Ameera

Ameera
Kegembiraan Ameera



💥Jika seseorang memberikan perhatian padamu, jangan pernah bosan apalagi mengabaikannya karena suatu saat perhatian kecil itu akan kamu rindukan ketika kamu merasa kesepian💥


"Mas kita mau ngapain kesini? main kartu apa? kamu tidak sedang berjudi kan ?" cecar Ameera saat berada di resepsionis hingga membuat dua orang karyawan yang ada di belakang meja resepsionis tersebut langsung mengulas senyumnya menatap Ameera.


"Terima kasih, mbak." tukas Awan setelah menerima kunci kamarnya.


"Ayo." imbuhnya lagi seraya menggandeng tangan Ameera.


"Mas kita mau ngapain ?" Ameera menahan tangan Awan hingga membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Ayo, nanti kamu juga tahu." bujuk Awan.


Ameera yang tidak mengerti akhirnya mengikuti langkah Awan yang masih menggenggam tangannya.


Setelah sampai di depan kamarnya, Awan segera membuka pintu lalu membawa kekasihnya tersebut masuk.


Seumur-umur baru kali ini Ameera masuk ke dalam kamar hotel, ia nampak terperangah dengan furnitur yang ada disana.


"Bagus banget, mas." puji Ameera, apalagi saat mendudukkan dirinya di atas ranjang yang empuk ia nampak sangat kagum.


"Terus kita mau ngapain di sini, Mas ?" imbuhnya dengan polos.


"Main kartu." sahut Awan sembari melepaskan sepatu kerjanya.


"Maksudnya kamu mau berjudi gitu ?" tebak Ameera.


"Siapa yang berjudi, aku hanya ingin membuat liburanmu berkesan saja." sahut Awan.


"Maksud kamu ?" Ameera mulai waspada menatap Awan yang melangkah ke arahnya.


"Jangan tegang sayang, bahkan hukuman mu saja belum di mulai." tukas Awan saat melihat Ameera melotot menatapnya.


"Hukuman apa? mas jangan macam-macam deh." rutuk Ameera sembari bangkit dari duduknya.


"Hukuman karena kamu sudah menggoda Jonathan." sahut Awan mengingatkan.


"Aku tidak merasa menggoda Jonathan ya, mas." kilah Ameera membela diri.


"Kamu memakai rok sependek itu apa namanya kalau tidak menggoda? bahkan tatapan laki-laki sialan itu seakan ingin memakanmu." cibir Awan mengingat bagaimana Jonathan memperhatikan Ameera saat di ruangannya pak Mario tadi.


"Astaga mas, ini rok masih normal loh. Coba mas lihat karyawan lainnya roknya ada yang lebih pendek." protes Ameera.


"Aku tidak peduli mereka sayang, yang ku pedulikan itu kamu pacarku." tegas Awan dengan nada dingin.


"Kamu bisa nggak sih membuatku tenang sebentar saja, aku bisa gila kalau kamu terus-menerus di pandangi pria lain. Ingin rasanya aku menguncimu di kamar dan tak membiarkan mu keluar barang sebentar." imbuhnya lagi mengeluarkan uneg-unegnya yang selama ini ia rasakan.


Ameera yang melihat kesedihan Awan nampak terharu, kemudian ia langsung berhambur ke pelukan pria itu.


"Maafkan aku." lirihnya dengan nada menyesal.


"Jangan begitu lagi sayang, tolong jaga kehormatan mu buat aku." mohon Awan seraya mengusap lembut surai Ameera.


"Iya mas, aku janji." sahut Ameera.


"Kamu sudah sarapan ?" tanya Awan kemudian setelah mengurai pelukannya.


"Sudah." Angguk Ameera.


"Baiklah, ayo main kartu." ajak Awan kemudian.


"Kartu apa ?" Ameera menautkan kedua alisnya dengan dahi mengernyit tak mengerti.


"Kartu inilah." Awan mengambil kartu dari saku celananya lalu menaruhnya di atas ranjang.


"Astaga, kamu main kartu ini juga mas ?" Ameera nampak bersorak saat melihat tumpukan kartu tersebut.


Ia jadi kangen saudara-saudaranya yang biasa mengajaknya bermain kartu dan jika kalah maka wajahnya akan di coret dengan spidol atau rambutnya di jepit dengan penjepit jamuran.


"Mas kok nggak bilang-bilang sih punya kartu ini, aku kan bisa pinjam." tukasnya lagi.


"Jadi kamu bisa main juga ?" tanya Awan tak percaya.


"Mas jangan meremehkan ku, aku paling jago loh di antara saudaraku." sahut Ameera dengan bangga.


"Ya sudah yuk main, aku mau lihat sejago apa kamu." tantang Awan.


"Tapi harus ada hukumannya bagi yang kalah." imbuhnya lagi memberikan ide.


"Boleh." sahut Ameera tanpa berpikir macam-macam.


"Tapi aku yang menentukannya." ucapnya lagi.


"Mana bisa seperti itu sayang, kita harus suit biar adil." protes Awan.


"Baiklah, tapi mas jangan aneh-aneh hukumannya." sahut Ameera menyetujui.


Kemudian mereka mulai suit. "Batu, gunting, kertas." ucap mereka bersamaan.


"Yes." Awan nampak sangat senang saat dirinya yang memenangkan suit, sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya.


"Menyebalkan." gerutu Ameera.


"Baiklah, karena aku yang menang maka aku yang menentukan hukumannya." ujar Awan kemudian.


"Awas jangan aneh-aneh." ancam Ameera.


"Hukumannya yang menang boleh minta apapun itu." ucap Awan yang langsung membuat Ameera mengulas senyumnya.


"Beneran ?" tanyanya kemudian.


"Tentu saja." sahut Awan yakin.


"Baiklah." Ameera nampak tersenyum penuh arti, di dalam keluarganya dirinya adalah pemain kartu handal dan kini saatnya ia menggunakan kemenangannya untuk mengerjai sang kekasih.


Membayangkan hal itu, Ameera sudah sangat bahagia. Senyumnya terus saja mengembang, sepertinya liburannya kali ini akan sangat berkesan.


Kini mereka mulai bermain dan kemenangan pertama di raih oleh Ameera. "Yes." soraknya.


"Karena aku yang menang, mas harus menuruti semua keinginanku." tegas Ameera.


"Katakan ?" tantang Awan.


"Rambut mas harus di ikat." perintah Ameera sembari mengambil ikat rambut dari dalam saku roknya, kemudian ia mulai mengikat ribut Awan hingga kini seperti jamur di atas kepala pria itu.


"Lucu banget sih kamu mas." ejek Ameera menatap kekasihnya tersebut.


Kemudian mereka melanjutkan permainannya lagi dan lagi-lagi Ameera yang memenangkannya.


"Yes, menang lagi. Apa aku bilang, aku tuh paling jago main kartu." Ameera nampak menyombongkan dirinya.


Awan ikut tergelak melihat Ameera tersenyum senang, sungguh senyum kekasihnya tersebut menularkan kebahagiaan padanya.


Sepertinya ia rela kalah terus menerus dan menerima hukuman apapun asal gadis itu selalu tersenyum bahagia. "Sungguh aku sangat mencintaimu." gumam Awan dalam hati.


"Baiklah, hukuman berikutnya mas harus merangkak seperti bayi dan pura-pura ingin menangis." perintah Ameera kemudian yang langsung di turuti oleh Awan.


Pria itu segera turun dari ranjang kemudian mulai merangkak di lantai yang dingin.


Melihat itu Ameera segera mengambil ponselnya lalu merekam sang kekasih yang sedang merangkak dengan rambut di ikat seperti jamur, benar-benar seperti bayi pikirnya.


Ameera nampak tertawa terpingkal-pingkal bahkan ia sampai merasakan perutnya kram.


"Astaga bayi bangkotan." ejeknya di sela tertawanya.


"Puas menertawakan aku." ucap Awan setelah bangkit lalu duduk kembali di atas ranjang.


"Beneran kamu lucu loh mas, kalau video ini di lihat sama seluruh karyawan kantor pasti tambah lucu." Ameera masih saja terkikik.


"Nggak lucu sayang, sumpah jangan lakukan itu." tegur Awan, ia bisa melakukan apa saja demi kekasihnya tersebut.


Namun jika kelakuan memalukannya itu sampai di ketahui oleh teman-teman kantornya, harga dirinya pasti akan jatuh.


"Nggak, tenang saja. selagi kamu nggak selingkuh video ini akan aman bersamaku." sahut Ameera meyakinkan.


"Ayo main lagi." imbuhnya lagi.


Kemudian mereka melanjutkan permainannya dan untuk ketiga kalinya Ameera menang lagi.


"Astaga, aku pantas di julukin the master." Ameera memuji dirinya sendiri.


"Baiklah, hukuman kali ini mas harus berjalan dengan gaya seperti monyet." perintah Ameera kemudian.


Tanpa protes Awan langsung beranjak kemudian melakukan seperti yang Ameera perintahkan, ia nampak berjalan seperti seekor monyet.


"Ya Allah, mas. Kenapa kamu bisa mirip begitu." ledek Ameera sembari merekamnya, ia nampak tertawa nyaring meledek sang kekasih.


"Baiklah ayo main lagi." ajak Awan kemudian.


Ameera yang merasa sangat senang karena bisa mengerjai sang kekasih, nampak terus menerus terkikik. Namun beberapa saat kemudian senyumnya seketika menyurut saat Awan yang memenangkan permainannya.


"Lah kok bisa." Ameera langsung melotot tak percaya.


"Roda itu berputar sayang." kini gantian Awan yang tersenyum meledek.


"Mati aku." Ameera nampak menepuk keningnya sendiri, semoga sang kekasih tidak menghukumnya dengan yang aneh-aneh.


.


Duh kira-kira apa ya hukuman yang di berikan oleh babang Awan🤔🤭