
💥Jika ada kata-kata yang menyakitimu, menunduklah dan biarkan ia melewatimu. Jangan di masukkan ke dalam hati, agar hatimu tak lelah💥
Malam itu Ameera bergegas ke kamar Awan setelah pria itu menghubunginya.
Setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ia segera masuk.
"Mas, ada apa ?" tanyanya kemudian, namun ia langsung terkejut saat melihat Awan yang sedang duduk di tepi ranjangnya nampak terbatuk-batuk.
"Mas kenapa ada darah ?" Ameera mendadak panik saat melihat darah di telapak tangan pria itu bahkan beberapa tisu bekas noda darah nampak tercecer di lantai.
"Kamu baik-baik saja, mas ?" Ameera khawatir, wajahnya pun terlihat pucat pasi dan itu justru membuat Awan terkekeh.
"Mas, jangan becanda." sungut Ameera dengan kesal.
"Aku baik-baik saja sayang." Awan mencoba meyakinkan, namun tak berapa lama ia mulai terbatuk lagi dan langsung muntah darah kembali.
"Mas, sebenarnya ada apa denganmu ?" Ameera semakin panik bahkan ia saat ini nampak terisak.
"Sudah tidak apa-apa, ayo kemarilah peluk aku." pinta Awan setelah membersihkan dirinya di kamar mandi.
Ameera langsung berhambur ke pelukannya. "Aku takut, mas." ucapnya dengan nada cemas.
"Aku baik-baik saja, temani aku tidur ya." sahut Awan seraya mengajak gadis itu ke ranjangnya.
"Mas, kita ke dokter saja ya ?" mohon Ameera.
"Tidak usah, aku baik-baik saja. Saat ini aku hanya butuh pelukan." sahut Awan seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Ameera.
"Tapi kamu muntah darah mas dan itu nggak mungkin baik-baik saja." keukeh Ameera.
"Tidurlah sayang, sebelum ku tiduri." ucap Awan yang langsung membuat Ameera mencebikkan bibirnya.
"Sudah tahu sakit masih saja modus." gerutunya dengan kesal.
"Ya sudah makanya tidur." ajak Awan.
"Tapi besok pagi ke dokter ya ?" mohon Ameera dengan wajah cemasnya.
"Iya, tapi sepertinya besok kita pulang saja." sahut Awan seraya memejamkan matanya.
"Pulang? kita ?" tanya Ameera yang langsung membuat Awan membuka matanya kembali.
"Iya kita, besok pagi kita minta ijin lalu pulang bersama." sahut Awan.
"Baiklah." Ameera menyetujui meski ia tidak yakin akan mendapatkan izin dari pak Mario.
"Ya sudah ayo tidur." ajak Awan sembari memejamkan matanya kembali.
Ameera yang tidak bisa tidur nampak memperhatikan wajah Awan yang sudah tertidur pulas.
Kekasihnya itu tidak demam, wajahnya pun terlihat segar dan tidak pucat tapi kenapa tiba-tiba muntah darah?
Sebenarnya sakit apa pria itu ? apa ada hubungannya dengan rokok atau alkohol yang di konsumsinya selama ini ?
Banyak sekali pertanyaan dalam benak Ameera, namun pada akhirnya hanya menggantung tanpa ada jawaban.
Sepanjang malam ia gelisah, sebentar-sebentar ia terbangun untuk mengecek keadaan kekasihnya itu.
Namun sepertinya Awan nampak baik-baik saja, bahkan tidurnya pun sangat nyenyak.
Keesokan harinya....
"Selamat pagi, princess." sapa Awan pagi itu saat Ameera baru mengerjapkan matanya, semalaman ia tidak bisa tidur dan menjelang pagi baru bisa terlelap.
"Mas, kamu sudah bangun ? Ameera langsung duduk lalu memperhatikan Awan yang sudah terlihat segar setelah mandi.
Pria itu nampak tampan dengan celana polo pendek dan kaos santainya. "Ayo bangun sayang, aku tadi membelikan mu sarapan." ucap Awan dengan mengulas senyumnya menatap kekasihnya tersebut.
"Kamu baik-baik sajakan, mas ?" Ameera nampak cemas.
"Aku sehat sayang, tapi kita tetap pulang ya. Setelah kamu mandi dan sarapan kita minta izin pak Mario." sahut Awan kemudian.
"Baiklah." angguk Ameera, kemudian ia membawa sarapannya yang di belikan oleh pria itu tadi ke kamarnya sendiri.
Siang harinya mereka segera berangkat meninggalkan mesnya setelah mendapatkan izin dari managernya tersebut.
Meski sebelumnya ada sedikit perdebatan, namun atasannya itu dengan terpaksa mengizinkan mereka untuk cuti.
"Kalian ?" nyonya Amanda nampak terkejut saat tiba-tiba melihat Awan dan Ameera.
Awan langsung tersenyum menatap ibunya tersebut. "Mama merindukanku ?" ucapnya yang langsung membuat nyonya Amanda memeluknya.
"Tentu saja, nak." sahutnya kemudian.
"Katakan, kenapa tiba-tiba pulang ?" imbuh wanita itu lagi setelah mengurai pelukannya.
"Jadi Mama tidak suka aku pulang ?" tanya balik Awan seraya mengajak Ameera untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamunya.
"Itu yang mama harapkan, tapi kenapa kalian bisa pulang bersama ?" selidik nyonya Amanda, ia nampak menyipitkan matanya menatap Ameera.
"Jadi Mama tidak suka calon menantu Mama datang kesini ?" tanya balik Awan.
"Bukan begitu, kalian sedang tidak menyembunyikan sesuatukan ?" selidik nyonya Amanda dengan pandangan curiga.
"Tidak tante, sebenarnya mas Awan pulang karena sakit." jawab Ameera.
"Sakit? sakit apa ?" wanita paruh baya itu mulai cemas menatap putranya.
"Mas Awan semalam tiba-tiba muntah darah, tante." sahut Ameera lagi.
"Itu benar, nak ?" tanya wanita itu pada sang putra.
"Aku baik-baik saja ma, mungkin hanya butuh istirahat saja." sahut Awan.
"Beneran kamu nggak apa-apa ?" nyonya Amanda masih nampak khawatir.
"Beneran ma, mama nggak lihat aku sehat begini ?" sahut Awan meyakinkan.
"Iya sih, yaudah kalau kamu mau istirahat sana di kamar." nyonya Amanda nampak memperhatikan putranya tersebut yang memang terlihat jika sedang sakit.
"Tante, apa tidak sebaiknya di bawa ke dokter saja." saran Ameera, mengingat bagaimana Awan semalam banyak sekali muntah darah.
"Kamu tahu apa sih? kalau putra saya bilang sehat ya berarti sehat." keukeh nyonya Amanda menatap Ameera.
"Iya maaf, tante." Ameera langsung menunduk dan Awan yang melihat itu nampak menghela napas beratnya.
"Ya sudah sayang ayo ke kamarku." ajak Awan dengan menggandeng tangan Ameera, namun nyonya Amanda langsung mencegahnya.
"Tunggu nak, kamu tidur di kamar bawah saja dan Ameera biar tidur di kamar lain." perintah nyonya Amanda saat mereka akan menaiki anak tangga.
"Tapi ma...."
"Nggak ada tapi-tapian, ayo mama antar." tegas nyonya Amanda lalu menarik tangan Awan hingga membuat genggaman mereka terlepas.
Ameera menghela napasnya pelan saat melihat Awan di bawa oleh ibunya ke sebuah kamar.
Beberapa saat kemudian wanita paruh baya itu nampak keluar dari kamar tersebut. "Masuklah, ingat jangan macam-macam di dalam." perintahnya menatap Ameera.
"Ba-baik tante." Ameera nampak tercengang dengan perkataan pedas calon mertuanya tersebut, namun ia segera berlalu masuk ke dalam kamar itu.
"Mas, apa kamu baik-baik saja? apa tidak sebaiknya kita ke dokter ?" Ameera terlihat khawatir saat menatap Awan yang sedang tiduran di atas ranjang.
"Aku baik-baik saja, sayang." tolak Awan.
"Kenapa kamu menyepelekan kesehatanmu sih, mas ?" tegur Ameera, namun Awan belum menjawabnya nyonya Amanda yang baru masuk langsung menyelanya.
"Kamu jangan sok menasihati, Awan itu berpendidikan tinggi. Ia tahu apa yang terbaik buat dirinya sendiri." sela wanita itu dengan nada angkuh.
"Baik tante, maaf." Ameera langsung menunduk, sepertinya setiap perkataan yang ia ucapkan tak ada gunanya di mata calon mertuanya tersebut.
"Sudah jangan ganggu putra saya, biarkan dia istirahat. Kamu tungguin saja di sana." tegas nyonya Amanda seraya menunjuk sofa yang ada di kamar tersebut.
"Baik, tante." Ameera yang tadinya ingin mendekati Awan akhirnya ia urungkan lalu ia mendudukkan dirinya di sofa.
Setelah memastikan Awan kembali istirahat, ibunya segera meninggalkan kamar tersebut.
Beberapa saat kemudian Awan terbatuk dan nampak muntah darah lagi hingga membuat Ameera yang sedari tadi mengawasinya langsung beranjak.
"Mas, kamu baik-baik saja kan ?" Ameera langsung berjalan mendekat, namun nyonya Amanda yang baru masuk langsung menyuruhnya menjauh.
"Biar saya saja."ucapnya seraya mengibaskan tangannya.