Ameera

Ameera
Part~123



"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sayang ?" Awan nampak gemas dengan sang istri karena pandai sekali berpura-pura baik-baik saja di depannya.


"Nggak apa-apa mas, mungkin mama perlu juga." sahut Ameera menenangkan.


"Tapi mama tidak boleh bersikap sembarang begitu." timpal Awan masih belum terima dengan perbuatan sang ibu, kemudian pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mas !!" panggil Ameera yang langsung membuat Awan menoleh padanya namun tiba-tiba sebuah kecupan kecil mendarat di bibirnya.


"Kamu menggodaku sayang ?" Awan langsung menahan istrinya itu.


"Hm." Ameera mengulas senyum tipisnya, lalu kembali mencium suaminya itu lagi.


Ini sudah sangat malam Ameera tidak ingin membuat suaminya itu emosi lebih dalam lagi, pria itu sudah lelah bekerja jadi lebih baik menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang agar esok hari bangun dengan mood yang kembali membaik.


Lagipula sekali-sekali dia menggoda pria itu duluan, toh menggoda suami bukan perbuatan dosa justru pahala menantinya.


Akhirnya Awan batal menghubungi sang ibu dan lebih memilih kesenangan yang di tawarkan oleh istrinya itu.


Keesokan harinya....


"Ma, mana motorku ?" ucap Awan saat baru datang di kediaman orang tuanya pagi itu.


"Mama pakai." sahut nyonya Amanda dengan santainya.


"Tapi motornya mau di pakai istriku, ma." sela Awan dengan wajah kesalnya.


"Di pakai apa? keluyuran ?" cibir wanita paruh baya tersebut.


"Ameera tidak keluyuran ma, dia lagi bantuin temannya berbisnis kecil-kecilan." terang Awan kemudian.


"Halah alasan saja, kemarin mama lihat dia keluyuran. Pokoknya untuk sementara waktu motornya biar di sini bisa di pakai bibi untuk ke pasar jadi ada gunanya." tegas nyonya Amanda tanpa mau di bantah.


"Mama nggak bisa seperti itu dong ma, itu motor Ameera yang di belikan oleh ayahnya." geram Awan menatap ibunya itu.


"Ck, itu hanya motor rongsokan Wan. Harusnya istrimu bersyukur punya suami seperti kamu bisa belikan dia mobil, cuma motor saja di permasalahkan. Kamu juga sejak menikah dengan dia selalu saja membantah mama, ingat Wan kamu bisa jadi seperti ini itu juga karena mama. Mama sudah sekolahkan kamu tinggi-tinggi, selama ini apa yang kamu minta selalu mama turuti lalu begini balasan kamu ke mama setelah menikah? kamu benar-benar berdosa Wan." ujar nyonya Amanda panjang lebar, matanya nampak berkaca-kaca karena anaknya selalu saja membela istrinya.


Awan nampak menghela napas dengan kasar, ibunya itu selalu saja mengungkit jasa-jasanya hingga membuatnya tak dapat berkutik.


"Terserah mama, tapi ku harap mama tak menggangguku lagi saat akhir pekan dengan berbagai alasan atau kecuali mama memang benar-benar menginginkan mobilku juga." balas Awan, kemudian langsung berlalu pergi.


Berbicara dengan ibunya sepanjang apapun juga takkan menemukan titik tengah, lebih baik ia berangkat bekerja saja dan menunggu wanita itu lengah untuk mengambil motornya kembali.


Sementara Ameera terpaksa menggunakan jasa pengiriman untuk mengantarkan orderannya, ia senang karena makin hari usahanya makin ramai.


Mempunyai uang simpanan lebih membuatnya ingin mengunjungi orang tuanya, semoga akhir pekan ini tak ada gangguan lagi dari ibu mertuanya itu.


Dan benar saja takdir sepertinya sedang berpihak padanya, karena akhirnya ia bisa ke rumah orang tuanya tanpa di ganggu oleh sang ibu.


Sejak wanita itu merampas motornya, jarang sekali mengganggunya lagi. Mungkin khawatir jika ia memintanya kembali mengingat itu memang miliknya.


Atau mungkin suaminya telah mengatakan sesuatu, semoga saja pria itu tak menyakiti hati ibunya. Bagaimana pun dia wanita yang telah melahirkannya.


"Maaf bun, aku dan mas Awan baru bisa menjenguk kalian." Ameera merasa sangat bersalah pada ayah dan ibunya tersebut.


"Nggak apa-apa nak yang penting kalian sehat-sehat saja kami sudah sangat senang." ujar ibunya Ameera.


Seharian itu mereka nampak menghabiskan waktu bersama, berbicara panjang lebar penuh kehangatan yang di selingi dengan canda tawa tentunya.


"Nak, bagaimana ibu mertuamu apa masih tetap sama ?" ucap ayahnya Ameera malam itu, mereka nampak duduk berdua di teras rumahnya.


Ameera yang tadinya ingin berpamitan untuk tidur urung ia lakukan setelah melihat ayahnya duduk termenung seorang diri dan akhirnya ia menemaninya sebentar.


"Mama baik kok yah." timpal Ameera, sungguh ia tak ingin membuat ayahnya itu khawatir padanya.


"Jika tidak baik ya bilang tidak baik nak tidak usah di tutupi, ayah tahu bagaimana sikap ibu mertuamu selama ini." ucap sang ayah kemudian.


Ameera nampak terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Namun sebisa mungkin ia tak memperlihatkannya pada sang ayah.


"Meera baik-baik saja yah, bahkan Meera sangat bahagia karena mas Awan begitu mencintaiku. Mas Awan selalu rela melakukan apa saja agar aku bahagia." ucapnya seraya menatap ayahnya itu dengan bibir mengulas senyum.


"Memang ayah mau kemana? aku ingin ayah selalu ada untukku." Ameera langsung memeluk ayahnya tersebut, entah kenapa ia tiba-tiba memiliki perasaan yang tidak enak saat sang ayah mengatakan hal itu.


"Tentu saja ayah akan selalu mendukungmu." pria paruh baya itu nampak mengusap punggung sang putri dengan penuh kasih sayang.


Keesokan harinya....


Pagi ini Ameera rasanya enggan sekali untuk pulang, tak biasanya ia seberat ini meninggalkan rumahnya.


"Sayang, kamu nggak mandi ?" tanya Awan saat baru masuk ke dalam kamarnya, pria itu sudah terlihat rapi namun istrinya justru masih asyik bergelung dengan selimutnya.


"Masih dingin mas." sahut Ameera.


"Ayo buruan mandi sayang, nanti mampir ke rumah temanku dulu agar tidak keburu malam sampai rumah." Ajak Awan lagi.


"Baiklah." Ameera segera beranjak dari tidurnya lalu menuju kamar mandinya, setelah itu segera berganti pakaian.


"Kamu nggak kepanasan pakai itu sayang ?" Awan mengernyit saat istrinya memakai syal di lehernya.


"Mau bagaimana lagi, kamu sih " Ameera nampak mencebik mengingat tadi subuh suaminya itu membuat banyak sekali tanda percintaan di lehernya.


"Mau bagaimana lagi sayang, kamu sih bikin candu." timpal Awan tanpa perasaan bersalah sama sekali.


"Yaudah ayo pergi." ajak Ameera setelah selesai bersiap, kemudian mereka segera keluar kamarnya.


Sarapan bersama keluarganya lalu segera kembali ke kota, namun Awan berencana untuk mampir dahulu ke rumah sahabatnya hingga malam hari mereka baru sampai rumahnya.


"Tumben mama nggak ada hubungi kita, mas ?" tanya Ameera malam itu saat hendak tidur.


"Biarkan saja sayang, mungkin mama merasa bersalah karena telah mengambil motor kita." timpal Awan kemudian.


"Ya sudah biarkan saja mas, asal tidak di jual itu motor kenang-kenangan dari ayah." Ameera mengingatkan.


Awan menatap istrinya itu, wanita di hadapannya itu sungguh memiliki hati yang sangat mulai dan ia bersyukur untuk itu.


"Terima kasih." ucapnya kemudian.


"Untuk ?" Ameera langsung mengernyit.


"Menghadapi mama dengan sabar." ucap Awan seraya mengusap lembut surai indah wanita itu.


"Sebagai ganti motormu yang sementara waktu di pakai mama kamu belajar mobil saja ya." imbuhnya lagi yang sontak membuat istrinya itu menoleh padanya.


"Belajar mobil? boleh ?" tanyanya kemudian.


"Tentu saja sayang." Awan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih mas." Ameera langsung memeluk suaminya itu, sudah lama ia memang ingin belajar mengendarai roda empatnya itu.


Beberapa bulan kemudian Ameera sudah bisa membawa mobilnya sendiri dan sang suami lebih sering meninggalkan mobil di rumah untuknya karena pria itu memilih menggunakan motornya yang baru ia beli meski harus dengan mencicilnya juga.


Meski sebelumnya Ameera kurang setuju karena pengeluaran mereka akan semakin membengkak karena mempunyai cicilan mobil juga, namun Awan beralasan agar wanita itu juga bisa menggunakan mobilnya untuk berbisnis jika ia memiliki motor sendiri untuk ia gunakan ke kantor.


"Astagfirullah."


Ameera langsung memungut gelasnya yang tiba-tiba terjatuh, entah ada apa ia tiba-tiba mempunyai perasaan tidak enak. Semoga suaminya baik-baik saja pikirnya.


Tak lama kemudian ponselnya berdering nyaring dan setelah melihat siapa yang menghubunginya, Ameera segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum, bun." ucapnya saat menjawab telepon dari sang ibu.


"Nak, ayahmu masuk rumah sakit."


Terdengar isak tangis dari ujung telepon yang langsung membuat Ameera seperti tak menginjakkan kakinya di tanah, tubuhnya bergetar hebat dan pikirannya mulai tak karuan.


"Meera akan segera pulang, bun."