
Pagi itu Ameera nampak sarapan pagi dalam diam dan itu membuat Awan langsung mengerutkan dahinya, bahkan wanita itu juga tadi meninggalkannya di kamar saat ia sedang bersiap-siap.
"Kamu kenapa sayang ?" tanyanya kemudian.
"Nggak." sahut Ameera di tengah kunyahannya, wajahnya nampak menunduk enggan menatap pria itu. Ia masih mengingat sosok wanita yang pria itu beri nama Cindy di kontaknya mengiriminya lagi beberapa pesan pagi ini bernada perhatian.
"Kamu aneh hari ini." timpal Awan kemudian.
"Iya aku memang aneh." sahut Ameera dengan nada dingin yang langsung membuat Awan menatapnya.
"Kamu kenapa sih sayang ?" ucapnya seraya meletakkan sendok di atas piringnya.
"Kamu sudah bosan sama aku, mas? jika memang bosan cukup katakan aku pasti tahu diri." terang Ameera.
"Aku nggak ngerti kamu ngomong apa, sayang." Awan nampak menghela napasnya, ia tidak merasa melakukan apapun di belakang wanita itu.
Apa ini semua ada hubungannya dengan ucapan wanita itu semalam?
"Selama ini aku sudah banyak berkorban buat hubungan kita mas dan aku tak bisa di giniin, kurang perhatian apa aku selama ini padamu. 24 jam mas aku selalu hadir untukmu apa itu masih kurang ?" tukas Ameera dengan amarah yang siap meledak.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksudmu, sayang." Awan mulai frustasi, sarapan pagi yang harusnya terasa nikmat kini membuatnya tak berselera lagi seiring dengan sikap wanita itu.
Ameera langsung mengambil ponsel pria itu di atas meja, semoga saja belum di hapus untuk menghilangkan jejak.
"Syukurlah belum di hapus." gumamnya mungkin suaminya belum mengecek pesannya pagi ini.
"Baca sendiri." Ameera langsung menyerahkan ponsel tersebut pada suaminya itu.
"Kamu salah paham sayang, aku sama sekali tak ada hubungan dengan wanita itu." timpal Awan setelah membaca pesan tersebut.
"Tapi kenapa dia seperti candu mengirimimu pesan seperti itu jika kamu tak meresponnya ?" tuding Ameera tak mau kalah.
"Sayang aku bersumpah, aku tidak punya hubungan apapun dengan dia." Awan mencoba meyakinkan.
"Sudahlah mas, aku capek terserah kamu mau berbuat apa." Ameera langsung membanting sendoknya di atas piring lalu segera beranjak dari duduknya.
"Sayang, tolong percaya padaku." Awan segera menahan tangan istrinya itu agar tidak pergi.
"Lepaskan !!" Ameera langsung menghempaskan dengan sekuat tenaganya, kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya lantas menguncinya dari dalam.
"Sayang, buka pintunya." mohon Awan sembari mengetuk pintu kamarnya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu sayang, jika memang ada aku tidak mungkin membiarkan ponselku kamu pegang tapi selama ini aku tak keberatankan? karena memang tidak ada apa-apa." Awan terus saja menjelaskan, namun sama sekali tak ada tanggapan dari istrinya itu.
Hanya isak tangis yang terdengar dan ia merasa bersalah, akhir-akhir ini Cindy teman kantornya memang sering memberikan perhatian-perhatian kecil padanya namun ia sama sekali tak menanggapinya.
"Sayang, ku mohon buka pintunya !!" teriak Awan lagi, namun istrinya tetap bersikeras mengabaikannya.
Kemudian pria itu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia sudah terlambat ke kantor dan mau tak mau ia harus segera berangkat karena ada meeting penting yang tak bisa ia lewatkan.
"Aku pergi kerja dulu sayang." ucapnya, lalu segera meninggalkan rumahnya. Kali ini Awan membawa mobilnya ia tidak ingin istrinya itu menggunakannya untuk pergi dari rumah.
Di kantor Awan nampak tak tenang bekerja, berkali-kali ia mengirim pesan dan telepon namun tak di tanggapi oleh sang istri.
Meski pria itu belum terbukti berselingkuh tapi tetap saja ia marah karena pria itu tak bisa bersikap tegas pada wanita yang sedang berusaha menggodanya.
Lebih baik ia memberikannya pelajaran agar lain kali berpikir lagi jika ingin menghianatinya.
Bagaimana jika ia akan pergi dari rumah, apa pria itu akan mencegahnya?
Akhirnya Ameera mengambil beberapa lembar pakaiannya lalu ia masukkan ke dalam tasnya, sebenarnya ia tak ingin bersikap kekanakan seperti ini tapi ia harus melakukannya.
Selama ini ia mencoba bertahan dari hinaan ibu mertuanya, namun ia tidak akan mentolerin jika itu wanita penggoda yang melakukannya.
Jarum jam baru menunjukkan pukul 4 sore dan Ameera sudah mendengar mobil suaminya datang. Tak biasanya pria itu pulang cepat namun ia tak peduli.
Ameera kembali masuk kamarnya lalu memilih berpura-pura tidur saja dan esok pagi ia berencana akan pulang ke rumah orang tuanya.
"Sayang ?" panggil Awan saat baru membuka pintu kamarnya.
Pria itu melihat istrinya sedang tidur memunggunginya, ia tahu wanita itu sedang pura-pura tidur untuk menghindarinya.
Awan meletakkan tas serta ponselnya di atas nakas lalu ikut berebahkan dirinya di sebelah wanita itu, mengulurkan tangannya untuk memeluknya namun sang istri langsung menepisnya.
Tak mau menyerah Awan kembali memeluknya kali ini dengan memaksa meski wanita itu meronta.
"Menjauhlah mas, aku membencimu." teriak Ameera, wajahnya terlihat sembab karena menangis seharian. Awan jadi merasa bersalah saat melihatnya.
"Aku tak ada hubungan apapun dengan Cindy sayang, dia hanya teman kantor tidak lebih. Tolong percaya padaku." mohon Awan kemudian.
"Kalau maling ngaku penjara akan penuh mas, bisa jadi di rumah kamu ngaku teman kalau di luar sana siapa yang tahu." Ameera berusaha meronta hingga pelukan pria itu terlepas.
"Astagfirullah sayang, aku harus menjelaskan bagaimana lagi. Aku sudah berbicara padanya agar tidak menggangguku lagi." Awan mulai frustasi menghadapi istrinya yang ternyata sangat sulit ia kendalikan saat sedang marah.
Mungkin ini adalah kemarahan terbesar wanita itu sepanjang tiga tahun mereka menikah, Awan jadi menyesal kenapa kurang tegas dengan teman kantornya sejak awal.
Harusnya ia tak terlalu menanggapinya yang awalnya wanita itu hanya curhat biasa kini justru berbalik mengejarnya.
"Aku mau kita pisah saja mas, aku mau pulang." ancam Ameera seraya berlalu menjauh lalu mengambil tasnya yang sudah ia siapkan dari tadi.
Melihat itu Awan langsung panik dan bergegas mengejarnya. "Kamu tidak akan kemana-mana sayang." cegah Awan seraya merebut tas istrinya itu.
"Lepaskan mas, aku sudah lelah tahu nggak. Selama ini aku bertahan karena kamu masih membelaku tapi jika sudah berpaling apa yang harus ku perjuangkan lagi? apa mas ?" teriak Ameera, karena tasnya tak kunjung di lepas wanita itu langsung mengambil piring kosong di atas meja makan lalu membantingnya begitu saja hingga membuat Awan berjingkat kaget.
"Biarkan aku pergi, jika tidak semua barang di sini akan hancur !!" ancam Ameera, ia tak main-main dan ia ingin memberikan pelajaran pada pria itu.
"Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini ?" Awan nampak mengacak rambutnya dengan frustasi saat melihat istrinya itu beberapa kali memecahkan piring dan gelas yang ada di atas meja makan.
Awan yang sebenarnya mempunyai sifat tempramental pun lama-lama juga tidak tahan melihat istrinya ngamuk seperti itu, ia sudah berkata jujur jika memang tak ada hubungan apapun dengan wanita itu namun perkataannya hanya di anggap angin biasa.
Akhirnya Awan naik pitam, kemudian menarik tangan wanita itu dengan kasar lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya lantas mendorongnya hingga jatuh ke atas kasur.
Awan sudah tak mempunyai cara lain untuk menenangkan wanita itu dan akhirnya sore itu ia menidurinya dengan paksa tak peduli istrinya itu meronta.