
"Sudah-sudah kalian lebih baik duduk dulu." pak Djoyo langsung menengahi saat istrinya itu tak berhenti mencela sang menantu lalu menyuruh mereka untuk segera duduk.
Awan mengajak istrinya itu untuk duduk di seberang orang tuanya, Ameera yang sudah menduga dirinya yang akan di jadikan kambing hitam oleh ibu mertuanya itu nampak duduk dengan wajah menunduk.
"Kalian itu benar-benar egois, kalian itu sudah mama sayangi, mama manja dan perhatikan tapi seperti ini balasan kalian. Apa kalian tidak tahu setiap hari mama mikirin kalian terlebih kamu Awan, bagaimana kalau kamu kehujanan kepanasan karena kantormu cukup jauh dari sana." ucap nyonya Amanda kembali.
"Kamu sebagai istri pernah mikirin kesehatan suami kamu nggak? terlebih suamimu itu pernah sakit parah." kali ini nyonya Amanda menunjuk ke arah sang menantu yang sedari tadi hanya diam membisu.
Sungguh hati Ameera saat ini sangat sakit, ia juga tidak ingin ini semua terjadi jika selama ini ibu mertuanya itu menghargainya.
"Ma, kenapa istriku terus yang mama salahkan? kenapa mama tidak mau introspeksi diri atas perbuatan mama padanya." sergah Awan, pria itu lama-lama juga jengah saat mendengar ibunya terus menyudutkan istrinya.
"Kamu berani membentakku hanya demi wanita itu Wan? pokoknya keputusan mama tak berubah kalian harus tinggal di rumah ini." Nyonya Amanda yang terkejut tiba-tiba di bentak oleh sang putra langsung berurai air mata.
"Harusnya jadi suami itu kamu yang tegas jangan mau di setir istri begitu saja dan kamu Ameera harusnya kamu tahu diri sudah bagus aku menerimamu menjadi menantu di sini tapi kamu sedikit pun tak bersyukur malah ngelunjak begini." sambung nyonya Amanda kali ini dengan menatap anak menantunya tersebut.
"Ma, cukup !!" teriak Awan, seandainya bukan wanita yang sudah melahirkannya itu mungkin ia sudah berbuat lebih jauh.
"Mama benar kecewa padamu Wan." Nyonya Amanda nampak terisak, kemudian wanita itu segera beranjak dari duduknya lalu bergegas ke kamarnya.
"Tak seharusnya kamu membentak mamamu Wan." tegur pak Djoyo kemudian.
"Mama sudah keterlaluan pa." sahut Awan yang terlihat sangat kesal.
Pak Djoyo nampak menghela napas panjangnya kemudian beliau segera beranjak. "Kita lanjutkan besok, lebih baik kalian beristirahatlah dan Ameera tolong pikirkan sekali lagi apa salahnya kamu mengalah dan tetap tinggal di rumah ini toh pada akhirnya saat mama dan papa tiada rumah ini juga menjadi milik kalian." ucapnya menatap anak dan menantunya itu bergantian, kemudian segera pergi dari sana.
Setelah tinggal mereka berdua di ruang keluarga tersebut, Ameera baru membuka suaranya. "Mas tetap di sini ya dan biarkan aku pergi, maaf jika selama ini aku egois dan kurang perhatian padamu, tapi mas juga harus tahu selama ini orang yang paling ku pikirkan adalah mas. Aku rela bertahan selama ini juga karena mas, bahkan aku tak pernah mencintai seseorang sedalam ini selain kamu tapi jika pada akhirnya kita berpisah aku menerimanya." ucapnya dengan menahan sesak di dadanya bahkan kini tubuhnya nampak bergetar karena menahan isak tangisnya.
"Sudah ngomongnya ?" timpal Awan dengan tersenyum kecil menatap istrinya itu.
"Aku sedang serius mas." Ameera langsung mengerucutkan bibirnya.
Awan hanya menanggapinya dengan kekehannya. "Apa kamu lupa di mana ada aku di situ juga harus ada kamu, kenapa kamu harus menyerah secepat ini hm? mana kata-kata semangat yang selama ini kamu ucapkan ?" ucapnya seraya menatap wajah istrinya itu.
"Jika kita nanti hidup susah, apa kamu tidak apa-apa ?" ucap Ameera kemudian.
"Nggak apa-apa, kan susahnya berdua." timpal Awan dengan nada becanda dan itu membuat Ameera semakin kesal dan akhirnya meluapkannya dengan memukuli dada suaminya itu sambil menangis.
"Sudah jangan menangis, kamu jelek kalau menangis." ucap Awan lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Bagaimana pun keadaannya aku janji takkan membuatmu susah." sambungnya seraya mengusap lembut punggung wanita itu.
Keesokan harinya....
"Kalian sudah memutuskan untuk tinggal di sini kan ?" ucap nyonya Amanda pagi itu saat putra dan menantunya itu baru menuruni anak tangga.
"Keputusanku tetap ma, aku akan mengajak istriku pindah dari sini." tegas Awan.
Biarlah mereka hidup sederhana yang penting tanpa campur tangan ibunya itu lagi.
"Terima kasih banyak, ma." ucap Awan, lalu ia berpamitan untuk segera mencari rumah.
"Kita lihat saja sejauh mana kamu mampu bertahan tanpa bantuan mama Wan." gumam nyonya Amanda melihat kepergian putranya tersebut.
Dengan meminjam motor milik Rafael, pagi itu Ameera dan Awan pergi mencari rumah sewaan. Ameera yang ingin mencari rumah di area padat penduduk agar lebih terjangkau rupanya tak di dengar oleh sang suami.
Pria itu justru mengelilingi kompleks-kompleks perumahan yang berada tak jauh dari rumahnya dan sepertinya nasib baik sedang berpihak pada mereka.
Siang itu mereka mendapatkan sebuah rumah di salah satu kompleks perumahan yang cocok, meski hanya satu lantai namun lumayan besar dengan dua kamar tidur dan halaman yang sedikit luas.
"Tapi mahal mas." ucap Ameera, mengingat sang pemilik rumah menginginkan rumahnya di kontrak pertahun.
"Sudah nggak apa-apa, tabunganku lebih dari cukup." sahut Awan dan akhirnya mereka menyetujui untuk tinggal di sana.
Setelah mendapatkan kunci rumah Awan segera mengantar istrinya untuk kembali ke kampung mengambil pakaiannya.
"Jadi kalian sudah mendapatkan rumah ?" tanya pak Andre, ayah Ameera.
"Sudah pa." Ameera nampak sangat senang dan itu membuat sang ayah merasa lega, meski selama tinggal bersama mereka putrinya itu tak menceritakan apapun tapi ia tahu bagaimana perasaan putrinya tersebut.
"Sudah ada barang-barangnya di dalam ?" tanya pak Andre lagi yang langsung membuat Ameera dan Awan saling memandang.
"Setelah ini kami akan membelinya pa." kali ini Awan yang menjawab, ia masih mempunyai tabungan sisa pembayaran rumahnya dan akan ia gunakan untuk membeli perlengkapan rumah meski setelah itu ia takkan mempunyai tabungan lagi.
"Sudah simpan saja uangmu, perlengkapan rumah biar ayah yang beli." timpal pak Andre yang seakan mengerti kesulitan anak menantunya tersebut.
"Tapi pa...." Awan merasa tak enak karena orang tuanya sendiri pun justru lepas tangan tak ingin membantunya.
"Nggak apa-apa nak, anggap saja kenangan-kenangan dari ayah." ucap pak Andre.
Ameera yang mendengar ucapan ayahnya itu langsung beranjak lalu memeluk pria paruh baya tersebut. "Kenapa ayah bilang begitu ?" ucapnya entah kenapa ia tiba-tiba mempunyai firasat kurang baik, semoga ayahnya itu selalu sehat.
"Nggak apa-apa selagi kami bisa bantu kalian." kali ini nyonya Anna sang ibu yang menimpali.
"Terima kasih bunda, ayah." Ameera menatap kedua orang tuanya itu bergantian.
Akhirnya kini Awan dan Ameera telah menempati rumah kontrakannya, tentunya dengan perabotan lengkap yang di belikan oleh pak Andre.
Nyonya Amanda dan pak Djoyo yang penasaran dengan tempat tinggal putranya itu akhirnya datang untuk melihat mereka.
"Palingan mereka juga takkan lama tinggal di rumah sewaannya itu pa, Awankan sudah terbiasa tinggal di rumah mewah dan tidur di kasur empuk mana mau dia tidur di kasur lipat yang tipis."
Sepanjang perjalanan nyonya Amanda nampak mencela keadaan rumah yang di sewa oleh putranya itu yang pasti tak layak untuk di tinggali pikirnya.