
💥Pernikahan yang bahagia adalah menyatunya dua insan yang bersedia saling mengerti, memahami dan saling memaafkan💥
"Kamu sengaja mau menggodaku ya sayang ?" Awan nampakk menelan salivanya saat melihat Ameera yang hanya memakai d4l4m4n saja.
"Menggoda apaan sih mas, itu bajunya robek ?" Ameera menunjuk pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Sudah nggak apa-apa, pada akhirnya akan robek juga." sahut Awan dengan wajah mesumnya.
"Maksud mas ?" Ameera menyipitkan matanya.
"Nggak apa-apa." Awan tersenyum penuh arti kemudian ia menjauhkan selimut yang menutupi tubuh Ameera.
"Mas, dingin." Ameera menahan selimutnya.
"Nanti aku angetin." bujuk Awan.
"Pakai apa ?" Ameera melotot menatapnya.
"Pakai ini." Awan langsung mendekatkan wajahnya lalu m3lum4t bibir istrinya itu.
Ameera tersentak, namun saat akan memberontak ia mengingat nasihat sang ibu beberapa hari lalu sebelum ia menikah.
"Nak, meski kalian menikah karena cinta tapi dengan berjalannya waktu cinta itu bisa saja pudar." ucap nyonya Anna kala itu.
"Untuk itu kamu harus menjadi istri yang pandai memuaskan suami agar cintanya tak mudah berpaling." imbuhnya lagi.
Ameera yang masih awam nampak setia mendengarkan nasihat sang ibu.
"Jadilah istri yang penurut, rendahkan suaramu, jangan sekali-sekali berteriak di depan suamimu karena itu akan melukai harga dirinya, puaskan kebutuhan biologisnya, urusan perutnya serta pandangannya. Jika kamu mampu melakukan semuanya, maka seorang suami yang baik tidak akan berpikiran untuk mencari kepuasan di luaran sana." nasihat nyonya Anna.
Mengingat hal itu membuat Ameera langsung pasrah saat sang suami mulai memanggut bibirnya, m3lum4tnya serta sesekali menyesapnya yang seketika membuat tubuhnya bergetar tak karuan.
Puas dengan bibir ranum sang istri, Awan nampak menurunkan ciumannya ke leher putih wanita itu. Mengecupinya serta memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Mendapati istrinya tidak menolak seperti sebelumnya Awan semakin bebas menjelajahi setiap jengkal tubuh wanita itu.
Saat berada di depan gundukan indah sang istri yang nampak membusung, membuat matanya menggelap.
Tak mau menunggu lama ia langsung m3lum4t puncaknya bergantian dengan rakus bagaikan bayi yang sedang kehausan hingga membuat wanita itu mendesah tertahan.
Ameera nampak membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya agar d3s4h4nnya tak terdengar sampai keluar kamarnya, mengingat ia kini berada di rumahnya yang tentu saja masih ramai.
Tubuh Ameera yang menggeliat indah membuat Awan semakin tak sabar untuk segera memasukinya, apalagi saat milik wanita itu terasa lembab karena ulahnya, membuatnya segera bangkit lalu melepaskan semua kain yang menempel di tubuh kekarnya.
Ameera yang baru pertama kali dengan jelas melihat milik suaminya yang nampak panjang dan berurat membuatnya langsung pucat.
Ingin sekali ia kabur dari sana, namun saat mengingat nasihat sang ibu ia urung melakukannya.
"Mas, aku takut ?" lirihnya dengan nada ketakutan saat suaminya itu hendak memasukinya.
"Jangan takut sayang, aku akan membuatmu menikmatinya." bujuk Awan lalu mengecup bibir wanita itu dan miliknya di bawah sana berusaha untuk memasukinya.
"Mas tunggu, bagaimana kalau sakit ?" Ameera melepaskan panggutan Awan, wajahnya nampak menyimpan kekhawatiran.
"Nggak akan sakit sayang, percayalah." bujuk Awan lagi yang nampak mulai tak sabar, karena gairahnya yang sudah memuncak harus segera ia tuntaskan.
Kemudian ia langsung m3lum4t bibir istrinya kembali dan kali ini ia tidak akan membiarkan wanita itu protes atau menolak.
Saat miliknya hampir sepenuhnya masuk, tiba-tiba pintu di gedor dari luar dengan sangat keras hingga membuat mereka nampak terkejut.
"Mas, ada yang ketuk pintu." ucap Ameera.
"Itu bukan mengetuk sayang tapi menggedor, kita pasangan suami istri tapi serasa pasangan mesum yang sedang di razia satpol pp saja." gerutu Awan dengan kesal.
"Yaudah mas jauh dulu, kan bisa di lanjutkan nanti !!" Ameera mendorong tubuh suaminya.
"Nanggung sayang." Bukannya menjauh pria itu justru berusaha memasuki istrinya lebih dalam.
Namun gedoran pintu yang semakin intens membuatnya mendesah frustrasi, kemudian ia segera beranjak dari atas tubuh sang istri.
"Awas saja kalau tidak penting." gerutunya seraya mengambil pakaiannya dalam koper.
"Iya-iya." gerutu Awan saat pintu kamarnya di gedor kembali.
Kemudian ia segera membukanya saat memastikan sang istri sudah mengenakan pakaiannya.
"Kejutan." teriak beberapa orang saat Awan membuka pintu kamarnya, Ameera yang berada di belakang Awan nampak terkejut sekaligus senang.
"Astaga, kalian ?" teriaknya histeris saat beberapa teman-teman sekolahnya yang lama tak bertemu nampak berdiri di depan kamarnya.
Sungguh ia sangat bahagia dan langsung mengajak mereka duduk di ruang tamunya.
"Dasar teman nggak ada akhlak, apa mereka sengaja mau mengganggu malam pertama kami. Padahal sedikit lagi sudah masuk tadi, sialan." gerutu Awan dalam hati seraya mengacak rambutnya dengan kasar.
"Sabar ya Junior, waktu masih panjang." imbuhnya lagi saat merasakan miliknya masih menegang.
Sementara Ameera seakan melupakan suaminya, ia nampak larut berkumpul dengan teman-temannya.
"Astaga, masih sore juga sudah ngadon aja kamu." ledek salah satu temannya.
"Apaan sih." Ameera nampak bersemu merah saat mengingat ia dan suaminya tadi hampir melakukannya.
"Cie, itu apa merah-merah di lehermu ?" ledek yang lain saat melihat tanda kepemilikan di leher Ameera.
"Astaga Ameera, sepertinya suamimu sangat ganas." ledeknya lagi yang membuat wajah Ameera semakin memerah.
Ingin sekali ia mengumpat suami mesumnya itu dan pria itu harus bertanggung jawab karena ulah nakalnya yang membuatnya kini menjadi ledekan teman-temannya.
Beruntung Awan segera datang lalu memperkenalkan dirinya pada teman-teman istrinya tersebut baik pria maupun wanita.
Sepertinya mereka memang berniat mengganggu malam pertamanya karena hingga dini hari mereka masih asyik mengobrol dan menjelang subuh mereka baru berpamitan pulang.
"Semoga mereka tidak akan pernah kembali." umpat Awan saat teman-temannya Ameera baru pulang.
"Mas nggak boleh seperti itu, mereka jarang-jarang loh kesini." Ameera membela teman-temannya yang berasal dari beberapa kota berbeda itu.
"Tapi gara-gara mereka kita tidak...."
"Masih banyak waktu mas, ayo ke kamar lagi." ajak Ameera.
"Lanjutin yang tadi ya." Awan nampak sangat senang.
"Lanjut tidur mas, ini sudah hampir pagi loh." sahut Ameera seraya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 dini hari.
Awan nampak mengacak rambutnya, namun saat melihat istrinya yang menguap lebar ia menjadi kasihan. Benar kata wanita itu masih banyak waktu untuk melakukan malam pertama dan malam-malam selanjutnya.
Keesokan harinya....
Baru beberapa jam tidur, Ameera harus bangun saat pintunya di ketuk dari luar.
"Mama ?" Ameera yang menguap lebar langsung menutup mulutnya saat melihat ibu mertuanya itu.
"Baru bangun ?" tanya nyonya Amanda seraya memperhatikan menantunya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala yang terlihat berantakan, pakaian tidur yang terlepas dua biji kancing atasnya serta rambutnya yang acak-acakan.
"I-iya ma, semalam ada teman-teman saya dari luar kota datang jadi dini hari tadi baru tidur." sahut Ameera jujur.
"Awan juga baru tidur ?" tanya nyonya Amanda lagi seraya melirik Awan yang nampak terlelap di atas ranjang dengan bertelanjang dada.
"I-iya, ma." sahut Ameera tak enak hati mengingat semalam ibu mertuanya itu menyuruhnya untuk beristirahat lebih cepat.
Nyonya Amanda geleng-geleng kepala. "Ya sudah, biarkan putra saya istirahat jangan di ganggu. Dia belum sembuh total, jadi tidak boleh terlalu lelah, kamu pahamkan ?" ucapnya menatap Ameera.
"I-iya ma." Ameera menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah." ucap ibu mertuanya, kemudian berlalu pergi.
Ameera nampak menghela napas panjangnya. "Sabar." gumamnya menenangkan hatinya.
Padahal ingin sekali ia berteriak pada ibu mertuanya tersebut, jika putranya itulah yang justru membuatnya kelelahan.