Ameera

Ameera
Permintaan ayahnya Awan



💥Cinta adalah caraku bercerita tentang dirimu, caraku menatap kepergianmu dan caraku tersenyum saat menatap indah wajahmu💥


"Papa ?" gumam Awan saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Siapa mas ?" Ameera nampak penasaran.


"Papa." sahut Awan.


"Ya udah angkat dong mas siapa tahu ada hal penting." suruh Ameera.


Awan yang sudah bisa menebak maksud ayahnya menghubunginya nampak malas menjawabnya hingga panggilan itu berhenti dengan sendirinya.


"Mas kenapa nggak di angkat? nggak sopan tau, orang tua telepon di cuekin." tegur Ameera.


Sementara Awan hanya menghela napasnya, jika ia menjawabnya di depan kekasihnya tersebut ia takut gadis itu akan kecewa saat mendengar jika sang ayah juga pasti ikut-ikutan ibunya membujuknya untuk pulang.


"Biarkan saja, sayang." Awan mengulas senyumnya menatap Ameera, kemudian ia mulai melajukan mobilnya kembali.


Beberapa saat kemudian ponsel Awan berdering kembali dan hingga panggilan ke lima pria itu baru menepikan mobilnya, kemudian segera menjawabnya.


"Ya, pa." sahutnya kemudian.


"Kamu kemana saja Wan, dari tadi Papa telepon nggak kamu angkat." tegur pak Djoyo Kesuma dari ujung telepon.


"Lagi di jalan, Pa." sahut Awan.


"Papa mau bicara penting sama kamu." ujar laki-laki paruh baya tersebut.


"Kalau Papa mau membicarakan masalah perjodohan seperti mama, lebih baik Awan tutup. Awan tetap akan menikahi Ameera dengan persetujuan atau tanpa persetujuan kalian." tegas Awan.


"Tunggu dulu Wan, kamu selalu saja ngeyelan dan keras kepala. Dengarkan dulu kalau orang tua ngomong." tegur pak Djoyo.


"Jadi hal penting apa yang ingin Papa bicarakan ?" Awan mulai tak sabar.


"Papa ingin lebih kenal dengan gadis yang kamu sukai itu, dia anak mana memangnya ?" ujar pak Djoyo ingin tahu.


"Satu kota dengan Awan, pa." sahut Awan.


"Anaknya gimana ?" tanya pak Djoyo lagi.


"Cantik, pa." sahut Awan seraya menatap Ameera, kemudian ia mengulas senyumnya.


"Ya pasti cantiklah makanya kamu suka, maksud Papa sifatnya bagaimana ?" sela pak Djoyo.


"Dia..." Awan menjeda perkataannya lalu menatap Ameera yang sedang bersandar di kursinya.


"Baik, sopan, sangat polos dan juga penakut Pa." lanjutnya kemudian yang langsung membuat Ameera menatapnya tak mengerti, entah apa yang lelaki itu bicarakan dengan sang Ayah.


"Penakut dan polos ?" pak Djoyo langsung terkekeh dari ujung telepon, sepertinya pria baya itu mulai tertarik dengan Ameera.


"Polosnya kebangetan, Pa." lanjut Awan, kemudian ikut terkekeh saat mendengar Ayahnya juga tertawa.


"Pantas kamu tergila-gila padanya, baiklah lanjutkan dulu perjalananmu nanti Papa telepon lagi." tukas pak Djoyo, kemudian mematikan panggilannya.


Awan nampak tersenyum senang, ia sangat mengenal sang ayah. Jika pria itu terlihat senang, bisa di pastikan sudah menyetujui hubungannya dengan Ameera.


Mungkin setelah pulang kerja ia akan menghubunginya lagi untuk memastikannya.


Sore harinya setelah Ameera baru sampai messnya, ia langsung membersihkan dirinya kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur busanya.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba ponselnya berdering nyaring saat ia baru terlelap.


Masih dengan rasa kantuk ia meraih ponselnya lalu menjawabnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Assalamu'alaikum." ucapnya memberikan salam, matanya nampak terpejam dengan posisi memeluk guling.


"Wa'alaikumsalam salam, ini Ameera ya ?" ucap seorang pria dari ujung telepon hingga membuat Ameera langsung membuka matanya lalu melihat siapa yang menghubunginya.


Di layarnya nampak deretan beberapa angka tanpa tertera namanya di sana dan itu berarti yang menghubunginya adalah orang asing.


"Iya, saya sendiri." tukas Ameera kemudian, gadis itu nampak duduk bersandar di dinding.


"Santai saja jangan tegang." ujar pria itu lagi dari ujung telepon.


"I-ya." sahut Ameera masih bingung.


"Saya akan coba terawang kamu ya." ujar pria itu kemudian yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya tak percaya, apa ia sedang berbicara dengan paranormal?


"Hah ?" Ameera mendadak takut.


"Kamu badannya kecil, tidak terlalu tinggi, rambutmu panjang sampai pinggang dan kulitmu putih. Benar tidak ?" ujar pria itu lagi yang langsung membuat Ameera tercengang.


"Kok anda bisa tahu ?" Ameera semakin ketakutan, jangan-jangan pria itu memang benar seorang paranormal.


Kemudian ia langsung mengambil selimut lalu menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya dan hanya menyisakan wajahnya.


Pandangannya nampak menjelajahi seluruh kamarnya yang sempit itu, jangan-jangan pria tersebut sedang mengintainya. Memikirkan hal itu Ameera mendadak berkeringat dingin.


Deg!!


"Papanya mas Awan." gumamnya tak percaya.


"Kamu pasti sekarang deg-degan dan panas dinginkan ?" ujar pak Djoyo menggoda.


"Ternyata benar kata Awan, kamu itu penakut." imbuhnya lagi sembari terkekeh.


Mendengar itu Ameera juga ikutan tersenyum, ternyata dirinya hanya di kerjai oleh pria tersebut dan bayangan ayahnya Awan yang menakutkan menguap begitu saja.


"Jadi kamu yakin mau menikah dengan Awan? tapi ada syaratnya." ujar pak Djoyo dengan nada serius yang langsung membuat Ameera menyurutkan senyumnya.


Perasaannya sudah mulai tidak enak, apa pria itu akan menyuruhnya untuk menjauhi Awan?


"Datanglah kemari dan menginap di sini, tapi kamu sendirian saja tidak boleh dengan Awan." imbuh pak Djoyo kemudian.


"Ke-kenapa sendiri Om? saya takut kalau nggak sama mas Awan." mohon Ameera menyuarakan isi hatinya.


"Justru karena kamu takut makanya saya suruh sendiri, menjadi menantu Djoyo Kesuma itu harus jadi pemberani." tegas pak Djoyo.


"Tapi Om....."


"Jangan takut, memang kami akan memakanmu? kami hanya ingin kenal dengan calon menantu." pak Djoyo meyakinkan.


"Ba-baik Om." sahut Ameera dan setelah berbincang beberapa saat pak Djoyo mematikan panggilannya.


"Bagaimana ini ?" Ameera nampak gelisah di atas kasurnya.


Seakan mengetahui keadaannya tiba-tiba Awan masuk ke dalam kamarnya, entah sejak kapan pria itu mempunyai duplikat kuncinya.


"Sayang, kamu kenapa kok melamun ?" tanyanya seraya berjalan mendekat.


"Papamu barusan telepon, mas." sahut Ameera menatapnya.


"Hm, terus ?" Awan mendudukkan dirinya di dekat kekasihnya itu.


"Beliau menyuruh aku datang ke rumahmu tapi tidak boleh sama kamu, aku takut mas." Ameera nampak resah.


"Astaga sayang, apa yang kamu takuti? apa tadi Papa marah-marah sama kamu ?" Awan berusaha menenangkan.


"Nggak, papamu sangat usil." cebik Ameera yang langsung membuat Awan terkekeh.


"Itu berarti Papa sudah sayang sama kamu, makanya di usulin." Awan meyakinkan.


"Begitu ya, tapi mama kamu bagaimana? aku takut mas." keluh Ameera lagi.


"Mama itu selalu nurut sama Papa, selama Papa menyukaimu mama pasti juga menyukaimu." Awan mencoba meyakinkan lagi.


"Mas ikut ya, aku masih takut." mohon Ameera.


"Sayang, kalau aku ikut yang memegang keuangan di sini siapa? pak Mario kan lagi cuti. Aku janji akan menghubungimu setiap menit, jika mama macam-macam langsung bilang padaku." ujar Awan kemudian.


Ameera nampak diam sejenak, selama ini Awan sudah berjuang sendiri untuk meyakinkan orang tuanya. Masa dirinya juga tidak mau berjuang?


"Baiklah, aku mau. Tapi mas telepon aku terus ya, aku takut." Ameera akhirnya menyetujui dan itu membuat Awan langsung tersenyum senang.


"Terima kasih, sayang." Awan langsung memeluk kekasihnya tersebut.


Keesokan harinya Ameera segera berangkat menuju rumahnya Awan, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya sangat lelah tapi ia bersyukur setiap saat Awan selalu menghubunginya.


Beberapa jam setelah sampai di kotanya, ia nampak sangat girang. Sungguh ia sudah sangat merindukan kota kelahirannya tersebut.


Hanya saja ia tinggal di pinggiran kota dan harus menempuh perjalanan satu jam lagi baru sampai.


Tetapi tujuannya ke kota ini bukan untuk pulang ke rumahnya tapi rumahnya Awanlah yang akan ia tuju.


"Dengan mbak Ameera ya ?" tanya seorang pria saat menghampirinya.


"I-iya." Ameera nampak terkejut.


"Saya sopir yang di perintahkan oleh papanya mas Awan untuk menjemput mbak Ameera." ujar pria tersebut memperkenalkan diri.


"Sayang, itu sopirnya papa. Kamu ikut saja." ucap Awan yang sedari tadi mendengarkan dari ujung telepon.


"Baik, pak." sahut Ameera kemudian, setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka masuk kedalam komplek perumahan elit. Ameera yang melihat deretan rumah mewah tersebut nampak menggigit bibirnya.


"Sudah sampai mbak, silakan turun." ujar sang sopir dengan sopan setelah menghentikan mobilnya di salah satu rumah yang ada di komplek tersebut.


Ameera yang menatap rumah mewah dua lantai dan sangat besar di hadannya itu nampak menelan ludahnya. Jantungnya sudah mulai berdegup kencang.


Ia benar-benar merasa seperti butiran debu saat ini, akankah ia akan di terima di kediaman orang tua Awan?