunggunya di ruang keluarga menjelang petang itu.
"Ma, pa." sapa Awan saat baru datang.
"Akhirnya kamu pulang juga nak, mama sangat merindukanmu." Nyonya Amanda bergegas memeluk putra satu-satunya itu.
"Kenapa kopernya cuma satu ?" tanya nyonya Amanda setelah mengurai pelukannya, pandangannya nampak ke arah koper yang di pegang oleh putranya tersebut.
"Ini sebagian pakaian kami ma, karena kami tak lama tinggal di sini." sahut Awan.
"Maksud kamu apa ?" Nyonya Amanda langsung memicing menatap putranya tersebut, apalagi saat menatap Ameera nampak kebencian tersirat di matanya.
"Aku dan Ameera memutuskan untuk menyewa rumah ma." sahut Awan.
"Apa ?" Nyonya Amanda langsung melebarkan matanya begitu juga dengan pak Djoyo yang nampak terkejut dengan keputusan putranya yang tiba-tiba itu.
"Tidak, mama tidak setuju. Apa kata orang nanti jika tahu anak Djoyo Kesuma menyewa rumah, apa rumah ini terlalu kecil buat kamu hah ?" Nyonya Amanda nampak sangat geram dengan keputusan sepihak putranya itu.
"Ma, tolonglah aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah menikah ma, biarkan kami hidup mandiri dengan tinggal di rumah sendiri meskipun itu hanya menyewa." mohon Awan, ia harus bisa meyakinkan orang tuanya jika tidak istrinya itu pasti akan memilih kembali ke kampungnya.
"Ini semua pasti gara-gara kamu, kamu sudah mencuci otak Awan untuk melawan orang tuanya sendirikan ?" Nyonya Amanda langsung menuding Ameera dengan tatapan geram seakan ingin mencabik-cabik anak menantunya itu sekarang juga.