
Hingga keesokan harinya Awan sedikit pun tak melepaskan istrinya itu dari sisinya, ia takkan membiarkan wanita itu pergi darinya begitu saja.
Ia tak mau kesalahpahaman di antara mereka semakin berlarut-berlarut dan harus segera terselesaikan.
Bahkan kontak wanita yang sering mengiriminya pesan itu sudah ia blokir dan semenjak kemarin ia tak berani memegang ponselnya sendiri meski sedari pagi beberapa kali berdering nyaring.
Rasanya sedikit trauma saat mengetahui bagaimana mengerikannya istrinya itu ketika marah, Awan bukannya takut dengan kemarahan wanita itu tapi ia takut kehilangan dirinya.
Wanita itu selalu mengancam ingin berpisah dan meninggalkannya. Ia tak sanggup jika itu terjadi, mereka sudah sejauh ini dan ia sama sekali tak memikirkan jika harus berpisah. Tidak, Awan tidak akan pernah mau.
"Kamu nggak marah lagikan? katakan aku harus apa agar kamu tak marah? aku akui salah tapi aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan semua nomor kontak wanita sudah ku blokir dan hapus." ucap Awan siang itu saat istrinya baru selesai membersihkan dirinya lalu makan makanan yang baru saja ia beli.
"Mas tahu nggak gelas yang sudah pecah mungkin bisa di lem kembali, tapi tetap saja meninggalkan bekas." timpal Ameera di tengah kunyahannya.
"Iya sayang aku tahu, tapi aku tidak pernah berselingkuh." Awan tetap membela diri dari tuduhan wanita itu.
"Tidak untuk saat ini tapi ke depannya siapa yang menjamin." sinis Ameera, kemarin ia tak berselera makan namun hari ini ia ingin makan banyak.
"Aku janji sayang tidak akan berteman dengan lawan jenis lagi." mohon Awan saat istrinya terus menyudutkannya.
"Aku bukan remaja bau kencur yang bisa kamu cekokin dengan janji mas, kamu cukup membuktikannya dan tidak usah banyak bicara." tegas Ameera dan bersamaan itu ponsel suaminya nampak berdering nyaring.
"Angkat mas dari pagi itu, siapa tahu Cindy sedang merindukanmu." sindir Ameera seraya melirik ke arah ponsel suaminya yang sedang di charge, kemudian ia beranjak dari duduknya dan berlalu ke dapur.
Ponsel Awan kembali berdering setelah di biarkan saja oleh sang pemiliknya, sepertinya pria itu masih takut di tuduh macam-macam oleh sang istri.
"Tinggal angkat saja, kalau tidak merasa salah kenapa grogi." sindir Ameera lagi seraya mengambil ponsel suaminya itu, berdering terus-menerus membuatnya muak juga mendengarnya.
"Assalamualaikum ma." ucap Ameera ketika mengangkat panggilan dari sang ibu mertua.
"Wa'alaikumsalam, Awan mana Meera ?" tanya sang ibu mertua dari ujung telepon.
"Kenapa telepon mama nggak di angkat dari pagi ?" imbuh nyonya Amanda.
"Ada ma, Meera kurang tahu." sahut Ameera seraya melirik ke arah sang suami.
"Ya udah berikan teleponnya padanya mama mau bicara."
Ameera segera memberikan ponsel tersebut pada sang pemiliknya, lalu ia kembali ke dapur untuk membereskan bekas peralatan makannya.
"Iya, ma." ucap Awan kemudian.
"Kamu kenapa Wan telepon mama dari pagi nggak kamu angkat ?"
"Nggak apa-apa Ma." sahut Awan dengan malas.
"Kamu sakit ?"
"Nggak."
"Bertengkar sama Ameera ?"
"Nggak ma, nggak."
"Ya sudah jamput mama sekarang, mama mau arisan !!"
"Maaf ma, aku nggak bisa. Aku mau pergi sama istriku."
"Mau kemana ?"
"Jalan-jalan Ma, ya sudah ma kami mau berangkat."
Sebelum ibunya protes lebih jauh, Awan langsung menutup teleponnya. Kemudian pria itu berlalu ke dapur, saat melihat istrinya sedang mencuci piring ia langsung memeluknya dari belakang.
"Lepas, mas !!" sinis Ameera, ia masih belum sepenuhnya memaafkan suaminya itu.
"Nggak mau sebelum kamu bilang iya." keukeh Awan bahkan kini pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
"Geli mas, menjauhlah." protes Ameera dengan kesal.
"Nggak." Awan semakin menyusuri leher putih wanita itu dan memberikan kecupan-kecupan kecil di sana yang tentu saja membuat Ameera langsung meremang.
"Iya, baiklah." ucapnya pada akhirnya.
"Sekarang lepaskan aku." imbuhnya kemudian.
Namun sepertinya Awan mulai berhasrat akibat perbuatannya sendiri, lalu ia memutar tubuh istrinya itu lantas m3lum4t bibirnya dengan rakus hingga membuat Ameera langsung terkejut di buatnya.
"Mas, stop." Ameera mencoba mendorong suaminya menjauh namun justru pria itu semakin memperdalam ciumannya seraya membawa istrinya itu ke sofa yang ada di ruang keluarga, mulai melepaskan pakaiannya satu persatu lalu setelah itu terjadilah apa yang memang terjadi.
Beberapa bulan kemudian....
Sejak kejadian itu Awan tak pernah lagi menanggapi teman-teman wanitanya di kantor, pria itu selalu menjaga jarak pada mereka dengan bersikap dingin.
Meski itu justru membuat mereka semakin penasaran, namun Awan sama sekali tak peduli. Karena mendapatkan kepercayaan kembali dari sang istri itu sangat sulit.
Meski saat ini wanita itu sudah memaafkannya, namun terkadang juga suka mengungkitnya jika sedang tak enak hati.
"Sayang, kemarilah aku mau bicara !! ucap Awan malam itu setelah itu membersihkan dirinya selepas pulang dari kantornya.
"Kenapa mas ?" Ameera yang tak biasa melihat wajah tegang suaminya membuatnya sedikit penasaran.
"Sepertinya kita harus pindah dari sini sayang." ucap Awan dengan ragu-ragu, mengingat istrinya itu sudah sangat betah tinggal di rumah yang sudah ia sewa selama hampir tiga tahun itu.
"Kenapa mas? aku sudah betah dan sayang sama rumah ini." tolak Ameera, selain rumahnya yang cukup besar untuk mereka berdua tinggali Ameera juga selalu merawatnya bahkan kini di depan rumahnya sudah ada taman buatannya.
Apalagi lingkungannya juga sangat aman dan tetangganya semua sangat baik padanya.
"Rumah ini mau di jual sayang karena pemiliknya mau pindah dinas ke Papua." sahut Awan dengan wajah sedikit kecewa, karena jujur ia juga sudah betah tinggal di sini.
Meskipun rumahnya tak semewah dan sebesar rumah orang tuanya, tapi ia cukup betah apalagi istrinya pintar sekali merawat rumahnya.
"Maafkan aku ya belum bisa belikan rumah buatmu, aku janji setelah mobil kita lunas aku akan membelikan rumah untukmu." imbuh Awan, ia merasa bersalah karena harus mengajak istrinya berpindah-pindah tempat.
Seandainya orang tuanya mau saja sedikit membantunya mungkin ia sudah mempunyai rumah saat ini seperti sang adik, namun mengingat dirinya selalu membangkang membuatnya seperti di anak tirikan.
Padahal orang tuanya juga mempunyai beberapa bidang tanah dan bangunan, namun mereka lebih memilih menjadikannya gedung tua dari pada memberikannya padanya dan sang istri.
Ia tahu ibunya bersikap seperti itu karena tidak menyukai istrinya, ibunya tidak ingin harta bendanya di nikmati oleh wanita itu.
"Bagaimana kalau kita beli saja, mas? Kita bisa mengajukan kredit pada bank." timpal Ameera, sungguh ia tidak rela jika meninggalkan rumah tersebut.
"Itu nggak mungkin sayang, kamu tahu sendiri kita masih mempunyai cicilan mobil dan motor." Awan mengingatkan, cicilan mobilnya lagi beberapa bulan lagi lunas karena ia memang mengambil tenor jangka pendek meski risikonya ia harus membayar lebih besar setiap bulannya.
"Aku punya tabungan mas dari bisnisku yang memang jarang ku gunakan, bagaimana jika pakai tabunganku saja untuk melunasi sisa angsuran mobil itu ?" ucap Ameera tiba-tiba yang langsung membuat suaminya itu nampak terpaku, sungguh begitu besar pengorbanan istrinya itu untuk rumah tangganya dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.
"Kamu yakin sayang ?"
"Hm, bukankah sudah ku bilang membangun rumah tangga itu harus bersama-sama mas. Nanti ke depannya kita pasti memiliki rezeki lain lagi." Ameera mencoba meyakinkan.
"Terima kasih sayang." Awan langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya, sungguh ia merasa malu sekali sebagai seorang pria dan suami.
Namun ia janji pada dirinya sendiri akan bekerja lebih giat lagi untuk membahagiakan wanita itu.
Semoga saja janjinya tak luntur dengan berjalannya waktu.....