
Sore itu pak Djoyo yang baru pulang dari kantornya nampak menghentikan mobilnya saat melihat pak RT sedang berbincang dengan seseorang di pinggir jalan kompleks rumahnya.
"Selamat sore, pak." tegur pak Djoyo yang selama ini memang berteman baik dengan ketua RT di kompleks rumahnya tersebut.
Pria itu langsung turun dari mobilnya lalu menghampiri sahabatnya itu.
"Selamat sore juga pak Djoyo, baru pulang kantor pak ?" sapa balik pak RT dengan ramah.
"Iya nih pak, kebetulan sedang tidak banyak kerjaan jadi pulang cepat." sahut pak Djoyo, mengingat dirinya selalu pulang malam dan jarang sekali berkumpul dengan warga kompleksnya.
"Pak RT bagaimana kabarnya ?" imbuh pak Djoyo lagi.
"Alhamdulillah baik pak, pak Djoyo juga sepertinya sangat baik." sahut pak RT.
"Alhamdulillah." Pak Djoyo membalas, meski saat ini ia sedang tidak baik-baik saja tapi baginya masalah rumah tangganya cukup ia simpan sendiri.
"Oh ya pak Djoyo perkenalkan ini bu Selvi, warga baru kita yang baru saja pindah ke kompleks ini." pak RT memperkenalkan wanita dewasa dan cantik di sebelahnya itu pada pak Djoyo.
Pak Djoyo terdiam menatap wanita anggun dengan kecantikan alami itu sampai pada akhirnya sang wanita duluan yang mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya
"Selamat sore bapak, perkenalkan nama saya Selvi." ucap wanita yang bernama Selvi itu, suaranya yang lembut dan tatapannya yang sayu membuat semua pria ingin melindunginya tak terkecuali pak Djoyo.
Pak Djoyo nampak menepis pikiran liarnya kemudian pria itu membalas jabat tangan wanita itu.
"Saya Djoyo, panggil saja pak Djoyo saya tinggal di rumah bagian ujung itu." Balas pak Djoyo seraya menunjuk rumahnya yang paling besar di kompleks tersebut.
Selvi hanya menanggapi dengan anggukan sopan kemudian wanita itu mengalihkan pandangannya begitu juga dengan pak Djoyo entah kenapa mereka tiba-tiba salah tingkah sendiri.
Pak Djoyo yang terkenal pendiam dan tak banyak bicara bahkan tersenyum pun jarang membuat beberapa wanita suka penasaran dan membuat mereka ingin menggodanya.
Namun pak Djoyo yang sudah berkomitmen dengan pernikahan tak pernah sekali pun menanggapi godaan mereka.
Tapi nyatanya kesetiaannya saja tak cukup hingga membuat wanita pujaan hatinya mencari kehangatan dari pria lain.
Mengingat hal itu membuat pak Djoyo langsung menggeram.
"Bu Selvi ini single parent pak dengan dua orang anak jadi mari kita sama-sama menjaga marwah beliau di kompleks ini." ucapan pak RT sukses membuyarkan lamunan pak Djoyo perihal rumah tangganya yang sudah di ambang kehancuran.
"Oh ya." balas pak Djoyo lagi-lagi dengan nada coolnya, sepertinya pria itu kurang tertarik dengan status wanita cantik di hadapannya itu
"Beliau di tinggal suaminya selingkuh dan semoga beliau selalu tegar." lanjut pak RT yang sontak membuat pak Djoyo memandang wanita cantik dengan suara lembut serta mempunyai senyuman yang manis itu.
Sekejap terbesit rasa kasihan di hatinya terhadap wanita itu karena bernasib sama sepertinya.
"Saya sudah melupakan hal itu pak dan saat ini saya hanya ingin fokus membesarkan anak-anak saya, terima kasih pak RT sudah peduli dan menerima saya di kompleks ini." Selvi berkata dengan tutur lembut sembari tersenyum manis dan itu membuat pak Djoyo tiba-tiba hatinya menghangat.
Menyadari ada yang tak beres dengannya pak Djoyo langsung mengumpat dalam hati.
"Sial." gumamnya, entah kenapa tiba-tiba wajah dan suara lembut wanita di hadapannya tiba-tiba terngiang-ngiang di hati dan pikirannya.
"Pak Djoyo memang seperti itu bu, beliau orang yang tidak banyak bicara dan beliau adalah sosok panutan di sini atas contoh keluarga bahagianya. Beliau mempunyai dua anak yang semuanya sudah menikah dan bahagia jadi saat ini beliau tinggal menikmati masa-masa kesuksesan bersama sang istri." ucap pak RT setelah pak Djoyo kembali mengendarai mobilnya.
Sedangkan Selvi hanya menanggapi dengan anggukan kecil, terkadang ia suka iri melihat rumah tangga orang lain namun ia langsung menepis pikiran itu.
Karena sesungguhnya jalan hidupnya adalah takdir dari sang Ilahi dan ia akan menjalankannya dengan ikhlas.
"Mama senang papa pulang cepat." nyonya Amanda nampak tersenyum saat melihat suaminya itu berjalan ke arahnya yang kini berada di depan pintu.
Lalu wanita itu langsung mengulurkan tangannya minta salim tapi pak Djoyo melewatinya begitu saja.
Pria itu nampak jijik melihat sikap istrinya yang tiba-tiba berubah perhatian padanya, padahal akhir-akhir ini wanita itu begitu tak peduli dan fokusnya hanya ke HPnya saja.
Sementara itu nyonya Amanda yang masih berdiri di depan pintu nampak menarik tangannya kembali yang mengambang di udara.
Untuk kesekian kalinya wanita itu merasa kecewa karena suaminya lagi-lagi mengabaikannya dan seolah tak melihat keberadaannya.
"Pa, makan yuk mama masak makanan kesukaan papa." tawar nyonya Amanda, sepertinya wanita itu pantang menyerah dan akan terus berjuang manaklukkan hati suaminya lagi.
Biasanya pak Djoyo akan sangat senang saat istrinya menawarkan makanan padanya karena memang masakan wanita itu selalu pas di lidahnya.
Namun sekarang rasa itu telah hilang sejak wanita itu menghianatinya dengan melemparkan tubuh yang selama ini ia puja ke atas ranjang pria lain.
Sementara itu nyonya Amanda nampak kecewa melihat suaminya itu berlalu pergi tanpa sepatah kata pun, tiba-tiba ia merindukan suara pria itu, rayu-rayuan nakalnya dan sentuh sentuhan-sentuhannya yang selalu membuatnya tak perdaya.
Di ruang kerjanya pak Djoyo nampak menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan melepas beberapa kancing kemejanya.
Meski sudah menginjak usia 47 tahun tapi pria itu terlihat jauh lebih muda dan berstamina.
Benar kata orang mempunyai banyak uang akan membuat seseorang menjadi awet muda dan itu berlaku untuk pak Djoyo dan nyonya Amanda yang tak lekang oleh usia.
Nyonya Amanda yang berusia dua tahun lebih muda dari suaminya itu tubuhnya masih sangat singset dan sintal.
Perawatan tubuh mahalnya ternyata sukses membuat wanita paruh baya itu tetap cantik hingga sekarang.
Pak Djoyo kini nampak menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menggunakan sebelah tangannya sebagai tumpuhan kepalanya.
Matanya nampak terpejam, sepertinya pria itu terlihat sangat lelah. Tubuhnya lelah dan hatinya pun juga lelah.
Pria itu merasa kerja kerasnya selama ini hanya sia-sia belaka karena kebahagiaan yang ia impikan di masa tuanya telah di rusak oleh istrinya sendiri.
"Bajingan." umpat pria itu dengan memukul sofa sebelahnya dengan kepalan tangannya.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba bayangan wanita cantik dengan suara lembutnya menari-nari di kepalanya hingga membuat pria itu terlonjak kaget dan segera bangun.
Rupanya pria itu ketiduran dan anehnya kenapa justru sosok wanita yang baru ia temui dengan lancang masuk ke dalam mimpinya.
"Selvi."