
Siang itu nyonya Amanda yang sedang berhenti di sebuah traffic light nampak tak sengaja melihat Ameera yang juga sedang berhenti di depan mobilnya.
"Bukankah itu Ameera ?" ucapnya pada Tyas sang adik sepupu saat memperhatikan menantunya yang sedang menaiki motornya.
"Iya benar kak." timpal Tyas.
"Ini nggak bisa di biarin, enak saja dia keluyuran tapi anakku yang capek kerja. Lihat saja nanti." Nyonya Amanda terlihat geram, ia tak rela jika anak menantunya itu hidup senang-senang di atas kelelahan anaknya.
Setelah lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau, nyonya Amanda kembali melajukan mobilnya. Kali ini wanita itu urung untuk pulang namun justru mengikuti menantunya tersebut.
"Kak Amanda kita serius lewat sini ?" tanya Tyas sang adik sepupu saat nyonya Amanda membelokkan mobilnya ke arah lain.
"Sudah diamlah, kamu nggak lihat tuh Ameera siang-siang gini keluyuran." sahut nyonya Amanda seraya menggerakkan dagunya ke depan.
"Lagi ada urusan mungkin kak." timpal Tyas.
"Urusan apa sejauh ini, kalau dia menginginkan apapun Awan selalu nganterin dia. Aku jadi curiga jangan-jangan dia selingkuh lagi, astaga apa kurangnya anakku sih." tuding nyonya Amanda tanpa mencari kebenaran dahulu.
"Jangan asal menuduh kak kalau belum ada bukti." Tyas langsung mengingatkan.
"Sudah diamlah, kamu tahu apa sih." sungut nyonya Amanda lalu segera menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Ameera.
Sementara Ameera yang baru memasukkan motornya ke dalam garasi, terlihat kelelahan. "Alhamdulilah hari ini orderan sangat banyak." ucapnya bersyukur.
Namun saat akan masuk ke dalam rumahnya tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang langsung membuatnya menoleh ke sumber suara.
"Itu bukannya mobilnya mama." Ameera segera berlalu untuk membuka pagar rumahnya.
"Mama, tante Tyas." sapanya dengan mengulas senyumnya, meski wajahnya terlihat sangat capek akibat kepanasan.
"Dari mana kamu ?" tanya nyonya Amanda to the point.
"Meera habis dari rumah teman ma." sahut Ameera.
"Halah alasan, mentang-mentang sekarang Awan jarang pulang siang kamu seenaknya keluyuran." tuding wanita paruh baya itu tanpa tedeng aling-aling
"Meera nggak keluyuran ma, Meera habis ngater barang milik teman." terang Meera membela diri.
"Sudah-sudah banyak alasan kamu, bawa sini kunci motormu." Nyonya Amanda langsung mengulurkan tangannya meminta kunci motor milik menantunya itu.
"Mau buat apa ma ?" Ameera nampak ragu untuk menyerahkannya.
"Sini, lama banget sih." Nyonya Amanda langsung merebut kunci motor tersebut.
"Tyas bawa motor itu ke rumah, biar dia belajar jadi istri yang baik bukan keluyuran saat suaminya sibuk kerja !!" perintah nyonya Amanda seraya melemparkan kunci tersebut kepada adik sepupunya itu.
"Astagfirullah ma, Meera tidak keluyuran dan mas Awan juga sudah tahu Meera pergi kemana." mohon Ameera, jika tidak ada motor bagaimana ia bisa mengantar orderan.
"Sudah-sudah, mama mau pulang. Buang-buang waktu mama saja." Nyonya Amanda langsung berlalu pergi tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Ameera yang melihat motornya di bawa hanya bisa menatap nanar tanpa berani melawan, Ameera yang seorang introvert tidak mempunyai keberanian untuk melawan dan lebih memilih diam lalu masuk ke dalam rumahnya.
Malam harinya Ameera nampak menyambut suaminya dengan senyuman mengembang di bibirnya, ia tahu suaminya pasti lelah karena sering lembur dan dia tidak ingin menambah beban pria itu.
"Mandi dulu gih mas baru makan." ucapnya setelah menyambut pria itu.
Saat pria itu sedang mandi Ameera segera menyiapkan pakaiannya, meski ia sibuk berbisnis Ameera juga tak ingin mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.
Wanita itu sebisa mungkin membuat rumah selalu bersih dan rapi agar saat suaminya pulang dalam keadaan lelah merasa nyaman dan bisa beristirahat.
Ameera juga selalu menyediakan makanan yang bergizi dan sesuai kesukaan pria itu, meski terkadang ia harus menutupi kekurangan dapur dengan uang pribadinya.
Ameera sama sekali tak keberatan, bukankah sebuah rumah tangga itu di bangun secara bersama-sama. Toh suaminya juga sangat bertanggung jawab selama ini.
"Sayang, tadi ku lihat nggak ada motor di garasi." ucap Awan sembari menyantap makan malamnya.
"Oh itu, ada kok mas. Kamu makan dulu ya nanti baru cerita sambil bersantai, oh ya Alhamdulilah orderan hari ini lumayan banyak mas." Ameera mencoba mengalihkan pembicaraan, suaminya itu baru saja mulai makan ia tak ingin membuat mood pria itu buruk.
"Alhamdulilah, sepertinya istriku ini bakat jadi pebisnis tapi aku tidak ingin melihat kamu lelah ingat itu. Kalau kamu sampai sakit gara-gara itu lebih baik berhenti saja." timpal Awan dengan sedikit peringatan.
"Siap pak boss." Ameera langsung mengangkat tangannya.
"Kalau orderan lumayan banyak kirim lewat jasa pengiriman sayang, aku nggak mau kamu yang nganter sendiri." saran Awan sembari mengunyah makanannya.
"Iya mas aku tahu." Ameera mengangguk kecil, mungkin setelah ini ia akan menggunakan jasa pengiriman meski itu dekat sekalipun karena sudah tak ada motor yang bisa ia gunakan. Padahal jika ia mengantar sendiri untungnya lumayan banyak.
"Oh ya mas aku sudah kenal dengan beberapa tetangga di sini, ternyata mereka baik-baik semua loh. Mereka sering panggilin aku untuk ngobrol bareng." imbuh Ameera yang langsung membuat Awan menghentikan kunyahannya.
"Perempuan? atau laki-laki ?" tanyanya dengan pandangan curiga, Awan memang selalu mencurigai istrinya. Karena di manapun berada wanita itu selalu menjadi daya tarik lelaki dan ia tak ingin kecolongan apalagi mereka belum mempunyai anak dan istrinya itu jika jalan seorang diri pasti masih di kira sebagai seorang gadis.
"Perempuan lah mas, kan suami mereka juga bekerja kayak mas jadi mana mungkin di rumah." sahut Ameera sedikit terkekeh saat menyadari kecemburuan pria itu, meski ia sudah menjadi miliknya tetap saja suaminya itu masih suka cemburu.
"Ku harap seperti itu sayang." timpal Awan dengan menekankan kata-katanya.
"Harusnya yang cemburu itu aku mas, setiap hari kamu di kelilingi oleh cewek-cewek cantik di kantor." balas Ameera dengan wajah sedikit merengut.
"Percaya sama aku sayang, aku nggak akan hianati kamu." Awan langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya tersebut.
"Semoga saja." timpal Ameera, semoga saja dengan berjalannya waktu pria itu masih tetap setia. Ia sudah berjuang sejauh ini, hidupnya pasti akan hancur jika pria itu menghianatinya.
"Ya sudah yuk ku bantu membereskan." ajak Awan saat istrinya itu nampak melamun.
"Kamu yang merapikan ya, aku yang cuci piringnya." imbuhnya lagi dengan perasaan bersalah karena telah membuat sang istri kepikiran, ia akui banyak sekali wanita di luaran sana yang menggodanya. Semoga saja ia akan tetap berada di jalur kesetiaan selamanya.
Setelah itu mereka memilih menghabiskan waktunya sebelum tidur untuk menonton film di kamarnya.
"Sayang, kamu belum cerita motornya di mana ?" tanya Awan saat mulai bosan menemani istrinya menonton drama Korea tersebut.
Ameera langsung gelisah dan tentu saja itu membuat Awan semakin curiga. "Katakan sayang ?" desaknya kemudian.
"Sebenarnya, motornya di ambil mama mas."
"Apa ?" Awan langsung terkejut saat mendengarnya.
"Maaf aku baru cerita, aku hanya tidak ingin membuat moodmu berantakan. Kamu juga baru pulang kerja pasti sangat lelah dan juga lapar." timpal Ameera dengan wajah bersalah.
"Mama benar-benar keterlaluan." Awan nampak sangat kesal, sepertinya besok pagi ia harus mendatangi kediaman orang tuanya tersebut.