
Setelah ibunya di semayamkan keesokan harinya, Ameera tak berhenti menghubungi suaminya tapi nomornya masih tetap tidak aktif.
Lalu ia mencoba menghubungi ponsel ibu mertuanya namun tak pernah di angkatnya, bahkan ia mengiriminya sebuah pesan memberitahukan jika ibunya telah tiada pun hanya di baca dan tak di balas.
Sepertinya hubungannya dengan suaminya sudah tak bisa di perbaiki lagi, baiklah jika perceraian adalah keputusan mereka ia akan mengabulkannya.
Setelah satu bulan lebih berada di kampungnya, Ameera memutuskan kembali pulang ke rumahnya. Ada setitik harapan agar pernikahannya bisa di selamatkan meski itu mustahil.
"Mbak meera dari mana ?" tanya tetangga seberang rumah Ameera saat melihat wanita itu turun dari taksi dengan membawa tas pakaiannya.
"Aku baru pulang kampung, sudah sebulan ini di sana." sahut Ameera menatap wanita berwajah oriental itu.
"Aku pikir mbak Ameera di rumah loh soalnya beberapa hari yang lalu mas Awan membawa seorang wanita ke sini." ucap wanita itu yang langsung membuat Ameera terkejut karena tak biasanya suaminya membawa seorang teman ke rumah kecuali adik perempuannya atau saudara sepupunya.
"Mungkin adik atau saudara sepupu mas Awan, Cik. Ya sudah aku masuk dulu ya." timpal Ameera, setelah itu ia bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Tak ada yang berbeda dari rumahnya itu, masih terlihat rapi meski sedikit berdebu.
Kemudian Ameera segera menuju kamarnya, di sana juga masih nampak rapi bahkan mukenanya masih berada di atas ranjangnya seperti sebelum ia pergi.
"Siapa wanita yang di maksud Cik Melly tadi ?"
Ameera nampak memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar-debar, tidak mungkinkan suaminya itu berselingkuh lalu membawanya ke rumah?
Malam harinya seperti sebelumnya Ameera masih tetap menunggu suaminya, berharap pria itu pulang lalu menjelaskan semuanya.
Tepat pukul 9 malam saat Ameera hendak masuk kamarnya tiba-tiba pintu rumahnya di ketuk dari luar dan itu membuat Ameera bergegas melihat siapa yang datang.
"Mas Awan."
Ameera langsung berteriak senang saat melihat suaminya dari balik gorden jendelanya, lalu ia segera membuka pintunya.
"Mas Awan, akhirnya kamu pulang juga." Ameera langsung memeluk suaminya itu dengan erat, sungguh ia sangat merindukan pria itu setelah satu bulan lebih tak bertemu.
Begitu juga dengan Awan, pria itu nampak membalas pelukan istrinya dengan tak kalah erat seakan memberitahu jika ia juga sangat merindukannya.
"Maafkan aku." ucapnya kemudian.
"Ayo mas masuk kita bicara di dalam, aku senang kamu pulang mas. Aku minta maaf padamu jika akhir-akhir ini kita sering salah paham dan ribut tapi percayalah aku tidak pernah berselingkuh mas." ucap Ameera panjang lebar seraya berlalu ke kamar bersama pria itu.
Awan menatap Ameera dengan lekat, ada kerinduan dan perasaan bersalah di wajahnya lalu tanpa berkata-kata lagi pria itu langsung m3lum4t bibir istrinya itu dengan rakus seakan tiada hari esok lagi.
Ameera yang mendapatkan serangan tiba-tiba tentu saja terkejut tapi selanjutnya ia merasa lega karena suaminya kembali menyentuhnya dengan penuh cinta.
Bahkan percintaan mereka malam ini terasa begitu nikmat Amerika rasakan, suaminya seakan memuja tubuhnya sepanjang malam hingga membuatnya berkali-kali mendapatkan pelepasannya.
Semoga setelah ini hubungan mereka akan kembali membaik seperti sedia kala pikirnya.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera bangun kesiangan dan melewatkan ibadah subuhnya karena sepanjang malam ia bercinta dengan suaminya itu hingga tertidur menjelang dini hari.
Ameera nampak tersenyum saat mengingat peristiwa semalam bagaimana suaminya sangat berhasrat padanya dan memuja tubuhnya seperti saat mereka baru menikah dahulu.
Deg !!
Jantung Ameera terasa copot saat melihat sebuah koper besar di dekat meja riasnya, koper milik suaminya yang entah kenapa tiba-tiba berada di sana.
Ameera segera beranjak bangun kemudian memunguti pakaiannya di atas lantai lalu segera memakainya.
"Mas, kenapa kopernya di keluarin ?" tanya Ameera yang masih tak mengerti.
"Mulai hari ini aku akan meninggalkan rumah ini." sahut Awan menatap istrinya itu sejenak, lalu segera mengalihkan pandangannya.
"Nggak mas, aku nggak mau. Bukankah hubungan kita baik-baik saja mas dari semalam ?" protes Ameera, tidak mungkin pria itu berubah pikiran lagi setelah semalam melewati percintaan hebat bersamanya.
"Maafkan aku." Awan terlihat sangat frustasi.
"Anggap saja itu tanda perpisahan kita." imbuhnya lagi tak berperasaan.
"Apa? kamu benar-benar tega mas, kenapa kamu lakukan ini semua padaku ?" Ameera langsung menangis histeris.
"Maafkan aku, tolong jangan menyulitkan ku." mohon Awan dengan menahan kesedihannya.
"Aku mohon mas jangan lakukan ini, aku akan berlutut dan mencium kakimu mas agar kamu membatalkan perceraian kita." Ameera langsung berlutut di hadapan suaminya itu lalu saat akan mencium kaki pria itu Awan langsung mencegahnya.
"Bangunlah dan tolong maafkan aku." ucapnya seraya membantu istrinya itu untuk bangun.
"Katakan apa kamu tidak mencintaiku lagi, mas ?" tanya Ameera di sela isak tangisnya.
Awan nampak terdiam, ia juga merasakan kesedihan yang sama seperti wanita itu namun ia harus membuat keputusan.
"Tolong, biarkan aku berbakti pada orang tuaku." ucapnya kemudian yang membuat Ameera tak bisa berkata-kata lagi.
Wanita itu nampak terpaku di tempatnya, kemudian tiba-tiba terlintas seorang wanita yang pernah di bawa oleh suaminya itu ke rumahnya.
"Siapa wanita itu ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat suaminya itu langsung menatapnya.
"Kata Cik Meli beberapa hari yang lalu kamu membawa seorang wanita ke rumah ini, katakan siapa wanita itu ?" ulang Ameera lagi dengan menatap tajam suaminya itu.
Awan nampak menghela napas beratnya. "Dia teman kantorku yang ingin Mama jodohkan denganku." sahut Awan jujur dan itu membuat Ameera langsung tersenyum sinis.
"Teman kantor? kamu berselingkuh dengannya mas ?" tuding Ameera langsung.
"Aku tidak pernah berselingkuh dengannya."
"Tapi kamu membawanya ke rumah kita mas di saat kita masih sah menjadi suami istri." sela Ameera dengan berteriak nyaring.
"Aku tidak ingin membahasnya, tolong maafkan aku dan biarkan aku berbakti pada orang tuaku." timpal Awan, setelah menatap istrinya itu sejenak ia segera menarik kopernya lalu bergegas meninggalkan istrinya itu.
Saat berada di ambang pintu Awan kembali menghentikan langkahnya. "Jika kamu kekurangan, jual saja barang-barang yang ada di rumah ini." ucapnya tanpa berbalik badan lalu segera berlalu pergi.
Ameera yang tak kuat lagi menopang bobot tubuhnya langsung luruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya, pernikahannya benar-benar tak bisa di selamatkan lagi.
Kini untuk apa ia hidup lagi, semua orang yang ia cintai telah pergi satu persatu meninggalkannya.