
💥Jika kamu sudah merasa tak mampu mengatasi masalahmu, maka berpasrah diri pada sang pencipta adalah jalan satu-satunya💥
Setelah masuk ke dalam kamar Awan, Ameera nampak luruh ke lantai. Air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Ia menangis sejadinya, meratapi hubungannya dengan Awan yang mungkin tidak akan pernah bisa bersama lagi.
Perbedaan kasta yang menjulang tinggi membuatnya harus mundur, meski hatinya hancur tapi jika hubungan mereka di paksakan maka ia sendiri yang akan sakit.
Bagaimana pun juga batu dan berlian selamanya akan berbeda.
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering, namun ia enggan untuk menjawabnya. Saat ini ia hanya ingin sendiri tak mau di ganggu oleh siapapun.
Namun ponselnya yang terus menerus berdering, akhirnya mau tak mau membuatnya beranjak lalu mengangkatnya.
"Sayang, kamu darimana saja? kenapa dari tadi tak menjawab teleponku ?" protes Awan dari ujung telepon.
Ameera yang masih terisak hanya mendengarkan dan enggan untuk menjawabnya.
"Sayang, kamu menangis? kamu baik-baik sajakan ?" suara Awan terdengar cemas.
"Katakan sayang, kamu kenapa? apa Mama dan Papa yang sudah membuatmu menangis ?" Awan mulai tak tenang, tadinya ia sudah sangat senang karena pada akhirnya orang tuanya mau menerima Ameera.
"Sayang? baiklah kalau kamu tak mau mengatakannya aku akan bertanya mama." Awan mulai tak sabar saat Ameera enggan menjawabnya, malah justru semakin terisak nyaring.
"Jangan, mas. Aku baik-baik saja kok, aku hanya kangen Ayah sama bunda." sahut Ameera pada akhirnya, sungguh ia tidak mau Awan bertengkar dengan keluarganya hanya karena ingin membela dirinya.
"Kamu nggak bohongkan, sayang ?" Awan sepertinya belum percaya.
"Beneran mas, aku hanya kangen sama orang tuaku." Ameera meyakinkan.
"Aku pulang sekarang ya, aku nggak tega dengar kamu menangis." tukas Awan yang langsung membuat Ameera menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah mas, kamu nggak lihat ini jam berapa. Lagipula kalau kamu kesini, siapa yang akan mengurus keuangan di kantor ?" Ameera mencari berbagai alasan agar pria itu tidak pulang.
"Tapi sayang..."
"Mas, tolong bersikaplah profesional." potong Ameera.
"Baiklah, tapi tolong jangan menangis lagi." pinta Awan yang langsung di angguki Ameera.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera bersiap-siap untuk meninggalkan kediaman Awan, ia lebih baik segera pulang karena kehadirannya memang tidak pernah di harapkan oleh mereka.
"Terima kasih loh dek sudah mau membantuku, kamu tahu sendirikan sikap Awan bagaimana jika aku atau papanya yang memintanya mundur dia pasti akan melawan." ucap nyonya Amanda saat menghubungi seseorang melalui selulernya, wanita itu nampak duduk di sofa ruang keluarga.
"Semoga saja dia tahu diri dengan posisinya jadi tanpa di minta akan mundur sendiri, upik labu kok mau jadi putri." imbuhnya lagi.
Sementara Ameera yang mendengar itu hanya bisa menghela napas panjangnya, ia sudah menduka jika perkataan tantenya Awan semalam atas campur tangan calon mertuanya tersebut.
Sepertinya keputusannya dulu sudah tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Awan, karena bagaimana pun mereka memang tidak bisa bersatu.
Tapi bagaimana dengan Awan? pria itu sangat keras kepala untuk mempertahankan hubungannya.
Ehmm
Ameera sedikit berdehem saat menuruni anak tangga hingga membuat nyonya Amanda yang melihatnya nampak salah tingkah lalu segera mengakhiri panggilannya.
"Meera, kamu sudah bangun nak ?" sapanya dengan mengulas senyumnya menatap Ameera, sepertinya wanita itu memang mempunyai dua kepribadian.
Ameera balas mengulas senyumnya meski terpaksa. "Sudah tante, saya sekalian mau pamit." sahutnya kemudian.
"Kok buru-buru sekali, ini masih pagi loh. Kenapa tidak menginap lebih lama di sini ?" nyonya Amanda memasang wajah sedihnya.
"Maaf tante, tapi saya juga harus pulang mengunjungi orang tua di kampung." sahut Ameera.
"Baiklah kalau begitu, biar sopir yang mengantarmu sampai terminal." tukas nyonya Amanda kemudian, setelah itu ia mengantar Ameera ke depan.
Sebelum Ameera masuk ke dalam mobilnya, ia nampak melihat rumah dua lantai tersebut dan ia berjanji ini terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya disana.
"Meera kangen bunda sama ayah." Ameera balas memeluk, gadis itu nampak terisak.
"Loh kamu sudah pulang, Nak." Pak Andre yang baru keluar dari dalam rumahnya dengan setelan kerjanya nampak terkejut saat melihat Ameera sudah berapa di teras rumahnya pagi itu.
"Ayah." Ameera langsung berhambur ke pelukan sang ayah.
"Kangen yah." ucapnya dengan semakin terisak.
Ingin sekali ia mengatakan semua yang telah ia alami selama ini pada pria yang menjadi cinta pertamanya itu, namun ia tidak ingin menambah bebannya.
"Nak, kamu baik-baik saja ?" pak Andre menangkap ada yang tidak beres dengan putrinya tersebut.
"Meera baik yah, Meera hanya rindu kalian, Meera kangen masakan bunda." sahut Ameera dengan memaksakan senyumnya menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Baiklah ayo masuk, entah kenapa tadi pagi bunda ingin masak banyak. Ternyata kamu tiba-tiba pulang." ujar nyonya Anna seraya merangkul bahu Ameera lalu mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.
Pak Andre yang akan berangkat kerja, akhirnya mengurungkan niatnya setelah tahu putrinya itu hanya tinggal sehari di rumahnya.
"Kenapa cuma sehari di rumah ?" protes pak Andre setelah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai.
"Maaf yah, kemaren ada kerjaan di kantor pusat jadi ini nyuri waktu untuk pulang sebentar." dusta Ameera sembari menikmati masakan sang ibu.
"Oh ya nak bagaimana hubunganmu dengan pria yang waktu itu datang kesini ?" akhirnya pak Andre mengutarakan rasa penasarannya.
Ameera terdiam sejenak, kemudian ia mengulas senyumnya menatap sang ayah. Semoga saja pria paruh baya itu tidak mencurigai keadaannya.
"Kami cuma berteman kok yah, mas Awan itu atasan Ameera di kantor dan beliau sangat peduli dengan semua bawahannya." sahut Ameera beralasan.
"Mas Awan nggak hanya baik sama aku aja, tapi sama karyawan yang lain juga. Pokoknya dia itu pengayom bagi semua karyawannya." imbuhnya lagi meyakinkan.
Lebih baik ia menutupi kebenarannya karena memang hubungannya dengan Awan sudah tidak ada harapan lagi. Masalah ia sudah tidak suci lagi, ia sudah tidak peduli.
"Baiklah, ayah percaya padamu Nak. Ingat pesan ayah, selalu jaga dirimu dan kehormatanmu." tukas pak Andre yang langsung membuat Ameera menahan sesak di dadanya, lalu ia menganggukkan kepalanya meyakinkan sang ayah.
Biarlah keadaannya hanya dia dan Tuhan yang tahu, saat ini ia hanya akan memasrahkan hidupnya pada sang pencipta.
Ia percaya jika Tuhan memberikannya cobaan pasti juga akan menyertainya dengan solusi, karena terkadang apa yang manusia anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan.
Keesokan harinya....
Hari ini Ameera kembali ke kantornya, setelah beberapa jam melakukan perjalanan sore itu ia tiba di messnya.
Ia langsung merebahkan dirinya di kasur busa yang terasa nyaman baginya itu meski sudah sangat tipis.
Hingga menjelang petang Ameera baru mengerjapkan matanya saat seseorang tiba-tiba membuka pintu kamarnya.
"Syukurlah kalau kamu sudah sampai, kenapa ponselmu mati ?" Awan melangkah mendekatinya dengan wajah khawatir.
Ameera segera duduk lalu mengusap wajahnya agar mengurangi rasa kantuk yang masih bergelayut manja.
"Baterainya habis mas." Ameera menunjuk ponselnya yang sedang di isi daya.
"Kamu baik-baik saja kan ?" tanya Awan saat melihat Ameera nampak murung.
"Aku baik-baik saja kok mas, hanya capek di perjalanan." sahut Ameera beralasan.
"Mau ku pijat? mana yang capek ?" Awan ingin menyentuhnya tapi Ameera langsung menghindar.
"Sayang, kamu kenapa ?" tangan Awan nampak menggantung di udara saat Ameera yang akan ia sentuh tiba-tiba beranjak dari kasurnya.
"Aku ingin mandi mas, keluarlah. Kamu juga pasti capek kerja kan ?" sahut Ameera, kemudian ia mengambil handuk lalu melangkah ke kamar mandi.
"Sayang." saat Awan ingin mendekatinya lagi Ameera langsung menutup pintu kamar mandi.
"Sayang, sebenarnya ada apa denganmu ?" Awan merasa heran.