
đź’ĄDiam adalah bahasa terbaik ketika sedang kecewa dengan keadaanđź’Ą
"Jika sembuh nanti aku ingin mama dan papa melamar Ameera pada orang tuanya." pinta Awan yang langsung membuat nyonya Amanda melebarkan matanya.
"Nak, kamu masih sakit jangan memikirkan menikah." nyonya Amanda mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jika ini permintaan terakhirku apa Mama sama Papa tetap tidak ingin mengabulkannya ?" mohon Awan menatap kedua orang tuanya bergantian.
Nyonya Amanda nampak menghela napas panjangnya, harusnya momen Awan sakit akan ia gunakan untuk memisahkannya dengan Ameera.
Namun nyatanya sang putra justru meminta hal yang sangat tidak ingin ia lakukan.
"Ma." tegur pak Djoyo saat sang istri nampak diam berfikir.
"Baiklah, asal kamu sembuh apapun permintaanmu akan mama turuti." sahut nyonya Amanda dengan terpaksa yang langsung membuat Awan mengulas senyumnya.
Sebelumnya pria itu nampak tak bersemangat, namun sekarang ia merasa seperti mempunyai energi baru.
"Terima kasih Ma, Pa." tukas Awan dengan antusias dan itu membuat kedua orangtuanya ikut senang.
Beberapa hari setelah operasi Awan nampak semakin membaik meski harus menggunakan kursi roda.
"Nak lihat siapa yang datang." tukas nyonya Amanda saat baru membuka pintu ruangan sang putra.
Awan yang mengira itu adalah Ameera, ia langsung antusias. Mengingat hampir sebulan lebih gadis itu belum menjenguknya.
Dan terakhir kali saat menjenguknya, kekasihnya itu terlihat tidak banyak bicara dan itu membuatnya sedikit khawatir.
Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, apa malu karena dirinya yang kini menggunakan kursi roda? atau karena hal lain.
Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya yang ingin sekali ia tanyakan secara langsung.
"Hai." ucapan seorang wanita langsung membuyarkan lamunannya, nampak seorang wanita cantik sedang berdiri tak jauh darinya dengan senyum mengembang di bibir merahnya.
"Dia anaknya temannya mama, cantikkan? dia berpendidikan tinggi loh, pekerjaannya juga bagus." tukas nyonya Amanda saat Awan menatapnya meminta penjelasan.
Ia memang sengaja membawa beberapa wanita kenalannya agar putranya itu terbuka matanya jika masih banyak gadis yang lebih baik daripada Ameera.
"Nadia." gadis itu langsung mengulurkan tangannya.
"Oh, terima kasih sudah datang." sahut Awan tanpa berniat menjabat tangan gadis cantik tersebut.
Kemudian ia kembali menatap keluar jendela yang terlihat sangat cerah siang itu, namun berbalik dengan hatinya yang suram karena merindukan sang kekasih.
Merasa di abaikan Nadia langsung menarik tangannya, lalu tersenyum kecil menatap pria itu.
"Aku yakin kamu akan segera sembuh." ucapnya memberikan semangat hingga membuat Awan menatapnya sekilas.
"Apa aku terlihat lemah ?" tanyanya menanggapi, namun pandangannya lurus ke arah jendela kaca.
"Tidak, kamu pria kuat. Buktinya kamu bisa melewati semuanya." Nadia berusaha mencari perhatian dengan menyemangatinya.
Awan terdiam, Ameera juga selalu menyemangatinya seperti wanita itu dan itu membuatnya semakin merindukannya.
"Hei, kenapa melamun ?" imbuh Nadia saat Awan nampak terdiam.
"Tidak, tidak apa-apa. Sepertinya aku akan beristirahat saja." sahut Awan seraya memutar kursi rodanya menuju brankarnya.
"Mau ku bantu ?" Nadia menawarkan bantuan karena di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua dan entah kemana perginya nyonya Amanda, seakan sedang memberikannya kesempatan agar lebih dekat dengan putranya.
Awan mengangkat tangannya bermaksud menolak tawaran wanita itu. "Perawat yang akan melakukannya." ucapnya seraya menekan tombol dan tak berapa lama seorang perawat langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Sus, bisa tolong bantu saya." pinta Awan pada perawat senior tersebut.
Selain berparas tampan, Awan terlihat begitu sulit di dekati dan itu membuatnya semakin merasa tertantang. Apalagi sang ibu sudah memberikannya lampu hijau untuk mendekatinya.
Dan sejak saat itu Nadia sering datang menjenguk Awan, meski pria itu bersikap dingin padanya tapi ia tidak pernah menyerah.
Beberapa hari kemudian....
Selama hampir dua bulan di rawat di rumah sakit, kini Awan mulai membaik. Ia sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, namun di gantikan tongkat untuk membantunya berjalan.
Bahkan sang ibu mempekerjakan seorang perawat rumah sakit untuk merawatnya di rumah.
"Mas, kamu baik-baik sajakan ?" tanya Ameera pagi itu saat menghubunginya.
"Aku baik, sayang. Kapan kamu datang kesini ?" Awan bertanya balik, sudah sebulan lebih ia tidak bertemu dan kini ia sangat merindukan gadis itu.
"Minggu depan aku izin beberapa hari, mas." sahut Ameera dari ujung telepon dengan perasaan bersalah.
"Langsung ke rumah ya." pinta Awan, namun ia tiba-tiba terkejut saat pintu kamarnya di buka.
"Kak, apa kakak sudah siap ?" tanya sang adik saat baru membuka pintu kamarnya.
"Iya, sebentar." sahut Awan seraya menjauhkan ponselnya agar Ameera tidak ikut mendengar.
"Cie yang mau lamar anak orang." goda Arini, lalu ia bergegas pergi saat sang kakak memelototinya.
"Dasar pengganggu." gerutu Awan kesal, kemudian ia mendekatkan ponselnya di telinganya lagi.
"Sayang, nanti kita lanjut lagi ya." tukas Awan kemudian.
"Mas, memang kamu mau kemana ?" tanya Ameera terdengar penasaran.
"Ada acara keluarga sayang, ya sudah ya." sahut Awan lalu mematikan panggilannya secara sepihak.
Ameera yang masih tak percaya dengan sikap aneh sang kekasih nampak termangu, tak biasanya pria itu buru-buru mengakhiri panggilannya.
Biasanya Awan selalu merengek saat ia ingin mengakhiri panggilannya karena harus bekerja.
Tapi kali ini sikap pria itu benar-benar aneh dan membuatnya berpikir macam-macam. Apalagi saat ia tak sengaja mendengar suara Arini yang menyebut kata lamaran.
"Mas sebenarnya apa yang terjadi denganmu? siapa yang lamaran? bukan kamu kan ?"
Tak ingin bertanya-tanya ia langsung menghubungi kekasihnya kembali, namun sepertinya ponselnya sudah tidak aktif.
"Apa kamu akan melamar wanita yang di jodohkan denganmu itu ?" gumamnya ketika mengingat perkataan calon ibu mertuanya saat terakhir ia menjenguk kekasihnya itu.
"Kamu tahu nggak mereka berdua itu sangat menginginkan Awan menjadi menantunya loh." ucap nyonya Amanda kala itu saat menceritakan kedua temannya yang baru pulang menjenguk Awan di rumah sakit.
"Yang satunya itu jika Awan mau menjadi menantunya, maka setelah menikah ia akan di belikan mobil dan di berikan salah satu supermarketnya." imbuh nyonya Amanda dengan antusias.
"Dan yang satunya lagi jika Awan mau menikah dengan putrinya, maka setelah dia menikah akan di beri warisan 10 miliar." imbuhnya lagi semakin antusias.
"Awan itu banyak yang suka dan kebanyakan dari mereka bukan orang sembarangan." ucap wanita paruh baya itu lagi.
Entah apa tujuan calon ibu mertuanya mengatakan itu padanya, apa sedikit pun tidak menghargai perasaannya?
Mengingat hal itu Ameera nampak terisak, jika itu benar maka kemungkinan Awan kini sedang melamar salah satu dari wanita tersebut.
Sementara itu rombongan keluarga Awan yang baru tiba setelah menempuh perjalanan selama satu jam, nampak bergegas turun dari mobil setelah sampai di depan sebuah rumah yang terlihat asri dan lumayan luas itu.
"Ayo, semoga lamaran ini berjalan dengan lancar." ucap pak Djoyo.
Awan yang memakai tongkat dan di temani seorang perawat di sebelahnya nampak menghela napas beratnya saat melihat rumah di depannya tersebut.